
Erditha kembali bekerja setelah menemui Amara.
Kini hari telah berganti malam, sudah waktunya Erditha kembali ke rumah untuk beristirahat, di tengah jalan Erditha membeli makanan terlebih dahulu untuk dirinya dan juga Amara.
Sesampai di rumah Erditha masuk dan langsung mencari keberadaan Amara.
Yang ternyata sedang berbaring diatas tempat tidur menghadap langit-langit dan terpaku menatapnya.
Ketika melihat Amara sedang seperti itu, Erditha mengerutkan keningnya, merasa simpati melihat Amara yang sepertinya sedang meratapi nasibnya.
Erditha segera menghampiri Amara yang belum menyadari kedatangan Erditha.
"Assalamu'alaikum…" Sapa Erditha.
Amara Langsung mengalihkan pandangannya melihat ke arah Erditha, tapi dengan ekspresi wajah datar, sepertinya Amara tidak terkejut dengan kedatangan Erditha yang tiba-tiba.
"Kamu sudah pulang." Amara menimpali salam Erditha.
"Wah! Istri Solehah ku… suami pulang ngucapin salam bukannya dijawab salam, malah disambut dengan respon yang tidak menyenangkan…"
"Jangan sok jadi suami yang perhatian sama aku, aku geli dengernya, kita jalani hidup kita masing-masing tanpa harus ada protes satu sama lain."
"Tapi sesuai kesepakatan yang sudah terlanjur kamu buat dan aku sepakati, ini tempat tinggal ku jadi semua harus berjalan sesuai peraturan ku!" Tegas Erditha.
"Eeh aku gak pernah ya bikin kesepakatan seperti itu, hal itu kamu sendiri yang buat." Protes Amara
"Terserahlah, yang jelas kesepakatan sudah dibuat dan kita sudah sama-sama menyetujui syarat masing-masing." Erditha tidak mau kalah.
"Lalu kamu mau apa?" Tanya Amara karena emosinya sudah mulai naik.
"Aku bawa makanan ayo cepetan kita makan!" Ajak Erditha.
"Hmmm" Amara menarik nafas panjang, merasa jengah dengan perdebatannya bersama Erditha.
"Ya ampun, mau ngajak makan aja harus ngajak ribut dulu, to the point aja sih kenapa." Gumam Amara pelan.
Tapi Erditha masih bisa mendengarnya.
"Kamu ngomong apa?" Erditha bertanya untuk memastikan pendengarannya.
"Gak, aku gak ngomong apa-apa kok!" Amara menyangkal.
"Aku tidak tuli aku masih bisa mendengarnya." Sambung Erditha.
"Oo ya! Lalu untuk apa kamu bertanya membuang-buang energi aja." Amara sewot.
"Ya udah ayo cepetan…!" Seru Erditha sambil berlalu meninggalkan Amara.
"Iiih nyebelin banget sih dia, sendirinya yang bikin susah!" Gumam Amara kesal, lalu mengekor di belakang Erditha.
Erditha segera menyuguhkan makanan yang ia bawa lalu menyodorkannya kepada Amara.
Dalam diam mereka menikmati makanan.
__ADS_1
Tapi Amara nampak tidak berselera, beda dengan saat makan siang tadi ia begitu lahap.
Erditha memperhatikan Amar yang hanya membuka balikan makan.
Kemudian Erditha bertanya, "kamu kenapa?".
Amara hanya melirik sekilas ke arah Erditha tanpa menjawab.
"Kamu gak selera ya sama makannya?" Sambung Erditha.
Dan lagi-lagi Amara tidak menjawab.
Kemudian Erditha pun, terdiam kembali.
Lalu bergegas membersihkan dirinya. Dan bersiap untuk istirahat.
Setelah dari kamar mandi Erditha melihat Amara sudah tidak ada di meja makan, dengan kondisi meja makan masih berantakan.
"Kemana dia? Dasar pemalas kenapa tidak dibersihkan dulu ini semuanya." Gumam Erditha sambil membereskannya.
Kemudian Erditha menuju kamarnya karena ia ingin istirahat tubuhnya terasa sangat lelah setelah seharian beraktivitas di luar rumah.
Tapi ketika di kamarnya Erditha melihat Amara sedang berada di atas tempat tidurnya.
Sebenarnya Erditha merasa ragu untuk mendekat ke arah ranjang.
Tapi pikirnya mau sampai kapan dia akan mengalah, dan dia memang harus tegas kepada Amara.
Dengan rasa gugup Erditha melangkah ke arah tempat tidurnya.
"Stop… kamu mau ngapain? Jangan mendekat!" Pekik Amara.
"Kenapa dengan mu? Ini kamarku dan aku mau istirahat!" Tegas Erditha, dan langsung menidurkan tubuhnya di samping Amara.
"Eeh apa kamu tidak mau mengalah sama perempuan, tidur di luar sana, biarkan aku sendiri di sini."
"Gak usah banyak debat aku lelah, kalau kamu ingin tidur di atas tempat tidur ini ya tidurlah bareng aku, kalau gak mau silahkan tidur di luar." Saran dari Erditha.
"Menyebalkan…" Gumam Amara.
"Aku mendengarnya!" Erditha menimpali.
"Lagipula seharian kamu sudah menguasai kamar dan kasur ku, sekarang giliran aku yang tidur nyenyak." Ucap Erditha.
Amara sungguh kesal melihat Erditha yang terkesan sangat egois.
'Aku tidak boleh kalah dengannya, kalau aku mengalah sekarang mau sampai kapan aku tidur di luar." Pikir Amara.
Sedangkan Erditha sudah siap tidur di posisinya.
Amara melirik ke arah Erditha, lalu ikut berbaring di sampingnya.
Erditha sungguh terkejut melihat reaksi Amara.
__ADS_1
"Eeh kamu mau tidur bareng aku disini?" Tanya Erditha.
"Iya, aku gak mau tidur di luar, kalau kamu risih tidur bareng aku, silahkan kamu yang tidur di luar sana…" Jawab Amara.
"Apa!" Pekik Erditha mendengar ucapan Amara yang terdengar sangat naif.
"Enak saja! jangan harap." Erditha tidak mau kalah dan malah membuat batas antara dirinya dan Amara.
Dengan membariskan bantal diantara mereka.
"Ini batas," Tunjuk Erditha. "Jangan ada di antara kita yang melewati batas ini." Sambung Erditha.
"Oke…" Amara setuju.
Tidak lama setelah itu handphone Erditha berdering, ia langsung melihatnya dan tertera nama Neneng yang melakukan panggilan video.
Erditha segera menjawab panggil itu.
"Halo… Assalamu'alaikum!" Sapa Erditha.
"Waalaikumsalam…" Jawab Neneng bersama teman-temannya, ternyata Neneng tidak sendirian.
Mereka sengaja menghubungi Erditha karena ingin berbicara dengan Amara.
Erditha segera memberikan handphonenya kepada Amara, "Teman-temanmu ingin berbicara denganmu!"
Sebenarnya Amara malas sekali menerima video call dari para sahabatnya, sebab rasa kecewa Amara terhadap mereka belum hilang.
Tapi karena rasa jenuhnya Amara terpaksa menerima video call dari para sahabatnya itu.
"Halo!" Seru Amara sambil memalingkan wajahnya, sepertinya tidak sudi melihat wajah ketiga orang yang nampak di layar hp Erditha.
Mereka melihat Erditha dan Amara berada dalam satu kamar dan satu tempat tidur.
Mereka semua bersorak melihat hal itu, membuat Amara makin marah kepada para sahabatnya.
"Hey sahabat laknat ya kalian semua…!" Teriak Amara kesal.
Erditha tidak mempedulikannya ia tetap berbaring membelakangi Amara.
"Amara kita senang banget lihat kamu sama kak Erditha bisa akur seperti itu." Ucap salah satu di antara tiga sahabatnya.
"Siapa bilang aku akur dengannya, yang ada hanya ada perdebatan dan perselisihan di antara kami, aku juga terpaksa tidur bareng sama dia, daripada kulit mulus ku di gigitin nyamuk" Tegas Amara.
"Kalian lihat ini," Tunjuk Amara, menunjukkan batas antara dirinya dengan Erditha.
"Wah! Gak beres berati!" Gumam salah satu nya lagi menimpali ucapan Amara.
Lalu ketiganya meminta Amara untuk menjauh dari Erditha, karena ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan.
Amara mengikuti interaksi dari para sahabatnya.
Dan memilih untuk berbicara di terasa.
__ADS_1
Kemudian mereka melanjutkan percakapan.