KAMPUNG ZOMBIE

KAMPUNG ZOMBIE
BAB 10. "Secerca harapan"


__ADS_3

Tiba-tiba!!


Terdengarlah suara tangisan bayi yang terdengar aneh


Namun yanto penasaran dengan ada nya suara itu, lalu ia mengecek satu rumah yang tampak mencurigakan.


Ketika ia membuka pintu rumah tersebut betapa terkejutnya yanto.


"HaAah!!!"


Tempak lah satu bayi yang telah berubah menjadi zombie, tubuh nya tak berbentuk manusia lagi hanya menyisa kan daging busuk yang menempel di tulang.


Alangkah mematikan nya wabah virus itu.


Bayi yang tak bersalah pun tak luput dari virus mematikan tersebut.


Namun beruntung nya, bayi zombie itu tampak tak berbahaya ia hanya meringis-ringis seperti monster.


Sungguh pemandangan yang miris dan mengerikan, setelah melihat itu Yanto pun beranjak pergi dengan cara mengendap-endap, di tengah perjalanan yanto melihat segerombol zombie yang tampak berwajah sangat mengerikan.


Sesampai nya di tempat persembunyian nya yang tidak lain itu adalah rumah meri, yang letak rumah tersebut memang terlihat sepi dan berada pass di hujung perkampungan.


Yanto pun langsung beranjak pergi ke bagian belakang rumah dan langsung membersihkan tubuhnya dari lumpur yang menutupi tubuh nya tersebut.


Setiba nya


"Abang dari mana?" Tanya meri penuh Penuh tanda tanya


"Hmm tadi itu Abang pergi ke tanah lapang, di sana Abang menaruh jaket abang sebagai bendera, agar nantinya para tim pencari dapat melihat nya"


"Sebentar yah.. abang mau ganti pakaian dulu"


Yanto pun pergi menuju kamar sebari mengganti pakaian, pikiran yanto berharap agar kode Jaket yang telah di jadikan nya bendera itu dapat di lihat oleh tim pencari.


Sore pun tiba


Tim gabungan pencarian pun memutuskan untuk mengakhiri pencarian atas hilangnya Edi dan Yanto.


Di karenakan Edi dan Yanto telah di anggap tewas, karna mereka telah hilang selama satu minggu dan tidak ada jejak sedikit pun yang di temukan oleh tim pencari.


Helikopter pencari pun melintas di area perkampungan namun aneh nya para tim pencari itu tidak melihat sedikit pun atas keberadaan kampung tersebut, di karenakan kampung itu sangat tertutup oleh rimbun nya pepohonan,


Dan karna jarak pandang yang sangat minim.


Seketika Yanto pun mendengar suara helikopter itu ia pun langsung keluar tampa berkata-kata sedikit pun. meri langsung kaget ketika melihat si Yanto pergi berlari menuju luar. Sesampai nya di luar rumah tempat persembunyian nya.


Yanto pun langsung mengibar-ngibarkan baju nya, tampa mengeluarkan suara sedikit pun karna ia tahu bila ia bersuara maka sama saja dengan bunuh diri. berharap tim pencari itu dapat melihat nya dan menolong nya.


Namun sayang semua itu sia-sia helikopter itu pun berlalu, alangkah sedih nya Yanto pada saat itu ia tampak pasrah dengan semua keadaan itu.


Lalu ia pun kembali masuk ke dalam rumah tempat persembunyian nya.


Sesampai nya di dalam rumah meri pun bertanya


"Kenapa bang?"


"Tidak apa-apa" jawaban singkat dari yanto yang tampak sedih dan berwajah murung.


"Hmm tadi itu suara apa Abang? Apakah tadi itu suara Helikopter sama seperti punya abang?" Tanya meri yang tampak lugu.


"Iyah itu tim pencarian, tadi abang mencoba memberi tahu orang-orang itu bahwa kita masih selamat"


"Tapi yah sudah lah" jawab yanto yang tampak lesu


"Sabar lah Abang mungkin belum saat nya" jawab meri


Dan di jawab Yanto hanya dengan anggukan saja.


Betapa sedihnya keadaan pada saat itu di mana hanya tinggal Meri dan Yanto yang mampu bertahan di tempat tersebut.

__ADS_1


Malam pun tiba kini Meri sudah tertidur lelap hanya meninggalkan Yanto yang masih duduk merenungi nasib nya. Di dalam hati yanto bergumam


"Andai saja pada hari itu aku tidak memaksakan diri untuk melihat tempat terkutuk ini"


"Aku salah. Salaah besar!!!" Gumam di dalam hati Yanto dengan kesal.


Sembari memikir kan keadaan dan mencari jalan keluar lain.


Ia berfikir kalo tim Pencarian tak akan mencari mereka lagi. Di karenakan mereka telah hilang selama satu minggu lebih.


Yanto pun Berbaring sembari memikirkan jalan keluar.


Ia terfikir ingin melarikan diri dari tempat ini dengan cara melintasi area perhutanan.


Tak sadar yanto pun tertidur.


Singkat waktu


Pagi pun tiba Meri dan yanto terbangun dari tidur nya lalu


"Bang persediaan makanan kita udah mulai habis" beri tahu Meri


"Hmm Iyah bagai mana kalo pagi ini kita mencari persediaan makanan?"


"Iyah bang sebaiknya begitu" sahut Meri dengan setuju.


Yanto pun bertanya


"Dek mari? Maaf kalo pertanyaan abang lancang"


"Dek meri bisa bertahan hingga sampai saat ini itu, bagai mana cara nya?"


Lalu di sahut oleh meri si gadis polos


"Munkin ini sudah suratan takdir dari yang kuasa, saya bisa bertahan hingga saat ini karna memang pada dasar nya saya jarang keluar dari tempat persembunyian ini"


"Lalu apakah dek meri percaya kalo jalan menuju luar desa ini ada?"


"Menurut ku ada, tapi saya sendiri belum pernah melihat atau melalui jalan tersebut secara langsung " jawab meri dengan bimbang.


"Hmm baik lah. Lebih pasti nya nanti kita akan mencari informasi tentang jalan tersebut, bagaimana?" Tanya Yanto


"Bagai mana cara nya?" Tanya meri kembali


"Pertama-tama kita harus mencari informasi tentang seputar wilayah ini terlebih dahulu"


"Di mana kita mendapatkan informasi itu bang?" Tanya meri


Lalu


"Rumah ketua adat kampung ini, apakah dek meri tahu letak rumah nya?"


"Yah aku tahu" jawab meri dengan tegas


"Nah bagai mana kalau nanti sehabis kita mengumpulkan bahan makanan, kita geledah rumah tersebut, barang kali ada suatu petunjuk untuk kita pergi dari tempat ini"


Dan di jawab meri dengan anggukan


"Baik lah kalo begitu mari kita laksanakan aksi itu" beri tahu Yanto dengan semangat


Mereka berdua pun bersiap-siap untuk pergi menuju perkebunan untuk mengumpulkan bahan makanan, dengan cara melumuri tubuh mereka dengan lumpur agar para zombie tidak dapat mendeteksi keberadaan mereka.


Sesampai nya di perkebunan warga yang kini telah menjadi hutan nan di penuhi dengan beraneka ragam jenis sayur-sayuran dan buah-buahan, mereka berdua pun langsung mengumpuli dan memetik beberapa buah yang bisa di makan.


Sesuai itu mereka berdua pun beranjak pergi dengan membawa perbekalan makanan menuju letak persembunyian mereka yang tidak lain adalah rumah meri.


Rumah meri yang memang letak posisi nya pass di hujung kampung dan bersuasana sepi itu lah yang menjadi tempat itu aman dari gempuran para zombie yang buas.


Sesampai nya di tempat persembunyian, mereka pun langsung menaruh perbekalan makanan dan meri pun tidak lupa untuk memberi makan para zombie yang ada di rumah nya, yang tidak lain adalah orang tua nya dan Edi yang kini telah benar-benar mutlak menjadi Zombie.

__ADS_1


Sedih rase nya namun apalah daya musibah dan ujian dari yang kuasa tidak akan melalui batas kemampuan suatu umat tersebut.


Dengan memberikan tiga potong daging ayam, tiga zombie itu pun dengan rakus nya memakan dan menggerogoti daging ayam tersebut.


Yang ada pada benak Meri pada saat itu hanya lah mengenang orang tua nya semata, itu lah alasan meri mengurung dan memberi makan tiga jasad zombie itu.


Sembari melihat tiga zombie itu tak sadar air mata meri pun mengalir, ia mengenang jasa orang tua nya terhadap diri nye semasa mereka hidup.


Orang tua nya rela mati demi menyelamatkan si buah hati nya ini.


Yanto yang sudah selesai menyimpan makanan kini menuju ruang tengah dan memanggil meri


"Dek meri, apakah kau sudah siap?"


"Ooh iya" jawab meri sembari menghapus jejak air mata nya.


"Apakah engkau menangis?" Tanya yanto dengan lembut nya


"Ooh tidak bang,. .." jawab meri sambil mengajak yanto menjalan kan aksi mencari informasi tentang jalan keluar menuju desa ini.


Tubuh mereka yang masih di lumuri oleh lumpur kini tampak lumpur itu sudah mulai mengering,


Mereka berdua pun memutuskan untuk menambahi lumpur basah ke tubuh mereka, agar aroma tubuh mereka tidak terdeteksi oleh zombie.


Seusai nya mereka pun beranjak pergi.


Sebelum nya meri memberi tahu ke yanto agar selalu waspada dan mengikuti diri nya.


Karna rumah ketua kampung itu pass di pertengahan kampung, dan di pertengahan kampung itu lah para zombie rame berkumpul.


Dalam benak yanto ia berharap agar usaha mereka kali ini membuah kan hasil.


Sesampai nya di pertengahan kampung tampak lah segerombol zombie yang tampak ramai.


Para zombie itu hanya menggerang layak nya harimau yang kelaparan.


Hari menunjukkan jam satu siang karna matahari tegak lurus namun condong sedikit menandakan waktu sudah jam satu siang.


Mereka berdua pun berhati-hati dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun, penampakan yang amat menyeramkan, kalo-kalo mereka salah langkah maka maut yang akan menghampiri mereka.


Akhir nya mereka berdua pun sampai di rumah ketua kampung SENSILLON tersebut.


Meri pun menunjuk-nunjuk mengarah ke pintu rumah kepala kampung itu, seakan-akan memberi kode ke yanto.


Dan di jawab yanto oleh anggukan bertanda ia faham.


Yanto pun mencoba mendorong pintu rumah itu namun tak kunjung terbuka bertanda pintu rumah itu telah di kunci dari dalam.


Yanto pun tetap berusaha agar dapat membuka pintu rumah tersebut.


Dengan keterampilan yanto sebagai tim damkar ia dapat membuka pintu rumah tersebut dengan mudah nya.


Namun alangkah terkejutnya mereka berdua di ketika membuka pintu rumah tersebut, yang ternyata di dalam rumah itu terdapat satu keluarga (tiga orang) yang kini telah berubah menjadi zombie, dan terlihat pula satu kerangka manusia yang munkin orang itu salah satu korban dari ganas nya zombie-zombie ini.


"Hah!!!" Yanto dan Meri seketika terkaget dengan penampakan tiga zombie itu.


Tampa berfikir lama yanto pun langsung menutup pintu rumah tersebut dan mengunci nya dari luar, lalu menarik tangan meri menuju samping rumah tersebut.


Sambil berbisik meri bertanya


"Bagai mana ini Bang?!"


Seketika yanto terdiam tampak ia sedang memikirkan sesuatu, lalu


"Kita harus mengalih kan tiga zombie ini, agar merek keluar" sambil berbisik


Lalu di jawab oleh meri dengan anggukan


Lalu mereka berdua pun langsung menjalankan aksi tersebut, yang di mana meri dan yanto mencoba melempari bebatuan ke arah tiga

__ADS_1


__ADS_2