
Malam itu terjadi sebuah guncangan yang amat dahsyat hingga membangunkan warga sekitar gunung berapi tersebut.
Dengan setengah sadar karso dan santieko orang tua Meri terbangun dengan panik nya
"Ada apa ini?!!" Tanya karso terhadap istrinya
"Aku juga tidak tahu paa" jawab Santieko dengan bingung lalu,
Tok tok tok tok !!! Suara bambu kentong alaram desa tanda adanya marabahaya.
"Bangun-bangun gempa !!!" Teriak salah satu warga desa, yang dengan sambil memukul kentongan bambu.
Para warga pun berhamburan keluar rumah masing-masing dengan membawa obor.
Ayah meri pun dengan sigap nya menyuruh sang istri untuk keluar rumah terlebih dahulu.
"Meri bangun naak !!" Santieko berusaha tuk membangunkan Meri yang masih tertidur pulas,
"Kau keluar saja dulu !!"
"Biar aku saja yang menggendong meri"
Tegas karso ke istri nya.
Lalu mereka pun keluar rumah dengan berlari setengah terhuyung, sedangkan ibu meri menuntun jalan dengan membawakan obor.
Mereka pun tiba di lapangan, terlihat kumpulan masyarakat yang tengah berkumpul panik.
Di tengah dasyat nya guncangan itu ada salah satu teriakan histeris terdengar dari kejauhan
"TOLONG,TOLONG,TOLONG !!!"
"Siapa itu !!"
sahut ketua/kepala kampung tersebut.
"Ayo kita cari"
sahut karso ke pada kepala kampung, untuk bergegas mencari sumber suara.
Karso pun menurun kan putri nya yang telah bangun dari awal mereka keluar rumah.
"Ayah jangan pergi"
isak tangis Meri ke ayah nya
"Ayah tidak ke mana-mana kok naak," lalu karso menyerah kan putri kecil nya itu ke istri nya.
Di tengah guncangan dan panik nya warga kampung sensillon, kepala kampung tersebut yakni bah SUTNO mengajak para warga khususnya kaum pria untuk memastikan keadaan dan mencari sumber suara yang menjerit meminta pertolongan.
"Ayo kita cari siapa yang meminta tolong tadi" ajak kepala kampung.
Lalu di sahut beberapa lelaki termasuk ayah nya meri.
Para warga pada saat itu riuh dan terlihat panik, dengan guncangan yang masih berkelanjutan.
"Separo harus tetap tinggal !! Heru, Santoso, Pak elim dan karso ayoo kita cari sumber suara tersebut" ajak kepala kampung.
"Yang lain tetap tinggal di sini dan cukup menjaga para ibu-ibu dan anak-anak kita !!" Suruh karso terhadap bapak-bapak dan ibu-ibu yang tetap tinggal di lapangan tersebut.
Lalu mereka pun pergi memastikan keadaan sambil mencari sumber suara meminta pertolongan tadi.
Dengan guncangan yang sangat dahsyat dan minim nya pencahayaan pada saat itu, membuat warga kesulitan mencari sumber suara meminta pertolongan tadi.
Lalu sampai lah mereka di hujung desa yang terlihat salah 1 rumah warga telah ambruk,
"Baah-bah !! Lihat itu" Teriak Heru salah satu warga kampung sensillon.
Mereka pun berkumpul di bagian depan rumah yang tampak ambruk tersebut.
Rumah tersebut tidak lain adalah rumah ERIP bujangan tua yang hidup sebatang kara.
Lalu para warga pun berusaha mencari keberadaan erip. Dan terlihat lah tubuh Erip yang tampak tertindih kayu tiang penyangga rumah,
Setelah mereka memindah kan tumpukan kayu yang menimpa tubuh erip, tampak lah tubuh erip yang sudah terkulai lemas di karenakan tertimpa kayu, dan para warga pun menolong nya.
Tapi dengan kaget nya warga ketika melihat mata erip yang terkeluar kerena tertusuk paku.
"Walaah maak!!" Kaget ketua kampung yakni bah sutno.
Mereka pun terkejut dan merinding geli melihat bola mata erip terkeluar.
Dengan tegas nya karso dan para warga langsung memindahkan tubuh erip ke tengah jalan bertanah.
Dan memastikan apakah masih hidup atau sudah mati, beruntung nya detak jantung dan nadi erip masih ada menandakan erip masih hidup.
Lalu mereka langsung memikul tubuh erip membawa ke lapangan tempat kerumunan warga.
Goncangan semakin hebat, dan membuat mereka yang memikul tubuh erib kesulitan dan hampir terjatuh.
"Apa itu !?,, LIHAT !!!"
Teriak sentoso dengan nada panik dan suara yang sedikit ngebass
__ADS_1
Tampak dari kejauhan gunung berapi tersebut mengeluarkan hembusan api tapi tidak terlalu besar, yang mereka tidak sadari bahwa gunung berapi tersebut sedang mengeluarkan abu vulkanik, lalu mereka pun tergesa-gesa hingga pak elim yang sedang memikul tubuh erip pun tersungkur karena tertendang batu, dan tubuh erip pun terjatuh ke anak parit hasil galian warga, alangkah malang nya.
"Aduuh cemana lah kau ini!!" Tegas kepala kampung dengan nada marah.
Dan tampa mereka sadari ternyata erip sudah tewas di karenakan telah kehabisan darah.
Sebelum tewas nya erip, ternyata erip sudah lebih dulu menghirup abu vulkanik yang telah tercampur dengan virus "PANDORAVIRUS YEDOMA" sebut saja virus ZOMBIE.
Lalu mereka pun mulai mencoba mengangkat tubuh erip kembali.
TIBA-TIBA!!! Pak elim pun bersin-bersin karena telah menghirup paparan abu vulkanik yang telah tercampur dengan virus zombie itu, dan mereka pun tidak sadar.
Lalu erip pun tersadar yang tadi nya telah tewas ini malah hidup kembali lalu para warga pun menuruni nya,
"A a Apa kau baik-baik saja?!" Tanya sentoso
Namun Erip pun tak menjawab pertanyaan tersebut. Tubuh erip tampak seperti lemah dan terlihat urat leher erip yang timbul.
Lalu.
"Arrggg !!!"
Suara Raungan Erip yang tubuh nya sudah di kuasai oleh virus zombie.
Lalu menerkam heru yang sadang menopang kan tubuh nya untuk erif. Lalu dengan ganas nya zombie erip itu menerkam leher heru hingga leher heru terlihat berdarah dan tercabik-cabik,
Kejadian itu sangat jelas terlihat oleh beberapa warga yang menolong.
Lalu seketika mereka lari berhamburan termasuk karso ayah nya meri.
Mereka menuju kerumunan warga yang berada di lapangan.
"Lari-lari!!!" Teriak karso dari kejauhan.
Warga pun bingung melihat dari kejauhan,
"kenapa pada berlarian?!" tanya salah satu warga
Barang siapa yang menghirup abu vulkanik yang telah tercampur dengan virus zombie itu maka iya akan segera bersin-bersin, mati dan tubuh nya akan di kendalikan oleh virus zombie tersebut.
tampa mereka sadari paparan abu vulkanik yang telah tercampur dengan virus zombie itu telah beterbangan dan tampa mereka sadari telah menghirup wabah virus tersebut.
Lalu beberapa warga pun mulai mengalami bersin-bersin yang hebat.
Beruntung nya Santieko pun dengan cepat nya tersadar, karna masa kecil nya pernah mengalami hal serupa.
Di mana masa kecil nya pernah bertemu dengan musibah yang sama, ia lah musibah gunung berapi meletus.
Lalu menutupi hidung anak nya Meri dengan selendang nya.
"Haah sudah lah naak, tetap diam dan gunakan selendang itu jangan kau lepas"
Namun sayang Santieko pun menganggap remeh dengan udara paparan abu vulkanik tersebut, ia menganggap bahwa itu hanya lh hal biasa dan menyepelekan begitu saja.
Sesampai nye ayah meri ke kerumunan warga
Ie pun langsung menghampiri istri dan anak nya.
"Ada apa paa?!" Tanya ibu Meri
"Hah-hah!! itu si erip, die terlihat tidak baik dan menerkam leher heru" dengan ter engah-engah menjawab.
"Haah ada apa?!" Tanya salah satu dari Warga, yang tidak di jawab karso.
Setiba nya yang lain datang dan kepala kampung pun berkata
"Si Erip gila!! Setan apa yang merasuki diri nya hingga sanggup menerkam heru"
Warga pun panik, terutama orang tua nya heru.
"Kenapa dengan heru?!" Tanya ayah heru dengan tegas dan panik.
"Itu si heru di terkam Erip pak!!" Tegas karso.
Lalu orang tua heru pun bergi beranjak pergi mencoba mencari keberadaan heru namun sayang nya hanya tidak membuahkan hasil, hanya teriak kan histeris saja yang terdengar dari jauh.
"Aaaarrgg"
Warga pun semakin panik dan berhamburan berlari menyelamatkan diri masing, hanya tertinggal beberapa warga saja.
Guncangan pun masih berlangsung menambah ketegangan pada saat itu.
Lalu beberapa warga yang masih terkumpul pun mulai terkena effek bersin-bersin dari paparan abu vulkanik yang telah terinfeksi virus zombie tersebut, yang di mana mereka pun belum sadar sama sekali dengan mara bahaya tersebut, termasuk ke dua orang tua nya meri.
"Kenapa kalian semua bersin-bersin?!"
Tanya ketua kampung, dengan paniknya
Nah di sini lah baru mereka sadari ternyata
Erip berubah menjadi seperti hewan itu di karenakan telah menghirup abu vulkanik yang telah tercampur dengan virus zombie tersebut, namun itu semua sudah terlambat, semua warga pun telah menghirup paparan abu vulkanik yang telah tercampur dengan virus zombie tersebut.
Lalu salah satu warga bernama NINSI berlagak tidak waras
__ADS_1
"Arrggg!!!"
Suara Ninsi menggarang
"Ninsi ada apa dengan mu?!" Tanya salah satu warga.
Santieko pun sadar dan mengajak suami nya untuk menjauhi dari kerumunan.
"Paa aku mau bersin"
"Dan tubuh ku terasa tidak nyaman dan lemes" Beri tahu Santieko terhadap suami nya.
"Kenapa? Ada apa? Kenapa kau malah menutupi hidung meri dengan selendang mu?!" Tanya karso terhadap istrinya.
"Aarrrgggg !!!"
Belum sempat Santiko menjawab pertanyaan suami nya, kerumunan warga tersebut pun riuh seketika di karnekan ninsih telah berubah menjadi zombie dan menerkam salah satu dari warga.
Warga pun panik ada yang mencoba tuk memisah kan dan ada pula warga yang sudah sadar dengan keberadaan wabah virus ZOMBIE tersebut.
Gempa akibat gunung berapi tersebut pun berangsur-angsur reda.
Karso pun mulai merasa tidak enak, terutama tentang badan nya yang serasa seperti sakit-sakitan dan membuat tangan nya berkejut-kejut dengan sendirinya.
Karso langsung membawa istri dan anak nye untuk beranjak pergi dari kegaduhan warga yang makin aneh di karenakan telah terinfeksi virus zombie tersebut.
"Oh tuhan ada apa ini" keluh karso sambil mengakat anak nya meri lalu menggendong nya,
Santieko pun mulai bersin-bersin suara nya seperti suara bersin tapi lebih tepat nya seperti suara dengkuran.
"Buu ayoo kita pergi pulang" ajak karso terhadap istrinya
Ibu meri Santieko pun menurut,
Mereka pun beranjak pergi dengan tergesa-gesa dan setengah berlari dari kegaduhan warga yang menjadi-jadi.
Sesampai nya di rumah Santiko pun mulai mengalami kejang-kejang
"Aarrrgg!!!" Gerang Santiko seperti kesetanan lalu ambruk terjatuh.
"Ibuu!!!?"
Panggil Meri dengan tangisan dan rintihan nya
Karso pun dengan cepat mengambil kan air untuk membasuh wajah istri nya, namun tak kunjung sadar.
Meri ingin membuka selendang yang menutupi bagian wajah nya namun di larang oleh ayah nya.
"Ya tuhan ada apa ini?, Apa salah kami?!" Rintih karso yang badan nya telah terkulai lemas.
"Ayah,ayaah ada apaa?!!" Rintih Meri ke pada ayah nya.
Karso pun gelisah pikiran nya pun mulai lain lalu ia berkata sambil menetes kan air mata
"Naak sini peluk ayah" Rintih karso terhadap putri semata wayangnya tersebut.
Lalu dengan lembut dan mengucurkan air mata meri memeluk tubuh ayah nya yang entah mengapa terlihat sangat lemas dan urat-urat tubuh nya pun terlihat jelas.
"Hikss Hikss" isak tangis Meri ke ayah nya
"Ayah jangan ke mana-mana" isak tangis meri
"MERI RAISTUTI" panggil karso terhadap anak nya dengan merangkul tubuh mungil meri
"Hikss hikss, ada apa ayah" rintih meri sambil menangis
"Naak badan ayah mu sudah merasa tidak enak, seperti ada sesuatu terdapat diri ayah"
"Bisa kah kau berdiri dan ambil lah masker ayak arang ibu mu?!" Dengan setengah menangis meri pun mengambil masker ayak milik ibu nya yang biasa di gunakan untuk mengayak arang atau menampi beras.
Ayah meri pun sadar bahwa ini semua di sebap kan oleh paparan abu vulkanik tersebut, dan membuat warga menjadi gila dan seperti kanibal (Zombie).
"Naak jangan lepas kan masker ini hingga kapan pun sampai semua nya pulih !!!" Tegas karso terhadap anak nya sambil mengenakan masker tersebut.
"Baik yaah" meri menjawab sambil menangis.
Terlihat tubuh Santieko ibu nya Meri kejang-kejang seketika, karso pun memastikan denyut nadi sang istri namun tidak di sangka sang istri telah meninggal, entah apa penyebab yang memang pada saat itu Karso pun tidak tahu.
Terlihat meri yang sedang menangis sambil memegangi tangan sang ibu, terdengar jelas suara riuh nya warga yang tengah panik dengan kejadian itu di mana satu persatu dari mereka berangsur-angsur berubah sifat menjadi kanibal, menyerang dan memangsa warga yang masih setengah sadar.
Entah kesalahan apa yang telah warga kampung tersebut perbuatan, hingga bencana ini melanda kamu SENSILLON itu.
Banyak suara histeris dan suara garangan yang terdengar.
"Tolong,TOLOOONG !!!"
"Aarrggg!!"
Suasana kampung tersebut semakin tak terkendali dan semakin horor.
"Naak ingat pesan ayah, jangan kau lepas masker mu ini hingga semua kembali membaik sediakala?!"
"Apa pun yang terjadi pada ayah dan ibu jangan kau dekati?!"
__ADS_1
Lalu dengan susah payah karso berdiri.