
"Ayah, ayah mau ke mana?!!" Tanya meri si gadis kecil yang munkin hanya iya yang tak tertular oleh virus itu.
Ayah meri hanya terdiam sambil meneteskan air mata nya, menuju ke arah dapur, yang di mana ia mengambil rantang bekal kerja lalu mengisi rantang tersebut dengan lauk makan seperti ubi, nasi, dan lauk pauk sampai rantang itu memang benar-benar terisi penuh, dan mengambil satu tandan pisang.
"Naak oo nak?!" Panggil Karso terhadap anak nya dengan nada setengah-setengah serak.
Meri pun menghampiri ayah nya tersebut
"Ada apa ayah?!" Tangis meri
"Ikut ayah nak!!!" Membawa anak nya meri menuju belakang rumah, lalu karso pun membuka tutup kolam yang belum terselesaikan itu, yang di mana kolam itu kering dan tidak begitu dalam, lalu menurun kan tangga ke bawah dasar kolam, yang di mana sebenarnya kolam itu bukan lah dalam dan bisa di bilang dangkal.
"Turun lah nak, dan bersembunyi lah hingga semua terdengar baik-baik saja!!" Tegas karso yang menangis sambil memeluk tubuh meri yang mungil
"Ayah semua akan baik-baik saja kan?!" Tanya meri dengan tersendat-sendat
"Iya anak ku sayang"
"Ingat pesan ayah yaa?!, Hidup lah dengan baik, apapun yang terjadi di luar sana jangan kau keluar dari kolam ini, dan jangan dekati ayah ibu mu ini, nanti nya"
"Bila suatu saat kau ingin keluar dari kolam ini, kau harus menggunakan masker ini, dan kau harus melihat sekeliling mu."
Beri tahu karso terhadap anak nya tersebut
Meri pun hanya dapan mengangguk dan menangis sambil memeluk erat tubuh ayah nya.
Lalu dengan terpaksa sang ayah melepas kan meri lalu menurunkan nya ke dasar kolam, serta menurunkan beberapa persediaan makanan.
Dan akhirnya nya
"Jebleeek!!!"
Terdengar suara pintu yang menutup rapat di mulut kolam tersebut, yang di mana meri hanya tinggal seorang diri di dalam kolam tersebut dengan di bekali beberapa makan,air putih dan selimut.
Meri pun hanya menangis ketakutan
Sungguh malang gadi kecil tersebut.
Sesudah nya, karso terpaku melihat anak nya di dalam kolam yang sedang menangis sambil merintih memanggil ayah nya.
Lalu karso pun pergi meninggalkan sang anak tersebut dan memastikan bahwa pintu kolam telah tertutup rapat.
Karso pun kembali ke bagian ruang tengah rumah nya dan melihat tubuh sang istri yang mengeluarkan urat, yang di mana urat tubuh tersebut sangat jelas terlihat.
Karso pun tersadar ia tidak bisa tinggal diam ia pun pergi mengarah dapur dan mengambil tali, lalu mengikat tangan isti nya agar tidak kemana-mana begitu pula terhadap diri nya sendiri.
Tubuh karso pun mulai berangsur-angsur lemes dan karso pun menggerang kesakitan dan
"Drrggg"
suara tubuh karso yang terjatuh ke lantai dan tak sadar kan diri.
__ADS_1
Beberapa menit pun berlalu tubuh santieko pun bangkit dan berubah menjadi mayat hidup namun tidak menyerang tubuh suami nya karso, hanya saja santieko tampak aneh ia selalu mengendus-endus ke tubuh karso seakan-akan ia mengenal aroma tubuh tersebut.
Barang siapa yang terinfeksi virus tersebut maka ia akan menjadi mayat hidup, sebut saja ZOMBIE.
Keriuhan yang tadi nya sangat jelas terdengar kini hanya terdengar suara gerangan.
"Aarrggg!!!"
Hanya suara itu lah yang terdengar di mana-mana, para warga yang telah berubah menjadi zombie itu tak akan kemana-mana di karenakan kampung sansillon tersebut memiliki batas antara hutan dan kampung, yang di batasi dengan ada nya parit/sungai yang mengelilingi kampung tersebut.
Subuh pun kunjung tiba tubuh karso yang tadi nya terkulai lemas kini bangkit dan sifat nya pun aneh, tubuh karso tampak seperti mayat karna tampak sangat pucat dan terlihat urat-urat tubuh nya pun jelas terlihat, hanya hendusan dan suara garangan yang di lakukan oleh karso yang kini ia dan istrinya telah berubah menjadi zombie dan sudah tewas, karna terinfeksi dengan virus tersebut.
Meri si gadis kecil itu hanya dapat menangis sedih, sambil meratapi ke bagian atas kolam dengan mengharap akan datang nya orang tua nya, subuh pun tiba akhir nya meri tertidur karna sangat ngantuk dan letih.
Siang pun tiba meri si gadis kecil itu terbangun oleh ada nya sebercak cahaya matahari yang masuk ke celah-celah lubang penutup kolam dan menyinari wajah nya.
"Aaah!!" Uap Meri
"Ibuu-ibu!!" Panggil meri terhadap ibu nya yang di mana meri masih setengah-setengah sadar.
Iya lupa atas kejadian tadi malam.
Lalu membuka mata dengan ekspresi terkejut lalu.
"Hikss.hikss"
tangis meri mengingat semua kejadian ia hanya mengingat pesan sang ayah tadi malam, yaitu jangan keluar sebelum semua keadaan terlihat membaik.
Meri hanya dapat mengencangkan pengikat masker nya lalu, membuka rantang bekal nya, dan makan dengan lahap.
Begitu takut dan kaget nya meri ketika mendengar suara aungan dan gerangan, yang sebenarnya itu berasal dari warga kampung sensillon yang telah berubah menjadi mayat hidup ( ZOMBIE).
"Toloong, tolong. Tolong aku!!!" Rintih meri dengan berteriak,
Padahal dengan ada nya tangga, yang telah di sediakan ayah nya tadi malam meri dengan mudah untuk keluar dari dalam sumur tersebut, hanya saja ia takut dan mengingat pesan ayah nya.
Para zombie yang mendengar suara meri tersebut semakin riuh dan berlarian,
Namun Untung nya meri berada di tempat yang memang benar-benar aman.
Kedua orang tua meri yang telah berubah menjadi zombie pun ikut berteriak-teriak dan mengendus-endus bau tubuh manusia yang tidak lain adalah tubuh meri, namun ke dua orang tua meri ini tidak dapat berbuat apa-apa di karenakan kan telah terikat dengan tali.
Suasana kampung sangat-sangat mencekam dan menyeramkan di karenakan warga nya yang telah berubah menjadi mayat hidup ( ZOMBIE )
Sehari pun berlalu meri pun masih bertahan di dalam kolam tersebut.
Hingga pada hari ke tiga,
Seperti biasa meri bangun pagi dengan keadaan munal dan terlihat tidak baik-baik saja.
Perbekalan nya pun sudah pada membasi, dan tidak dapat untuk di makan.
__ADS_1
Namun beruntung nya ada pisang yang waktu hari itu telah di turunkan ayah nya meri, meri pun teringat kejadian itu ia merintih memanggil ayah ibu nya, sungguh malang nasib anak tersebut, lalu ia pun memperbaiki masker nya dan tidak berani melepas masker tersebut.
Dengan cuaca yang begitu aman mendung menandang hujan lebat akan segera turun. Guntur dan kilat pun bersahut-sahutan seperti mengingat kan meri si gadis malang tersebut harus lekas keluar dari kolam tersebut.
Hujan pun mulai turun, dan akhirnya meri si gadi malang tersebut pun sadar, ia menaiki tangga yang di mana tangga tersebut memang sudah di sediakan oleh ayah nya pada malam saat ia di sembunyikan di kolam, hujan pun sangat lebat pada saat itu.
Para zombie yang terlihat pada saat itu hanya terpaku seperti patung karena terkena air hujan.
Meri pun berlari menuju rumah nya dan dengan terkejut nya ia, melihat dua tubuh yang tidak lain itu adalah tubuh ayah dan ibu nya yang telah berubah menjadi zombie.
Ia pun ketakutan lalu berlari menuju kamar sambil menangis sedih.
Tubuh zombie yang awal nya adalah kedua orang tua nya tersebut, mengendus-endus aroma tubuh meri yang samar-samar sambil berteriak-teriak layak nya seperti hewan buas yang kelaparan, tubuh kedua orang tua meri itu terlihat membusuk namun aneh nya masih bisa bergerak dengan kuat nya, itu semua di akibat kan oleh ada nya virus zombie itu yang telah mengendalikan tubuh tersebut.
Meri pun merinkup ketakutan di pojok dalam kamar nya ia hanya dapat menangis terbata-bata, sungguh malang nasib anak tersebut ia lah satu-satunya yang masih hidup dan tidak terinfeksi oleh virus tersebut, di karenakan pada saat kejadian ia di kenakan selendang yang menutup separuh wajah nya dan bisa di bilang itu adalah salah satu pengganti masker darurat pada saat kejadian meletusnya gunung berapi yang mengeluarkan abu vulkanik yang telah tercampur dengan virus zombie tersebut, walaupun meri gadis kecil berusia 8 tahun tetapi ia menyadari itu semua dan mengetahui itu semua.
Meri pun mencoba bangkit lalu menuju dapur yang pada saat itu ia sangat lapar.
Hujan pada hari itu sangat lah deras,
Dan suana kampung itu terlihat tenang, ternyata para zombie itu sangat takut dan tidak bisa berbuat apa-apa, di ketika terguyur hujan banyak zombie yang hanya berdiri tegak seperti patung di karenakan telah terguyur hujan.
Meri si gadis mungil itu pun tersadar bahwa para mayat hidup yang di kendalikan virus itu sangat alergi terhadap guyuran hujan dan tidak bisa berbuat apa-apa, di karenakan guyuran hujan yang menyebabkan penciuman dan menutup suara yang di peroleh oleh ada nya hujan.
Berbeda dengan zombie orang tua nya MERI mereka tampak risau dan sangat agresif.
Dengan menangis sambil memakan pisang meri si gadis malang nan cerdas itu pun, bertekat untuk bertahan dan menghapus air mata nya lalu berkata
"Ayah,ibu maaf kan meri.. tenang lah di alam sana" sambil menghapus jejak air mata nya, ternyata meri telah sadar bahwa orang tua nya sudah tiada begitu pula warga desa, yang tertinggal hanya lah mayat yang sudah di kendalikan oleh wabah virus tersebut.
1 jam berlalu hujan pun berangsur-angsur reda, begitu pula dengan para zombie yang mulai satu persatu tersadar, dan mengendus-endus aroma tubuh nya meri, dan sekumpulan zombie pun mulai berlarian menuju rumah meri yang di mana zombie ini mempunyai penciuman yang amat begitu tajam.
Meri pun sadar ia pun segera mengunci pintu dan jendela rumah nya, lalu ia pergi mengarah kamar dan berkelumbunkan selimut karna meri sangat ketakutan pada saat itu, meri hanya dapat menetes kan air mata dan menutup mulut nya agar tidak bersuara.
Keajaiban pun terjadi,para zombie pun pergi seakan-akan tidak ada apa-apa di rumah tersebut.
Meri pun sadar ternyata aroma tubuh nya pun sudah tidak tercium di karnekan ia telah berkelumbunkan selimut.
Dan tampa sadar meri pun tertidur hingga malam hari, ia pun membuka selimut yang telah di pakai nya, lalu menuju dapur dan mengambil pisang yang di mana pada saat .itu meri mula merasa kelaparan, hanya buah pisang lah yang dapat ia makan.
Namun itu semua tidak berjalan dengan lancar.
Zombie orang tua nye pun berteriak-teriak
"Warrrggg!!!!"
Meri pun ketakutan.
Ternyata zombie orang tua nya meri tersebut telah memberikan sinyal kepada zombie yang lain, lalu segerombolan zombie berlarian mengarah rumah meri.
Lalu meri melakukan hal yang sama pada semalam hari ia pun berkelumbun dan tidak bersuara ia pun mencoba menghilang kan aroma tubuh nya dengan cara berselimut kan diri nya dengan selimut.
__ADS_1
Malam itu sangat mencekam karna para zombie sedang berkeliaran di sekeliling rumah nya Meri. Meri pun mengintip di celah-celah dinding kayu kamar nya. Terlihat zombie yang sedang mengendus-endus dan menggerang.
Seperti nya meri berusaha untuk membiasakan diri, lalu dengan tak sadar ia pun tertidur pulas.