KAPAN USAI PENDERITAAN INI

KAPAN USAI PENDERITAAN INI
part 22


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, aku masih tinggal dirumah mbak Yel. Hari ini seperti biasa mas Arsen pergi kekebun, apalagi pendapat panen kayu manis semakin meningkat dan hasilnya kami bagi dua dengan mbak Yel, Alhamdulillah aku bisa juga menabung walaupun sedikit. Hari ini kebetulan mbak Yel gak kekebun, biasanya selalu kekebun bersama mas Arsen. Selama satu bulan berlalu ini aku tidak merasa aneh sedikitpun, malahan aku berterima kasih dengan mbak Yel. Karna mbak Yel aku bisa merasakan kehidupan yang layak, walaupun orang-orang berbicara tentang keburukan mbak Yel semakin membuat ku ragu, tetapi, aku berfikir tidak mungkin. Jika ia inginkan mas Arsen untuk apa ia baik padaku.


Akhir-akhir ini, aku memang sering bertengkar dengan pikiranku sendiri, tapi aku tepiskan rasa buruk itu terhadap mbak Yel. Aku selalu berfikir tak mungkin dan tak mungkin. Sampa akhirnya aku dapat jawaban yang selama ini aku pikirkan. Di ruang tamu aku sedang duduk menonton tv, Adam aku tidur kan di kamar dan Anindira pun di dalam kamar asik bermain berbie yang ku belikan.


Saat aku asik menonton, mbak Yel duduk di sampingku.


"Sedih ya film nya" mbak Yel yang tiba-tiba membuatku kaget, lalu ia duduk pas di sampingku.


"Ya nih mbak pelakornya bikin emosi deh" ujarku


"Kita matiin lagi ya tv nya, mbak mau bicara empat mata denganmu" tanpa menunggu jawaban dariku ia langsung saja meraih remot tv yang kupegang dan mematikan tv. Padahal tanggung bangat filmnya, tapi bagaimana aku kan numpang.


"Bicara apa mbak?"


"Hmm begini, kamu dan suamimu sudah satu bulan lah rasanya tinggal di rumah mbak" kulihat tatapan nya ragu ingin mengatakan sesuatu. Tetapi, aku berusaha menykininnya.


"Katakan lah mbak, ada kesalahan lain, kalo ada mbak bicarakan saja"


"Mbak harap Anita tak keberatan dan mengerti apa yang rasakan"


"Sama sekali tidak keberatan mbak" aku tersenyum hangat padanya.


"Izin mbak menjadi madumu Ta" ketus mbak Yel menatap serius padaku.


Duarr,,, dadaku sesak, jantungku bedetak begitu cepat, senyumku perlahan memudar. Perkataan macam apa yang di lontar kan oleh perempuan ini, aku terdiam sejenak, dan ku tanyakan kembali untuk menyakinkan bahwa aku salah paham, aku salah dengar.


"Maksud mbak gimana ya? " kukeluarkan senyum paksaan dari bibirku.


"Mbak mau jadi istri kedua dari Arsen"


Duarrrr,,, srr,,, darahku langsung naik ke ubun-ubun, panas sekali telingaku mendengar perkataannya, hatiku terasa ditusuk-tusuk beribu jarum. Ah selama ini yang di katakan orang-orang benar, mengapa menusia yang ku anggap baik ternyata duri dalam dada. Benar adanya kata orang-orang kecewanya kita atau sakitnya kita hanya di sebab kan orang terdekat kita. Kepada perempuan ini ku berikan semua kepercayaan, ternyata ia sama sekali tak punya hati.


"Bagaimana Anita?" tanya mbak Yel kembali karena tak mendengar sepatah jawaban dariku


Kucoba tenang walaupun di hati bergejolak api yang membakar "Apa mas Arsen yang menginginkan nya mbak? "tanyaku memalingkan waja darinya.


"Tanyakan saja pada suamimu" hah! Ucapan itu yang keluar dari mulutnya, apa benar mas Arsen telah berbagi hati untuk perempuan lain? apa mas Arsen telah melupakan janji nya? apa mas Arsen tak cinta padaku lagi?, tak sadar air mataku menetes tapi ku terka secepatnya. Aku tak ingin menangis didepan perempuan ini


"Mengapa harus suamiku mbak? MENGAPA!!" nada bicaraku mulai naik, ingin menangis tapi ku tahan, tak boleh aku menangis di depan wanita gat*l ini.


"Coba kau pikir, satu bulan serumah dengan pria lain yang begitu tampan, dan perlakuannya pun manis padaku, bagaimana aku tak menepati hati untuknya" ujarnya tampa menenggang persaan apa yang aku rasakan.


Aku terdiam, aku tak tahu lagi apa yang harus ku jawab, rasanya tangan ini ingin sekali menapar perempuan yang tak tahu diri ini, oh Tuhan,,, kuat kan hamba.

__ADS_1


"Dari pada menjadi dosa terus-menerus lebih baik aku menikah dengan Arsen supaya halal" ujarnya


Apa maksud dari bicara perempuan ini apakah benar mereka pernah tidur bersama? Hati ku memanas.


Plaakk,,,, satu tamparan tanpa sadar aku daratkan di wajah mbak Yel. "Aah,,, " teriakan mbak Yel kesakitan sembali memegang pipinya.


"Oh!! Ternyata benarya kamu ini perempuan gat*l yang suka ngambil suami orang, seprti orang-orang bicarakan, tapi,, dengan bodohnya aku tetap mempercayai mu! Kau slalu berprilaku baik depan ku, tetapi di belakang kau menggoda suami ku!! " ujar ku dengan napas yang tersengal sambil menunjuk-nunjukkan jari pada mbak Yel.


"Tidak ada orang yang bisa di rebut Ta, kecuali ia sendiri mau di rebut! "


Aku terdiam sejenak, lalu duduk kembali, yang di katanya memang benar adanya, tidak ada yang bisa di rebut kecuali ia sendiri mau. Aku kecewa padamu mas, aku kecewa, tak ku sangka engkau bermain hati di belakang ku .


"Ini semua bukan salah aku sepenuhnya , tapi salah suamimu juga"


"Gak! Ini salah kamu? Karna kamu kegat*lan sama suami ku, kalo kau mau ambil silah kan, ambil itu bekasku, orang sepertimu pantas dapat barang bekas! " ujar ku, lalu berjalang melangkah hendak meninggalkan mbak Yel.


"Kamu itu ya, udah di bantu tapi gak tau cara berterimakasih"


Aku sontak terhenti mendengar ucapanya "bantu apa hah! Bantu ngerebut suami ku?" ujarku


"Eh,,,, apa kamu lupa, siapa yang bawa kamu merasakan hidup mewah seperti ini, jadi kamu jangan kurang hajar padaku"


"Aku tau mbak, mbak yang membawaku dalam kesenangan ini, sebab itulah aku selalu menghiraukan orang-orang membicarakan aneh-aneh tentang mbak, akhirnya apa yang di bicarakan orang-orang tentang mbak itu nyata"


"Kebaikkan apa mbak! dari awal mbak ngajak aku tinggal serumah bersama mbak, karna mbak mau dapatin suami ku kan"


"Apa salahnya, aku juga gak jahatin kamu, kalo suamimu jadi menikah denganku kehidupanmu juga makin senang"


"Senang apa maksud mbak? Berhentilah berbicara hal bodoh mbak, ini sangat menjatuhkan harga diri mbak seorang" aku berlari ke atas menuju ke kamar, banyak jawaban keluar dari mulut mbak Yel, tapi tak lagi ku hiraukan. Aku memilih masuk kekamar dan meninggalkan nya sendirian, aku takut emosiku semakin menjadi mendengarkan ocehan yang tak bermanfaat itu.


Kubuka pintu kamar kulihat Anindira sudah tertidur di bawah ranjang, tapi tak aku angkat naik ke atas ranjang, aku hanya menangis hanyut dalam isak tangis yang begitu mendalam. Kuingat kata yang tadi keluar dari mulut mbak Yel. Apakah mas Arsen benar-benar ada persaan sama mbak Yel, atau mereka pernah tidur? Ah pikiran kotor ini slalu menghasut hati, air mata terus mengalir tanpa henti, rasanya sudah lama aku menangis kulihat wajah ku di cermin, mataku sedikit bengkak.


Tok,, ,tok,, tok,,, "Ta,, kok pintunya di kunci? " aku terdengar suara yang sangat aku kenali di balik pintu, aku begegas membasuh muka dan berjalan menuju pintu kamar.


Kreek,,,,, pintu kini telah kubuka perlahan. Namun, tak tahu lagi mengapa tiba-tiba sedih menghasut di hati, setelah melihat wajah suamiku ini. Mas Arsen berjalan masuk langsung kekamar mandi untuk membersihkan diri. Seusai mandi dan mas Arsen pun telah mengenakan baju, ingin ku tanya kan hal yang tadi, tetapi mbak Yel tiba-tiba memanggil nama suamiku, ternyata waktu makan malam sudah masuk.


"Arsen,,,,Arsen,, "ucap mbak Yel dari luar, pintu sengaja aku kunci, biar wanita gat*l ini gak sewenang-wenangnya bisa masuk. Aku hanya diam tak menyahut, mengapa harus nama suami ku di panggil mengapa tak namaku. Arsen pun diam tak menyahut ia hanya asik menggugah Adam.


"Arsen,,, makan lagi" ujar nya dari balik pintu. sepertinya ia tak beranjak dari depan pintu.


Kupanggil mas Arsen, "jawab kekasih mu memanggil" ujar ku dengan tatapan cemburu.


"Apa! Apa kamu bilang? Coba ulang" ujar mas Arsen dengan mata memerah.

__ADS_1


"Pantasan gak dengar orang manggil namanya dari luar, aku bicara saja tak kamu dengar" ujar ku malas lalu membuka pintu


"Ada apa" ujar ku, di depan pintu sudah ada mbak Yel. Kutatap wajah nya dengan wajah tak senang.


"Makan" ujar nya


Lalu aku membuka pintu kamar lebar-lebar dan membiarkan mbak Yel melihat langsung mas Arsen. Aku meninggalkannya di depan pintu kamar yang terbuka tanpa sepatah kata pun, lalu aku berbaring di atas ranjang yang ditiduri Adam, aku menepati diri di samping Adam.


"Arsen" suara mbak Yel kembali terdengar memanggil Arsen.


"Ada apa mbak?" jawan mas Arsen.


"Makan lagi"


"Iya mbak, sebentar lagi aku turun"


Setelah kepergian mbak Yel, mas Arsen mengajakku makan.


"Anita ayok makan" ujarnya tapi aku menggelengkan kepala.


"Kenapa?" ujarnya.


"Aku gak makan malam ini, gak ada selera"


Lalu mas Arsen meninggalkan aku dalam kamar bersama anak-anak. Tak perlu ku intip, takut yang ku liat sangat menyakitkan. Lagi-lagi air mata ini yang tak ku ingin kan kedatangan nya kembali menghampiri pipi, kali ini tak lagi ku terka.


Kalau tak ada hubungan apa-apa, tak mungkin mas Arsen mau saja di ajak makan berdua dengan wanita lain tanpa ada istrinya, entah apa yang mereka lakukan di bawah aku tak ingin tahu lagi, cukup perkataan mbak Yel yang menyakiti tadi yang ku dengar.


Kreek,,,, kudengar suara pintu kamar ku terbuka, kuhapus air mata dengan cepat, kulirik ke asal suara itu adalah mas Arsen.


"Sudah kencan nya? " ujar ku, entah lah aku ingin ribut seributnya, karna hati tak lagi bisa ku pendam.


"Kencan? " tanya mas Arsen dengan bingung. Aku diam lalu membelakangi mas Arsen. Mas Arsen melangkah mendekati ku lalu ia duduk di belakang ku di tepi ranjang.


"Ta" ujarnya smbil memegang bahuku dengan lembut, tapi kutepis dengan kasar tangan kekarnya.


"Sebenarnya kamu itu kenapa?" tanya mas Arsen dengan suara yang lembut.


"Tak usah terlalu manis, jika akhirnya menyakiti jua" ujarku, mataku berkaca-kaca.


"Berbuat manis bagai mana? Sebenarnya kamu kenapa, bicarakan padaku jangan diam begini" tanya mas Arsen


"Tak usah berpura-pura mas"

__ADS_1


__ADS_2