
"Hmm yang benar saja kamu Ta, anak sendiri gak di kasihin minjam uang cuma segitu, kikir sekali mertua mu" geram tetangga ku ini.
"Heh begutulah buk, aku sih gak heran lagi dengernya ya udah biasakan" guman ku
Percakapan aku dengan tante Kia telah usai di karenakan Azan magrib di kumandangkan, akupun bergegas pulang.
***
Kini langit-langit senja telah digelapi malam, Adam dan Anindira masih bermain di luar bersama ayah dan ibu.
Hanya aku dan mas Arsen di kamar saat ini, entahlah aku tak bisa menahan rasa sakit hati pada mertuaku karena fitnah nya.
Aku bermaksud untuk mengutarakan masalah ini kepada mas Arsen.
"Mas" aku duduk mendekat diatas ranjang di samping mas Arsen yang sedang menghisap rokok.
"Hmm,, " sahutnya tanpa ekspresi.
"Jujur sama aku mas, mama ngomong apa aja ke kamau waktu kamu minjamin uang ke mama, apa benar mama ngasih uang dua juta kekamu?" tanya ku serius.
Aku melihat mas Arsen langsung mengerutkan kening nya karena bingung denga pertanyaan ku, disitu aku yakin bahwa mas Arsen tidak tau apa-apa tentang itu.
"Uang dua juta apa yang kamu bicarakan ini, kalau saya udah punya uang pasti kita sekarang uang berangkat" tampik mas Arsen.
"Bukan begitu mas, tadi aku dengar mama bilang ke orang-orang kalau kamu itu ngamuk-ngamuk kesana karena dihasut aku, dan akhirnya mama kasih uang 2 juta kekamu" jelas kepada mas Arsen.
"Heeeh,,," keluh nya "kamu ngapain percaya yang gituang, kamu kan tau sendiri Ta, mulut mama tu seperti apa" tangkas nya.
"Ya aku gak enak aja mas dibilangim kayak gitu" kataku kembali.
Seperti nya mas Arsen sedikit emosi mendengar ucapanku. Bukan maksud juga di hati untuk mengompor anak sama orang tuanya, namanya aja aku lagi sakit hati katena fitnah dari mertuaku ini.
"Trus mau kamu gimana?" berang nya.
__ADS_1
"Gak gimana-gimana sih mas,,,," ucapan ku langsung terpotong karena suara mas Arsen sedikit mengeras.
"Aku udah coba menghilangkan masalah itu Ta, tapi kamu apa? malah ngungkit itu terus, saya jawab seperti itu bukan berarti saya tak percaya sama kamu" sergah mas Arsen membuatku untuk tetap menutup rapat mulut ku kembali, supaya tak berbicara dan bertanya tentang itu lagi.
Aku langsung berdiri dari dudukku dan melangkah keluar meninggalkan mas Arsen seorang diri kedalam kamar. Ya itu sudah menjadi kebiasaan ku, kalau ada ribut pasti aku memilih menghindar dari mas Arsen dari pada tetap berdebat dengannya.
Aku tau betul bagaimana sifat mas Arsen, bisa saja ia memoerbesarkan masalah kecil nantinya.
Aku duduk di sofa ruang tengah bersebelahan dengan ibu, ayah memang lebih suka duduk du teras menghirup angin malam yang dingin. Katanya lebih nyaman dan tentram aja gituh.
"Kenapa lagi" tanya ibu, iya ibu memang tau setiap keluargaku ada keributan, tetapi hanya saja ibu tak pernah ingin ikut campur.
"Hmm gak ada bu, cuman masalah orang tua nya mas Arsen" jelas ku untuk menyakini ibu.
"Ouh cuman masalah itu toh"
"Buu gimana tanah ayah, udah dapat pembelinya" tanyaku mengalih ke pembicaraan lain, supaya ibu tak lagi bertanya tentang itu.
"Kalau Dira nya mau bawa aja bu, biar gak repot-repot amat aku besok di rumah sendirian" hujan ku sedikit menyeringai
"Tapi kalo kamu dirumah sendiri jangan tidur aja Ta, jagain Adam ntar kamu biarin aja ia main sendiri"
"Iya buk"
***
"Ta,,, Ta,,, " ya yang manyahut-nyahut namaku adalah mas Arsen ia terus mengguncang badan ku samapai kesadaran berpihak padaku.
"Hmm,,,, " jawab ku memcoba untuk membuang jauh-jauh rasa kantuk yang menyelimuti mata.
"Aku berangkat kerja dulu ya," pamitnya
Hah berangkat kerja, emang sudah jam berapa? aku sontak terbangun dan duduk di atas ranjang, walaupun masih merasa malas.
__ADS_1
"Emang udah jam berapa sih mas, kok cepat amat berangkat kerja nya?" tanya ku sambil mengucek-ngucek mata yang belum stabil untuk melihat karena rasa kantuk.
"Udah jam sepuluh"
"Hah! jam sepuluh!" kaget ku, tanpa berfikir panjang aku langsung berdiri hendak keluar dari kamar. Namun, terhenti seketika.
"Baru jam tujuh, gak usah buru-buru gitu, ibu juga belum berangkat kok" jawab mas Arsen dengan entengnya.
Aku hanya bisa menatap wajah tampan nya dengan datar.
Mas Arsen pun melangkah keluar dari kamar, sementara aku mengekornya dari belakang sampai didepan pintu.
"Aku pergi ya Ta"
"Mas udah sarapan" tanya ku.
"Sudah,"
Perlahan punggung mas Arsen menjauh dan menghilang dari tatapan mataku.
Aku lalu masuk kedalam rumah, di ruang tamu aku lihat putri sulungku Anindira telah berpakaian rapi, begitu juga ayah dan ibu.
Mereka siap untuk berangkat hari ini, dan berpamitan untukku.
Perjalanan nya memang tak habis untuk satu hari, hanya selama empat jam saja, yang bikin lama cuman mereka ingin bermain dulu di Kerinci, dan jalan-jalan di kebun Teh tempat wisata yang bagus dan terkenal di Kerinci.
Sementara dengan aku, lanjut dengan aktivitas ku di rumah, ya tentunya aku akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum Adam bangun.
Ya aku berencana ingin pergi keruma tante neni, dan nati sore saja aku pulang, kebetulan sudah lama sekali aku tak keruma Tante Neni.
Sekalian berencana mau berpamitan juga sama Tante dan om, dan mita doa selamat sampai tujuan juga.
Semakin banyak doain kita, semakin bagus ya toh.
__ADS_1