KAPAN USAI PENDERITAAN INI

KAPAN USAI PENDERITAAN INI
part 28


__ADS_3

Setelah lamanya perjalanan yang kami tempuh akhirnya berakhir jua. Aku dan mas Arsen beserta anak-anak pun telah sampai ke tempat tujuan nyaitu Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat adalah kampung halaman ku pada jam 12 malam. Perjalanan yang kami tempuh selama 11 jam.


Kepulangan kami di sambut hangat oleh ayah dan ibu. Ayah dan ibu langsung memanja-manja anak-anak untuk melepas rindu di sekian lama tak berjumpa.


Aku yang merasa lelah di karena kan perjalanan yang begitu panjang aku lewati dengan mabuk. Aku langsung merebahkan diri ke ranjang di kamarku. "Ahhh lelah sekali," lalu aku terpejam untuk menghilang lelah dan kepala pusing yang telah aku rasakan sedari tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Enam bulan kemudian


Enam bulan telah berlalu Adam pun telah berumur sembilan bulan, di umur sebilan bulan ini Adam sudah pandai berjalan, entah ini kejaiban entah apa yang jelas aku bahagia. Begitupun dengan Anindira telah berumur dua tahun sembilang bulan.


Anak-anak makin lama makin bertumbuh dewasa, heran nya mas Arsen tak pernah berubah aku lelah dengan sikap nya yang selalu menyiksa batin ku ini.


Aku yang sudah enam bulan diam di rumah, masih seperti beberapa bulan setelah aku menikah dulu. Mas Arsen tak pernah bekerja, semua kebutuhan di rumah ini harus di tanggung oleh ayah. Kerja mas Arsen hanya bersenang-senang di luar sana.


Saat ini aku sudah habis fikir, aku yang dulu berjanji tidak akan jauh lagi dari ibu karena tak sanggup menanggung derita hidup didalam rantauan. Namun, kini aku harus mengajak mas pergi dari kampung ini membawa anak-anak. Biarlah jika kelak derita yang akan ku tanggung, ini demi kebaikan masa depan untuk anak-anak. Tidak mungkin aku harus hidup seperti ini di sepanjang hidup ku, hidup yang selalu menyusahkan kedua orang tua.


Setelah berfikir matang-matang aku rasa keputusan ku ini tak ada salahnya.


Kini keputusan ku sudah bulat untuk mengajak mas Arsen untuk merantau. saat ini Anindira dan Adam sedang tetidur pulas di atas ranjang, mas Arsen baru saja masuk kekamar dan duduk di ranjang bersebelahan dengan ku.


kreekk,,,,,


Saat ku asik-asik memperhatikan putra ku yang masih berumur sembilan bulan ini mas Arsen masuk, itu berarti mas Arsen sudah pulang. kulihat jam telah pukul telah jam 11 malam.


Ya mas Arsen slalu saja begini pergi pagi pulang sore trus pergi lagi sesudah magrib lalu pulang malam. Ia kemana lagi kalau tak ke tongkrongan nya. Tak perlu ku jelas kan lagi ngapain ia di sana, ya tentunya akan bergurau dengan teman tak jelasnya.


Ku coba membuka bicara saat mas Arsen telah beranjak tempat duduk nya dari sampingku lalu ia membaringkan tubuhnya sepertinya ia ingin tidur.


"Mas"


"Hmm"


"Cobalah kau cari kerja, jangan keluar pergi ke tempat tongkrongan berjudi mu yang tak jelas itu"

__ADS_1


"Tak jelas bagaimana Anita, aku pergi kesitu juga mau cari kerja, kalau belum dapat mau bagai mana lagi"


"Alasan mu terus begitu mas"


"Alasan apa Ta, aku malas berdebat aku cape mau tidur" ujar mas Arsen mengubah tidurnya dari terlentang ke berbaring menghadap ke kiri membelakangi ku.


"Bagi aku mas bagus kita merantau saja jauh dari kampung, ibu pun sudah marah padaku, kita hanya menumpang gak bisa membatunya malah merepotkan kan ibu. Ibu bilang dia nyuruh kita pindah rumah" ujar ku sengaja berbohong menyebut ibu begitu, supaya ia sadar, aku berbicara begitupun karena sakit hati pada mas Arsen jangan terlalu menyusah kan orang tua ku saja, sedang kan orang tuanya saja sangat kikir. Jangankan menumpang, meminta uang seribu saja mulutnya sudah ribut.


"Hah, benar ibu bilang begitu Ta"


"Iya mengapa aku berbohong"


"Ya tunggu seminggu dulu Ta, mas cari ongkos untuk kita berangkat"


"Jangan seminggu mas, lebih baik secepatnya"


"Hmm" ujar mas Arsen lalu memejam kan matanya.


Kelihatan nya ia memang sangat mengantuk, jadi aku tak lagi melanjutkan bicara ku. akan ku lanjutkan besok pagi mebicarakan hal tentang ini.


Malam yang panjang aku lewati pun telah tergantikan dengan pagi yang tak begitu cerah seperti biasa nya, biasanya terang benderang dunia yang di sinari sang mentari yang bersemangat menjumpai pagi. Namun, kini tak lagi begitu. Kulihat jam telah menunjukkan pukul 08:12, tetapi tak ada kemunculan cahaya Matahari yang memasuki di celah-celah jendela kamar ku. Ramai mengerinai di atas atap menandakan hujan masih mengikuti pagi sampai jam segini.


Aku bangun dari ranjang melangkah kurang semangat menghampiri jendela kamar, kubuka perlahan hari yang kurang mendukung sangat terlihat rintik hujang jatuh begitu deras.


"Mas" ujarku sembari menggoncang badan mas Arsen yang masih saja tertidur pulas.


"Hmmm" ujar mas Arsen sambil mengusap-usap matanya lalu membuka dengan perlahan menatap ku.


"Apa?" tanya mas Arsen kembali.


"Bangun" ujar ku, yang kembali melangkah menuju jendela menatap dunia


"Mau kemana? " mas Arsen bertanya kembali.


Aku melangkah duduk di samping nya, "Mas bukan kah kalu sudah pagi itu harus bangun?" tanya ku kembali.

__ADS_1


"Hmm, kataku kita mau kemana" ujar nya membuatku bingung.


Ku abaikan saja tak perlu terlalu di tanggapi mungkin ia masih belum mengumpulkan nyawanya. Tiba-tiba aku teringat rencanaku tadi malam yang ingin berangkat jauh dari kampung, akhirnya aku buka bicara lagi.


"Mas"


"Apa"


"Bagaimana rencana semalam"


"Rencana yang mana?" Tanya mas Arsen sedikit malas.


"Kita tak bisa tinggal lama di rumah ini mas, gak enak sama ibuk" ujar ku


"Tunggu lah dulu Ta, bagaimana kita mau berangkat kalau gak punya uang" jawab mas Arsen kurang senang.


"Tunggu sampai kapan mas, makanya kamu cari uang yang cepat"


"Kamu tak liat hujan, hari hujan mau cari kerja kemana" ketus mas Arsen kesal padaku.


"Ya kemaren-kemaren kamu kemana aja mas, ketika hujan baru bisa ngomong gitu! seru ku


"Argghhh,, pagi-pagi udah ngajak ribut kamu" bentak mas Arsen


Huwaa,,,, huwaaa,,, huwaa,,,, Adam tiba-tiba menangis karena terkejut karena suara dari mas Arsen begitu garang. Aku pun berlari menghampiri Adam dan menggendong nya, karena malas melihat mas Arsen, lalu aku keluar dari kamar.


Kulihat ibu dan ayah sudah duduk di teras berbincang hangat antara mereka, hubungan yang sangat harmonis bukan? iya beda sekali dengan rumah tangga ku.


Andai yang kulihat adalah bayangan hidupku bersama mas Arsen, pastilah bahagia. Tiba-tiba aku ingin tersenyum melihat kebahagiaan yang sangat berarti yang dilihat oleh mataku. Aku berjalan menghampiri pasangan yang harmonis itu.


"Hmm,, hmmm" aku berdehem dari balakang mereka berdua, ibu dan ayah sontak kaget.


"Eh Anita, udah bangun?" ujar ayah


"Belum, ya sudahlah yah, kan ayah liat sendiri Anita udah bangun" ledekku.

__ADS_1


__ADS_2