
Seusain bercengkerama dengan ayah dan ibu aku tinggal kan Adam bersama mereka, aku yang rasanya sudah ingin mandi untuk membersihkan diri walaupun suhu cuaca saat ini sangat dingin dan tak mendukung sama sekali.
Seusai mandi, aku buka lemari untuk mencari baju yang akan aku kenakan. kulihat mas Arsen kembali tertidur pulas. Melihatnya begini membuat ku sangat geram padanya, bisanya cuma makan, tidur, keluar, dan nyusahin.
Aku yang sudah selesai mengenakan baju dan merias sedikit wajah ku. Aku kembali menduduki ranjang di samping mas Arsen berbaring, aku goyang-goyang kan badan mas Arsen sembari memanggil nama nya.
"Mas,,,, mas,,,, mas bagung" ucapku kesekian kalinya, akhirnya ia terbangun juga.
Sambil mengusap air matanya, "ada apa Ta?" ujar mas Arsen.
"Bangun terus mandi, mas gak liat sekarang udah pukul setengah sebelas mas belum juga bangun" ujar ku.
"Hmmm" ujar mas Arsen membakitkan badan nya beranjak dari ranjang.
Seusai mas Arsen mandi, ia mengenakan baju kaos hitam dan celana Jeans pendek. Lalu ia menduduki ranjang di samping ku.
"Umm,, Ta" sahut mas Arsen buka bicara.
"Hmm" jawab ku.
"Kalau kita bisa pinjam uang ke mama, besok kita berangkat ya"
"Hmm rencananya kita mau kemana mas? " tanyaku.
"Kita ke Lubuk Pinang saja Ta" jawab mas Arsen.
(Lubuk Pinang adalah sebuah kecamatan di kabupaten muko-muko, Bengkulu, indonesia)
"Yaudah, seterah kamu aja mas" ucar ku
Percakapan antara kami berdua tak berlangsung lama, aku pergi melangkah keluar dimana ayah dan ibu sedang bermain bersama Adam.
"Buk" ujar ku hendak menduduki kursi.
Di samping itu Adam asik berlari-lari di ruang tamu yang di temani ayah.
"Apa nak" jawab ibu.
"Kemungkinan jika dapat uang pinjaman dari orangtua mas Arsen besok, kami langsung berangkat ke Lubuk Pinang" tutur ku.
"Secepat itu Ta, kenapa kamu gak pernah membayangkan itu ke ibu sebelum nya" tanya ibu.
__ADS_1
"Iya buk dari pada dirumah terus, mas Arsen juga gak kerja-kerja, yang ada kami terus nyusahin ibu sama ayah lagi" jelas ku pada ibuk.
"Gak pernah ibuk dan ayah merasa di susahin sama kalian Ta" ujar ibu.
"Arsen mana Ta?" sahut ayah padaku.
"Ada di dalam yah" jawab ku.
"Panggil sebentar ayah mau bicara" tintah ayah.
"Iya yah" aku pun langsung melangkah memasuki kamar dimana mas Arsen yang sedang terduduk di tepi ranjang memandangi di luar jendela yang terbuka.
"Mass" panggilku lembut.
"Hmmm ya Ta, ada apa" sahut mas Arsen sambil memalingkan wajah nya padaku.
"Ayah mau bicara" sahut ku, lalu pergi meninggalkan mas Arsen dan kembali keluar menuju teras inging melanjutkan pembicaraan aku yang tadi ku bicarakan kepada ibu.
"Iya, mas keluar" jawab mas Arsen sembari melangkah meninggalkan kamar, lalu berjalan menuju dimana ayah berada.
Aku yang sudah kembali duduk di sebelah ibu lantas melanjut kan percakapan yang tadi aku bicarakan.
"Hmm Kamu serius nak, sansai di rantau nak tak enak, apalagi tak ada sanak saudara mu di sana, kalau dirumah ada juga ibu yang membantu mu" khawatir ibu.
"Anita cuman pergi cebentar buk, paling hanya satu bulan dua bulan, lagi pula di situ juga ada sanak kerabat dari mas Arsen" jelas ku kembali meyakinkan ibu.
"Kamu mau tinggal akan dimana nati" tanya ibu.
"Soal tempat tinggal ibu tak usah risau tentang itu, semuanya itu urusan mas Arsen" jawab ku tersenyum hangat pada ibu.
POV. Author
Di samping itu, dimana Arsen dan ayah mertuanya yaitu Zain juga asik mengobrol masalah satu sama lain.
"Aaa begitulah Arsen, ayah bingung" ujar Zain.
"Bagi Arsen sih yah bagusnya ayah jual saja, dari pada ribut dengan orang situ bahaya yah" khawatir Arsen.
"Ayah sempat juga berfikir begitu, tetapi kebun itukan satu-satunya penghasilan ayah" ragu Zain
"Uang bisa di cari yah kalau nyawa tak bisa hidup dua kali" ujar Arsen menatap serius pada Zain mertuanya.
__ADS_1
"Ya yaya benar kau katakan nak" ujar Zain mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bagi saya sih yah, bagus jual tanah dengan kebun ayah di kerinci terus belikan tanah di Tapan, supaya tak jauh-jauh ayah mengulang nya. Apalagi keadaan sekarang begitu yah, itu bahaya" terang Arsen.
"Iya juga kau katakan Sen"
"Ada apa nih Yah, kok ngomong jual-jual tanah" sahut Ayani istri dari Zaul tiba-tiba nyambar dari luar masuk ke ruang keluarga dan duduk bersama suami dan menantunya.
"Ini buk, kebun kayu manis kita di kerinci sudah masuk penyusup di sana, separuhnya sudah banyak di panen oleh preman-preman di sana" jelas Zain.
"Lah kok bisa ya yah" kaget Ayani mengerut kan dahinya.
"Kenapa buk" tiba-tiba Anita menyambar, lalu duduk bersama mereka.
"Ini loh Ta, kata ayahmu kebun kita yang ada di kerinci udah di panen-panen sama preman situ" jelas Ayani pada putri nya.
"Kok bisa gitu" tanya Anita.
"Bisalah" jawab Arsen.
"Bisalah nak, ada ibuk dan bapak punya kebun di sebelah tanah kita udah di ancam sama preman-preman yang ingin memanen kayu manis nya, untung saja gak mati" jelas Zain
"Mati, emang gimana cerita nya yah" tanya Ayani
"Ya gitu buk, kedua orangtua nya di ikat pake tali sama premam dan pasukan nya banyak sekali buk, kebetulan ternakkan mereka juga banyak, jadi para preman itu nyuruhin dua orang anak gadis itu masak buat mereka, untung aja si anak nya pinter, ia masukkin lah tu racun tikus di dalam masakan nya. Selesai makan para pereman pingsan semua. Berhasil deh mereka kabur" jelas Zain panjang lebar.
"Ya ampun,,, udah bahaya kalau kita masih berkebun di situ yah" sahut Ayani.
"Begitulah lah buk, menurut Arsen ya bagus nya harus di jual sekarang dari pada besok-besok udah kacau" ujar Arsen.
"Gimana buk? bagi ayah sih ide Arsen bagus juga, terus kita belikan tanah disini" tanya Zain pada istrinya.
"Bagi ibuk mana yang bagus aja yah" jawab ayani.
"Kalau kamu Ta, bagaiman?" tanya kembali Zain pada putrinya.
"Kalau Anita sih nurut-nurut aja Yah, tetapi ayah harus bilang juga sama mas Arya, kalau mas Arya itu wajib tahu yah"
"Itu mah pasti lah Ta"
Singkat waktu kini berakhir sudah percakapn yang panjang antara keluarga Zain. Arsen melihat hujan yang tadi yang sangat deras menimpa bumi akhirnya kini sudah reda jua, Arsen pun meminta izin kepada Anita untuk pergi kerumah orangtua nya dengan maksud ingin menjamkan uang. Tak berselang lama kepergian Arsen, Aryadi pun datang.
__ADS_1