KAPAN USAI PENDERITAAN INI

KAPAN USAI PENDERITAAN INI
part 27


__ADS_3

POV. Anita


Di perjalanan kami tak banyak bicara, setelah merasa lelah karena perjalanan begitu jauh kami lewati akhirnya berhenti sebentar di warung untuk membeli air putih dan roti untuk mengganjal lapar perut. Memang kami pas berangkat tak makan terlebih dahulu, bagaimana aku sanggup makan makanan perempuan yang hampir saja merampas suami ku.


Setelah melepas lelah, kami lanjut berjalan aku menggendong Adam dan membawa tas kecil untuk kusandangi begitupun mas Arsen menggendong Anindira, ya tak mungkin anak dua tahun ini berjalan sendiri. Mas Arsen juga membawa tas besar yang di dalamnya ada pakaian dan peralatan lainnya, tak perlu ku jelas kan secara detail kalian pasti mengerti.


Perjalanan yang melelahkan begitu jauh telah aku lewati bersama suami dan anak-anak, akhirnya kami sampai juga di loket kota Jambi. kebetulan saat kami sampai ada mobil Safa Marwa yang akan berangkat sebentar lagi dari Jambi ke Bengkulu ya tentunya akan melewati kampung tempat tinggalku. Akhirnya kami memasuki mobil Safa Marwa tersebut untuk pulang ke kampung halaman nyaitu Tapan, kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.


Lika-liku jalan yang di lewati oleh mobil yang kami tumpangi berhasil membuat ku mabuk, kepalaku terasa pusing, mual-mual ingin muntah. aku coba menahan mual sedari tadi, tetapi tidak untuk kali ini, ini benar-benar mebuat ku tak bisa menahannya lagi, air li*r ku pun sudah terasa asin.


"Mas" ucap ku menyuguh kan Adam ke mas Arsen, dimana tangan kiri ku sedang menutupi mulut berusaha menahan rasa ingin muntah ini. mas Arsen langsung mengambil Adam dari pelukanku.


"Kamu mabuk" perhatin mas Arsen. Aku hanya menganggukkan kepala.


"Pak bisa berhenti sebentar, istri saya ingin muntah" ujar mas Arsen ke pak sopir.


"Mabuk istrinya mas? " lalu menghentikan mobil nya.


Kebetulan aku duduk di samping pintu masuk, jadi aku dengan mudah keluar dari pintu. Aku bergegas keluar setelah mobil di hentikan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun aku langsung membungkuk dan mengeluarkan isi perutku keseluruhan, aku benar-benar tak kuat lagi melanjut kan perjalanan ini, jika bisa memilih aku sanggup jalan kaki saja dari pada menaiki kendaraan ini. Aku duduk termenung. Tak lama kemudian, orang-orang memanggilku untuk cepat naik, tetapi aku hanya terdiam.


Kulihat mas Arsen turun untuk menghampiri ku dengan menggendong Adam. sementara, Anindira di tinggalkan di dalam mobil.


"Masih merasa mual Ta?" tanya mas Arsen mengelus-elus tengkuk ku dengan lembut. aku hanya menganggukkan kepala dengan tatapan luyu.


"Masih ingin muntah" tanya kembali mas Arsen. Aku hanya menggelengkan kepala.


"Yaudah ayok naik lagi"


"Gak mas, aku turun disini saja biar aku berjalan saja"


Sambil mas Arsen meletakkan telapak tangannya di dahiku " haha kau sehat, berjalan pulang ke Tapan ini masih jauh Anita, kita sekarang masih di kerinci" ucar nya terkekeh. Sementara, di mobil semua penumpang sudah mengomel-ngomel.


"Tinggal kan saja aku sendiri disini mas aku gak kuat naik mobil lagi"


"Ta,,, ayok cepat jangan becanda, para penumpang lain sudah marah"

__ADS_1


"MAS! kamu bisa ngerti gak sih, aku gak kuat lagi jadi turunin aja aku sampe disini" ketusku.


Setelah beberapa menit mas Arsen membujukku, tetapi aku masih saja ngelotot gak mau, jadi mas Arsen menuruti kemauanku. Kami di tinggal kan di puncak perbatasan Antara Sungai Penuh-Tapan. Terpaksa mas Arsen dan Anak-anak keluar dari mobil Safa Marwa yang kami tumpangi. Begitu pula mas Arsen harus mengeluarkan kembali barang-barang yang kami bawakan.


Setelah mobil yang kami tumpangi pergi dan menghilang. Kini, cuman ada kami di jalan yang begitu sunyi ini. Kulihat kesamping kanan dan kiri, Aahhh indah sekali pemandangan nya dan udara yang begitu sejuk sangat bersahabat dengan Alam. Jalan yang lika-liku di sampingin pohon pinus kiri dan kanan. Indah, tapi disini ada Harimau Sumatra kata orang-orang sih beberapa minggu yang lalu ia menunjukkan wujudnya, Harimau buas Sumatra itu sangat besar. Jadi, kini itu yang aku pikirkan dan aku takuti bagaimana Harimau itu sakarng mengahampiri kami, apa yang kami lakukan. Oh tidak hayalan yang sangat buluk sekali.


Sedari tadi mas Arsen bicara padaku, tetapi aku tak terlalu mendengarkan nya, akhirnya mas Arsen kesal dengan ku. Bukan apa-apa aku menghiraukan nya karena terpesona dengan pemandangan indah yang aku liat ini.


"Ta"


"Iya"


"Bagaimana kita pulang"


"Gak tau" ujarku sambil tersenyum kecil


"Kalau ada mobil lewat kita naik ya, kamu gak takut Harimau


yang di ceritakan oleh orang-orang itu nanti keluar" ujar mas Arsen menakut-nakuti aku.


"Iya" jawab ku, karena merasa kepala sedikit ringan walaupun masih berasa pusing sedikit-sedikit.


POV. Author


Di dalam mobil hanya ada satu orang nyaitu, hanya seorang pengemudi. Kira-kira berumur 35-an, berkulit sawo matang dan berkumis tebal. Sebagai seorang pengemudi, dari jauh dia melihat seorang laki-laki sedang berdiri di tengah jalan ia beranggap itu adalah orang gila, ia takut dan berniat untuk mengencangkan laju mobil nya, tetapi pria itu berdiri di tengah-tengah akhirnya pengemudi itu berhenti, dengan hati yang sangat cemas.


"Pak bisa kami menumpang" tanya Arsen pada pengemudi


"hah! menumpang? kemana? "


"Ke Tapan pak"


"Ouh, ternyata orang waras toh" pengemudi membatin.


"Ya sudah, ayo naik" ujar pak pengemudi itu, tetapi ia tercengang seketika melihat seorang wanita dan dua orang Anak kecil.

__ADS_1


"Eh tunggu pak. Jadi, bukan bapak saja yang menumpang?" tanya pengemudi itu.


"Iya saya dan istri beserta anak-anak saya juga"


"Kalo begitu gak muat pak"


"Hmm,,, di muatin aja pak" ucar Arsen


"Haa,,, begini saja pak, istri bapak saja dulu menumpang kesaya duduk di bangku depan, di belakang kan penuh barang. Nanti ada satu lagi mabil lewat bapak numpang aja yang nanti, bagaimana pak"


"Enak aja kamu, liat istri orang cantik dikit langsung ngomong gitu, mau macam-macam kamu sama istri saya" ujar Arsen, menatap pengemudi dengan tatapan tajam.


"Oh kalo begitu gak apa-apa juga pak" ujar anita tanpa menghiraukan Arsen.


"Ee,,,eh,, enak aja, kamu itu ya jangan kegatelan liat laki-laki lain"


"eh ini orang gila atau gimana sih, sama saya saja kok bisa cemburu" pengemudi membatin.


"Kegatalan apa sih mas! tadi katanya kamu mau cepat berangkat, takut terjadi apa-apa kalau lama-lama disini" ujar Anita kesal dengan suaminya yang cemburuan.


"Eh,,, kamu kok jadi nglotot gini sih jangan-jangan kamu mau lagi di pegang-pegang sama laki-Laki ini"


"Aduh jadi ribut nih pasangan suami istri, aku haru lanjut aja apa nungguin mereka berdebat ya" pengemudi kembali membatin.


"Maaf pak saya gak ada niat macam-macam sama istri bapak, kalau bapak mau menumpang saya kasih menumpang, kalau gak saya berangkat lagi. Ini barang mau saya antar cempat ketujuan. Jadi, maksud saya menyuruh bapak tinggal disini dulu biar istri bapak menumpang saya, maksud saya baik. Gak mungkin juga kan bapak menumpang saya trus istri sama anak-anak bapak tinggal disini. Kan lebih mending bapak yang tinggal disini dari pada istrikan" jelas pengemudi itu dengan panjang.


"Apa kamu bilang! lebih baik ninggalin saya disini?" ujar Arsen dengan tangan menggeram.


"Adu bisa gila nih aku ngeladenin orang ini" Pengemudi membatin.


"Hmm begini pak, maksud saya baik bu.... " ucapan pengemudi kembali terpotong karna Arsen lanjut bicara.


"Baik, baik, baik mata mu"


Anita yang malu dengan tingkah Arsen yang terlalu posesif, ia hanya bisa diam dan memberikan isarat kepada pengemudi untuk pergi melanjutkan perjalanannya. Pengemudi yang paham akan isarat Anita, tanpa basa basi pada Arsen langsung melajukan mobil nya. Arsen yang di perlakukan begitupun merasa kesal. Sementara Anita hanya bisa tersenyum kecil membelakangi Arsen.

__ADS_1


Setelah lama tak ada satu pun mobil yang yang lewat, akhirnya terlihat lagi oleh Arsen satu mobil yang lewat. Arsen pun mengamit dan berbincang dengan pengemudi itu. Didalamnya bukan saja ada si pengemudi, tetapi istri dan anaknya juga. Setelah di perboleh menumpang mereka pun menaiki mobil itu.


perjalan yang lika-luku melewati banyak sekali perbelokkan perjalanan, kembali membuat Anita merasakan hal yang sama yang di rasakan nya tadi. Kepala pusing, mual-mual ingin muntah. Iya itu kembali ia rasakan. Sangat menyebalkan perjalan pulang bagi Anita. Sangat berbeda saat waktu ia berangkat dulu, ia tak sedikit pun merasa mabuk dalam perjalanan, entah apa salahnya kini Anita mabuk.


__ADS_2