
Hari telah tergantikan, seperti biasa mas Arsen selalu pergi keluar pagi pulang magrib lalu pergi lagi pulang jam setengah malam.
Entah pelet cinta macam apa yang di berika oleh perempuan janda gat*l itu hingga mas Arsen selalu saja tak ingin jauh-jauh dari nya.
hari mulai mendung, sore kini telah mengampiri, aku berjalan dengan tetgesa-gesa sembari menggendong Adam sementara Anindira aku gandengkan tangan nya.
Aku melangkah menyusuri jalan panjang, bagaimana pun cara nya aku harus pulang keTapan. Aku benar-benar tak kuat lagi jika terus-terusan hidup begini.
Terdengar dari kejauhan ada suara mobil melewatu jalan dan pas berhenti di samping jalan di dekat ku.
Seketika kaca mobil terbuka, itu pak darto juga orang Tapan.
"Mau kamana Ta? udah sore ini" sahut pak Darto.
"Hmm,, bapak mau pulang ketapan bukan?" tanya ku, biasanya kerja nya pak Darto bolak balik dari Tapan ke Lubuk Pinang dan juga sebaliknya kerena memang ia bekerja untuk mengantar barang-barang.
"Iya Ta" jawab Pak Darto
"Kalo gitu aku boleh numpang gak pak, aku sama anak-anak juga mau cari tumpangan sedari tadi mau pulang ke Tapan" jelasku.
"Eh mau pulang ketapan, Tapi,,,,, kok Arsen gak ada, gak ikut pulang kah?" tanya bapak Darto.
"Nggak Pak cuman aku sama anak-anak aja" ujar ku.
"Kamu ribut sama Arsen Ta?" tanya pak Darto mencoba menerka.
"Gak pak, yaudah pak buka pintunya aku sama anak-anak mau naik" jelas ku langsung untuk menghindari banyak pertanyaan dari pak Darto.
__ADS_1
Setelah di dalam mobil pak Darto enggan untuk melajukan mobil nya, aku melihat ada raut kecemasan dari wajah pak Darto.
"Yaudah pak cepat maju" tintah ku.
"Arsen tau gak kamu pulang sekarang Ta? bukan apa-apa nih ya, bapak takut aja nanti Arsen marah" tanya kembali pak Darto. Ia tau betul bagaimana mas Arsen.
"Udah bapak lanjut aja, ini aku pulang juga mas Arsen yang suruh mau ngobatin Dira di Tapan" jelasku berbohong.
"Yang betul kamu Ta, benar nih ya Arsen yang nyuruh kamu pulang?" tanya pak Darto kembali mencoba menyakini ucapan ku, aku hanya mengangguk kan kepala.
Akhinya setelah beberapa menit menyakini pak Darto kini mobil di lajukan nya dengan kecepatan sedang.
Tak berselang lama, perjalanan pun belum jauh masih di Area Lubuk Pinang.
Aku melihat mas Arsen mengejar mobil yang aku tumpangi dengan dengan motor kecepatan tinggi.
Oh Tuhan bantu aku, aku benar-benar takut dengan maklhuk mu yang satu ini ia benar-benar ganas.
Sempat ia mendapatiku aku akan habis di tanganya, ini benar-benar di luar dugaanku. Siapa yang memberi tahu mas Arsen bahwa aku pulang menumpang mobil pak Darto.
Ingin aku menyuruh pak darto mengemudi dengan cepat, tapi aku takut ia curiga lalu memberhentikan laju mobil nya.
Aku sengaja tak memberi tahu pak Darto jika mas Arsen ada di belakang, aku pun berharap pak Darto tak melihat nya.
"Eh Ta, itu Arsen ngapain ngamit-ngamit tangan nya ke kita? ada yang ketinggalan mungkin kamunya" tanya pak Darto saat melihat mas Arsen melambaikan tanganya di kaca spion mobil.
"Hah,,, terus aja pak, kencangin laju mobil nya lagi pak" suguhku pada pak Darto dengan panik saat meliha motor yang di kendarai mas Arsen semakin mendekat.
__ADS_1
"Aduh mampus aku, itu kan dari awal aku tuh gak mau bawa kamu kalo udah gini aku yang kena imbas nya nih" ujar pak Darto kesal tancapan gas mobilnya dengan laju tinggi dadanya tampak sesak.
Braak,,, pak darto tiba-tiba menghentikan mobilnya dengan mendadak kepala Anindira yang duduk di sebalah ku kejedor kedepan.
Dug,,, dug,,,, dug,,, detak jantung ku bergemuruh bak gempa bumi. Badanku panas dingin saat melihat motor yang tadi di laju mas Arsen sudah berada di depan mobil pak Darto.
Tok,,, tok,,, tok,,, kaca jendela mobil pak Darto di ketuk-ketuk oleh mas Arsen dengan kasar.
Pak Darto segera turun dengan kaki gemetar, "Maaf Arsen, ada apa?" tanya pak Darto berusaha untuk tenang.
"Ck,,,! maksud bapak apa ya, main bawa-bawa istri saya pulang tanpa sepengetahuan saya" sergah mas Arsen mengeras kan sedikit suaranya.
"Maaf Arsen bapak gak tau kalo Anita belum ngasih tau kamu kalo ia mau pulang, ya tadi katanya kamu yang nyuruh ia pulang untuk ngobatin Dira " jelas bapak Darto dengan seluruh badan bagaikan goncangan gempa.
"Anita! turun! " betak mas Arsen padaku.
Dengan hati yang kuat aku kurung kan niat takut. Bukan kah aku telah terbiasa akan kekerasan ini lalu mengapa pula aku harus takut akan ini.
Gemetaran yang yang aku usasahan supaya untuk tenang walaupun jantung berdegup kencang.
Aku pun turun dan berdiri di depan Mas Arsen dengan kepasrahan bersama anak-anaknya.
Mas Arsen yang sudah duduk di atas motor yang sudah siap ia tancap kan gas, "Naik" tintah mas Arsen.
Aku hanya mengikut patuh, percuma saja aku menolaknya ujung-ujungya wanita pasti kalah dan air matalah senjata terhebat yang bisa di andalkan.
🌱🌱🌱
__ADS_1