KAPAN USAI PENDERITAAN INI

KAPAN USAI PENDERITAAN INI
part 24


__ADS_3

"Sudah,,, sudah,, " terdengar suara laki-laki dari luar membuat nafasku sedikit melega. Ya ternyata lelaki itu bapak RT, bersama warga yang lainnya. "Ada apa ini malam-malam ribut" tanya pak RT


"Maaf pak kami mengganggu kenyamanan warga" ujar ku lirih


"Tak apa-apa, lain kali kalo ada masalah keluarga diselesaikan dengan baik-baik"


"Iya pak" jawab ku masih menunduk.


Mas Arsen melangkah ke arah dapur pastinya dia duduk dibelakang rumah di kolam. Setelah pemergian mas Arsen ke kebelakang. Aku masih menangis terduduk di sofa, seorang ibuk-ibuk duduk bersebelahan dengan ku, terasa hangat ketika bahuku dirangkul oleh orang ini, ku angkat wajah ku dimana pipi kanan dan kiriku memerah bekas tamparan dari mas Arsen dan linangan air mata yang membasahi wajah ku, kutatap lekat wajah nya, oh ternya ibuk-ibuk yang sering menasihati ku. Aku menundukkan kepalaku kembali, kali ini ia memeluk hangat tubuh ku terasa sekali kasih sayang yang hangat dari keibuan, tiba-tiba aku ingat ibu. "sudah jangan menangis lagi neng, tadi ibuk yang memanggil pak RT ibuk dengar keributan terdengar makin menjadi" ibuk ini sambil mengelus-elus bahuku begitu lembut dan melepaskan pelukan nya, lalu ia menyentuh pipiku dengan lembut menyapu air mata dengan tangannya penuh kasih sayang, itu pun dapatku rasakan mataku kembali berkaca-kaca. Namun, ku tahan air itu terjatuh. "Terimakasih buk" ia membalas perkataanku dengan mengangguk sembari tersenyum hangat padaku. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang menghentak begitu kasar masuk dari luar dengan tatapan tidak senang dengan warga, sungguh! Sungguhlah tidak sopan. Iya, dia adalah Mbak Yel. Tanpa lengah dan sapaan basa basi ia langsung keatas menuju kamar sebelum ia memasuki kamar ia mengucapkan sesuatu "saya rasa bertamu dirumah orang ada batasnya, ingat jam juga ya, saya tak suka dengan tamu yang semena-mena masuk kerumah" ucapnya lantang


Mendengar ucapan dari Mbak Yel kelihatan dari wajah warga dan pak RT tak enak hati "kalo bagitu kami permisi dulu buk" ujar pak RT. "Terimakasih pak" ujarku lalu mengangguk, warga dan pak RT pun keluar dari rumah mewah yang kini aku tepati. Termasuk ibuk yang duduk di sampingku ini, saat semuannya telah melangkah keluar, ibuk yang duduk di sampingku hendak berdiri. "ibuk pulang duluya jaga diri baik-baik neng" ujar ibuk itu sambil berdiri dan ingin melangkah pergi meninggalkan ku. Namun, langkahnya terhenti sekejap karna tanganya ku tahan. Ibuk itu menoleh padaku "ada apa" ujarnya kasihan padaku. Namun, aku hanya terdiam dan melepaskan kan tangan nya kembali. "ya sudah, ibuk pulang dulu neng" ujarnya lalu melangkah meninggal kan aku. "Yang ibu katakan sudah menjadi kenyataan dalam keluargaku buk" ucap ku lirih. Kembali ibuk itu menoleh kepadaku dan menghentikan langkahnya sejenak. "kamu yang sabar, lakukan yang terbaik, ibuk mau pamit pulang dulu, gak enak sama Yel" ujar nya lalu ia pergi, kali ini aku tak lagi menahannya.


Kupandang jauh dari tepi-tepi ruangan, rumah yang indah kehidupan yang mewah tapi jauh dari kebahgiaan. Aku melangkah keatas memasuki kamar. Sementara, mas Arsen tetap duduk di tepi kolam mungkin ia menenangkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


Kreeekkk,,,,, kubuka pintu dengan perlahan karna aku takut anak-anak terbangun. Saat aku buka dan kututup kembali. Langkah ku tertegun, Anindira mengapa? Apakah ia menangis? Tapi karna apa? Akan kah ia melihat aku dan mas Arsen bertengkar?.


"Dira,,, Dira kenapa bangun? " tanyaku melihat Dira sedang duduk di lantai dan menyandarkan punggung nya ke ranjang dengan posisi meletakkan kedua tangan menyilang di atas lutut dan menepati kepala di atasnya.


"Dir,,,, kamu kenapa?" kucoba melangkah mendekatinya, ku pegang bahu Anindiria dengan lembuat, sembari ia mengangkatkan kepalanya. Oh tidak ia menangis, kenapa? Apa penyebabnya? Sungguh aku bingung di buatnya. Tak ada lagi yang ku pikirkan kecuali ia pasti melihat pertengkaran kami.


"Sayang kenapa kamu nangis nak" ujar ku langsung memeluk nya.


"E,, eh,, anak mama gak boleh bilang papa jahat" ujarku dan melepas pelukan, kuhapus air matanya yang menetes membasahi pipi.


"Terus napa papa pukul mama" mataku kembali berkaca-kaca entah kenapa aku tak suka pertanyaan apapun saat ini, apapun pertanyaannya jika itu mengenai masalah yang baru ku alami, aku hanya ingin menangis. Mataku mulai berkaca-kaca, dan akhirnya sedu tangis yang ku tahan-tahan sedari tadi di depan anak yang berumur dua tahun ini pecah juga.


"Sayang" ujarku langsung menggendong Anindira ke atas kasur dan dan mebaringkannya, begitu jua dengan ku aku pun ikut membaringkan tubuh di sampingnya.

__ADS_1


"Kita tidur lagi" ujarku menutup mata supaya Anindira ikut apa yang kulakukan.


Tak beberapa saat kemudian, waktu terus bejalan Anidira sepertinya sudah tidur, aku mendengar Ayam berkokok. Sedari tadi aku hanyut dalam isak tangis yang sedu yang di temani malam, kini mataku mulai lelah perlahan cahaya mataku melihat mulai redup, Akhirnya aku tertidur juga.


......................


POV. Author


Sementara, di luar Arsen sudah terasa kantuk yang menyerang matanya, ia pun enggan memasuki kamar, ia memilih untuk tidur di luar saja, di sofa ruang keluarga. Saat tertidur pulas. Yel pergi keluar ingin mengambil air minum karna merasa sangat haus. Saat hendak berjalan menuju keluar untuk mengecek pintu yang sejak sedari tadi dikunci atau tidak, tetapi langkah Yel terhenti saat melihat Arsen tertidur di sofa yang ada di ruang keluarga, dengan posisi menghadap kesamping, sepertinya Arsen kedinginan. Yel yang melihat Arsen yang sedang kedinginan, langsung kembali kekamar dan mengambil selimut tebal yang ia pake. Tak lupa ia semproti tambah dengan farfum yang biasanya yang ia kenakan. Lalu berjalan kebawah menuruni anak tangga lalu berjalan mendekat keberadaan Arsen yang sedang tertidur, Yel menyelimuti Arsen penuh perasaan. (Wkwkwk ada yang gatal tapi bukan talas liar).


"Hmmm tampan sekali " ujar Yel sambil meletakkan jari telunjuknya dengan lembut di atas hidup mancung milik Arsen. Lalu mengecup dahi Arsen tanpa persetujuan dan tanpa sepengetahuan Arsen. Ahh,,,, Yel sangat menikmati hal itu, rasa ingin memiliki Arsen pun semakin kuat di pikiran dan hatinya, ia tahu salah tapi ia tak bisa mengelakkan hal ini.


Lalu ia melangkah kembali kekamar, di atas ranjang Yel tersenyam senyum sendiri mebanyangkan wajah Arsen yang begitu tampan dan awet muda walau sudah memiliki dua orang anak, Arsen tetap seperti lelaki yang belum beristri. Mata Yel mulai mengantuk saat ia lihat jam telah menunjukkan pukur tiga subuh. Dengan menampungkan keduatangannya lalu berbicara "semoga mimpi bersama Arsen amin" ujarnya Yel lalu mengusapkan kedua telapak tangannya di wajah pelak*r nya, eh wajah mulus nya hehe.

__ADS_1


__ADS_2