
Tak terlu jauh akhinya sampai juga di sebuah gubuk tua, ini tak terlalu buruk, tempatnya masih layak kami tinggali. Alhamdulillah bisa dapat tempat tinggal gratis.
Aku biarkan Adam dan Anindira bermain dengan bebas. Sementara, aku lanjut membantu mas Arsen membersih kan serta membereskan rumah yang baru saja kami tempati ini.
Sudah setengah jam, Akhirnya selesai juga, rumah satu kamar ini atau bisa juga di bilang gubuk tua hanya saja masih kuat dan masih layak untuk kaming tempati.
Anindira dan Adam aku panggil untuk main kedalam rumah saja, maklum lah kami masih baru disini aku tidak biaa membiarkan anak-anaku leluasa bermain disini.
Mas Arsen keluar sebentar untuk membeli nasi untuk makan hari ini.
Setelah beberapa menit mas Arsen kembali membawa tiga bungkusan nasi yang di dalamnya ada sambal, kami pun melahabnya dengan senang hati tanpa tersiksa.
...****************...
Sudah satu bulan kami tinggal di Lubuk Pinang. hari-hari berjalan seperti biasa, aku pun sudah banyak kenal dengan orang disini. seprti yang banyak di katakan orang-orang, semua yang ada dilingkungan kita bukan sajalah hanya ada orang baik. Maka dari itu dimanapun kita akan berdiri disitulah kita harus hati-hati.
Hari ini adalah hari ke 5 mas Arsen tidak bekerja, semua keperluan rumah tangga pun mulai habis.
Malai dari beras, cabe, bawang, garam ajin nimoto, pokok nya semuanya hanya tinggal sedikit, tetapi Alhamdulillah masih ada walaupun sedikit.
Hari makin berlalu, beras pun sudah habis begitu juga dengan garam, ajunomo, cabe dan bawang.
Aku sangat bingung mau aku kasih makan apa anak-anak ku. Adam yang termasuk pertumbuhan yang sangat cepat, Adam sudah memakan nasi semejak umur sembilan tahun, apalagi sekarang sudah memasuki berumur 10 bulan, nafsu makannya pun semakin bertambah, walaupun Adam juga masih menyusu padaku.
Hari sudah pukul sebelas pagi, aku dan anak-anak pun belum makan apa-apa karena memang tak ada apa-apa di rumah.
__ADS_1
Mas Arsen jangan di tanya lagi, semejak 5 hari yang lalu ia berhenti bekerja ia selalu berangkat pagi-pagi pulang malam, entah kemana pergi nya, jika di tanya pasti ia marah.
Kadang aku bingung dengan cara pikir manusia yang satu ini, mengapa terlalu tega men telantar kan anak-anak dan istrinya.
Jarum jam terus berputar, aku tak mungkin membuat anak-anakku menahan kelaparan.
Aku berniat ingin meminjam beras ke rumah buk Idah, beliau adalah wanita satu-satunya yang baik hati, beda dengan yang lain nya.
Buk Idah seorang janda yang memiliki satu orang anak yang bisu. Ibuk Idah sudah menganggap ku sebagai anak nya sendiri, hanya saja aku takut sering-sering kerumahnya untuk bertanya ini itu karea takut sangat merepotkan buk Idah, padahal buk Idah sendiri sangat senang jika aku bertamu kerumahnya, kadang-kadang ibuk Idah yang bertamu kerumah ku.
Yang satu lagi membuat aku takut adalah anaknya seorang bisu, yang kebetulan orang-orang juga memanggilnya dengan sebutan bisu juga.
Bisu bukanlah orang yang jahat sebenarnya, hanya saja ia bicara dengan bahasa isarat sungguh aku tidak mengerti, di situ ia bicara padaku memakai bahasa isarat kadang aku hanya mengancungkan kedua jempol padanya, dia selalu menajawab respon dari ku dengan menyilangkan tangan di dahinya lalu muntah-muntah yang di buat-buat, itu menandakan ia marah padaku karena tak menjawab pertanyaan nya dengan benar. Itu yang membuatku sangat takut padanya.
"Walaikumsalam" jawab buk Idah dari dalam rumah, terdengar detak kaki melangkah mendekati pintu.
Kreek,,,, pintu terbuka.
"Eh si Nita, masuk lah" tawar ibuk Idah, mempersilahkan aku masuk kedalam rumah, aku pun mengekor masuk.
Mataku celingak-celinguk kesemua ruangan untuk mencari keberadaan bisu, 'Alhamdulillah bisu gak ada di rumah' aku membatin saar setelah tak melihat bisu di rumah.
"Bisuk mana buk?" tanyaku untuk menyakin kan bahwa yang aku pikir benar.
"Entah lah, tadu dia pergi keluar, duduklah" ujar buk Idah ramah, beliau memang benar-benar berhati seorang ibu, dia adalah orang yang baik aku kenal di kalangan banyaknya terangga ku disini.
__ADS_1
"Iya buk" jawabku sembari duduk di kursi bambu.
"Anak-anak mana? kok gak liat" tanya ibuk Idah saat tak melihat aku datang bersama dengan Adam dan Anindira.
"Main di depan buk," jawabku.
"Kamu sudah makan," tanya ibuk Idah, dia selalu bertanya begitu, karena dia tauhu bagaimana mas Arsen dan keadaan rumah tangga kami.
"Belum buk, makanya Anita kesini mau nanya beras sama ibuk, karena anak-anak juga sudah lapar" ucapku sedikit sungkan.
"Astagfirullah Alhazim Nita, Nita,,, kenapa tak dari pagi-pagi tadi ke sini, kasian anakmu, kamu juga kalo sakit perut gimana belum makan udah jam segini, kalau mau hidup jauh dari orang tua itu harus pandai menjaga diri, kalau udah sakit besok orang tua kamu juga yang pusing mikirin" erang ibuk Idah, iya selama aku jauh dari ibuk, aku merasa ibuk Idah lah penggantinya, ia selalu memberi nasihat yang baik-baik padaku.
Sebenarnya, buk Idah juga sanak kerabat dari mas Arsen. Benyak di sini sanak kerabat dari mas Arsen, tetapi hanya ibuk idah yang punya hati.
"Hmm,, Anita segan buk, ngerepotin ibuk terus" ujar ku lirih.
"Gak ada ibuk merasa repot, malahan ibuk sendiri senang bisa bantu kamu, ibuk itu udah menganggap Nita itu sebagai anak ibuk sendiri" guman ibuk Idah.
"Makasih ya buk, " ujarku, mataku sedikit berkaca-kaca karena terharu dengan sikap baiknya buk Idah, Alhamdulillah Allah sudah kirim kan manusia sebaik buk Idah sebagai penolong hidup ku.
"Udah, udah, kamu salalu saja minta terimakasih, Arsen mana? apa dia masih saja keluar tak jelas begitu" celoteh ibuk Idah, sambil membukus nasi dan sambal. Ia juga mengambil beberapa tuluk beras.
"Ya begitulah buk" ujar ku lirih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1