KAPAN USAI PENDERITAAN INI

KAPAN USAI PENDERITAAN INI
Part 30


__ADS_3

Tok,, tok,, tok,,


"Assalamualaikum"


"Wlaikumsalam, Arya. Masuk nak, ayah mau bicara sama kamu" ujar Ayani menyambut hangat kedatangan putranya.


"Ada apa ni buk, kayak nya ada masalah serius banget"


"Udah masuk aja dulu" ujar Ayani lalu meninggal kan Aryadi


"Mas Arya, kebetulan mas udah pulang, itu ayah udah nungguin mas di ruang tengah" ujar Anita sembari tersenyum


"Iya Ta, keponakan aku mana kok gak keliatan" tanya Arya sambil celingak-celinguk.


"Di dalam kamar mas, Adam sama Anindira tidur"


"Ouh begitu, yaudah mas kedalam dulu ya" balas Aryadi tersenyum


"Iya mas" guman Anita membalas senyuman dari kakak laki-laki nya.


Aryadi pun malangkah diamana Zain berada.


"Ada apa yah" tanya Aryadi sembari dudu di depan ayah nya


"Begini Arya," Zain pun menceritakan apa-apa hal yang ia bicarakan bersama Arsen beserta Anita dan istrinya tadi.


"Kalau begitu, bagi Arya bagus nya kata ayah, Arya mah seterah ayah aja"


"Jadi kamu tak keberatan kan kalo ayah menjual tanah itu" tanya Zain


"Iya yah bagi Arya tak ada masalah, oh ya yah emang kapan ayah mau jual tanah itu?" tanya Aryadi kembali


"Ya Ayah coba promosi dulu nak, kalau ada yang nawar kita jual cepat aja" jelas Zain.


...----------------...


Di samping itu di kediaman keluarga Arsen, Arsen yang baru saja datang kerumah kedua orangtua nya ia pun tak menunggu lama mengutarakan niat nya.


"Hmm,,, Mah" tergur Arsen memberanikan diri untuk manyakan hal yang ia niat kan dari rumah.


"Apa? tumben kamu pulang" jawab wina malas.


"Begini ma, besok aku akan berangkat ke Lubuk Pinang" jelas Arsen.


"Trus kenapa, mau berangkat ya berangkat aja"


"Aku dengar kemaren mama lagi jual tanah, pasti mama ada dong uang, aku mau minjam 300 ribu aja ma, cuman ongkos untuk berangkat"


" benar-benar ya itu istri kamu itu selalu aja nyuruh kamu morotin mama" ketus Wina.

__ADS_1


"Anita gak tau-menau masalah ini mah" jelas Arsen mencoba mereda emosinya.


"Kamu ini pulang-pulang minta uang terus, yang ada dalam mulutmu itu uang, uang dan uang terus. Maka nya kerja jangan bisa minta-minta aja" hardik Abram yang di tunjukkan untuk Arsen anak sulung nya.


"Wajar saja saya minta tolong sekali-kali sama kalian pa, lagi pula cuman 300 ribu"


"Kamu itu anak pertama mama seharusnya kamu itu yang bantu mama, gak seperti ini nyusahin mama demi wanita miskin itu" decak Wina dengan logat menghina.


"Ma! kita juga miskin tidak usah bicara begitu, aku kesini juga gak ngajak ribut ma, aku cuman mau minjam uang itu juga karena aku tau mama sekrang sedang punya banyak uang"


"Gak ada, uang penjualan tanah ini untuk adik mu"


"Apa maksud nya ini mah, tanah yang mama jual itu hasil pencarian aku waktu bujangan bukan hasil dari mama atau pun papa apalagi anak perempuan mama" tegas Arsen


"Heh! kamu itu anak laki-laki ya seharusnyalah semua pencarian mu untuk kami dan tak pantas untuk anak orang lain yang gak pernah tau mengatur keuangan itu" ketus Wina.


"Maa!" bentak Arsen


"Apa mau belain istri kamu lagi" celoteh Wina.


"Pulang Arsen!" bentak Abram ayah Arsen, lelaki tampan berbadan tegap itu.


"Pa! apakah salah aku meminta uang hasil dari jerih payah aku sendiri, apa kalian anggap aku ini sebagai budak kalian! yang kalian guna kan untuk penghasilan uang, dulu boleh kalian buat aku begitu Pah karena aku masih bodoh, tapi sekrang aku akan tuntut semua milikku" tampik Arsen.


Plakk,,, akhirnya satu tamparan mendarat jua di pipi Arsen.


Plaakk,,, tamparan itu Arsen balas kembali kepada Abram Papa nya.


"Apa pah kaget, sakit, gak nyangka! aku udah besar jadi tolong jangan pake kekerasan lagi, aku gak kecil lagi pah" sergah Arsen


"Berani kamu ya sama saya, dasar anak durhaka kamu!" seru Abram yang mendapat tamparan dari Arsen.


"Seharus nya Papa berfikir mengapa semua anak papa tak penah bisa menghargai kalian berdua"


"Cukup!" Teriak Wina dengan merasa cemas di dalam hati


"Memang kan?" tekan Arsen


"Anj*ng anak gak tau di untung, udah aku besarin malah jadi anj*ng gak guna" Maki Abram.


"Kau Yang Anj*ng, kalian tau, aku sangat menyesal di lahirkan untuk menjadi anak kalian" hardik Arsen


"Kurang hajar!" bentak Abram, sambil menunjukkan jari telunjuk nya ke arah pintu keluar, "Keluar kamu dari rumah saya anak haram" usir Abram dengan suara garang.


"Oke! jawab Arsen dingin.


"Anak tidak berguna, gila, bodoh, durhaka" berbagai cacian keluar dari mulut Abram.


Arsen yang tak ingin membuat suasana menjadi semakin panas, ia pun pulang. ia sadar jika ia tetap di sini emosinya mungkin akan menjadi-jadi.

__ADS_1


......................


Singkat waktu, saat Arsen telah tiba di rumah istrinya ia langsung masuk ke kamar, sementara Aryadi dan Zain masih berbincang-bincang di ruang tamu. Anita yang melihat suami nya sudah pulang ia pun langsung menghampirinya.


"Mas" panggil Anita lembut


Arsen hanya terdiam dengan wajah merah padam, ya tentu saja ia masih emosi apa-apa yang ia dapatkan dari rumah orangtua nya.


"Kamu kenap mas" tanya Anita sembali mengakat kedua alis nya.


"Uang nya gak dapat Ta" jawab Arsen memalingkan wajah nya dari Anita.


"Sudah ku duga, orang tua kamu itu kan kikir pelit mana mungkin ia mau ngasih kita pinjaman"


" Arrgghhh,,, Kamu bisa diam gak! jangan nambah masalah lagi! " bentak Arsen dengan suara garang.


Karena Anita tak ingin ribut, apalagi sekrang ini mas Aryadi kakaknya ada di rumah, Anita pun pergi meninggalkan Arsen.


Azan magrib pun terdengar di kumandangkan, Ayani dan Zain bergegas memngabil wudu untuk menunaikan ibadah sholat magrib. bagitupun Aryadi pergi ke masjid didekat rumahnya, untuk menunaikan sholat magrib berjemaah.


Sementara Anita hanya duduk termenung di teras mengerutu merenungi kehidupan nya.


"Berapa kali hati ini kau sakiti mas mengapa aku selalu memaafkan dirimu dan memilih hidup terus-menerus tersakiti sepanjang hidup hanya ingin untuk bersamamu, begitu besar kah rasa sayang dan cintaku padamu mu mas jadi jangan sampai hati ini lelah untuk terus bertahan dengan sikap mu yang slalu menyakiti" Anita membatin sambil menggigit bibir. Ya itu lah cara Anita untuk menahan rasa sakit dan air matanya.


"Ta" panggil Ayani.


Panggilan Ayani berhasil memecah kan renungan Anita.


"Aa hemm apa buk" jawab Anita kaget, hampir saja ia tak menjatuh kan air mata.


"Masuk dalam, udah magrib masih saja duduk di luar" tegur ayani


"Iya buk"


"Yaudah ibuk mau sholat dulu" pamit Ayani, sebenarnya Ayani tahu Anita putrinya tak sedang baik-baik saja, tetapi Ayani memilih untuk bersikap seperti tidak tau apa-apa.


Setelah Ayani menghilang melangkah pergi kebelakang, Anita pun masuk dan duduk di ruang tengah yang bisa juga di sebut ruang keluarga.


Tak lama kemudian Arsen keluar dari kamar dengan berpakian rapi, ya kemana lagi kalau tak ke tongkrongan nya.


"Ta mas keluar dulu" pamit Arsen. Anita tak menjawab dan tak sedikit pun menoleh ke pada Arsen.


"Aku cari kerja, untung-untung ada yang nagajak kerja" jelas Arsen, saat melihat wajah Anita tak sedap di pandang.


"Mau keluar ya keluar saja tak usah bikin alasan"


"Alasan Ap,,,,," ucapan Arsen terhenti


"Aku malas ribut mas" Sambar Anita, lalu pergi kedapur.

__ADS_1


Arsen yang melihat perlakuan istrinya yang begitu ia hanya menarik napas dengan kasar, lalu melanjut kan langkah nya keluar. tanpa mempedulikan persaan Anita ia pun pamit paergi.


__ADS_2