KAPAN USAI PENDERITAAN INI

KAPAN USAI PENDERITAAN INI
Part 36


__ADS_3

Siang telah berlalu kini malam yang gelapun tiba menghampiri, pukul 21:00 Adam dan Anindira sudah tertidur pulas.


Aku pun ikut berbaring di atas ranjang sementara mas Arsen sudah keluar semejak tadi magrib.


Entah kemana ia pergi, aku enggan untuk bertanya karena tak ingin ribut.


Mataku tak mau terpejam karena pikiran tak pernah tenang, yang aku pikirkan besok makan apa untuk bisa bertahan hidup.


Keasikan bercengkerama dengan pikiran meratapi kesulitan hidup berpihak padaku. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, iya itu adalah mas Arsen pulang.


Aku berjalan membuka pintu, hati sakit melihat tingkah laku mas Arsen yang tak berubah makin menggebu. Malam ini mungkin kah bisa aku tahan. Tuhan mungkin telah memberiku ketabahan dan kesabaran hingga hari-hari lalu bisa aku pendam, tetapi aku tidak yakin untuk hari ini.


"Mas" tegur ku saat mas Arsen hendak merebahkan badanya di ranjang ia terlihat sangat mengantuk.


"Hmm,,, " dehemnya.


"Aku mau bicara" ujar ku.


"Bicarakan saja" ucap nya santai.


"Keluarlah sebentar, nanti anak-anak kebangung" ajak ku, masih berdiri di pintu kamar.


"Huh,,,," mas Arsen mengeluh, ia mengubah posisi berbaring menjadi duduk.


"Mau bicara apa malam-malam begini, aku sudah mengantuk" tungkas mas Arsen.


"Ck,,," decih ku, lalu keluar dari kamar.


🌱🌱🌱


Jam telah menunjuk pukul 2 dini hari aku, mataku masih tak ingin mau tidur. Aku masih terduduk termenung di luar.


Terdengar detak kaki melangkah mendekatiku. Aku langsung menoleh kebelakang ia itu adalah mas Arsen yang ingin menghampiri ku.


"Kenapa belum tidur?" tegur mas Arsen sembari duduk besebelahan dengan ku.


"Aku benar-benar tak bisa berfikir mas" ujar ku datar, ku paling kan wajah dari mas Arsen.


"Kenapa?" tanya mas Arsen kembali.


"Ada ya ciptaan Tuhan yang sama sekali tak punya hati, yang tega mentelatar kan anak-anak dan istrinya, sementara ia bersenang-senang di luar sana" ketus ku.


Mas Arsen hanya terdiam sejenak, entah apa yang ia pikirkan. apakah ia menyadari perbuatannya entah tidak.

__ADS_1


"Bersenang-senag apa lagi maksud mu ini Ta, aku keluar mau cari kerja, kalau dapat itu juga pasti untuk kalian" jawab mas Arsen.


Tidak aku tidak boleh lanjut bicara lagi, aku tak ingin ribut. Lebih baik aku simpan saja unek-unek sakit hati yang telah ku pendam lama ini, tidak mungkin juga ribut dini hari begini. Kasian juga sama anak-anak nantinya kalau terbangun.


Aku berdiri berjalan kearah kamar melaluinya, kubaringkan badan di atas ranjang perlahan aku pejam kan mata untuk menghilangkan beban pikiran.


🌱🌱🌱


Pagi pun menghampiri, silauan cahaya matahari datang memasuki celah-celah kamar yang berdiding papan kini yang kami tempati.


Aku lihat mas Arsen masih tertidur pulas di atas ranjang, dengan sigap aku langsung pergi kesumur untuk mandi membersihkan diri. Sekarang aku akan cepar bergegas, aku akan mengikuti kemana mas Arsen pergi hari ini.


Selesai membersihkan diri aku kenakan baju waktu ku gadis dulu masih bagus dan muat untuk di pakai. Kemudian lekas aku bangun kan Anindira dan Adam.


Beras yang di kasih oleh buk Idah kemaren segera aku tanakan di atas tungku yang sudah aku nyalakan api.


Lanjut aku mandikan Anindira dan Adam, semua sudah selesai.


mas Arsen pun terbangun dari tempat tidurnya, saat bersamaan nasi pun sudah masak.


Aku siap kan dua piring yang berisi nasi yang aku capur sedikit garam kemudian ku berikan kepada kedua anak-anak ku.


Aku tak menghiraukan mas Arsen yang berlalu di depan kami, mas Arsen pun tak mempedulikan diam ku.


"Eh anak papa lagi mamam" ujar nya kepada Anindira dan Adam.


"Iya pa, papa mau mama uga" ujar Anindira yang masih berumur dua tahun.


"Gak usah dira sama adek mamam aja dulu sampe kenyang, papa mau keluar dulu" ujar nya lembut sembari mengecup kedua pipi anak-anaknya lalu pergi.


"Aku keluar dulu Ta" pamit mas Arsen aku tak menjawab.


Baru beberapa langkah mas Arsen pegi, aku burukan anak-anak untuk makan cepat.


"Cepat makannya, kita mau pergi keluar" ujar kupada anak-anak.


Adam telah menghabiskan nasinya langsung meminum air yang sudah aku sediakan untuknya.


Sementara Anindira masih ada satu suap nasi lagi, "kita mau kemana mama" ujar Anindira lugu dengan suara lucunya.


"Main keluar, tempat dimana pada sering pergi" ujar ku pada Aindiran, ia pun mengangguk.


Akhinya ia selesai.

__ADS_1


Aku berjalan di jalan pintas mengikuti mas Arsen, jalan aku tempuh penuh dengan sema-semak, sangat banyak nyamuk-nyamuk menggigit Dira dan Adam begitu juga dengan ku.


Aku tak mempedulikan itu aku hanya ingin tahu kemana saja selama ini Arsen sering keluar.


"Maa Atit banyak nyamuk,, kata mama mau pegi turut papa, kok malah kecini" rengek Anindira, yang sedari tangan nya aku tarik untuk bisa berjalan cepat, sementara Adam aku gendong.


"Dira diam dulu, ya" umbuk ku, aku terus berjalan menyusuri semak-semak yang sangat banyak sekali nyamuk yang menggigit.


Dan sampai lah di saat nya mas Arsen terhenti di sebuah rumah bagus, yang memiliki warung besar, mas Arsen hanya duduk santai.


Disitu juga bukan hanya ada mas Arsen seorang, tetapi juga ada pria-pria lainnya yang ikut bergabung duduk bersama.


Tak beberapa saat aku melihat seorang wanita cantik, mungkin umur nya kira-kira 2 tahun di bawah mas Arsen.


Ia keluar sambil membawa satu gelas kopi lalu duduk di depan mas Arsen sambil menyuguh kan satu gelas kopi itu kepada mas Arsen.


Dari banyak nya laki-laki mengapa harus suamiku yang wanita itu goda. Sesak yang aku rasakan semakin mendalam dada ku gemuruh seperti gempa. Sakit skali ini benar-benar sakit.


Wanita itu duduk sexsi yang di buat-buat, ia mengenakan celana pendek sepaha, terlihat jelas mulus kulit pahanya, badanya juga bagus bak gitar spanyol.


Entah apa yang mereka bicarakan aku tak bisa mendengarkan itu, yang jelas mereka berbicara saling tertawa, sungguh sangat bahagia bukan? sesekali aku lihat wanita itu memegang tangan mas Arsen tak ada pula penolakan sedikit pun dari mas Arsen.


Hatiku merintis kesakitan, jika memang cintanya telah terbagikan, aku tak akan sanggup lagi untuk bertahan.


Saat ini aku tak akan menangis, tetapi sangat ingin melabrak langsung wanita itu. Namun, tak mungkin jua itu ku lakukan,


Sudah satu jam aku berdiri di semak-semak ini sampai Adam Anindira ingin menangis karena nyamuk terus menggit mereka. Jadi, aku pun mengutuskan untuk pulang.


Sekuat apapun hati, jika sudah sakit air mata yang tak pernah kita kehendaki untuk meluncur jatuh menghampiri pipi akan terjatuh jua.


Sepanjang perjalanan air mata mengalir begitu saja, hidupku benar-benar tanpa rasa.


"Maa napa mama nangis" sapa Anindira.


"Dira tadi liat gak apa yang mama liat" tanyaku pada Anindira anak sulungku.


"Ndak" ujar gadis lugu ku ini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mendapati jawaban itu aku hanya bisa terdiam, aku tak ingin anak-anak membeci papa nya, tetapi aku tak pula ingin menutupi semua.


Adam yang sedang aku gendongi menerka air mataku dengan tangan mungilnya.


🌱🌱🌱

__ADS_1


__ADS_2