
"Pura-pura apa maksud mu ini Ta? " tanya mas Arsen bingung. Entah ia benar kebingungan entah ia hanya berpura saja.
"Jika mas tak cinta lagi padaku, lepaskan aku mas, jangan buat aku begini" saat ini aku tak menahan isak tangis ku lagi, tak usah kututup-tutupi kesedihanku pada mas Arsen, biar saja ia tahu kalau aku sedang menangis. Tak bisa ku pungkiri sakit yang kurasakan.
"Tak cinta bagaiman? Emang mas berbuat apa padamu? "ujar nya terus bertanya.
"Tak usah seperti orang bodoh mas, seakan tak tahu semuanya, padahal mas lah awal dari segalanya" ujar ku terisak.
"AWAL BAGAIMANA MAKSUDMU? JANGAN BIKIN AKU EMOSI TA, KAMU SELALU SAJA MENANGIS TANPA SEBAB! " bentakkan mas Arsen membuat ku yakin ia benar-benar bermain api di belakang ku.
Ku ambil napas dalam, kupejam kan mata, ku gigit bibir, ya itulah caraku menahan segala sesak. Bukan nya ia minta maaf padaku malah marah kembali.
"AKU MENANGIS KARNA ADA SEBABNYA MAS! Seharusnya kamu itu minta maaf padaku bukan malah begini mas! "
"Minta maaf padamu? Aku rasa aku tak pernah salah, akhir-akhir ini aku rasa baik-baik saja padamu, aku juga sibuk kekebun gak ada waktu juga aku menyakitumu" ujar mas Arsen. Ia berdiri dan melangkah kan kaki kearah pintu.
"Kemana kamu mas! Aku belum selesai bicara" ujarku menghentikan sejenak langkah mas Arsen.
"Apalagi ta? Aku tak tahu apa-apa, dan kau menangis tak jelas begini" ujranya.
"Bagaimana aku tak menangis mas, hatiku sakit saat mendengarkan ucapan dari mbak Yel, yang katanya akan menjadi istri kedua mu mas, aku tak sanggup di madu mas, ceraikan kan aku setelah kita sah bercerai kalian boleh menikah" suaraku lirih, aku menoleh kebelakang dimana mas Arsen yang ku bilang berdiri sedari tadi di depan pintu.
"MAASSSS! " pekiku saat aku menoleh kearah pintu tidak ada siapa-siapa di sana, hatiku sangat kesal. Sedari tadi aku bicara sendirian. Melihat mas Arsen tak ada di kamar lagi aku bergegas kebawah memcari mas Arsen, karna dipikiran ku menyangka pasti mas Arsen sedang bersama mbak Yel.
__ADS_1
Setelah aku mencari semua ruangan termasuk dapur dan di belakang tempat kolam, akhirnya aku keteras. Tiba-tiba langkah ku menjadi gemetar, dadaku kembali sesak. Aduh sakit sekali jarum itu kembali menusuk-nusuk dadaku. Namu, aku berusaha kuat, walaupun pemandangan di depan ku sangat merusak mata. Kenapa? Kenapa disaat hati ku berusaha nengatakan tidak apa yang di ungkapkan pikiranku, tetapi mengapa itu adalah nyatanya.
Kupejamkan mata segenap lalu kulihat kembali mas Arsen masih memijit kaki mbak Yel. Hah tidak, ini adalah pelak*r yang lebih rendah dari pelac*r. Rasanya tak bisa kutahan lagi, aku langkah dengan kencang dan kuratarik pintu dengan kasar.
"APA-APAAN INI! " ujar ku berdiri di depan pintu menghadap kemereka dengan kebencian, rasanya jijik sekali melihat dua orang makhluk di depan ku ini.
"Mbak Yel terjatuh karnaku, jadi kakinya tersa sakit dia minta tolong di pijitin" ucap mas Arsen sambil menurukan kaki mbak Yel dari pahanya.
"GATAL" ujarku langsung mendorong membuat Mbak Yel terjatuh terkangkang kebelang bersama kursinya. Kulihat mas Arsen sedikit menahan tawa, entah apa yang lucu baginya.
"Anita!" ujarnya memegangku tanpa membantu mbak Yel sedikitpun. Mbak Yel berdiri dengan sendirinya.
"Apa mas! Apa! " ucapku dengan suara agak mengeras.
"Kamu kenapasih sedari tadik marah-marah" ujar mas Arsen malas lalu ia hendak pergi meninggalkan aku dan mbak Yel di teras.
"ANITA!! Kamu sudah gila hah! Kamu itu salah paham, jangan mudah menilai sesuatu itu dengan cepat tanpa penjelasan dari orang" ujarnya sambil memegang tangan ku sampai melepaskan rambut mbak Yel.
"Apa salahnya aku Ta, sampe kamu kasar sekali pada mbak" ujar perempuang gat*l ini, dengan mata berkaca-kaca lalu berjalan masuk kedalam, aku tahu membuatnya masuk kedalam bukan karna sakit hati denganku telah berbuat kasar padanya, tetapi malu dilihatin tetangga yang mengitip di balik gerbang.
"Dasar gak tau diri, masih saja menanyakan salah"
"Anita!" Plakk,,,,,kini aku yang mendapati ramparan yang begitu keras di pipiku, sakit sangat sangat sakit, tetapi lebih sakit hati ini. "kamu itu yang seharusnya sadar diri! Dimana kamu tinggal sekarang? Bagaimana kamu bisa merasakan kehidupan layak seperti sekarang" ujar mas Arsen membesarkan volume suaranya nya. Lalu ia masuk kedalam, aku tahu ia pasti malu karna ada tetangga melihat.
__ADS_1
Aku berlari mengejar dari belakang "tega kamu mas nampar istri sendiri demi wanita jal*ng yang kau cintai" celotehku yang berajalan di belakang. Saat itu kulihat mbak Yel menuruni tangga dan keluar dari pintu rumah, sepertinya ia pergi keluar.
Mendengar ucapanku mas Arsen berhenti mendadak. tangannya menggempal keras urat-urat tangannya bangkit, wajahnya merah padam di sertai mata yang begitu jua memerah. Aku takut tapi hatiku sakit. Plaak,,,,, kali ini tamparan yang lebih kuat ku dapati dari mas Arsen. Adil, ya kini pipiku adil kiri dan kana merasakan sakit. "sudah mulai kurang hajar kamu sekarang ya" suarnya menggema di dalam ruangan.
"Salahkah aku cemburu ketika suamiku memiliki hati untuk wanita lain, salahkah aku mas? " ucap ku lirih tersedu terhanyut dalam isak tangis. Lagi-lagi air mata ku berkorban atas semua akan kesakitan ini.
"Tidak pantas kamu cemburu dengannya Anita!" ujar mas Arsen sambil menunjuk-nunjuk.
"Tidak pantas bagaimana mas!"
"Apa kamu bodoh hah! Aku sangat malu pada mbak Yel karena kelakuan bodoh mu tadi, jika aku dari dulu tahu kamu itu sebodoh ini dan kampungan sekali! Tak akan ku nikahi kamu! "
Badan ku melemah seketika mendengar ucapan dari suami sendiri sekasar ini, akan ku bawa kemana diri ini Tuhan, akan kah aku harus mengakhiri hidup supaya derita dan sakit ini bisa berhenti, dadaku sangat sesak, aku duduk perlahan di sofa.
"Dan seharusnya aku yang menyesali nya mas" ujarku masih menguatkan diri menjawab walau takut mas Arsen akan menyakitiku, tetapi mengapa harus takut hal itu bukankah aku telah terbiasa di kasari, karna didasari cinta maka itulah aku masih bertahan.
"Apa! Coba kamu ulang perkataan mu" ujar mas Arsen berjalan cepat menuju aku duduk dan membukuk di depan ku sambil memegang dan menggucang kasar bahuku, sakit sebenarnya nya aku hanya menunduk menupah kan segala sedu tangisku, bahkan airmataku jatuh kelantai seperti hujan yang menghujani tanah.
"Sudah berani kurang hajar hah! Apa ingin mengahiri hidupmu disini, jika kamu mati disini akan kukubur disini dan tak pernah kukatakan kepada orang yang di kampung" ujarnya masih manatap tajam padaku. Namun, ia melepaskan bahuku. Aku hanya terdiam tak lagi berani menyahut.
Brakk,,,,,,post bunga kaca yang ada di samping tv dilempar pecah di depanku, kaca-kaca post bunga berserakan. Aku kaget, rasa takut begitu mendalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
kira-kira Arsen benar-benar selingkuh dengan Yel gak yah.
ayok baca trus kelanjutan ceritanya biar tau kelanjutannya kekgimana, tinggalkan like dan comen juga ya kakax 😊