
Setiba di rumah, aku biar kan Adam dan Anindira bermain dengan bebas di luar, karena aku memang sedang ingin untuk sendiri.
"Tuhan,,, aku harus bagaimana? apakah aku harus tetap bertahan atas pernikahan kami, tapi aku benar-benar tak yakin aku bisa Tuhan" ujar ku sendu air mataku menetes dengan deras, tak bisa kupungkiri sakit nya batin ini.
Sekuat hati aku akan menahan tangis, sungguh aku tak bisa menjalankan ini tanpa tangis.
Kehidupan ku kini memeng telah di kuasai tangis dan derita. Ada penyesalan di dalam hatiku telah memilih dia menjadi suami ku. Namun, tak mungkin jua aku sesali, jika tak ada mas Arsen dalam hidup ku mungkin tak ada pula dua malaikat kecil penguatku saat ini.
Sesering apapun saat ini aku menertka air mataku, pipipun tak pernah kering, seakan semua di banjiri air mata.
"Hiks,,, hiks,,, hikss,, " aku terus meratap, kedua tangan ku menggenggam erat-erat rambutku.
Jantung ku sangat terasa tercabik-cabik kan, aku yang tadinya benar-benar tak ingin menangis melihat kejadian yang tadi, tetapi sekarang malahan tangisan ku makin menjadi.
Entahlah luka ini makin mendalam, siksaan batin yang aku rasakan benar-benar sakit.
🌱🌱🌱
Pukul empat sore Arsen pulang, ia terduduk di ruang luar dengan santai menghisap rokok.
Aku keluar dengan emosi yang bergejolak api, mata yang masih bengkak.
"Sudah pulang mas?" tanyaku.
"Udah" jawab mas Arsen masih dengan santai menghisap rokoknya.
"Kenapa pulang? kenapa gak tidur saja di rumah wanita jal*ng itu" ketusku.
Mas Arka seakan beralih menatapku dengan tajam sungguhlah seram seperti ingin membunuh, sungguh ini lebih seram dari apapun. Namun, sayang tatapan itu tak membuat ku untuk berhenti untuk mengoceh melepas sakit di hati yang telah lama aku pendam.
__ADS_1
"Apa maksud mu" sergah mas Arsen dengan suara mulai membesar.
"Hiks,,,hiks,,," aku meratap, air mataku kembali menetes dengan deras tampa halangan.
"Hiks,,, jahat kamu mas" teriakku, terisak dalam tangisku.
"Apa kah kau sadar, aku dan anak-anak mu terlantar tak kau nafkahi, tapi apa? kau malah bersenang-senang dengan jal*ng mu dia luar sana" senga bicara memaki- maki wanita itu tak luput pula dengan tangis tersedu-sedu sembari ku menunjuk-nunjuk tangan ke arah luar.
Mas Arsen mendekat padaku dengan mata yang memerah, "jal*ng apa kata kau ini Ta, cobalah sedikit tidak berlaku bodoh!" sergah mas Arsen
Aku mendekat kan wajah ku pada mas Arsen, "Aku memang bodoh mas, tapi aku ini manusia bukan binatang yang bisa kau buat sembarang dengan sesuka hati mu mas, oh,,,, aku tahu, kamu mau pergi setiap hari siang malam kerumah wanita gat*l itu, mungkin kalian sering tidur berdua kan?" Tangkas ku tak kalah emosinya, mataku pun tak luput dengan air mata.
Plak,,,, satu tamparan yang keras yang hampir saja mebuat rahangku terlepas.
"Aw,,," teriak ku, memegang pipi kiriku yang baru saja mendapatkan tamparan yang begitu keras dari mas Arsen.
"Jaga bicar kamu Anita jika bicara dengan ku, aku ini suami mu" tekan mas Arsen dadanya naik turun, mata yang memerah rahang yang mengeras. Ini benar-benar seperti harimau yang ingin menerkam maksanya.
"Argggh,,,," geram mas Arsen.
Brak,,, satu tinjuan yang keras mendar di dinding rumah, papan nya pun langsung rusak. Suatu pukulan yang sangat bagus buka?.
"Diam kau Anita!" bentak mas Arsen, sekarang ini ia benar-benar seperi harimau yang ingin menerkam.
Ada rasa takut, tapi bisa kah aku tahan lagi. Aku terdiam, hanya air mata menjelaskan bahwa hatiku kini tidak sedang baik-baik saja bahkan sangat terluka.
Mungkin pria yang bergelar suamiku ini telah lupa akan janji surga yang pernah ia ucapkan dahulu hingga kini neraka pula yang ia nyalakn untukku.
"Berapa kali aku bilang Ta, jangan pernah kau pancingkan emosi ku, kau mungkin tau Ta, pada orang tua ku sendiri tak segan-segan aku melakukan ini apa lagi kepadamu, tetapi mengapa kamu berani bicara lancang padaku seperti ini" sergah mas Arka.
__ADS_1
"Lepas ikatan kita mas, aku tak ingin menjadi istrimu lagi" ujar ku tersedu-sedu.
Satu gelas mendarat di sampingku lalu terjatuh kelantai. Brakk,, kaca gelas berserakan di atas lantai rumahku kini.
Kemudian mas Arsen berjalan mendekatiku melalui pecahan kaca yang berserakan, ia memegang rambut ku dengan kasar lalu menariknya kebelakang dengan keras.
Sakit ia benar sakit, hidup ku lengkap sakit batin dan rohani sudah lebih dari cukup aku dapati. Rasa takut semakin kuat menghantuih diriku.
"Kamu ingat kata ini baik-baik Anita, aku tak akan pernah melepaskan mu, kecualai maut kematian yang memisahkan kita" tekan mas Arsen kemudian melepas kan genggaman rambut dari tangan nya lalu mendorong tubuhku dengan kuat sampai aku tersungkur kelantai.
"Huwaa,,,, hiks,,,hikss,, Ya Allah,,, hikss,, " tangis ku makin terisak aku tak mngerti jalan kehidupan ku.
"Kamu benar mau pisah," mas Arka berjalan mengambil satu pisau lalu mendekati di wajah ku, "Kamu bunuh aku atau aku yang bunuh kamu Ta" ujar mas Arsen datar ia menatap ku dengan tatapan yang mengerikan.
'Oh tuhan aku benar-benar belum ingin mati, bagaimana dengan anak-anak ku jika aku tak tiada lagi' aku membatin, air mata terus menghiasi pipi ku.
"Jawab Anita! " bentak mas Arsen, membuatku terkejut. Jantung ku berdegup dengan cepat dadaku terasa sangat sesak, aku takut.
"Istigfar mas,,, sadar,,,, mas,,, ya Allah mas,,,, hiks,,, hiks,," aku masih saja menangis tersedu-sedu dalam ratapan.
'Tuhan tlonglah hambaku ya tuhan ku' Aku kembali membatin.
"Arsen,,, " pekik buk Idah, datang dari luar.
"Ya Allah nak,,, sadar,, kanapa kamu buat anak orang kayak gini" ujar bik Idah cemas lalu berlari mendekati.
"Aku sadar buk, aku sadar,,, " jawab mas Arka.
"Apa kau buat Anita kayak gini nak,, ya Allah" rintih buk Idah sambil memelukku, aku hanya bisa diam. Hidupku beruntung kali ini karena ada wanita ini, wanita yang slalu membantu hidupku. Aku tau buk Idah ia juga bisa di sebut orang tua dari mas Arsen karena mereka memang juga punya hubungan aliran darah, maka dari itulah ibuk Idah tak segan-segan melarang perbuatan buruk mas Arsen.
__ADS_1
"Aku lakukan ini hanya tak ingin pisah dengan Anita buk" ujar mas Arsem datar, dada nya masih sesak menahan emosi.
🌱🌱🌱