
"Hmm,,, harum nya" sahut ku sambil mencium aroma khas masakan dari ibu dari dulu sampe sekarang tak pernah beda masakan nya yang paling top markotop wkwkwk.
Ibuk refleks tersenyum melihat tingkahku yang selalu memuji masakan nya, tetapi jarang sekali membantu nya memasak, ada sih ada tapi sesekali biasanya masak di sore hari.
Sambil ibu ulek-ulek sambal nya "udah bangun? , cucu-cucu Ibuk mana?"
"Adam baru aja tidur buk, kalau Anindira belum bangun" ujar ku.
"Ouh begitu terus ya bangun cepat tapi gak mau bantuin ibu masak" gurau ibu.
****
Di meja makan kami termasuk Anidra terkecuali Adam, menghidangkan masakan ibu yang begitu enak sambil berbincang-bincang untuk menghangat suasana.
"Ayah dengar kalian akan berangkat ke Lubuk pinang, benar itu Sen?" tanya ayah menatap sekilas mas Arsen lalu lanjut melahap makanan masakan Ibuk.
"Iya tulah yah, tetapi mau cari modal keberangkatan dulu" jelas mas Arsen sopan.
"Ayah rasa,,, tunggu penjualan tanah dulu baru berangkat"
"Hmm,,, Arsen jadi tak enak hati ya, besok Arsen akan bekerja dan isyaallah gajinya cukup untuk ongkos kami berangkat" jelas mas Arsen.
"hmm begitu,,, itu tergantung dengan kalian berdua"
Ya mas Arsen dan ayah sangat akrab, bahkan ayah sangat menyayangi mas Arsen. Kadang ayah memperlakukan Arsen seperti anak kandungnya sendiri.
Ya begitulah keakraban mereka, itupun dikarenakan mas Arsen sangat sopan dan sangat menghargai ayah sebagai mertuanya.
Percakapan kami di akhiri setelah serapan pagi ini.
"Mas" panggilku pada mas Arsen, saat kami sedang duduk berdua di teras.
"Hmm" dia melirik ku sekilas.
Sesudah memanggilnya aku hanya terdiam mau bicara apa, karena ia tak kunjung menerima balasan kembali padaku, ia kembali bertanya.
"Mau bicara apa Ta, kok diam?" ucapnya yang tadinya ia pokus dengan rokok yang ia isapi sambil memandang langit yang cerah, kini ia memutar pandanganya menghadap padaku.
Walaupun aku sudah punya dua anak, ya aku juga masih ada rasa tegang kalau di perhatiin gitu sama suami sendiri.
Soalnnya jarang-jarang ia berbuat manis padaku, ya biasanya kalau tak kekerasan bentakan.
"Oi,,, " mas Arsen kembali menyahut sambil meletikkan jarinya di depan wajahnya.
"hmm" ucapku tanpa ekspresi, aku bingung sebenarnya tadi aku mau bicara apasih.
"Malah cuma balas hmm,,, mau bahas tentang keberangkatan kita ke LuPi?" tanya kembali.
"LuPi? apa itu LuPi mas? " tanya ku bingung.
__ADS_1
"lupiyu hahaha" godanya sambil berkekeh kecil
Sebenarnya di dalam hati berbunga-bunga sih tapi aku ya rada-rada cuek gitu aja.
" Ya Lubuk Pinang lah Ta mana lagi hahaha" sambungnya kembali sambil terkekeh-kekeh
"Iya, kamu kapan dapat kerja? " tanyaku.
"Besok aku kerja, kan tadi udah aku bilang," ujar nya kembali pokus ke rokok yang ia isap sambil tersenyum manis
"Waktu mas pinjam uang ke ibu, ibu ngomong apa?" tanya ku dengan wajah datar, ya tetap pasang wajah datar lah walaupun di hati kembang kempis whahaha
"Gada katanya"
Percakapan aku dan mas arsen berakhir karena Adam menangis meminta asi padaku.
***
"Assalamualaikum"
Karena aku mendengar ada yang mengucap salam aku bergegas membuka pintu.
Sambil membuka pintu aku jawab saalam dengan ramah.
"Arsen nya ada? " tanya pria yang saat ini berdiri di depan ku.
"Tadi keluar sebentar katannya mas, silahkan masuk dulu" aku mempersilah kan pria itu masuk dan duduk di atas kursi di ruang tamu.
"Sudah lama pergi nya dik? "
"Ouh gak juga mas, katanya sebentar, bentar lagi pasti ia pulang" jelas ku.
"Ouh gitu" pria itu lalu duduk
"Tunggu sebentar ya mas, aku kebelakang dulu mau bikin air " permisiku.
"Tak usah repot-repot" katanya.
Saat hendak beranjak kedapur untuk membuat air, aku melihat Adam sudah berdiri di tengah jalan di mana antara ruang tengan dan tamu
Ia menatap pria itu dengan tajam, karena dengan kulitnya yang hitam ia terlihat sangat kuat.
Aku tau apa yang akan ia lakukan, tetapi aku hiraukan saja dan langsung melangkah kedapur.
Setelah selesai membuat kopi aku langsung kedepan, masih di ruangan tengah hendak menuju ruangan tamu.
Aku lihat Adam masih menatap pria itu, tetapi kali ini ia melangkah mendekati pria yang tadi katanya teman mas Arsen.
Bughkk,,, ya seperti aku duga satu pukulan yang kuat telah mendarat di punggug pria itu, pria itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Eh kecil-kecil udah jahat, kenapa pukul paman? " tanya pria itu menatap Adam dengan gemas.
Aku melangkah mendekati meja di depan pria itu dengan menghidangkan segelas air kopi untuk tamu yang malang ku ini.
"Silahkan di minum mas, maaf mas ia memang begitu setia orang kesini pasti selalu dapat tabokan dari dia"
"Hahaha ya tak apa-apa, berapa umur nya? "
"Masih sembilan bulan" terang ku.
"Eh masih kecil udah bisa jalan, kuat lagi tenaganya"
"Itulah orang-orang juga pada ngomong gitu" terang ku.
"Eh kenapa pukul paman" ujar pria itu dengan wajar seperti lagi becanda dengan Adam.
"Amamaan buyuk" jawab Adam lalu lari kedalam.
Tak menunggu lama mas Arsen pun pulang, aku langsung kedapun untuk membuatkan satu gelas kopi lagi untuk mas Arsen.
Setelah aku letakkan segelas kopi, aku tak ingin tahu lagi pembicaraan mereka.
Aku langsung melangkah menuju kebelakang dimana ada ibu.
Biasa ibu kalau sudah sore pasti larinya kedapur, ya mumpung sudah sore jadi aku mau bantu ibu masak di dapur.
Selesai masak, menjelang magrib aku pergi jalan-jalan juga dong ke rumah tetangga. Ya mau ngapain lagi kalau tak ghibahh wkwkwk.
****
"Baru muncul kamu ta, kemana aja kau gak keluar-keluar rumah udah beberapa hari ini" tanya tetangga ku.
"Ada miting di luar Negeri buk," ujar ku menyeringai
"Ada-ada saja kamu ini Ta' Ta, ibuk dengar-dengar loh cerita dari orang-orang masalah mertuamu ya parah banget dah"
Kata-kata yang di lontar kan oleh ibuk tetangga ku ini membuatku kepo saja, entah berita apa lagi.
"Emang apa buk?" tanyaku sok cuek.
"Aku dengar-dengar sih dia bilang ke orang-orang kamu nyuruhin Arsen ngamok-ngamok minta bagian uang hasil penjualan tanah entah apalah gak jelas aku. Terus ya dia kasih lah Arsen uang dua juta dari pada ribut gitu katanya"
Uhhh makin memanas telinga dan hatiku mendengar cerita yang baru saja keluar dari mulut tetanggaku ini, entah lah mertuaku ini memang tak bosan-bosan nya menfitnah aku. sejak kapan pula aku mengajak mas Arsen untuk durhaka pada orang tuanya. Duh makin geram nih hati
"Astagfirullah kurang hajar banget tu mulut nenek lampir ngomong ya, sejak kapan pula dia kasih uang kekami dua juta, pandai banget tu mulutnya ngomong ya...
Jujur nih buk ya suami aku aja minjam uang 3 ratus rebu aja gak dapat, apalagi dia ngasih uang 2 juta,,, preeeet hak mungkinlah"
Selama ini ya buk ya aku gak pernah tuh makan sepersen pun uang dari merrtua walaupun seribu rupiah buk" celoteh ku dengan logat yang sangat cepat dan gemas.
__ADS_1