
Setelah kepergian Arsen, Anita pun duduk kembali di ruang tengah, Ayani ibu Anita yang sudah selesai mengerjakan sholat wajib langsung menghampiri Anita yang tengah duduk termenung di ruang tengah.
"Eh anak ibuk kenapa nih kok merana aja" tanya Ayani sambil duduk di samping Anita.
"Hmm,,, Ibuk, udah selesai sholatnya buk" tanya dengan senyuman.
"Udah lah, gimana kata Arsen tadi" tanya Ayani
"Ya ibu pasti udah taulah buk jawaban nya apa" jawab Anita malas
"Hmm ya sudah tunggu ayah mu jual tanah aja berangkatnya, gimana?" usul Ayani
"Hmm boleh juga buk, kalau mas Arsen dapat kerja jadi kami bakal berangkat cepat, gak nunggu tanah di jual dulu. ya kalau mas Arsen belum juga dapat uang ya terpaksa dong nungguin Ayah jual tanah dulu"
"Iya sudah, gak usah dipikirin" balas Ayani.
Saat ayani dan Anita asik berbincang, tiba-tiba aryadi tak sengaja mendengar isi pembicaraan mereka. Aryadi pun ikut bergabung bersama mereka begitu pula dengan Zain.
"Anita mau kemana buk" sahut Aryadi.
"Mau berangkat ke Lubuk Pinang katanya Arya" jelas Ayani pada putra sulung nya.
__ADS_1
"Ngapain kesana, gada gak boleh tetap aja di rumah" cegah Aryadi.
"Kenapa sih mas?" tanya Anita dengan raut wajah mulai berubah tak senang.
"Kamu tau sendirikan suami kamu gimana, nati mau di kasih makan apa kalau sudah tiba di sana" tegas Aryadi pada Anita.
Aryadi bukannya membenci iparnya atau pun terlalu ikut campur urusan keluarga adik perempuannya, tetapi hanya saja ia khawatirkan adiknya.
"Mas! dia itu sudah jadi kepala keluarga jadi dia paham dan tau cara menafkahi keluarganya" bantah Anita, bagaimana pun Anita dengan Arsen ia tetap membela suami nya. Bukan bertapa sayang nya kita pada seorang suami, tetapi tentang mempertahankan kan runah tangga sendiri demi anak-anak dan orang tua.
"Alah kamu ini kalo di bilangin pasti ngeyel terus, liat aja ujung-ujungnya kamu sendiri yang susahkan" ujar Aryadi.
"Sudah lah mas, ini keluarga aku, aku yang jalanin, aku juga tau maksud mas baik, tetapi aku gak mestinya begini terus sampai esok dan lusa mas. Aku gak mungkin terus-terusan nyusahin ibuk sama ayah." jelas Anita.
"Sudah-sudah Aryadi, kamu juga gak baik ngomingin ipar kamu kayak gitu, mereka sudah punya keluarga sendiri jadi mereka berhak memilih kehidupan mereka sendiri" cegah Zain.
"Bagaimanapun caranya Arya tidak setuju kalau Anita berangkat ke Lubuk Pinang" lalu aryadi melangkah pergi meninggalkan rumah.
"Arya kamu gak boleh gitu loh nak," tegur lembut Ayani
Tanpa melengahkan kata ibunya ia langsung keluar, ya pastinya ia pulang kerumah istrinya. Aryadi memang telah beristri bukan berarti karena ia telah beristri menjadi halangan ia datang kerumah orang tuanya setiap waktu.
__ADS_1
"Mas Arya kenapa kek gitu trus sih bu?" cemberut Anita
"Udahlah gak usah di pikir, yaudah sana tidur, udah malam kasian Anindira sama Adam gak ada yang nemanin tidur" Ayani mencoba menenangkan Anita
Tanpa berkata apa-apa Anita langsung kekamar.
****
POV. Anita
Saat terdengan suara rengekan Adam beriringan dengan suara Azan subuh yang di kumandang kan di masjid, aku membuka mata dengan segan, dikarenakan rasa kantuk masih menguasai mataku.
"Sttt sttt sttt" lalu aku susui Adam sambil menepuk-nepuk pant*tnya.
Kantuk yang tadi menyerang kinipun mulai menghilang dari mata, kulihat di samping Anindira sudah ada mas Arsen tertidur pulas.
Seketika aku tersenyum menatap wajah nya dan seketika pula senyum itu mulai memudar saat teringat perlakukan nya.
Adam pun tertidur kembali, aku pun beranjak dari ranjang melangkah menuju kamar mandi, ya mandi subuh adalah kebiasaan. Itupun jikalau aku terlalu cepat bangun.
Selesai mandi aku rasanya ingin kembali merebah kan diri ke atas ranjang, tetapi bukan untuk tertidur.
__ADS_1
"Adek,,,, " panggil ku lembut sengaja membangunkan kembali Adam, ya kan lebih enak saja tidak sendirian.
Rasanya sudah lama Adam terbangun dan bermain bersamaku. Akhinya Adam tertidur pulas kembali di samping kakanya Anindira, Ayam pun mulai berkokok, aku dengan semangat melangkah menuju pintu jendela dan membukanya. sangat terlihat jelas suasana pagi masih dengan kabut.