KAPAN USAI PENDERITAAN INI

KAPAN USAI PENDERITAAN INI
Episode 39


__ADS_3

Dengan laju motor kecepatan tinggi, akhinya sampai kembali di mana rumah yang tadinya akan aku tinggal pergi. Namun, terpaksa untuk kembali lagi.


Motor di hentikan, dengan sigap mas Arsen menuruni motor, aku pun begitu pula sembari meletakkan Adam dan menuruni Anindira.


Tangan ku di tarik dengan kasar oleh mas Arsen, sudah ku duga akan terjadi ribut besar kali ini.


Anak-anak tampak ketakutan akan kecemasan dengan apa yang mereka lihat.


Brak,,, aku di dorong hingga terbanting ke tepi rumah yang berdindinkan kayu yang usang.


Aaaa,,, teriak ku di sebabkan rasa sakit kepalaku terbentur kedinding dan rasa bercampur cemas.


"Kau,,,," hanya satu ucapan itu keluar dari mulut manusia kejam ini dengan mata yang memerah, nafas yang kencang tersengal-sengal dan cepat membuat dada bidangnya sangat terlihat jelas naik-turun.


Plak,,,, sati tamparan keras mendarat di pipiku yang sebelum nya juga fasih akan kekerasan ini.


"Aaaa,,,, ampun mas" aku berteriak histeris sembari memegang pipi yang tadinya mendapat jatah yang begitu keras dari tangan kekar itu.


"Huwaaaa,,,,,,, huwa,,,, " teriakan demi teriakan tangisan demi tangisan berasal dari kedua mulut malaikat kecilku. Aku tau betul akan kecemasan yang mereka rasakan. 'maaf kan mama nak'


Tentunya mereka merasakan kecemasan yang begitu memdalam saat melihat pertengkaran dalam kekerasan ini.


Anak yang mana yang tidak hancur melihat pertengkaran kedua orangtua nya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Anita? apa kau tak bosan-bosan nya mencari ribut denganku! " sergah mas Arsen, tatapan mata merahnya sangat tajam, ini benar-benar sangat menakutkan.


"Igstigfar mas,,,, aaaa" sendu ku dengan badan sekujur tubuh menggigil bukan karna kedinginan melainkan karena ketakutan kepada sang harimau yang kelaparan.


"Apa maksudmu pulang begitu saja tanpa memberi tahuku? oh aku tau kamu mau menunjukkan pada semua orang kalo aku ini kejam, aku ini tak mampu memberi biaya hidupmu! benar kan Anita! "


"Mas! sudah, kasihan anak-anak"


"Ck,, arghh" Brak ,,, lagi-lagi mas Arsen mendarat kan satu pukulan di dinding rumah.


"Kenapa kamu pulang gak bilang sama aku?" tanya mas Arsen kembali dengan mimik suara yang sedang, tetapi masih dengan nafas yang sesak tersengal-sengal.


Aku hanya diam bergeming, air mata terus mengalir tanpa ekspresi.


Benci, ya hanya satu kata itu yang bisa aku lukis kan saat melihat maklhuk kejam satu ini.


Anak-anak pun tak berhenti-henti menangis bahkan lebih kencang. Suasana saat ini bisa di gambar seperti ramai nya pasar.


"Bagaimana aku bisa bertahan disini mas tanpa nafkah dari mu, aku dan anak mu kau terlantar. Apakah pernah kau menyadari itu? tidak. tentu tidak kan mas? karena kamu cuman bisa tertawa dengan janda jahan*m itu...."


Plak,,,, belum sampai mulutku melepaskan semua unek-unek yang aku simpan selama ini, malah terhenti oleh lima jari mas Arsen yang di daratkan ke pipi tak bersalah ku ini.


"Aaaarhhh,,, sakit mas" suaraku mengeras saat mendapatkan tamparan dari mas Arsen.

__ADS_1


"Diam kamu! kamu benar-benar tidak tahu sopan santun sedikitpun dengan suami" sergah mas Arsen, emosinya semakin memanas.


"Aaaa aaa hiks,, hiks,,," aku hanya bisa menangis pedih meratapi nasib malang ku ini.


"Istri gak guna! bisa nya cuma nangis terus" decak nya.


"Kalo kamu terus-terus begini mas aku benar-benar gak kuat mas!" teriak ku dalam seduh.


"Mau kamu hah!" sergah mas Arsen.


"Aku mau cerai mas!"


Plak,,,,, satu tamparan lagi-lagi mendarat di pipiku dengan keras, kemudiam ia keluar.


Sungguh kejam bukan? tentu tak perlu lagi di pertanyakan.


Ku terka air mataku dengan kasar saat pandanganku beralih kepada anak-anak ku yang menangis.


Aku berusaha berdiri lalu melangkah pelan mendekati malaikat-malailat kecilku kemudian merangkulanya.


"Mama hiks,,,, hiksss" Dira dan Adam larut dalam tangisan dalam dekapan bahuku.


"Sudah-sudah jangan menangis lagi, mama gak papa kok" ujarku tersenyum dengan suara serak parau. Bagaimana pun caranya menjadi seorang ibu harus lah kuat dan harus menguatkan anak-anaknya.

__ADS_1


Meski dalam hati sangat tertiris perih nya luka tersayat sembilu. Namun, semua luka tak akan menjadi penghalang senyumku untuk anak-anak ku.


🌻🌻🌻


__ADS_2