Kehidupan adalah sebuah permainan

Kehidupan adalah sebuah permainan
Arset penerus keluarga Akiyama.


__ADS_3

"HARUKOO!!..*


...Suara teriakan seorang lelaki menggelegar di seluruh isi kelas. terlihat seorang lelaki bersuara hitam berlari menghampiri sembari berteriak ke arah dua gadis kembar yang baru saja memasuki kelas nya....


"Ha-harukoo...ka-kamu... tahu tidak??" tanya lelaki itu dengan nafas yang tak beraturan, seolah ia tengah terburu-buru memberitahu sesuatu kepada gadis di depannya ini (Haruko).


"Sebaiknya, kau tenangkan diri mu terlebih dahulu!! Reaksi mu saat ini, terlihat sangat kacau" kata Haruko sembari melipat tangan nya di dada.


...Lelaki itu menarik nafas panjang nya, sembari mencoba menemani dirinya sendiri. Lelaki itu benar-benar membuat semua pandangan teman sekelas nya, tertuju pada dirinya yang sedang berdiri berhadapan dengan sosok gadis yang cukup dikenal sangat emosional....


"Eum..Sudah?! Lanjutkan" ucap Haruko saat ia melihat lelaki teman sekelas-nya ini telah berada dalam ketenangan nya.


"Se-Semalam, saat aku akan pulang ke rumah ku. Aku melihat dengan jelas, bagaimana seorang wanita memukul ayah mu habis habisan di gang dekat rumah mu"


*DUARTT*


...Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Hikarj terkejut, saat mendengar perkataan itu terlontar dari mulut lelaki teman sekelas nya ini. Tubuh nya kaku, manik mata nya terus menatap tajam ke arah lelaki itu dan saudari kembar nya....


"...."


"Lantas?? Apakah hal seperti ini ada hubungan nya dengan ku??" tanya Haruko dengan nada serta raut wajah datar nya. Seolah ia tengah menunjukan dengan terang terangan bahwa ia tak pernah peduli kepada ayah nya.


"A-Apa yang baru saja kau katakan, H-Haruko??" tanya lelaki lawan bicara nya, sembari berjalan melangkah mundur.


...Suasana di kelas kini jauh lebih menegangkan dari bandingkan sebelum nya. Dengan situasi yang seperti ini, Hikaru hanya bisa menghampiri lalu membawa pergi saudari kembar nya yang hanya berdiri sembari terdiam dengan tatapan tajam nya....

__ADS_1


"Bodoh!! Apa yang baru saja kau lakukan!?" seru Hikaru sembari menarik Haruko keluar dari kelas nya.




...Hikaru membawa saudari kembar nya ini pergi ke halaman belakang sekolah mereka. di sana suasana nya sudah cukup sepi dan bahkan hanya merekalah yang saat ini berada di sana....


...Tak mengerti harus berbuat apa lagi, Hikaru hanya bisa berdiri sembari memandang ke arah dinding sekolah nya....


"Tidak bisakah kau mengontrol cara bicara mu itu?!" tanya gadis itu dengan suara lelah nya.


"Apa yang salah dengan ucapan ku?" Haruko bertanya balik, hingga membuat Hikaru memutar arah tubuh nya, menghadap ke arah gadis bersurai hitam di di belakang nya.


"Tidak kah kau mengerti?? Ini semua hanya akal-akalan mereka saja!! Jika mereka tahu kau tidak memiliki hubungan yang baik dengan ayah, itu bisa saja di manfaatkan oleh mereka" tegas Hikaru dengan nada marah nya.


"Apa maksud ku?? Maksud ku adalah, mereka mencoba mencaritahu tentang diri mu lebih jauh?! Tidak kah kau mengerti dengan apa yang ku katakan!!!" Hikaru semakin menegaskan ucapan nya.


...Setelah mendengar hal itu, Haruko terdiam. Kini ia mengerti, ada banyak hal yang di ketahui oleh saudari kembar nya ini namun tidak di ketahui oleh diri nya....


...Teman?? Popularitas?? Kepintaran?? Pengamatan Hikaru justru lebih handal untuk hal hal seperti ini. Bahkan isting serta tebakan nya tak pernah meleset sedikit pun. Semua itu terjadi karna ia memiliki sifat waspada yang cukup tinggi....


...Disisi lain, Haruko hanyalah seorang gadis yang serupa dengan Hikaru. Namun ia memiliki pemikiran yang cukup rendah, Ia terlalu gegabah dan tak bisa mengontrol emosional nya. Meski saat ia ketakutan, cemas , dan marah, reaksi di tubuh nya tak terlihat sedikit pun. Hal itu lah yang membuat teman sekelas nya penasaran akan kepribadian sebenar Haruko....


"Pikirkan kesalahan mu!! Aku akan kembali ke kelas terlebih dahulu, jika pikiran mu tidak membaik, sebaiknya kembali lah ke rumah dan beristirahatlah." ucapan gadis itu terdengar melintas di telinga Haruko yang tengah melamun.

__ADS_1


"...."


"Aku akan bersikap tenang, jadi kumohon kendalikan emosi mu itu!! Penerus keluarga Akiyama adalah diri mu. Bahkan arset dokumen keluarga kita telah tercantum nama mu, jangan bertingkah ceroboh atau reputasi mu yang akan terancam."


"Siapa yang peduli akan hal itu??" tanya Haruko dengan santai nya, Hingga membuat gadis di depan nya terdiam tak berkutik.


"...."


"Aku tak pernah menginginkan arset dokumen itu. Lagi pula apa untungnya jika nama ku tercantum di sana?? Apakah ayah akan menghargai ku? Tidak!! Dia tak kan merubah sifat nya, jadi untuk apa aku merasa beruntung setelah mendapatkan arset keluarga Akiyama??" lanjut Haruko dengan suasana panas di dada nya, namun raut yang terlukis di wajah nya sangat datar.


"Aku mengerti seperti apa jalan pikiran mu itu."


"Lalu??"


"Namun kau cukup ceroboh saat mengambil sebuah tindakan"


"Apa pedulinya dengan mu?"


"Dimana kau mengambil langkah mu, aku akan tetap berdiri di belakang mu. Selama arset keluarga Akiyama masih atas nama mu, kuharap kau tak melakukan hal bodoh"


"Bagaimana jika arset itu tidak tercantum nama ku??"


Hikaru mendenguskan nafas panjang nya, lalu berkata. "Lakukan lah sesuka mu" sahut Hikaru sembari berjalan meninggalkan gadis bersurai hitam yang masih berdiri terdiam di belakang nya.


Namun tanpa sadar, sebuah smirk kecil perlahan muncul di wajah gadis bersurai hitam ini.

__ADS_1


"Aku sangat tidak mengerti dengan ucapan mu itu, Tapi.. Terima-kasih Hikaru. Kau yang terbaik."


__ADS_2