Kehidupan adalah sebuah permainan

Kehidupan adalah sebuah permainan
Kelas tambahan yang mencurigakan.


__ADS_3

Kini hari telah semakin siang, Namun Haruko tak kunjung kembali ke kelas nya. Ia masih terduduk pasrah di halaman belakang sekolah-nya. Sembari terus memikirkan ucapan Hikaru pada nya, menyesal? Tidak... Haruko tidak pernah menyesali ucapan nya saat dikelas.


Melainkan, teguran Hikaru lah yang membuat diri nya terus di kerumungi rasa bersalah.. Mengapa?? Apakah ada yang salah dengan ucapan??. Anehh!!


"Kau sedang apa??"


Mendengar seorang bertanya pada nya, Haruko dengan perlahan mencoba mengangkat kepala serta membuka mata nya yang terpenjam.


Setelah penglihatan nya berhasil melihat dunia di hadapan nya, kedua manik mata Haruko tertuju pada sosok lelaki yang terlihat begitu familiar untuk nya, ia tengah berdiri tepat di hadapan nya sembari memegang jaket berwarna hitam di tangan kanan nya. Tak lain, lelaki itu adalah Haru, anak dari kelas 7-3.


"Tidak ada" Haruko menanggapi ucapan lelaki itu sembari kembali menundukan kepala nya.


"Apa yang terjadi? Wajah mu terlihat kusut sekali" ucap nya sembari berjongkok di hadapan Haruko, ia mencoba menyama tinggi gadis yang tengah terduduk di depannya.


"Bukan urusan mu!!" sahut Haruko acuh tak acuh.


Haru sempat di buat terdiam saat mendapat respon singkat dari gadis di depan nya, Namun saat mata nya melihat ke arah tangan kanan nya sendiri, ia jadi teringat bahwa ia berniat mengembalikan jaket yang di berikan Haruko pada nya beberapa hari yang lalu.


"Ku kembalikan pada mu" ucap Haru sembari menaruh jaket hitam yang ia bawa, lalu ia menyeselimuti atas punggung gadis itu.


Disisi lain, Haruko yang merasa tubuh nya terbalut sesuatu, kepala nya mulai terangkat secara antusias.


"Huh?? Apa yang kau lakukan??" tanya Haruko dengan tatapan datar nya.


"Mengembalikan jaket milik mu" jawab Haru sembari bangun dari posisi jongkok nya.


Haruko menghela nafas nya pelan, lalu mengambil jaket yang berada di atas punggung nya. "Oh ya."


"Jika kau sedang dalam masalah, aku tidak keberatan jika harus menjadi teman bicara mu" Haru mencoba menawarkan diri nya sendiri.


Haruko menyipitkan tatapan nya, sembari berkata "Terima kasih, tapi kurasa aku tak membutuhkan hal itu" sahut nya dengan kejam.


"Kalau begitu, kembali lah ke kelas!! Kau telah melewatkan 2 pelajaran pagi ini." ujar Haru sembari berjalan meninggalkan gadis bersurai gelap ini di belakang nya.


Setelah mendengar hal itu, Haruko segera berlari kembali ke halaman sekolah nya, menaiki tangan serta berlari di koridor lantai 3 menuju ke kelas nya.


*TAK TAK TAK*

__ADS_1


Suara hentakan kaki terdengar tengah mendekati suatu kelas, bahkan suara hentakan kaki itu membuat para siswa di kelas 8-1 saling menatap satu sama lain.


*BRAKKKK*


Yapss... Kepanikannya kali ini membuat ia berada dalam masalah baru. Takia datang dan membuka pintu kelas nya secara cepat, hingga membuat pintu kelasnya menghantam dinding di belakang nya.


Tak hanya itu, bahkan kehadiran diri nya membuat seluruh pandangan teman teman sekaligus guru di kelasnya menatap ke arah diri nya.


"Akiyama Haruko" tegur pak Erwin saat melihat kehadiran gadis yang tak lagi asing untuk nya.


"Ma-maaf pak saya terlambat" sahut nya dengan nafas yang terengah-engah.


Pak Erwin melipat tangan nya di dada, lalu berjalan menghampiri gadis yang masih sibuk mengatur nafas nya itu. "Pergi kemana saja kau?" tanya pak Erwin dengan nada datar nya.


Haruko hanya tertunduk, ia menyadari kesalahan nya. Itulah mengapa ia tak berani menatap langsung wajah pak Erwin saat ini. "Maafkan sya pak" sesal Haruko dengan rasa bersalah di hati nya.


"Ucapan mu itu tidak menjawab pertanyaan ku" desak pak Erwin yang kini berdiri tepat di hadapan gadis bersurai gelap itu.


"Eu-euggg... Sa-saya dari halaman belakang sekolah pak" jawab Haruko sembari mengangkat kepala nya.


"Iya pak saya tahu, saya menyesali nya" ujar Haruko, sembari kembali membungkukkan tubuh nya.


Mendengar penyesalan yang pertama kali di ucapkan oleh gadis ini, membuat pak Erwin mendenguskan nafas panjang nya lalu membelai kepala gadis itu dengan lembut, bahkan para siswa di sana juga terkejut dengan tingkah pak Erwin saat ini.


"Duduk" pinta pak Erwin sembari menarik tangan nya kembali dan memasukan nya kedalam saku celana nya.


Haruko sempat di buat terkejut saat diri nya mendapat respon asing dari pak Erwin. Karna mau bagaimana pun, Haruko adalah siswi yang paling sering terkena hukuman oleh para guru, terutama wali kelasnya sendiri. (Pak erwin).


"Du-Duduk?" Haruko mengulangi ucapan pak Erwin barusan.


Pak Erwin mengangguk pelan "Iya, Kenapa?? Apa kau ingin terus berdiri disini?" tanya pak Erwin.


Haruko bergeleng pelan, lalu berjalan ke arah meja tempat duduk nya. "B-Baik pakk"


Sebelum gadis itu akan duduk di kursinya, Pak Erwin kembali memanggil nama nya, hingga membuat Haruko menolehkan pandangan nya lagi.


"Sepulang sekolah, tetaplah berada di kelas" kata pak Erwin sembari berjalan menuju meja guru.

__ADS_1


"A-Apa bapak akan menghukum saya?" tanya Haruko yang kebingungan.


"Tidak!! Bapak tidak akan menghukum mu, Melainkan untuk hari ini kau akan dapat kelas tambahan dari bapak!! Jadi tetaplah berada di kelas, sepulang sekolah nanti"


"Kelas tambahan?"


"Ada apa? Apa kau keberatan?"


"Tidak pak, saya mengerti"


Selesai bicara, Pak Erwin kembali meminta Takia untuk kembali ke tempat duduk nya dan melanjutkan pelajaran saat ini. Di pihak lain, Hikaru mulai mengamati tingkat aneh Haruko sekembali diri nya setelah termenung berjam-jam di belakang sekolah nya.


Ini tidak asing, Namun untuk saat ini berbeda dari biasa nya. Karna ini adalah pertama kli nya, ia mendengar Takia menyesali perbuatan nya, Gadis satu ini sulit sekali untuk di tebak.


~ • • • ~


*Tingg...Nong....*


Suara bell sekolah pun berbunyi, menandakan sekolah hari ini telah selesai. Tepat di pukul 15:55 sore, seisi sekolah telah menjadi sunyi karna tak ada siswa lain yang berada di kelas, selain Haruko, Hikaru dan Shion dan Liam.


"Pulang lah duluan!! Tak perlu menunggu ku" pinta Haruko sembari menyiapkan buku catatan merah milik nya.


"Kapan kelas tambahan ini berakhir??" tanya Liam sembari melipat tangan nya di dada.


"Entahlah, kau pikir aku tahu apa tentang kelas tambahan ini." sahut Haruko dengan ketus.


Shion menghela nafas panjang nya, laku berkata "Apa hanya aku yang merasa ada hal aneh dari sikap pak Erwin hari ini?" sambung Shion dengan pertanyaan nya.


"Aneh?? Apa maksudmu?" tanya Liam sembari menolehkan kepala nya ke arah lelaki yang berdiri tepat di sebelah gadis bersurai putih perak.


"Cara ia menegur serta mengajari kita selama jam pelajaran nya, itu terasa sangat menyeramkan." jelas Shion.


Hikaru mengerutkan kening nya. "Berhenti memikirkan hal aneh!! Masih beruntung Haruko tak mendapatkan hukuman. Ini hanya sebuah kelas tambahan, jadi sebaiknya jangan terlalu di curigakan" Hikaru menasihati kedua lelaki di sana.


Mendengar ungkapan gadis itu, membuat Haruko bangun dari kursi nya lalu berjalan meninggalkan ketiga teman nya yang masih berdiri di dekat meja nya.


"Kurasa kau mengetahui sesuatu. Itulah mengapa kau bersikap waspada saat ini. Gerak gerik mu terlihat jelas di mata ku, Akiyama HIkaru"

__ADS_1


__ADS_2