Kehidupan adalah sebuah permainan

Kehidupan adalah sebuah permainan
Cemburu yang tak pernah ku ucapkan


__ADS_3

Mendengar ucapan itu terlontar santai dari lelaki itu, membuat gadis di depan nya tertegun dan terdiam.


"..."


Lagi lagi lelaki itu hanya tersenyum meski gadis itu terus merespon nya dengan singkat. Di saat gadis itu masih terdiam, Haru melangkah mendekati punggung gadis itu sembari membuka kunci yang berada di ujung kalung nya.


Setelah ia berdiri tepat di belakang gadis itu, ia mulai memasangkan kalung tersebut di leher gadis di depan nya. Bahkan setelah Haru telah selesai mengaitkan kalung nya, gadis itu masih terdiam cukup lama.


"Sudahh, bagaimana? Apa kau menyukai nya?" lelaki itu bertanya sembari memeluk kedua bahu gadis itu dari belakang.


"K-kauu ini kenapa?"


"Aku baik, kau sendiri mengapa seperti itu?" sahut Haru sembari menjatuhkan kepala nya di atas bahu gadis itu.


Hikari menggerakan tangan nya, lalu meraba dengan pelan sebuah kalung yang menggantung di leher nya.


"Kenapa? Kenapa kau berikan ini pada ku?" tanya Hikaru sembari melepaskan pelan sepasang tangan yang melingkar di bahu nya.


Saat Haru melihat Hikaru mulai memutar arah tubuh nya, dan menghadap ke arah diri nya, membuat ia terdiam sejenak. "....."


"Hadiah.." jawab Haru dengan pelan.


"Hadiah??"


Haru mengangguk pelan "Sebenarnya ada hal yang ingin ku katakan pada mu, tapi kurasa itu akan membuang waktu mu saja"


"Apa maksud mu?" tanya Hikaru tak mengerti.


"Lagipula jika aku mengatakan nya, kau takan percaya akan hal itu"

__ADS_1


"Aku sungguh tak mengerti dengan apa yang sedang kau bicarakan. Jika ada hal yang ingin kau katakan, mengapa tidak katakan secara langsung saja?"


Haru terdiam lagi. Reaksi di wajah nya tampak gelisah dan ragu ragu, tangan nya juga mulai gemetar pelan entah apa yang ia rasakan saat ini.


"Haruuu-??" melihat lelaki itu terdiam, membuat gadis ini memanggil nama lelaki itu.


"Aku menyukaimu..."


Hikaru tertegun, manik mata nya terbuka lebar saat telinga nya mendengar kalimat tersebut terlontar dari mulut lelaki itu, hingga membuat degupan kencang terasa hingga menembus dada nya.


"...."


"Yaaa.. Aku tahu ini gila, kau juga tak akan percaya dengan hal ini. Namun hanya inilah yang ingin aku sampaikan pada mu"


"T-tungg-


"Tidak!! Aku tak peduli seperti apa jawaban mu tentang perasaan ku. Tapi ku harap kau tidak melepaskan kalung pemberian ku"


Haru menggelengkan pelan kepala nya. "Tidakk.. Maaf jika aku telah mengganggu pikiran mu. Kalau begitu aku akan kembali ke kelas, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Setelah ini aku tak kan mengganggu mu lagi, percayalahhh"


"...."


"Yasudahh, sampai ketemu lagi nona Hikaru" ucap lelaki itu sembari berlari meninggalkan gadis bersurai putih di belakang nya.


Meski kini mereka telah berada di tempat yang berbeda, degupan kencang hingga pikiran yang kacau masih keduanya rasakan. Haru dan Hikaru adalah sosok teman kecil yang terselip dengan rasa cinta yang terhalang dengan situasi.


Disisi lain, Shion yang baru saja keluar dari kelas nya, ia melihat dan mendengar semua yang terjadi di sana. Membuat pandangan nya tertunduk, karna gadis yang berdiri di depan pintu kelas nya itu masih memegangi kalung pemberian teman nya.


Situasi semakin gelap, suasana hati Shion pun berubah menjadi suram. Ia sangat tak mengerti dengan perasaan nya saat ini, rasa bahagia serta rasa sakit tercampur aduk di dalam diri nya.

__ADS_1


Bahkan niat Shion untuk mengajak Hikaru masuk ke dalam kelas nya, tiba tiba hilang seketika. Benangan kaca mulai sedikit terlihat di lingkaran hitam pada mata Shion. Pada akhirnya, Shion hanya memutar arah tubuh nya dan kembali ke tempat duduk nya tampa menegur gadis bersurai putih perak itu.


*Ningg Nonggg*




( Beberapa hari kedepan )


Setelah kejadian di hari itu, Shion merasa diri nya semakin jauh dengan gadis teman sebangku nya ini. Tak mengerti mengapa dunia begitu cepat mengubah keadaan, yang jelas hanya ada kecanggungan di antara diri nya.


Di tambah lagi dengan sosok lelaki dari kelas 7-1 itu, dia sering kali berkunjung ke kelas nya untuk mengajak Hikaru dan Haruko bermain atau pun bermain bersama.


"Harukoooo....Hikaruuu... Cepat lahhh!!! Yang lain sudah menunggu"


"Iya iya.. Maaf telah membuat kalian menunggu"


"Kau juga ikut yaa Harukoo"


Percakapan itu terus terdengar di jam istirahat. Bahkan serisi kelas 8-3 juga tak akan asing jika melihat 2 lelaki itu datang.


Meski Shion tahu bahwa 2 lelaki itu adalah teman masa kecil Hikaru dan Haruko, Tetap saja, entah mengapa rasa aneh, canggung serta jarak terus terasa di dalam diri Shion.


Di pihak lain, Rekki yang menyadari akan perubahan sikap Shion akhir akhir ini, ia juga sering menyemangati teman nya yang satu ini. Rekki juga sering berkata pada Shion bahwa Haruko dan Hikaru tak kan melupakan mereka, karna mau bagaimana pun Shion, Rekki, Hikaru dan Haruko adalah sahabat sejak mereka kelas 7 ( SMP 1 ).


Dengan begitu, Shion tak perlu memikirkan hal yang tidak tidak tentang Hikaru maupun Haruko. Respon yang Rekki dapat hanya sebuah anggukan kecil dari lelaki itu.


'Melihat mu berlari dengan tangan yang tergandeng oleh sosok lelaki yang berjalan di depan mu. Adalah rasa sakit yang ku tahan di balik kata semangat serta senyum yang selalu ku tunjukan pada mu...Haruko'

__ADS_1


Sosok lelaki terlihat tengah termenung di koridor sembari melihat sekelompok murid sedang mengobrol di kursi kantin.


__ADS_2