Kehidupan adalah sebuah permainan

Kehidupan adalah sebuah permainan
Harukoo... kamu tidak sendirian


__ADS_3

*Tak...Tak...Tak*


Suara langkah kaki nya terdengar pelan, seorang gadis bersurai gelap tengah berjalan di koridor sekolah. Gadis itu berjalan tanpa melihat kedepan, pandangan nya hanya terpokus pada bayangan diri nya di lantai kramik koridor. Lantai nya sangat bersih hingga membuat seseorang yang berjalan di sana dapat melihat bayangan nya sendiri.


'Apa? Apa yang salah jika suatu hari nanti aku memberikan obat itu pada ayah??'


'Lagi pula aku tidak akan membunuh nya, jadi jika hal seperti itu terjadi ini bukan tindakan kriminal donk'


Di sepanjang jalan, Haruko terus bergumam, kepala nya terus memikirkan dimana letak kesalahan nya. Ia tak begitu mengerti dengan arti kehidupan, hal ini sama seperti kasus dimana terjadi nya pembunuhan, si korban membela diri dengan membunuh si pelaku saat diri nya hendak akan di bunuh setelah di cabuli oleh si pelaku.


Mengapa hanya pelaku yang di lindungi? Mengapa semua orang hanya melihat tindakan dari salah satu pihak saja??


Isi pikiran gadis ini terus di kerumungi hal hal aneh, ia juga tak berhenti bertanya pada diri nya sendiri. Mengapa permainan dunia begitu kejam sehingga diri nya tak dapat merasakan apa itu belaian dari sosok ayah.


Perlahan suasana hati Haruko mulai berubah, tak sesekali ia akan menutup mata nya, menggeram dalam diam di setiap langkah nya.


'Aku ingin tahu, hal kejam seperti apa lagi yang akan di tunjukan oleh dunia pada ku.'


'Bahkan jika hal itu melewati perantara perlakuan ayah pada ku, mengapa tidak bunuh saja aku??'


'Mengapa dia hanya menyiksa ku, membanding-bandingkan ku, menghina ku, dan terus berkata bahwa dia menyesal memiliki putri seperti ku? apa dengan cara menyiksa ku, akan membuat nya bahagia?'


'Seperti apa rasa bahagia itu?? Apa aku bisa merasakan nya juga?'


'Bagaimana cara melakukan nya?'


Haruko menghentikan langkah nya, ia berdiri di koridor sembari menatap ke arah telapak tangan nya. Meski tatapan nya terlihat sangat kosong, sejujurnya isi pikiran Haruko perlahan di kerumungi hal hal kejam.

__ADS_1


Tak hanya itu, dia juga membayangkan seperti apa reaksi seseorang yang mendapat perlakuan dari nya. Memohon? Menangis? Menjerit?? Apakah hal seperti itu mengagumkan.


"Harukooo"


Di saat Haruko tengah berada di dalam lamunan nya, tiba tiba seorang lelaki datang entah dari mana. Ia menaruh tangan nya di atas tangan gadis itu.


"Harukooo"


Lelaki itu kembali memanggil nama gadis yang terdiam di depan nya ini. Tatapan nya begitu kosong, ia tak mengerti hal apa yang tengah di pikirkan oleh gadis ini.


"Heiii...Harukooo, Harukooo sadarlahh..."


Setelah beberapa kali memanggil nama gadis itu, akhirnya suara lelaki ini dapat menembus hingga ke dalam lamunan Haruko. Hal itu pun juga menyadarkan gadis ini yang termenung bagai sosok patung tak bernyawa.


Saat ia berhasil kembali ke dalam kesadaran nya, pandangan nya langsung di pertemukan oleh sosok lelaki yang berdiri tepat di hadapan nya. Lelaki itu menatap dirinya dengan tatapan yang sangat cemas.


Bahkan saat lelaki itu tahu bahwa gadis di depan nya telah sadar dari lamunan nya, ia menjatuhkan kepala nya ke atas bahu gadis yang tinggi nya sedikit lebih rendah dari tinggi nya.


Melihat tingkah lelaki itu, membuat Haruko terdiam. Ia juga telah berhenti memikirkan hal aneh di kepala nya. Karna ia sadar, meski ia tak punya sosok ayah yang menyayangi nya, ia tetap memiliki sosok teman kecil nya yang begitu menyayangi diri nya.


Lelaki itu bernama nya Rekki, umur nya 1 tahun lebih muda dari Haruko. Namun lelaki itu bertingkah cukup dewasa, ia begitu tahu cara memperlakukan seorang wanita dengan sangat lembut. Kasih sayang yang di berikan oleh lelaki itu membuat Haruko merasa tenang, dan begitu merasa aman di dekat nya.


"...."


"Heii.. Mengapa kau hanya terdiam, katakan pada ku apa yang tengah kau pikirkan dari tadi?" ucap lelaki itu lagi tampa mengangkat kepala nya dari bahu gadis itu.


Haruko mengangkat tangan nya, lalu membelai surai lelaki itu dengan sentuhan lembut nya. "Tak ada yang perlu di khawatirkan, Semua baik baik saja"

__ADS_1


Tanpa aba aba, setetes air mata jatuh di atas bahu gadis itu hingga membuat seragam nya terdapat noda tetesan air.


"He-heii?? Apa kau menangis?" Haruko sedikit terkejut saat merasakan tetesan hangat di bahu nya.


"Sebenarnya aku ini kau anggap apa?" tanya lelaki itu dengan nada sedikit terisak.


Haruko sedikit tertegun dan menghentikan tangan nya setelah mendengar ucapan lelaki itu. "A-Apa maksud mu??" gadis itu bertanya balik.


"Di sini ada aku, mengapa kau bertingkah seolah kau sendirian di dunia ini." lelaki itu mengangkat kepala nya, lalu menatap lurus ke arah gadis yang terdiam menatap wajah nya.


"Kau tidak sendirian, Harukooo... Disini ada aku, ada Hikaru juga yang selalu berada di dekat mu, lalu mengapa kau terus merasa diri mu sendirian?" lelaki itu kembali melanjutkan ucapan nya.


Haruko hanya bisa terdiam, lalu dengan cepat ia memeluk tubuh lelaki itu dengan antusias hingga membuat lelaki di depan nya terkejut dengan tingkah tiba tiba dari gadis di depan nya ini.


"...."


"Ha-Harukoo??"


"Jangan pergi.."


Lelaki itu sangat kebingungan saat mendengar gadis di depan nya meminta diri nya tuk tidak pergi. "...."


"Aku takut...berjanjilah pada ku, bahwa kau tidak pergi meninggalkan ku" gadis itu kembali melanjutkan ucapan nya, di dalam endapan pelukan si lelaki di depan nya.


Mendengar hal itu Rekki sedikit terkejut, ia sangat tidak mengerti mengapa tingkah gadis ini berubah dalam jangka waktu yang begitu cepat. sehingga diri nya tak bisa memastikan sedang berada di mana rasa ketakutan nya berasal.


"Sudahlah, aku tak kan pergi kemana mana. bukti aku disini, di samping mu dan terus menjaga mu" lelaki itu perlahan mulai membalas pelukan gadis itu dengan pelukan hangat nya. Di tambah lagi, ia juga membelai lembut surai gelap yang indah milik gadis itu.

__ADS_1


Dapat Rekki rasakan sebuah getaran kecil di dalam pelukan nya. tubuh gadis ini gemetar, tangan yang melingkar di pinggang nya terus mencengkram baju seragam bagian belakang nya.


"Sudahh, Berhenti menggeram. hal seperti itu tidak akan mengurangi rasa sesak di dada mu... Heii dengarkan aku, Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkan mu. Bahkan sampai kematian yang memisahkan ku. lagipula kau masih butuh penjagaan dari ku bukan?" lelaki itu melanjutkan ucapan nya.


__ADS_2