
Liam dan Hikaru berlari dengan cepat menuju ke gedung utara sekolah mereka. Meski mereka sudah berlari cukup cepat, waktu yang mereka habiskan untuk berlari memakan waktu yang cukup banyak. Bahkan saat ini jarum jam yang melingkar di tangan gadis bersurai putih perak, telah menunjukkan pukul 17:46 sore.
*Tak...Tak...Tak..*
Suara langkah lari Liam dan Hikaru bergema di setiap lorong sekolah yang gelap dan juga sangat sunyi. Tak hanya itu, bahkan suara napas mereka yang terengah-engah saja dapat terdengar jelas oleh telinga.
"Ruangan 503" teriak Liam sembari menunjuk pintu ruangan yang bertulis angka 503 pada pintu nya.
"...." Hikaru mengangguk, lalu mempercepat larian nya.
*BRAKKKK*
Hikaru membuka pintu dengan kencang, hingga menghasilkan suara yang begitu keras. Namun, saat pintu telah terbuka, Tiba tiba tubuh gadis ini terdiam membeku. Matanya tak bisa teralihkan sama sekali.
Terlihat Shion tengah memangku kepala seorang gadis yang telah berlumuran darah. Bahkan celana biru Shion juga terkena noda darah yang mengenai seragam sekolah nya.
"A-Apa yang terjadi??" Hikaru tercengang sembari menggelengkan pelan kepala nya, dia juga berusaha melangkah mendekati Shion dan juga gadis itu.
Di sisi lain, Shion yang melihat kehadiran 2 teman nya ini, membuat Shion terdiam. Hal yang seharus nya dia lakukan, justru malah terhalang oleh raut terkejut teman teman nya.
"Shion apa maksud semua ini??" teriak Liam dari pintu ruangan.
Shion mengalihkan pandangan nya, lalu berkata "***- mengapa kalian kasar sekali membuka pintu nya??" tanya Shion dengan nada datar nya.
"JANGAN MENGALIHKAN PEMBICARAAN!! SHION.. APA YANG TERJADI DI SINI" desak Liam dengan suara keras yang menggelegar sampai ke lorong gedung utara.
__ADS_1
Shion mengangkat kepala nya, menatap ke arah kedua teman nya yang kini berdiri di depan nya.
"Dia hanya kelelahan.. Jadi aku memberinya waktu beristirahat, aku harap kalian mengerti dan pelankan suara kalian" ucap Shion sembari membelai lembut surai gelap gadis di pangkuan nya.
Mendengar sahutan Shion yang tak masuk akal, membuat Hikaru mengepalkan tangan nya karena merasa kesal. Dia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di ruangan ini. Berantakan?? Barang barang tergeletak di lantai, surat dokumen sekolahan juga terhambur ke mana mana.
"....."
"Sangat tidak masuk akal!!" umpat gadis bersurai putih perak tak memercayai ucapan lelaki itu.
"Hikaruu..." panggil Shion dengan suara pelan nya.
"...." Hikaru melirik, membungkukan tubuh, lalu terduduk di dekat lelaki itu dan juga gadis di pangkuan nya.
"Saat malam nanti, bisakah kita bertemu di taman tempat biasa?" tanya Shion sembari mengangkat kepala gadis yang ada di pangkuan nya, lalu menyandarkan nya di bahu kanan nya.
Shion menunduk, dia mengerti bahwa saat ini Hikaru sangat mengkhawatirkan Haruko. Tetapi mau bagaimana pun, dia tak bisa memaksakan Hikaru untuk datang nanti malam.
"Shion...Liam..bantu aku....Bantu aku bawa kaka ku ke mobil ku" ucap Hikaru meminta bantuan pada kedua lelaki teman sekelas nya ini.
( Next Time )
Saat ini telah pukul 19:10 malam. Mereka telah tiba di depan gerbang rumah keluarga Akiyama. Di sana Hikaru langsung menuntun saudati kembarnya berjalan dari mobil hingga ke depan pintu rumah nya.
Bagaimana dengan Liam dan Shion?? Apa mereka membiarkan Hikaru melakukan hal ini sendirian? Oh tentu saja tidak, karena Hikaru lah yang meminta mereka untuk tetap menunggu di mobil. dirinya takut jika Ayahnya akan marah jika melihat diri nya dan Haruko pulang terlambat dengan membawa seorang lelaki ke rumah.
__ADS_1
*Krekkkk....*
Suara pintu terbuka perlahan, Namun saat pintu terbuka lebar, kedua mata gadis ini di pertemukan oleh sepasang tatapan menyeramkan. Tak lain itu adalah sang ayah dan juga para pelayan yang begitu terkejut saat melihat keadaan Haruko di dekat gadis kembaran nya.
"Dari mana saja kalian?? Tidak kah kalian tahu sekarang pukul brapa??" bentak Wildan dengan amarah nya.
"Maaf, ayah... Hari ini Haruko mendapat kelas tambahan dari pak Erwin, dan itulah mengapa kami pulang terlambat" jelas Hikaru sembari mempererat dia mengggenggam tangan kanan gadis di sebelah nya.
Sang ayah yang mendengar alasan terlontar dari salah satu putri nya, membuat ia berada dalah ambang kebingungan. Dirinya tak ingin membentak ataupun memarahi putri kesayangan nya. Di sisi lain, dia juga ingin memarahi tingkah ceroboh Haruko yang telah membuat Hikaru pulang terlambat.
"Lalu?? Mengapa kau tidak pulang saja terlebih dahulu? Apakah saudari kembarmu telah memengaruhi mu untuk melanggar aturan keluarga akiyama?" ujar Wildan.
"A-Apa maksud mu?!! Aku sama sekali tak punya pemikiran untuk menjadi hal buruk pada anak kesayangan mu!! Lagi pula kami ini saudari kembar, apakah hal seperti ini suatu masalah besar?" bantah Haruko sembari melepaskan tangan Hikaru yang terus menggenggam tangan nya.
Mendengar putri nya membantah ucapan nya dengan lantang, membuat kerutan di antara kedua alis nya muncul secara perlahan.
"Sudah berani ya kamu membantah ucapan ayah!!" Wildan mulai menaiki nada suara nya.
"Apa yang salah?? Jika memang ini bukan salah ku, untuk apa aku mengakui kesalahan ku?" sahut Haruko yang kini berdiri tepat di depan saudari kembar nya.
"Kau hanyalah anak pembawa masalah untuk keluarga ini!!!"
"Aku juga tak pernah meminta mu untuk mengakui ku sebagai anak perempuan mu!!"
"Woahh... Kau berbicara seolah kau adalah nyonya besar di keluarga ini. Jika aku bisa meminta pada tuhan seperti apa kehidupan ku, maka aku akan berkata, lebih baik aku miskin tak punya anak seperti mu, daripada aku kaya dan memiliki anak seperti diri mu"
__ADS_1
*PLAKKKK*
"AYAH CUKUP!!! KAU SUDAH SANGAT KETERLALUAN!!" Hikaru menampar wajah sang ayah dengan keras, bahkan tamparan itu membuat darah keluar dari sudut bibir nya.