
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Rara sudah bangun. Tadi bangun jam 4.30 untuk sholat subuh, setelah itu dia tidur kembali dan bangun jam 5.30.
Rara bergegas ke kamar mandi, takut telat ke sekolah. Mamanya sedari tadi sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan mereka, sementara si baby masih tertidur pulas bersama sang bapak.
"Ra'!, setelah mandi kamu bergegas sarapan ya, nanti kamu telat ke sekolahnya. Biar nanti bapak yang antar kamu", seru mama sembari masih sibuk dengan gorengannya, bau harum menutupi seluruh isi rumah sederhana itu, membuat sang bapak terbangun dari tidurnya.
"Ummmm haruuumm, mama masak apa ya, koq harum banget, papa jadi lapar", ucap si papa lalu berjalan menuju dapur.
Tanpa cuci muka, papa Rara langsung saja menyambar tempe dan tahu yang telah tersedia di atas meja.
"Duuhh papa!, kumur dulu sana!, belum kumur dan cuci muka koq langsung makan, iiiihhh jorok!!!", seru mama Rara dengan mencibirkan bibir tipisnya.
Mama Rara memang cantik ditambah dengan rambutnya yang hitam dan panjang sampai ke pinggul, duluanya menjadi incaran cowok-cowok sekampungnya.
Setelah mandi dan memakai pakaian seragamnya, Rara bergegas ke dapur untuk sarapan bersama papa dan mamanya, tidak lupa dia menyempatkan diri ke kamar mamanya untuk mencium pipi tembem adik bayinya.
"Hmmm adikku sayang, Kaka rindu banget sama kamu, iihhh gemmes!!?, ucap Rara sembari mencubit dengan pelan pipi Dede bayinya. Si Dede hanya menggoyangkan badannya sedikit tanpa membuka matanya.
"Rara!!! Cepat na'! udah jam berapa sekarang?!!, ntar kamu terlambat ke sekolahnya!!", seru mama Rara dari dalam dapur.
"Iya ma, siap!!!", sahut Rara yang kemudian berjalan menuju dapur.
Dengan sigap Rara menyendok nasi dan lauk yang ada di meja kemudian menyantapnya dengan gerakan yang agak cepat.
Sekitar pukul 06.40, Rara keluar dari rumahnya sembari menunggu papanya yang baru saja selesai berkemas. Papa Rara kemudian memanaskan mesin motornya selama beberapa detik dan kemudian menjalankannya setelah Rara berada di belakangnya. Motor melaju dengan kencangnya. Kanan kiri terlihat sawah dan pepohonan hijau yang kebanyakan adalah pohon rambutan yang telah berbuah.
Berselang beberapa waktu, mereka pun tiba dengan selamat. Rara turun dari motor papanya sembari mengulurkan tangannya untuk menyalami papanya.
"Daahhh papa!!! Hati-hati ya!!!", ucap Rara mengingatkan sang papa.
Papanya mengangguk dan berlalu pergi dengan motor bututnya, dia menuju ke tempat kerjanya. Dia adalah seorang kuli panggul pada pelabuhan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah anaknya.
Sebelum sampai di kelasnya, langkah Rara terhenti setelah melihat sosok yang ada di balik pohon besar yang ada di depan sekolah.
Mereka tak lain adalah Silvi dan Eni yang dari tadi asyik dengan candaan mereka. Entah apa yang menjadi topik mereka, hingga lucunya minta ampun, mereka tertawa cekikikan, sehingga siapapun yang lewat pasti akan menoleh ke arah mereka, termasuk si Rara.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian disitu? Lagi ngomongin apa sih, koq lucu banget kedengaran??", ucap Rara tepat di samping Silvi.
"Uppsss!! Bikin kaget saja, datang tiba-tiba tanpa suara, mau aku pingsan lagi seperti tempo hari?", sahut Silvi tanpa menjawab pertanyaan Rara.
"Ehhh Rara!, untung suara kami kedengaran, kalau tidak, kamu pasti langsung ke kelas dan bingung mencari kami. Kita nih lagi butuh udara segar saat ini, sekalian nungguin jodoh yang tepat di bawah pohon ini", ucap Eni yang kemudian tertawa cekikikan.
Merekapun tertawa mendengar ucapan Eni yang kedengaran sangat lucu di telinga mereka.
Tingg!!!
Tiiingg!!!
Tiiinggg!!!
"Ehh... bel udah bunyi tuh, yuk kita ke kelas!!!", ajak Rara sembari memeluk bahu kedua sahabatnya.
"Oh ya, Lina kemana? apa dia belum datang?", tanya Rara kemudian sembari tetap berjalan menuju kelasnya.
"Tadi sih dia belum datang, ngga tau sekarang, siapa tau tadi dia lewat di dekat kami tapi tidak tahu kalau kami ada disitu?!!", jawab Silvi tanpa menoleh ke Rara, tatapannya lurus menyusuri jalan menuju kelasnya.
"Lho koq di kelas tidak ada orang? mereka kemana ya?", tanya Eni penasaran.
"Hari ini kan pelajaran bahasa Inggris, berarti teman-teman sekarang berada di?!!", ucap Rara yang kemudian ingin melanjutkan ucapannya.
"LAB bahasa!!!", seru ketiganya bersamaan sembari menatap satu sama lain.
"Ternyata memang kita sehati ya, hehehe....", lanjut Silvi sembari tertawa cekikikan.
"Kalau begitu, let's go.... tunggu apa lagi, kita kesana bestie-bestieku!", ajak Rara sembari menarik pelan kedua sahabatnya.
Mereka berjalan menuju ruang LAB yang ternyata berada tepat di samping kelas Syahril.
Syahril tidak sengaja menoleh ke depan pintu kelasnya ketika mereka lewat. Alangkah senangnya Syahril melihat kehadiran Rara. Tanpa menunda waktu dia pun meminta izin pada ibu guru nya yang lagi asyik dengan laptopnya.
Ibu guru mengangguk sembari berkata,"Jangan lama-lama ya Ril, sebentar lagi ulangan harian!!!".
__ADS_1
Syahril mengangguk dan berkata,"Iya ibu!!!".
Sesampai di depan kelasnya, Syahril kemudian mencari sosok Rara dan sahabatnya yang baru saja lewat, tapi dia tak menemukan mereka lagi.
"Kemana ya mereka? waduhhh aku telat, kirain tadi aku yang dia cari, ternyata hanya lewat", bisik hati Syahril sembari menepuk dahinya dan tersenyum tipis.
Tidak berselang lama, si Lia dan sahabatnya pun berada di depan kelas,"Kamu kenapa Ril? katanya mau ke toilet, koq masih disini?", tanya Lia penasaran.
"Bukan urusan kamu kan!!", Syahril menjawab lalu secepat kilat masuk kembali ke kelasnya.
"Ada yang tidak beres ini, ada apa ya?", bisik hati Lia yang tadi memang tidak melihat si Rara dan sahabatnya lewat di depan kelasnya.
"Ayo ah, kita masuk...aku ngga' jadi ke toilet", ajak Lia sembari menarik pelan tangan sahabat barunya.
Sementara itu di dalam ruang LAB bahasa, Rara dan kedua sahabatnya kena marah oleh ibu Tuti yang memang terkenal disiplin dan galak. Terlambat sedikit saja maka akan berakibat fatal.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, ibu Tuti menyuruh mereka bertiga duduk.
"Ssttt!!! Lina ngga ada!!", bisik Rara pada kedua sahabatnya sembari melirik pada ibu Tuti yang sedang asyik menjelaskan tugas pada siswa-siswinya.
Kedua sahabatnya hanya menggoyangkan kedua bahunya dan menggelengkan kepala mereka takutnya ibu Tuti memperhatikan mereka.
Pelajaran bahasa Inggris pun usai. sekarang waktunya kembali ke kelas.
Ketiga sahabat itu berjalan beriringan.
"Lina kenapa ya? tidak biasanya dia ngga' ngasih kabar kalau absen ke sekolah!", ucap Eni dengan nada serius.
"Aku juga heran dengan tingkah Lina, sejak kemarin tingkahnya aneh banget", sahut Silvi yang juga merasa ada sesuatu yang lain dari sikap sahabatnya yang satu itu.
"Bagaimana kalau kita telfon aja?!", ucap Rara tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya, Lina memencet tombol di handphonenya.
"Handphonenya sedang tidak aktif. Apa maksudnya ya bersikap seperti ini?", tanya Rara pada dirinya sendiri.
Sementara di rumah Lina, ternyata Lina sedang mengurung diri di kamarnya. Dia diselimuti rasa iri pada sahabatnya.
__ADS_1
Rumah Lina sangat mewah, terdapat kolam renang di dalamnya dan juga terdapat tiga mobil mewah di garasinya.
"Koq aku bisa disaingi oleh cewek miskin seperti Rara?!", batin Lina sembari mengutak atik handphonenya tanpa tujuan.