
Sesaat setelah bel masuk berbunyi, seketika suasana hening di sudut kanan dan kiri sekolah kuning ini.
"Kamu bawa motor lagi ngga' Sil?, soalnya aku mau nebeng lagi, itupun kalau bisa.... kalau tidak terpaksa aku jalan kaki", Rara bertanya pada sahabatnya tanpa menoleh sedikitpun padanya, mata Rara tertuju pada baju yang dipakainya.
Dia baru ingat kalau baju yang dipakainya bukanlah miliknya.
"Bagaimana ya cara menukarnya? Bajuku kan cuma satu", bisik hati Rara.
"Motorku dipinjam sama kakak sepupu yang lagi kuliah, katanya ada urusan penting yang harus dia selesaikan secepatnya", jawab Silvi sembari asyik membaca novel yang ada di tangannya
Silvi memang hobby baca novel, sudah puluhan novel yang telah dia baca sampai finish.
"Kalau gitu terpaksa deh aku jalan kaki, soalnya bapak belum tentu bisa jemput aku", sambung Rara dengan nada kecewa.
"Kalau gitu, kita jalan kaki aja sama-sama, aku juga tidak dijemput koq, gimana dengan kalian berdua?", tanya Lina sembari melirik pada Silvi dan Eni.
"Aku juga ngga dijemput, siap pulang bareng, bagaimana dengan tuan putri?", sambung Rara dan kemudian bertanya pada Silvi yang dari tadi masih asyik dengan novelnya.
Tidak ada respon dari Silvi, seolah dia tidak mendengar pertanyaan Eni tadi.
Melihat tingkah sahabatnya itu, Eni tiba-tiba mengangkat tangan kanannya dan menepuknya di atas novel yang sedari tadi diperhatikan oleh Silvi.
Prakkk!!!!!
"Apaan sih kamu Ni'?! Orang lagi serius digangguin, ntar kualat kamu!", seru Silvi mencibirkan bibirnya dan kemudian berpura-pura kaget dan pingsan.
Melihat peristiwa itu, sontak semua kaget, tidak terkecuali teman-teman yang tidak sengaja melihat kejadian itu.
Mereka berlarian mengerumuni Silvi yang terlihat lagi tidak sadarkan diri.
Eni panik melihat sahabatnya itu, padahal dia hanya bercanda,"Ya ampun Silvi, maafkan aku, aku cuma bercanda....aku tidak bermaksud membuatmu begini, bangun Sil!!!", Eni mengguncangkan tubuh Silvi sembari menangis terisak-isak.
"Assalamualaikum anak-anak!!!", sapa seseorang dari arah pintu kelas, yang tak lain adalah ibu Tenri', guru matematika mereka.
Tidak ada yang menyadari kehadiran ibu Tenri' karena mereka berkerumun melihat Silvi yang pura-pura pingsan.
"Hei!!! Ada apa ini, kenapa kalian berkerumun begitu? Ada apa? Ada apa?", tanya ibu Tenri', sembari masuk ketengah kerumunan anak-anak.
"i-iiiini bu, Silvi pingsan...aku menepuk buku yang asyik dia baca, aku tidak nyangka akhirnya seperti ini ibu", jawab Eni terbata-bata.
__ADS_1
"Memangnya buku apa yang dia baca?", tanya Bu Tenri' lagi.
"Waduhhh mati aku!!! Kalau ibu Tenri' melihat novel yang kubaca ini bisa jadi masalah buatku, padahal kan aku cuma mau ngerjain Eni, ternyata teman-teman memperhatikan kami, waduhhh gimana ini?", bisik hati Silvi menyesali apa yang baru saja dia perbuat.
Silvi membuka matanya perlahan, takut keduluan ada yang menjawab pertanyaan ibu Tenri' tadi dan dengan sigap menarik novel yang ada di tangannya dan menaruhnya kedalam tas pinknya.
"Ohh kamu sudah siuman Silvi? Bagaimana perasaanmu nak? Sudah baikan? Kamu punya riwayat sakit jantung ya?", tanya ibu Tenri' bertubi-tubi.
Ibu Tenri' menatap Silvi dengan tatapan layaknya seorang polisi yang lagi mencurigai seseorang.
"Su...susudah mendingan ibu, tidak ibu, saya tidak punya riwayat sakit jantung ibu, mungkin efek kecapean saja ibu", jawab Silvi terbata-bata.
"Kalau begitu kalian semua silahkan kembali pada kursi masing-masing, ibu mau melanjutkan pelajaran kemarin. Siapkan buku tugas kalian!!!", perintah ibu Tenri' pada sekalian siswa-siswinya.
"Iya bu guru!!!", dengan kompak seisi ruangan menyahut, terkecuali Silvi dan gengsnya.
"Syukur ibu Tenri' tidak penasaran dengan buku yang kubaca tadi, kalau tidak....aku pasti kena masalah, soalnya novel yang kubaca ini adalah novel anak remaja yang tidak sepantasnya aku bawa ke sekolah", bisik hati Silvi sembari melirik kanan kiri dengan tertunduk malu.
"Sekarang sudah pukul 14.30, silahkan kumpul tugas kalian, dan yang sudah kumpul silahkan pulang ya, yang tidak kumpul tugasnya ngga' bisa pulang!!!", seru ibu Tenri' dengan suara nyaringnya.
"Tungguin dong Ra', minta jawaban nomer 10 dong, supaya kita bisa pulang bareng", pinta Silvi pada sahabatnya.
Lina dan Eni sudah keluar dari tadi.
"Lama banget sih Rara dan Silvi, padahal soalnya kan gampang, cuma..... jawabannya yang susah", ucap Lina gelisah sembari mengintip ke dalam ruang kelasnya.
"Sama aja bo'ong kalau begitu, yang bagusnya tuh, soal gampang...jawaban lebih gampang", timpal Eni tertawa kecil.
"Ehhh...sttttt!! Lin...siapa tuh cowok yang berdiri di tiang itu? Kalau ngga' salah itu kan?!", bisik Eni sembari menggelitik pinggang Lina.
"Ehh iya, itu kan Syahril... cowok yang diceritain Rara tadi", jawab Lina dengan yakinnya.
"Ngga' salah lagi, setia banget...aku jadi cemburu lihatnya, jarang-jarang lho cowok seperti itu, baru ketemu lengketnya minta ampun", bisik Eni pada sahabatnya.
"Yuk kita samperin!!!", ajak Lina sembari menarik tangan Eni.
"Hai!!! Lagi nungguin Rara ya?", tanya Lina sok tahu.
Syahril menatap wajah Lina dan sesaat terdiam.
__ADS_1
"Koq dia yg tahu aku lagi nungguin Rara? Apa dia sahabatnya ya? Apa dia pernah lihat kami berdua?", bisik hati Syahril sembari menjawab pertanyaan Lina,"Eh iya, koq tahu? tahu darimana kalau saya lagi nungguin Rara? Apa Rara banyak penggemarnya ya?", tanya Syahril ingin tahu sembari tersenyum kecil pada Lina yang membuat jantung Lina hampir copot.
"Wahhh ganteng banget nih cowok, senyumnya itu lho, pengen rasanya punya cowok seperti dia", bisik hati Lina.
"Ehh...Rara sudah cerita soal pertemuannya dengan kamu, kami hanya menebak dengan melihat ciri-ciri yang disebutkan Rara, oh ternyata benar", jawab Lina sembari melirik pada sahabatnya.
"Penggemar Rara memang banyak, tidak bisa dipungkiri. Ngomong-ngomong kalian sudah janjian ya pulang bareng?", tanya Eni penasaran.
"Ngga', Silvi tidak tahu kalau aku nungguin dia, kenapa dia belum keluar juga?", sahut Syahril yang kemudian bertanya balik.
"Tugasnya belum selesai, kayaknya dia lagi ngebantuin Silvi yang masih sibuk menulis", timpal Eni sembari melirik ke dalam ruang kelasnya dan melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Bisa tidak kami ikut bersama kalian? Soalnya kami berempat saat ini tidak ada penjemputnya", pinta Lina sembari mencolek punggung Eni tanpa sepengetahuan Syahril.
"Oke, rumah kalian berdekatan ya?", sahut Syahril yang juga melontarkan pertanyaan.
"Ngga' sih, tapi ngga' jauh-jauh amat sih, satu jalur....", jawab Lina menjelaskan.
Silvi dan Rara keluar beriringan dan alangkah kagetnya Rara melihat kehadiran Syahril, dia tidak nyangka Syahril akan menunggunya.
"Mungkin dia ada keperluan lain, bukan aku yang dia tungguin, aku koq kegeeran amat sih", bisik hati Rara.
"Hai Ra', bagaimana? Sudah selesai tugasnya? Kita pulang bareng yuk!!!", tanya Syahril yang kemudian mengajak Rara pulang bersamanya.
"Taaa...tapi aku sudah janjian dengan tiga sahabatku ini mau, pulang bareng", jawab Lina terbata-bata.
"Kita pulang bareng aja, berlima kan boleh, mobilnya muat koq", ajak Syahril sembari melirik pada ketiga sahabat Rara.
"Oh ya, namaku Syahril, panggil aja Ril", Syahril memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya pada ketiga sahabat Rara.
"Lina", ucap Lina dengan senyumnya.
"Silvi", ucap Silvi sembari menatap wajah Syahril.
"Eni", ucap Eni tersenyum simpul.
Mereka berlima pun pulang beriringan menuju parkiran sekolah.
"Wow... mobilnya keren banget!!!", bisik hati ketiga sahabat Rara.
__ADS_1
Mobil berjalan perlahan menuju gerbang sekolah.