
Keesokan harinya...
Tringg
Tringg
Tringg
Bel istirahat berbunyi, Syahril seolah tidak ingin ketinggalan oleh teman-temannya. Dia menyelonong di tengah antrian teman-temannya, tiba-tiba di depan pintu, Lia menghadangnya.
"Awass aku mau lewat!!!", teriak Syahril yang sedari tadi keliatan tergesa-gesa, seolah-olah dia takut ketinggalan sesuatu.
"Ril, kita ke kantin yuk!!! Nanti aku yang traktir, makan apa aja aku yang bayar!", ajak Lia dengan tatapan penuh harap.
"Hei!!! jangan berdiri di depan pintu dong! Emang ini pintu milik nenek moyang kamu?", seru beberapa orang di belakang Syahril, yang tak lain adalah teman-teman kelasnya.
"Bukan salah aku dong, apa kamu tidak lihat di depanku? aku dihadang preman!!!", jawab Syahril yang kemudian menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya.
"Minggir kamu Lia!!! Kami mau lewat!!!", seru Rendi dengan nada yang amat kasar, membuat Lia mundur seketika.
Melihat tingkah Lia, Syahril tertawa cekikikan," Rasain kamu", gumam Syahril sembari melirik ke arah Lia dengan senyuman meledek.
"Ril tunggu, aku ikut!!!", teriak Lia yang kemudian berlari mengikuti Syahril dan berjalan di samping cowok impiannya itu.
"Apa-apaan kamu? Kamu mau jadi obat nyamuk? Aku mau jemput pacarku!", ucap Syahril sengaja memanas-manasi Lia.
"Cewek norak itu maksudmu? Apa sih yang kau suka dari dia? Dia tidak cantik-cantik amat kan?", tanya Lia dengan raut wajah emosi.
"Ril, kita sudah dijodohkan oleh orang tua kita, kamu juga sudah setuju waktu itu, tapi kenapa kamu malah pacaran dengan cewek lain?", ucap Lia dengan nada sedih.
"Emang aku fikirin?, baru dijodohkan bukan? bukan berarti aku tidak bisa pacaran dengan cewek lain, kamu silahkan cari cowok lain juga sana!!!", jawab Syahril tidak perduli dengan raut wajah Lia yang kelihatan sudah pucat pasi.
Lia menangis sejadi-jadinya, sampai-sampai kedengaran oleh orang-orang disekelilingnya, termasuk pak Risal yang secara kebetulan lewat di samping mereka.
"Ada apa ini? Kamu kenapa Lia?", tanya pak Risal yang kemudian menghentikan langkahnya.
"Anu pak, tadi dia tidak sengaja nginjak paku, tapi sudah diobati pak, memang rasa sakitnya masih ada, jadi dia nangis", jawab Syahril yang sedari tadi sudah mempersiapkan jawaban untuk pak Risal.
"Ohh....kalau begitu jangan jalan dulu, tinggal di kelas saja. Urusan makan, nitip sama teman saja", ucap pak Risal menasehati.
__ADS_1
"I...iiiya pak!!!", sahut Lia sembari melirik ke arah Syahril.
Lia tidak membantah ucapan Syahril karena dia takut Syahril marah dan tambah benci padanya.
Pak Risal berlalu meninggalkan mereka.
Syahril tersenyum meledek sembari melirik ke arah Lia.
"Awas kamu Ril, saya pasti akan membuat perhitungan dengan gadis pujaanmu, dan kupastikan kau akan bertekuk lutut di hadapanku", batin Lia sembari menatap punggung Syahril yang telah meninggalkannya.
"Aku harus mengikuti kemanapun dia melangkah", bisik hati Rara yang kemudian mengepal tangan kanannya.
Syahril berjalan menuju kelas Rara.
Sesampai di ruang kelas Rara, dia menoleh ke dalam ruangan, dia tidak mendapati Rara disana.
Syahril hanya melihat Lina seorang diri yang lagi asyik dengan handphone di tangannya.
"Lin, Rara mana? Koq kamu sendirian?", tanya Syahril dari depan pintu.
Mendengar pertanyaan Syahril, Lina hanya menggelengkan kepala tanpa menoleh ke Syahril,"Ngga tahu!!!", sahut Lina jutek.
"Kenapa sih ni cewek, naksir juga nih sama aku. Begitulah kalau cowok tampan dan keren, banyak yang cemburu", batin Syahril sembari menarik-narik kerah bajunya dan memainkan alisnya lalu tersenyum-senyum sendiri karena kepedean.
Mendengar ucapan Syahril, Lina spontan melirik ke arah pintu. Sesaat kemudian dia berdiri dan berlari kecil menuju pintu kelasnya. Dia mendongakkan kepalanya keluar ruangan, diliriknya kiri kanan, tapi dia tidak mendapati keberadaan Syahril.
Lina penasaran dengan si Syahril, dia kemudian berjalan menuju kantin, "dia pasti mencari Rara ke kantin", batin Lina penasaran.
Tidak jauh di depannya, ternyata Lia pun mengikuti cowok pujaannya. Ternyata dari tadi dia betul-betul mengikuti langkah Syahril.
"Ra'!", seru Syahril sembari melambaikan tangannya pada gadis idamannya yang lagi asyik bergurau bersama kedua sahabatnya.
"Syahril!!!", gumam Rara yang kemudian membalas lambaian tangan cowok yang baru saja dia kenal.
Syahril mendekati mereka kemudian menarik kursi kosong sembari duduk di samping Rara.
Lia yang sedari tadi mengikuti Syahril, tiba di kantin dan mengambil jarak 5 meja dari mereka.
Tidak lama kemudian, Lina pun tiba di kantin.
__ADS_1
Berhubung kursi kosong yang ada tinggal kursi yang semeja dengan Lia.
"Misi, boleh aku duduk disini?", tanya Lina sembari menatap wajah Lia.
"Silahkan!!!", sahut Lia yang kemudian melirik ke wajah Lina.
Syahril memesan makanan dan minuman buat mereka berempat.
"Asyik!!! Alamat dapat traktiran lagi nih, sering-sering aja Ril!!", ucap Eni sembari melirik ke arah Syahril yang baru saja memesan makanan dan minuman buat mereka.
Rara dan Silvi hanya tersenyum melihat tingkah Eni yang kemudian secara bersamaan menggeleng-gelengkan kepala mereka dan saling bertatapan.
"Sorry, kali ini aku hanya mau nraktir Rara", tangkis Syahril sembari tersenyum dan menatap Eni.
"Tapi bo'ong, semuanya pastilah dapat traktiran", lanjut Syahril dengan tawanya yang membuat seisi kantin menoleh padanya.
Eni ikut tertawa melihat tingkah konyol Syahril.
"Stttt.... semua pada menatap kesini, kamu sih Ril, ketawa koq segitunya", ucap Lina dengan senyumnya yang begitu menggoda.
Melihat kejadian itu, Lia mengepalkan kedua tangannya dan melototkan matanya ke arah Syahril. Lia saat ini terbakar api cemburu yang sangat dahsyat.
Lina yang berada di depan Lia tidak menyadari sikap Lia yang berada di depannya. Seperti halnya si Lia, Lina juga sekarang terbakar api cemburu setelah menyaksikan tingkah ketiga sahabatnya bersama Syahril.
"Awas kalian, tunggu pembalasanku", batin Lia yang kemudian meneguk jus yang ada di hadapannya.
"Kamu kenal mereka tidak?", tanya Lia pada Lina setelah menyadari kehadiran Lina dihadapannya.
"Kenal, ketiga cewek itu teman kelasku dan cowok itu kakak kelasku", sahut Lina tanpa menoleh ke arah Lia, karena dia masih penasaran pada mereka berempat. Mata Lina masih tertuju pada mereka.
"Oh ya kebetulan, bisa aku minta nomermu? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan", pinta Lia sembari mengklik nomer yang diucapkan Lina pada handphonenya.
"Ok, ehh...nama kamu siapa? Aku Lia, tunangannya Syahril, cowok yang bersama teman kelasmu itu" lanjut Lia yang kemudian mengulurkan tangannya pada Lina.
"Lina, eeehhh... ka..kamu tunangannya Syahril", ucap Lina yang kemudian melontarkan sebuah pertanyaan pada Lia.
"Iya, kami sudah ditunangkan", jawab Lia dengan bangganya.
"Ternyata dia sudah punya tunangan, tapi akh... ngga apa-apa, kan baru tunangan, belum nikah", batin Lina.
__ADS_1
"Sekarang aku punya dua saingan", bisik hati Lina.
Bell masuk berbunyi, mereka pun meninggalkan kantin bersama gengnya masing-masing.