Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan

Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan
Dibuntuti


__ADS_3

"Ra', besok kan hari libur, aku mau ngajak kamu healing. Kamu mau ngga'?", tanya Syahril sembari berjalan meninggalkan kantin bersama kedua sahabat Rara.


Rara menoleh ke arah Syahril, "Bagaimana ya? ntar malam aku hubungi ya Ril, takutnya besok ada yang penting dan tidak bisa aku tinggalkan", sahut Rara setengah berbisik.


"Oke kalau gitu. Maaf ya gengs, kali ini aku ngga ngajak kalian dulu, lagi mau berduaan dulu", ucap Syahril dengan nada bercanda.


"Ngga apa-apa koq Ril, kami ngerti koq...namanya juga lagi pede kate", sahut Eni dengan suaranya yang nyaring.


"Iya Ril, kan nda' mesti kita berempat terus, kalian juga butuh saat-saat berdua, cieee...cieee....", ucap Silvi menambahkan ucapan Eni.


"Tos dulu!!!", ucap Syahril yang kemudian mengangkat tangan kanannya dan mendapat timpalan dari Eni dan Silvi.


"Daah Ril !!!", Eni melambaikan tangannya dan kemudian berbelok masuk ke ruang kelasnya bersama Silvi dan Rara.


Syahril membalas lambaian itu dengan mengacungkan jempol kanannya.


Mereka bertiga langsung duduk di kursi masing-masing.


"Eh... Lina mana ya? Tadi katanya lagi malas keluar, tapi koq dia ngga ada? atau mungkin ke toilet?", tanya Rara pada kedua sahabatnya yang juga sebenarnya tidak tahu keberadaan Lina.


"Iya Ra', tadi katanya lagi malas keluar", sahut Silvi sembari memutar kepalanya mengelilingi ruang kelas mencari keberadaan Lina.


Tiba-tiba Lina datang dan langsung duduk di samping Rara.


"Katanya malas keluar, nyatanya? Kamu kenapa sih Lin? Kalau kami ada salah, tolong jelasin supaya kami bisa memperbaikinya, bukan diam begitu. Itu bukan solusi bestieku", ucap Lina yang kemudian melontarkan pertanyaan pada sahabatnya itu.


Lina menoleh ke arah Rara, "Ngga ada apa-apa Ra', cuma akhir-akhir ini aku memang lagi malas bicara. Aku juga tidak tahu kenapa", sahut Lina mencoba menutupi alasan mengapa dia bersikap seperti itu


"Lin, kita ini sahabat bukan?!, trus mengapa kamu menutup diri begitu? Aku perhatiin semenjak Syahril hadir di tengah-tengah kita, kamu mulai berubah. Apa kamu ngga' suka dengan cowok itu Lin?", tanya Rara penuh harap akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.


Lina tertunduk sembari menatap mejanya dengan tatapan kosong.


Lina tidak menjawab pertanyaan sahabatnya, malah mengalihkan pembicaraan, "Tugas PKn mu sudah selesai ngga' Ra'?, aku lihat dong!!", pinta Lina yang kemudian mengeluarkan buku tulis PKn miliknya dari dalam tas.


Melihat tingkah sahabatnya itu membuat Rara semakin penasaran, "Tidak biasanya dia begitu, aku harus cari tahu....jangan-jangan dia cemburu nih sama aku?", batin Rara.


"Sudah, tunggu aku ambilin", sahut Rara sembari membuka tasnya dan menyodorkan buku tulis PKn nya pada Lina.


Dengan secepat kilat, Lina meraih buku Rara dan mulai menconteknya.


Rara hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.


Bell pulang berbunyi.

__ADS_1


Tringg


Tringgg


Tringgg


Setelah ibu Nia mengakhiri pelajarannya dengan berdo'a bersama, para siswa pun keluar dengan antri.


Setelah keluar dari kelas, keempat sahabat itu berjalan beriringan.


"Ra', besok kasih kabar ya, jadi tidak kamu jalan dengan Ril?", pinta Eni penuh harap.


"Trus aku harus bilang waw gitu?", sahut Rara dengan tertawa cekikikan.


Mau tahu aja atau mau tahu banget", lanjut Rara sembari memeluk ketiga sahabatnya.


"Banget!!!", jawab Eni yang kemudian mengeluarkan permen lolypop yang ada di tangannya.


"Oc bestie, trus kalau umpama aku jadi jalan dengan Ril, apa yang akan kamu lakukan sayang?", tanya Rara sembari memegang dagu Eni, gemmes.


Mendengar itu, raut wajah Lina berubah drastis, tiba-tiba dia melepas rangkulan Rara dengan agak kasar.


"Ya ngga lakuin apa-apa, hanya penasaran aja", jawab Eni dengan mulut dimonyongkan.


Keempat sahabat itu terkaget melihat Syahril yang tiba-tiba muncul.


"Ehh copot...copot! Waduh kamu koq gitu Ril, kita semua kaget tahu'?!!!, kalau ada yang jantungan diantara kami berempat, bagaimana?? Kamu mau tanggung jahat?", seru Eni, pura-pura marah dengan mulut dicibirkan.


"Walaahh, gitu aja ngambek, masa' sih anak muda jantungan, yang ada tuh degdegan!", balas Syahril dengan senyum menggoda.


"Udah, udah.... siapa yang mau ikut dengan Ril?", tanya Rara sembari melirik satu persatu sahabatnya.


"Ngga akh Ra', aku ada jemputan", sahut Lina dengan malas.


"Kalian berdua bagaimana?", tanya Rara kemudian.


"Aku bawa motor Ra', lain kali aja ya!", sahut Silvi sembari menoleh ke arah Eni.


"Kalau gitu aku ikut denganmu aja Sil, ntar aku jadi obat nyamuk", ucap Eni dengan tertawa cekikikan.


"Oke Ra', kita jalan....by gadis-gadis cantik!!!", seru Syahril yang kemudian berjalan beriringan dengan Rara menuju parkiran dimana mobil hitamnya beristirahat.


"Silahkan tuan putri!", rayu Syahril sembari membukakan pintu untuk gadis pujaannya.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari empat pasang mata sedang memperhatikan mereka, yang tak lain adalah Lia dan temannya.


Lia sangat geram melihat kelakuan Syahril sembari mencibirkan bibirnya.


Lia sengaja membuat mobil Syahril jalan duluan karena dia berniat membuntuti cowok idamannya itu yang tak lain adalah tunangannya.


"Awas kamu Rara! Jangan sebut aku Lia kalau aku tidak bisa memisahkan kalian, tunggu tanggal mainnya", batin Lia sembari mengemudikan mobil fortunernya mengikuti arah mobil Syahril.


"Singgah dulu yu', kita makan sore plus malam dulu!", ajak Syahril yang kemudian membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan Padang.


"Lho, koq kamu ngga' minta pendapatku dulu Ril, main singgah aja!", ucap Rara heran.


Mendengar ucapan Rara, Syahril hanya tersenyum.


"Kita jangan sampai kemalaman ya Ril, waktu itu aku kena marah sama papa", pinta Rara sembari melirik suasana warung Padang itu kiri kanan.


Mereka berdua turun dari lambourgini hitam itu. Seperti biasa Syahril secepat kilat membukakan pintu buat gadis pujaannya.


Lia yang juga ikut masuk ke warung itu bertambah geram melihat tingkah tunangannya.


"Apa sih kelebihan cewek norak itu? Awas kamu ya!!!", batin Lia.


"Apa kamu sudah pernah makan nasi Padang Ra'?", tanya Syahril penasaran.


"Belum pernah Ril. Aku jarang makan diluar", sahut Rara terus terang.


"Kalau aku sih paling suka makan nasi Padang, cocok banget di leherku", ucap Syahril sembari memutar-mutar sendoknya di atas piring.


"Apa kamu sering kesini Ril?", tanya Rara ingin tahu lebih banyak.


"Ngga' juga sih, kalau kepengen saja", jawab Syahril sembari tetap memandangi nasinya.


Oh ya, semoga besok kita bisa jalan ya Ra'?!", ucap Ril penuh harap.


Rara hanya menatap Syahril dengan senyum.


"Koq nasinya diliatin aja? Katanya mau pulang cepat", ucap Syahril dengan gayanya yang lucu.


Mendengar ucapan Syahril, Rara pun segera menyantap nasi Padangnya, "Enak Ril !!!", ucap Rara.


"Alhamdulillah", sahut Syahril senang.


Sekitar pukul 4 sore, mereka berdua pun pulang.

__ADS_1


Sementara Lia masih duduk termangu di dalam rumah makan itu, matanya tertuju pada mobil hitam Syahril yang telah keluar dari gerbang rumah makan Padang itu.


__ADS_2