
Mobil Fortuner itu kemudian berbelok ke arah jalan raya.
"Ra', kamu mau makan apa sayang? ayam, udang, ikan atau apalah?", tanya Syahril tanpa berbalik ke arah Rara. Matanya tertuju pada mobil yang ada di depannya.
"Itu kan mobil Lia? semoga dia tidak melihatku, aku paling ngga suka berurusan dengan gadis angkuh itu", batin Syahril.
Rara menatap wajah kekasihnya sembari mengikuti alunan musik disco yang dia dengar dengan menggoyangkan kepalanya, asyik banget kelihatannya.
"Kalau aku sih mau makan semuanya, soalnya saat ini aku sangat lapar, perutku sudah berbahasa Inggris sekarang", ucap Rara diikuti dengan gurauan yang membuat Syahril tertawa cekikikan.
"Gitu aja lucu, nanti aku kasih bahasa-bahasa lain yang lebih lucu lagi, kamu pasti akan membawa ketawamu sampai ke alam mimpi", ucap Rara sembari melirik ke arah Syahril dan mencibirkan bibirnya.
"Mungkin bapakmu pelawak ya Ra'?", tanya Syahril dengan maksud melucu.
"Kalau iya kenapa?", sahut Rara dengan balik bertanya.
"Soalnya kamu selalu membuatku tertawa sampai-sampai ke alam mimpi", jawab Syahril yang kemudian mencubit pipi kekasihnya dengan niat bergurau.
Keduanya tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai seisi mobil di sampingnya ikut tertawa.
"Koq sampai sekarang tidak ada pergerakan ya? padahal yayangku sudah kelaparan. Perutku juga perasaan mulai merasakan apa yang dirasakan permaisuri cantikku", tanya Syahril yang kemudian membandingkan perutnya dan perut kekasihnya.
"Ra', kita beli pakaian dulu ya sayang....bajumu udah dua hari di badan, udah bau kecoa', hmmm...bau banget!!!", ucap Syahril sembari bergurau dengan menutup hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya.
"Iiiihhh....nakal kamu Ril, awas kamu ya....tunggu pembalasanku!", timpal Rara yang kemudian melayangkan cubitan mesrah pada kekasih hatinya sembari mencibirkan bibirnya.
Syahril menggeliat geli dan tertawa terbahak-bahak di tengah kemacetan yang ada dihadapannya.
Sesaat mereka berdua tertawa cekikikan melepaskan rasa lelah yang telah mereka rasakan setelah melewatkan malam mereka di rumah sakit.
"Waduuhh macetnya koq lama banget, perutku sakit Ril, lapar banget rasanya. Aku turun dulu ya Ril ?!", keluh Rara sembari memegang perutnya.
__ADS_1
"Kamu mau ninggalin aku ya sayang? tega kamu!!", timpal Syahril sembari mencibirkan bibirnya dengan maksud melucu.
"Anu Ril..... aku mau bantuin pak polisi mengatur lalu lintas", jawab Rara yang kemudian tertawa kembali sembari menatap pak polisi yang sangat serius mengatur kendaraan-kendaraan di sekitarnya.
"Wah...wah...aku baru tahu kalau yayang aku adalah seorang polwan. Polwan yang sangat cantik, bisa buat aku cemburu kalang kabut", tangkis Syahril dengan memandangi wajah Rara yang lagi serius menatap pak polisi.
"Hey...hey...sudah natap polisinya sayang, nanti aku bisa cemburu berat nih melihat kamu menatap laki-laki lain", lanjut Syahril menggoda kekasihnya.
Rara berbalik ke arah Syahril yang lagi tersenyum sendiri.
"Betul kamu cemburu Ril? Cemburu itu tanda apa ya? sepertinya aku pernah dengar kata-kata itu?!!", tanya Rara dengan nada serius tapi sebenarnya dia sedang bergurau, pura-pura tidak tahu.
"Iya sayang...aku sangat cemburu melihatmu memandangi pak polisi itu, apalagi polisinya sangat tampan, takutnya kamu ada hati lagi sama dia......... Cemburu itu tanda cinta yayangku, mmmhuaaachhh...", jawab Syahril serius yang kemudian memonyongkan bibirnya ke arah Rara dengan maksud memberinya ciuman jauh.
"Berarti kamu cinta sama aku ya?", tanya Rara berlagak anak kecil sembari mencibirkan bibirnya dan melirik ke arah Syahril.
Syahril tersenyum melihat tingkah kekasihnya sembari mengangguk dan memainkan alisnya naik turun.
"Ril, kita udah dua jam disini, ada apa ya? kenapa macetnya separah ini?", tanya Rara tanpa mengharap jawaban dari Syahril karena dia tahu bahwa kekasihnya itu juga tidak tahu apa penyebab kemacetan itu.
"Jam berapa sekarang?", tanya Rara.
"Sudah jam 1. Pantas saja perut kita keroncongan begini. Perutku juga terasa sakit Ra', tapi kita harus sabar sayang. Orang sabar disayang Allah", jawab Syahril yang kemudian mengeluarkan nasehat berlagak seperti seorang ustadz.
"Apa??? sudah jam 1?!!! Aduhhh bagaimana ini, papa dan mama pasti khawatir banget!", tanya Rara kemudian, meyakinkan ucapan Syahril.
Syahril mengangguk sembari meraba tangan kanan Rara dengan tangan kirinya, "Sabar sayangku, moga sebentar lagi macetnya akan hilang, lagipula disini kan ada polisi yang akan menangani masalah ini" ucap Syahril dengan maksud menenangkan Rara yang kelihatan sangat cemas.
"Aku takut papa dan mama cemas memikirkan keberadaanku Ril, dari tadi kan aku belum menghubungi mereka. Jangan-jangan mereka sudah menghubungi Silvi, Rara atau Lina? wah, mati aku kalau itu betulan terjadi. Aku pasti akan ketahuan", ucap Rara dengan suara yang agak serak.
"Kalau begitu kamu telfon mereka sekarang. Oh ya, kita beli handphone dulu untuk kamu. Tidak jauh dari sini ada counter hp", ucap Syahril memberi saran pada Rara.
__ADS_1
Rara hanya mengangguk dan mengambil handphone di tangan Syahril.
Setelah mengetik nomer handphone papanya, Rara mengklik tombol icon telfon yang ada di handphone kekasihnya.
"Waalaikumsalam ma, papa belum pulang ya? aku sementara di jalan menuju ke rumah ma! Aku takut papa dan mama cemas. Handphoneku rusak ma, kemasukan air", ucap Rara menjawab salam mamanya dan kemudian menjelaskan keberadaannya sekarang.
"Baik ma, udah dulu ya....sekarang lagi macet, susah dua jam yang lalu Rara di jalan. Assalamualaikum mamaku sayang", ucap Rara sembari mengakhiri panggilannya.
"Naahhh....gitu kan bagus, kamu ngga kaget-kaget lagi, papa dan mama juga ngga kaget lagi", ucap Syahril tanpa berbalik, yang kemudian bersiap-siap menjalankan mobilnya.
"Papa dan mama? maksud kamu papa dan mamaku? kalau dengar ucapanmu tadi sepertinya papa dan mamaku orang tuamu juga, berarti kita saudaan dong?!!!", tanya Rara dengan maksud menghibur kekasihnya sembari tertawa dan mencubit mesrah dagu Syahril.
"Ada-ada aja kamu sayang, bisa aja kamu menghibur cowok idamanmu ini", timpal Syahril dengan senyum kebanggaannya.
"Iiih...kegeeran!!!", seru Rara dan kemudian mencubit pinggang Syahril dengan agak kuat.
"Aduuuhh...ampun Ra', sakit!!!....aku jadi ingat cubitan mama!!", keluh Syahril dengan berpura-pura sangat kesakitan.
"Habisss...kamu sih!!! Gemesiiinn!!!", ucap Rara yang kemudian mencubit pipi kiri yayangnya dengan agak keras.
"Waduuhh....sakit yang, aku ngga bohong!, kamu harus tanggung jawab!", keluh Syahril kembali. Kali ini dia merasa sakit beneran, pipinya merona merah bekas cubitan Rara.
Syahril meraba pipinya", Tuh kan, merah kan...aku harus bilang apa sama mama", ucap Syahril dengan pura-pura menangis dan kemudian tertawa sejadi-jadinya.
Rara tertawa cekikikan melihat tingkah kekasihnya, "Dasar anak mami", ucap Rara.
Mereka berdua kemudian melepaskan tawa mereka.
Suasana jalan mulai terkendali, mobil Fortuner itupun melaju dengan santai.
****
__ADS_1
Terimakasih saya ucapkan karena kalian telah meluangkan waktu membaca coretan ini, semoga terhibur.
Jangan lupa dukungannya ya. Terimakasih.