
Syahril terdiam sejenak mendengar permintaan Rara.
"Baiklah sayang, aku akan menunggu jawabanmu", ucap Syahril yang kemudian mengambil sesuatu dari rambut Rara. Terlihat sangat mesrah.
Rara sedikit kaget sewaktu Syahril mengangkat tangannya dan membawanya ke rambut Rara.
Setelah tahu maksud Syahril, Rara menghempaskan nafasnya perlahan,"Oh, aku kira dia mau macam-macam", batin Rara sembari tersenyum lembut.
Syahril memindahkan kursinya ke samping Rara, mereka sekarang dalam posisi menghadap ke pantai.
"Ra', aku mau nanya sesuatu", ucap Syahril serius.
"Apa kamu belum punya pacar?", tanya Syahril penasaran.
Rara berbalik memandangi Syahril.
"Belum Ril", jawab Rara singkat
"Syukurlah, berarti masih besar harapan dong dapat bidadari cantik", gumam Syahril tapi kedengaran di telinga Rara.
"Gombal !!!", ucap Rara yang kemudian mencubit manja tangan Syahril.
Syahril melirik gadis pujaannya dan menebar senyum penuh percaya diri.
"Ril, sekarang giliran aku bertanya!!!", pinta Rara sembari menatap ombak laut yang agak tenang.
"Silahkan cantik!!! Kaka siap mendengar, juga siap menjawab apapun pertanyaan yang akan kamu utarakan", ucap Syahril yang kemudian menghadapkan kursinya ke arah Rara.
"Apa sekarang kamu belum punya pacar Ril? atau aku hanya pelarian kamu aja?", tanya Rara serius sembari menatap tajam mata Syahril.
"Kalau pacar aku ngga punya Ra'", jawab Syahril.
"Trus apa yang kamu punya?", tanya Rara kemudian.
Mendengar pertanyaan Rara, Syahril lalu berfikir sejenak,"Aku cerita ngga ya tentang si Lia?", batin Syahril.
"Akh ngga' usah akh, ntar dia tidak mau terima aku kalau aku bilang yang sejujurnya", bisik hati Syahril kemudian.
"Tapi kalau rasa sayang dan cinta pada seorang gadis ya aku punya, kamu tahu sendiri kan Ra' siapa gadis itu? I love you Ra!", rayu Syahril sembari mencubit dagu Rara dengan manja.
__ADS_1
Sesaat mata mereka saling beradu, membuat hati keduanya berbunga-bunga.
"Habisin jus nya yang, trus kita jalan-jalan menikmati pantai yang indah ini", pinta Syahril kemudian.
Rara menatap Syahril sebentar, kemudian mengambil jus nya. Secepat kilat jus nya pun habis.
"Yu' Ra', kayaknya pemandangan sekitar dermaga mantap banget untuk selfie-selfie", ajak Syahril yang kemudian berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya dengan maksud membantu Rara berdiri dari tempat duduknya.
Rara menyambut uluran tangan Syahril dan berdiri dari duduknya, kemudian berjalan mengikuti Syahril yang masih saja memegang tangannya.
Tidak jauh dari posisi Syahril dan Rara, ada empat orang yang sedang asyik bergurau. Ternyata keempat wanita itu adalah tetangga Rara.
Salah satu dari keempatnya melihat Rara yang sedang bergandengan tangan.
"Sttt....lihat, lihat siapa di sana yang sangat mesrah sama pacarnya? Bukankah itu Rara? Masya Allah ternyata dia sudah punya pacar, mesrah banget lagi. Bisa jadi bahan gosip nih!!!", ucap salah seorang dari mereka.
"Betul itu Rara, ternyata diam-diam dia sudah pandai bermesraan, pakai pegang-pegang tangan segala", sahut ibu Intan yang kelihatan cantik dengan rambut pendek dan kulitnya yang putih mulus.
"Eh...kemarin dia digosipkan pulang diantar pakai mobil mewah warna hitam dan turunnya ngga di depan rumahnya, sepertinya dia takut ketahuan sama papa mamanya", ucap ibu Ika menambahkan fakta yang dia dengar langsung.
"Kasian orang tuanya kalau begitu, pasti mereka tidak tahu kelakuan anaknya, moga-moga aja tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan", ucap ibu Indah yang terlihat agak sedih melihat kelakuan Rara.
Tak lama kemudian datang seorang ibu cantik yang memakai hijab merah dan melihat keempat temannya lagi serius membicarakan sesuatu.
"Bgini ibu, baru saja kami melihat Rara bergandengan tangan dengan pacarnya. Kami tidak menyangka Rara itu sudah punya pacar", ucap ibu Isa yang pertama kali melihat sosok Rara.
"Oh gitu, kirain apa...kayak ngga' pernah muda aja ini ibu-ibu, nda' masalah kan....wajar-wajar saja menurutku. Yang tidak wajar itu kalau mereka berada di tempat yang sunyi trus berdua-duaan", sahut istri pak RT dengan nada santai.
"Tapi bu, kasihan orang tuanya. Pasti mereka tidak tahu kelakuan anaknya diluar", sambung ibu Intan, mencoba meyakinkan istri pak RT akan kesalahan Rara.
"Lambat laun pasti mereka akan tahu dengan sendirinya, karena sepandai-pandai tupai melompat pasti akan kedapatan juga", ucap istri pak RT dengan tenang.
***
Sementara itu Syahril dan Rara sedang asyik bermain air di tepi pantai yang airnya sangat jernih.
Mereka saling memercikkan air ke wajah masing-masing.
"Iiiihhh....nakal kamu Ril !!!, aku basah nih. Pulangnya bagaimana?", ucap Rara mengingatkan Syahril yang lagi asyik melemparnya dengan air laut.
__ADS_1
Mereka berdua tertawa cekikikan, tanpa mereka sadari sesuatu masalah besar akan mereka hadapi.
"Ril, kamu yakin ingin jadi pacarku?", tanya Rara sembari duduk berdampingan menghadap ke laut dengan kaki terlentang dan kedua tangan mereka dijejalkan ke belakang.
"Yakin 100%, tidak diragukan lagi permaisuriku!", jawab Syahril dengan berseru.
Rara berbalik ke wajah Syahril sembari mempelajari expresinya.
"Ril, aku mau cerita kejadian semalam sama kamu", ucap Rara sedikit tegang.
"Silahkan sayang!", sahut Syahril sembari memandangi ujung kakinya yang lagi asyik bermain dengan pasir putih itu.
Rara kemudian menceritakan kejadian semalam ke Rara.
"Bagaimana menurutmu Ril?", tanya Rara yang kemudian memandangi wajah Syahril penuh tanda tanya.
"Menurutku....ada seseorang penggemar kamu yang nekat melakukan itu. Terbukti dengan dihabiskannya ayam goreng di piring itu dan kamu merasa ada yang mencium kamu, meskipun itu hanya perasaan kamu saja", jawab Syahril memperkirakan penyebab kejadian itu.
Rara mendengarkan dengan seksama tapi matanya tetap tertuju pada ombak kecil yang ada dihadapannya.
"Masuk diakal juga perkiraan Syahril, tapi siapa ya kira-kira pelakunya?", batin Rara.
"Kamu tahu tidak, cowok yang mendekatimu siapa? dari situ kamu bisa menyelidiki mereka", tanya Syahril kemudian.
"Ada beberapa sih, dan sempat aku tolak", jawab Rara dengan jujur.
"Moga saja aku tidak senasib dengan mereka!", ucap Syahril sembari menatap langit biru yang terpampang luas di hadapan mereka.
"Menurut perkiraan kamu gimana Ril? Apa aku menerimamu atau menolakmu?", tanya Rara dengan nada meledek.
"Yakinlah diterima, aku kan cowok ganteng dan keren", sahut Syahril dengan pedenya dan dengan mimik lucu di wajahnya yang membuat Rara tertawa geli.
"Iiiih kamu kepedean", sahut Rara dengan manja.
"Yakin??? Lihat aja besok, jangan kepedean dulu, ntar nyesel kamu!", tanya Rara dengan nada meledek.
Keduanya pun bertatapan dan kemudian tertawa terbahak-bahak seolah-olah dunia milik mereka berdua.
"Ril, kayaknya udah sore tuh, kita pulang yuk!", ajak Rara kemudian.
__ADS_1
"Dikit lagi yang, masih ingin berduaan rasanya", sahut Syahril.
.Mereka berdua pun duduk berdampingan menatap langit biru di depannya.