Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan

Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan
Kemana Mereka Berdua?


__ADS_3

Keesokan harinya.....


"Ril, bangun!!! Kamu ngga ke sekolah juga? Biarkan aku sendiri aja...kamu sekolah sana!", seru Rara yang kemudian menyuruh Syahril dengan serius.


Syahril bangun dari tidurnya. Semalam dia tertidur di samping Rara, di atas kursi dan kepalanya dia rebahkan di samping tempat tidur Rara.


"Waduh leherku koq sakit", ucap Syahril sembari memutar kepalanya kiri kanan.


"Itu kan efek kamu tidur duduk, jadi salah urat tuh leher", timpal Rara dengan nada bergurau.


"Aku ngga masuk hari ini, aku harus jagain kamu", ucap Syahril kemudian.


"Ngga usah Ril, aku udah baikan koq!", sahut Rara menimpali ucapan Syahril.


"Lagian aku juga mau nunggu sebuah jawaban dari mulut si cantik, semoga saja jawabannya membuatku bahagia", timpal Syahril sembari mengerlingkan matanya ke arah Rara dan menebarkan senyuman mautnya untuk si pujaan hati.


Melihat tingkah Syahril, Rara kemudian tertawa terbahak-bahak yang diikuti oleh tawa Syahril. Mereka terlihat sangat bahagia.


"Ra', apa bisa aku dapatkan jawabannya sekarang?", tanya Syahril yang sedari kemarin sudah penasaran dengan jawaban Rara.


Rara tersenyum ke arah Syahril.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget?", tanya Rara melucu.


"Banget...banget..bangettt", jawab Syahril.


"Ehmmm....Ril....sebenarnya.......", ucap Rara sengaja mengulur-ulur waktu sembari pura-pura terbatuk.


"Sebenarnya apa sayang? lanjut dong, aku sudah tidak sabaran nih!", ucap Syahril penasaran.


Tok


Tok


Tok


"Pasien atas nama Rara waktunya minum obat!", seru seorang perawat dari arah pintu.


Syahril kaget mendengar suara perawat itu, "Ahh....ada saja halangannya", batin Syahril.


Rara mengetahui isi hati Syahril yang kemudian tersenyum meledek ke arah penggemarnya itu.


"Iya sus...terimakasih", ucap Syahril sembari berdiri dan menjemput obat yang dibawa oleh sang perawat.


"Nih, minum dulu obatnya say", pinta Syahril sembari menyodorkan obat dan segelas air putih pada Rara.


Rara mengambil obat yang disodorkan Syahril dan membelah dua ketiga obat itu. Rara sejak dulu memang takut minum obat, makanya sebelum dia minum obatnya, obatnya dipotong dua dulu.

__ADS_1


Syahril tertawa cekikikan melihat Rara, "Haaa? obat koq dipotong?! kayak anak kecil", ucap Syahril dengan gaya meledek.


Setelah meminum obatnya, Rara memejamkan mata perlahan, dia bermaksud mengerjai Syahril yang dari tadi menunggu jawabannya.


"Loh, koq kamu malah tidur Ra'? Jawab dulu donggg!!!, aku udah penasaran berat ini !!!", ucap Syahril dengan nada serius.


Rara tetap menutup matanya dan akhirnya benar-benar tertidur pulas.


Syahril menatap Rara sembari menggelengkan kepalanya. Kemudian dia pun meletakkan kepalanya di samping Rara dan ikut tertidur pulas.


***


Sementara itu di sekolah....


"Sil, apa Rara hari ini belum bisa masuk?", tanya Eni yang penasaran dengan kabar sahabatnya.


"Sepertinya belum Ni', soalnya dia masih lemah katanya", jawab Silvi yang kemudian mengambil selembar daun kuning yang baru saja jatuh di hadapannya.


Mereka berdua duduk di tempat biasa. Di dekat gerbang sekolah, di bawah pohon. Sebentar lagi bel masuk berbunyi.


"Alamat sepi nih kalau ngga ada Rara!", ucap Eni sembari menatap Lina yang baru saja masuk lewat gerbang sekolah.


"Lin, kami disini!", seru Eni pada sahabatnya itu.


Lina berbalik ke arah Eni, kemudian berjalan menghampirinya.


"Kalian udah lama disini? Rara mana?", tanya Lina penasaran.


"Apa si Lina ini bisa jaga rahasia Rara? akhir-akhir ini kan sikapnya berubah, apalagi pada Rara", batin Eni.


"Ntar sore juga pasti udah keluar, pujaan hatinya kan siap di sampingnya", ucap Silvi dengan santai sembari melirik ke arah Lina.


Silvi sengaja berkata demikian karena dia tahu bahwa Lina pasti akan cemburu mendengarnya.


Benar saja, mendengar ucapan Silvi, mendadak raut wajah Lina berubah.


"Loh Lin, kamu kenapa? koq wajahmu pucat? apa kamu sakit?", tanya Silvi yang dari tadi sudah tahu apa yang akan terjadi jika dia mengucapkan kata-kata itu.


Lina hanya menggelengkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya.


"Dia kenapa Sil? tiba-tiba pucat dan berlalu begitu saja!", tanya Eni kemudian.


"Biasalah, orang cemburu begitu gelagatnya", sahut Silvi dengan mencibirkan bibirnya.


Mendengar jawaban Silvi, Eni mulai paham akan tingkah Lina selama ini, "Ternyata cemburu toh?", batin Eni.


"Yuk kita masuk!!! bentar lagi bel berbunyi Sil!", ajak Eni yang kemudian menarik lembut tangan Silvi dan berjalan beriringan menuju ruang kelasnya.

__ADS_1


***


"Syahril kemana ya? Apa dia sakit?", batin Lia sembari memutar kepalanya mengelilingi ruang kelasnya.


"Eh...Ton, kamu lihat Syahril tidak?", tanya Lia pada Tono sahabat Syahril.


"Syahril ngga masuk hari ini, lagi ada urusan penting katanya", jawab Tono tanpa berbalik ke arah Lia.


"Kira-kira kamu tahu ngga', urusan penting apa yang dilakukan Syahril?", tanya Lia kemudian.


"Ngga' tahu, dia ngga' mau ngasih tahu!", jawab Tono sembari menghentakkan kedua bahunya ke atas dengan wajah malasnya.


Tono tahu kalau Syahril tidak suka pada si Lia. Jadinya dia juga ogah-ogahan menjawab pertanyaan gadis itu.


"Urusan penting apa ya? aku harus telfon Lina sekarang", batin Lia.


***


"Hallo....", jawab Lina di balik handphone nya.


"Rara tidak datang hari ini. Dia lagi sakit", jawab Lina menimpali pertanyaan Lia.


"Aku kasih tahu atau tidak ya, kalau Syahril menunggui Rara di rumah sakit? tapi akh...ngga usah deh, belum waktunya", batin Lina.


"Oke", Rara menutup handphone nya setelah mendengar ucapan terimakasih dari Lia.


***


"Ini pasti ada hubungannya, Syahril dan Rara pasti ada disuatu tempat. Aku harus cari tahu. Tapi bagaimana caranya ya?", batin Lia.


Lia terlihat tidak konsentrasi setelah mengetahui bahwa tunangannya dan si Rara tidak masuk sekolah bersamaan. Ingin rasanya detik itu juga dia mencari tahu keberadaan mereka.


"Mereka kemana ya? jangan jangan mereka ke ....... hotel? ah tidak....tidak, Rara kan gadis kampungan, mana mau dia diajak ke hotel!?", batin Rara sembari mencoret-coret buku yang ada di mejanya tanpa sadar.


"Hey Lia!!! Apa yang kau lakukan? Buku dicoret-coret gitu, apa kamu ngga sadar?", bentak ibu Nikmah yang baru saja masuk ke kelasnya dan matanya secara tidak langsung menuju ke arah Lia yang berada di bangku paling depan.


Mendengar suara yang baru saja membentaknya, Lia seketika terhentak kaget.


"Iii...iya bu, maaf ibu....sa..saya sedang memikirkan sesuatu", jawab Lia dengan terbata-bata.


"Jangan bawa-bawa masalahmu ke sekolah, di sekolah kamu harus fokus dalam pelajaran, supaya kamu bisa sukses kedepannya nak!!", ucap ibu Nikmah menasehati dengan nada lembut.


"Iii...iya ibu, maaf", jawab Rara kemudian.


"Ya sudah, kita mulai pelajaran hari ini ya nak?!!!", ucap ibu Nikmah sembari berjalan ke arah tempat duduknya.


Seketika suasana ruangan menjadi hening.

__ADS_1


****


Terimakasih sudah menyempatkan membaca novel ini, jangan lupa like dan commentnya🙏


__ADS_2