Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan

Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan
Belanja Sepuasnya


__ADS_3

"Kita singgah dulu di counter itu sayang, kamu harus punya handphone supaya bisa aku hubungi dan kuberi rayuan maut setiap malam", ajak Syahril dengan lagaknya yang sangat lucu.


"Ril, kamu tahu ngga', yang namanya rayuan itu senada dengan gurauan, artinya....kalimat yang diucapkan seseorang itu hanya kebohongan. Contohnya...kamu bilang aku cantik, jika itu kau anggap rayuan, berarti itu adalah sebuah kebohongan", ucap Rara sembari mencibirkan bibirnya.


Syahril menatap kekasihnya dengan senyuman tipisnya yang sangat menggoda, "Bukan begitu maksudku sayang, tuh kan.... kamu jadi salah pengertian. Trus kata apa ya yang cocok untuk menggantikan kata rayuan?", ucap Syahril yang kemudian melontarkan pertanyaan.


"Ganti aja dengan 'ucapan manis', gampang kan....", sahut Rara yang tetap menatap lurus ke depan sembari tertawa cekikikan.


"Oke deh sayang, aku ganti rayuan dengan ucapan manis agar kamu tidak marah", ucap Syahril dengan nada yang lucu.


Mereka berhenti di depan sebuah counter handphone.


"Serius nih Ril? ntar uang jajan kamu habis, aku lagi yang disalahkan!", tanya Rara dengan menatap wajah kekasihnya.


"Ada koq, tujuh turunan Insya Allah tidak akan habis", sahut Syahril dengan memainkan alisnya naik turun.


"Sombong amat!!!, jangan takabur Ril....apa yang ada di muka bumi ini hanya titipan Ril, dalam sekejap Allah bisa mengambilnya dari kita", ucap Rara serius.


"Bercanda koq sayang...jangan diambil hati", sahut Syahril sembari tertawa kecil.


Syahril memarkir mobilnya dan kemudian turun untuk membukakan pintu pujaan hatinya.


"Yuk sayang, kita turun...", ajak Syahril sembari memegang tangan Rara dengan maksud membantunya turun dari mobil.


"Sebenarnya aku ngga' enak Ril, ntar kamu bilang yayangmu ini cewek matrealistis, ngga' usah akh... aku malu Ril", ucap Rara yang kelihatan keberatan untuk turun dari mobil itu.


"Kan bukan kamu yang minta sayang, ini atas kemauanku.... anggaplah ini hadiah dariku", tangkis Syahril dengan menatap tajam wajah Rara.


Mendengar ucapan Syahril, Rara masih kelihatan berfikir.


"Ayolah sayang, kalau kamu tidak turun sekarang, aku akan menggendong mu. Aku hitung sampai tiga.....dalam hitungan ketiga kamu belum juga turun...maka....", ajak Syahril yang kemudian mengeluarkan kalimat ancaman untuk kekasihnya.


Mendengar ucapan Syahril, tanpa berfikir panjang lagi, Rara segera turun dari mobil.


"Naahhh gitu dong, yayang Ril...", ucap Syahril dengan manja.


Mereka berjalan memasuki counter itu dengan beriringan. Syahril menggandeng tangan Rara tapi Rara melepaskan tangan kekasihnya.


"Malu dilihat orang Ril", ucap Rara dengan tersipu malu.


Syahril mengerti dengan apa yang dirasakan kekasihnya. Dia pun ikhlas berjalan tanpa menggandeng tangan Rara.


"Kamu pilih yang mana Ra'?", tanya Syahril kemudian.

__ADS_1


"Terserah kamu Ril, itu kan hadiah dari kamu...apapun itu aku terima", jawab Rara sembari menatap satu persatu ke arah handphone di depannya.


Syahril melihat satu persatu handphone yang ada di depannya, dan akhirnya diapun menentukan yang mana yang akan dia beli.


Rara sengaja agak menjauh dari Syahril dan pura-pura memperhatikan handphone di depannya.


"Makasih ka', saya mau yang itu juga", ucap Syahril memesan handphone untuk yang kedua kalinya.


"Jadi totalnya dua buah ya de', total empat puluh juta rupiah", ucap pelayan counter dengan senyumnya.


"Debit bisa kan ka'?" tanya Syahril.


"Bisa de", jawab gadis manis itu dengan lembut.


"Itu pacarnya ya?", tanya pelayan counter itu penasaran.


"Tau aja ka', handphone ini dua-duanya untuk dia. Aku sayang banget sama dia ka', apapun yang dia minta aku akan berikan", sahut Syahril.


"Duuhh so sweet banget, kalah nih kaka sama anak kecil, eh maaf de'...becanda koq", ucap pelayan counter itu dengan tersipu malu karena keceplosan dengan ucapannya.


"Ya memang aku masih kecil kak, masih SMU koq", timpal Syahril sembari tertawa terbahak-bahak.


"Yang!! Kita jalan yuk, aku udah dapat yang cocok untuk kamu nih!", ajak Syahril dengan manja.


Rara mendekati Syahril sembari menatap tajam pada kantongan yang dibawa kekasihnya.


"Koq kantongannya dua Ril? yang satunya untuk kamu ya?", tanya Rara serius.


Syahril hanya menatap Rara tanpa menjawab pertanyaannya. Dia hanya tersenyum dan melirik Rara dengan senyum misteri.


"Ditanya koq diam? atau....itu untuk pacarmu yang satu lagi ya?", tanya Rara dengan maksud meledek kekasihnya.


Syahril tetap saja diam membisu.


"Makasih ya kak, lain kali kami kesini lagi", ucap Syahril pada gadis pelayan counter itu.


"Iya dek, sama-sama. Sampai jumpa lagi, hati-hati di jalan ya.... langgeng selamanya", sahut gadis cantik itu.


"Aamiin, makasih do'anya kak", sahut Syahril yang kemudian melirik Rara sembari tersenyum.


Mendengar ucapan gadis itu, wajah Rara memerah karena malu.


Syahril berjalan meninggalkan counter dengan menggandeng tangan Rara.

__ADS_1


"Ril, kamu ngomong apa sih sama kakak tadi? koq dia bilang gitu? pasti kamu bicara yang tidak-tidak ya?", tanya Rara penasaran.


"Ngga' koq, aku cuma bilang kalau aku sangat mencintai Rara", sahut Syahril sembari melirik Rara dengan senyum manisnya.


"Tujuh kan, kamu gitu....pamer", timpal Rara yang kemudian mencubit mesrah pinggang kekasihnya itu.


Keduanya pun tertawa melepaskan rasa lucu yang ada di hati mereka.


"Kita ke mall dulu beli pakaian untuk kamu sayang", ajak Syahril dengan serius.


Rara hanya mengangguk mendengar ajakan yayangnya.


Mobil fortuner itupun melaju agak kencang. Sesaat mereka pun tiba di sebuah mall yang ada di kota itu.


Mereka turun bersamaan dari mobil itu dan berjalan bergandengan memasuki mall yang sangat luas itu.


"Kamu pilih pakaian yang kamu suka. Ngga' usah mikir harganya, itu urusan kak Syahril", ucap Syahril sembari memukul-mukul dadanya dengan maksud melucu.


"Okey kak, tapi kak Syahril yang mana maksudnya kak? aku takut salah orang", sahut Rara yang kemudian balik melucu.


"Kak Syahril yang gantengnya minta ampun, kak Syahril kekasihnya Rara si cantik, gadis idola di kampungnya", timpal Syahril sembari tertawa lepas.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak sampai rasa lucu di hati mereka hilang.


Rara kemudian memilih pakaian yang dia sukai. Syahril ikut memilih baju yang menurutnya cocok untuk Rara.


Tanpa mereka sadari belanjaan mereka sudah terlalu banyak.


"Yuk Ril, gitu aja....kita pulang yuk?!!", ajak Rara.


"Okey sayang", sahut Syahril menerima ajakan Rara.


"Totalnya berapa mbak?", tanya Syahril pada kasir yang ada di depannya.


"Sebelas juta dua ratus lima puluh ribu rupiah", sahut kasir itu.


"Apaaa??, ngga' salah mbak? tadi kan saya hanya mengambil beberapa, koq banyak begini jadinya?", tanya Rara yang tidak percaya dengan total belanjaan mereka.


"Tadi aku ikut milihin pakaian buat kamu sayang. Tanpa kamu sadari aku sendiri yang membawanya ke kasir. Kan sudah kakak bilang, urusan harga bukan urusan kamu", ucap Syahril menengahi dan kemudian menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Tapi kan Ril, itu pemborosan namanya. Lagian sampai di rumah, aku harus bilang apa sama papa dan mama?", sahut Rara dengan wajah kecut.


"Itu sih urusan nanti sayang, ada banyak jalan keluar untuk itu, serahkan pada yayangmu yang gantengnya selangit ini", sahut Syahril sembari memainkan alisnya naik turun dengan maksud bergurau.

__ADS_1


Rara tersenyum mendengar gurauan Syahril sembari melayangkan cubitan di pipi kekasihnya.


__ADS_2