Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan

Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan
Dipaksa Ngaku


__ADS_3

"Iiiihhh makin menjadi aja tuh cewek, siapa sih? aku harus cari tau siapa dia sebenarnya. Berani-beraninya merebut Ril dariku!", gumam Lia sembari mengepal tangan kanannya dan melototkan matanya.


"Iya Lia, kamu harus bertindak, kamu harus cari cara agar bisa mengetahui status hubungan mereka berdua", ucap Rista memanas-manasi temannya.


"Bagaimana kalau kita ikut mereka ke toilet?", tanya Lia tanpa menoleh pada temannya, tatapannya hanya tertuju pada kedua insan yang baru saja berjalan ke toilet, yang tak lain adalah Syahril dan Rara.


"Jangan Lia!, lagian kamu tidak punya alasan untuk marah, kamu kan belum jadian dengan si Ril, jadi ngapain juga kamu mau menangkap basah mereka, nda ada gunanya, adanya nanti kamu akan dipermalukan sama si Ril itu", ucap Rista memberi saran temannya.


Mendengar saran dari Rista, Lia terdiam dan menganggukkan kepala pertanda dia setuju dengan ucapan Rista.


"Kamu harus menyusun strategi agar Syahril bisa kamu dapatkan segera sebelum dia terlanjur jauh sama tuh cewek", lanjut Rista sembari menunjuk ke arah toilet dengan gerakan wajahnya yang dianggukkan.


"Kalau gitu kita ke kantin aja Ris, aku yang traktir....ambil semua yang kau mau, hari ini bos Lia yang bayarin", lanjut Lia dengan tawa khasnya yang sangat lucu.


"Let's go!!! Lia memang sahabatku yang top markotop", sambung Rista penuh semangat karena akan dapat traktiran besar-besaran.


Setelah keluar dari toilet, Syahril menunggu Rara di depan pintu toilet,"Apa Rara masih di dalam ya? Aku tungguin aja deh, siapa tahu dia masih di dalam", gumam Syahril sembari menatap ke setiap pintu toilet wanita, berharap Rara masih di dalam.


Sesaat kemudian pintu toilet bagian ujung kebuka, terlihat seseorang keluar dari toilet itu, yang tak lain adalah Rara.


Rara memang gadis yang sangat cantik, putih dan mulus.


Melihat Rara telah keluar, Syahril dengan segera menjemputnya dan berjalan bersama keluar dari lokasi toilet.


"Kita ke kantin dulu Ra'!!! Pasti kamu lapar kan?", ajak Ril sembari menarik tangan Rara.


"Nda' ah Ril, aku nda' lapar, masih kenyang koq, tadi udah sarapan bareng Papa", jawab Rara sembari melihat ke arah kantongnya.


Sebenarnya Rara saat ini lagi lapar-laparnya, tapi uang di sakunya tidak memungkinkan karena tadi banyak iuran yang harus dia bayar, jadi di kantongnya tersisa Rp 2.000 saja, sementara harga makanan di kantin Rp. 3.000 ke atas.


Melihat gerak-gerik Rara, Syahril mulai curiga dan mencoba memaksa Rara untuk ikut bersamanya ke kantin,"Ayolah Ra', ntar aku yang bayar deh, kamu tinggal makan aja!".


Mendengar ajakan Syahril yang sepertinya memaksa, akhirnya Rara ikut juga.


"Kamu mau apa Ra'? saya bakso kasarnya saja bude, nda' pakai mie, kasih kerupuk ya! Porsi jumbo", seru Syahril dengan suara yang begitu lantang, hingga seisi kantin mendengarnya.


"Kamu pesan apa Ra'?", tanya Ril sembari berdiri dan menumpukan badannya pada kedua telapak tangannya di atas meja.

__ADS_1


"Samain aja deh, aku juga suka bakso kasar", Sahut Rara pasrah.


"Oke gadis cantik!!!", timpal Syahril memuji Rara.


Mendengar suara Syahril tadi membuat Lia dan Rista yang sejak tadi berada di kantin itu terhenyak kaget seketika. Mereka menoleh ke arah suara tadi yang tidak asing lagi buat mereka berdua.


"Ternyata mereka kesini juga Ris, males aku lihat mereka, sakit hatiku Ris. Kita ke kelas aja yuk?!!, aku tidak tahan lihat mereka", ajak Lia sembari menghabiskan minumannya.


"Kamu aja yang bayar sana Ris, aku tunggu disini", ucap Lia dengan sesekali melirik ke arah Rara dan Syahril.


Rasa cemburu semakin menguasai hati Lia, ingin rasanya dia lenyap seketika.


"Yuk Lia!!!, ayo kita jalan!!!", ajak Rista setelah membayar makanan dan minuman yang mereka pesan tadi.


"Tunggu!!! Jangan lewat situ!!! Kita lewat samping aja, aku ngga' mau lewat dekat mereka", sergah Lia sembari menarik tangan sahabatnya.


"Kamu tinggal dimana Ra'? Apa dekat dengan tempat nunggu angkotmu tadi?", tanya Syahril dengan serius sembari menatap tajam mata Rara'.


Syahril begitu kagum dengan kecantikan Rara, matanya tidak berkedip sewaktu Rara melontarkan senyum manisnya.


"Iya, seram banget, sampai-sampai jantungku dag dig dug", balas Rara dengan tawa kecil menambah ayu wajah imutnya.


Ibu kantin membawa makanan buat mereka.


"Silahkan dihabiskan semuanya putri cantik!", ucap Ril dengan rayuan mautnya.


Rara hanya mengangguk mendengar ucapan Syahril.


Setelah menghabiskan makanan mereka, keduanyapun segera berdiri dan Syahril meminta Rara untuk menunggunya sembari dia mau bayar pesanannya dulu.


"Yu' Ra sayang!!!", ajak Ril dengan penuh perhatian.


Mereka berjalan beriringan, dan sampai di ujung mereka berpisah, Silvi ke kanan dan Syahril ke kiri.


"Daa sayang", seru Syahril sembari melambaikan tangannya.


Lambaiannya mendapat jawaban langsung dari Rara dengan sebuah lambaian lembut dari gadis cantik nan lembut.

__ADS_1


Sesampai di kelas, suasana hening, ketiga sahabatnya pura-pura sibuk dengan handphone mereka masing-masing.


Melihat tingkah ketiga sahabatnya, Rara terdiam sejenak kemudian memukul meja dengan kedua telapak tangannya.


prakkk!!!!


Ketiga sahabatnya pura-pura kaget.


"Apaan sih kamu Ra', dari tadi ditungguin koq lama banget. Banyak yang antri ya?", tanya Eni dengan lirikan mata yang mencurigakan.


"Kamu ke toilet atau ke kantin??", tanya Silvi dengan nada meledek.


"Ya ke toilet lah, mau nyari apa ke kantin? uang sisa Rp. 2.000 mana bisa?", jawab Rara yang kelihatan menyembunyikan sesuatu.


"Terus teranglah Ra'?! Kami tau koq, tadi kamu di kantin dengan siapa. Aku dan Eni jadi saksinya, kamu mulai menyembunyikan sesuatu dari kami", ucap Lina dengan nada kecewa sembari melempar ke jendela kertas yang sudah diremasnya.


"Ehh iiiya, maaf bestie-bestieku, aku malu mengakuinya sama kalian", lanjut Rara dengan tertunduk lemas.


Rara melanjutkan ucapannya dan menceritakan kejadian yang telah dia alami kepada ketiga sahabatnya itu.


Wajah Rara kelihatan berseri-seri, membayangkan awal mula dia bertemu dengan si tampan Syahril yang ternyata adalah persis seperti apa yang dia impikan selama ini.


Rara memang sudah lama berkhayal tentang seorang pangeran tampan, kaya dan sangat perhatian serta menjadi idola banyak wanita.


Semua yang dia khayalkan itu ada pada Syahril.


Rara mengakhiri ceritanya sembari memegang dagu sahabatnya satu persatu dan mencibirkan bibirnya.


"Ooh gituuu....", seru ketiga sahabatnya itu dengan kompak.


"Kamu harus tahu seluk beluk cowok itu Ra', jangan asal tancap gas", ucap Eni memberi saran pada sahabatnya.


"Oke, bantu aku ya bestie-bestieku!!!", lanjut Rara.


Ketiga sahabatnya menganggukkan kepala tanda setuju.


Mereka berempat lalu berpelukan seperti yang biasa mereka lakukan.

__ADS_1


__ADS_2