Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan

Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan
Nyangkut di Cafe


__ADS_3

Mobil mewah hitam itu melaju pelan seolah yang menyetir mobil itu baru belajar nyetir, padahal si Syahril sengaja mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan karena dia masih ingin berlama-lama dengan gadis incarannya, Rara.


"Kalian ngga' mau singgah dulu, di cafe atau di rumah makan atau dimana ke'? Aku siap mengantar bidadari-bidadari cantik kemanapun mereka mau!!", gombal Syahril sembari melirik ke gadis cantik yang ada di sampingnya.


"Kita sih tergantung sama ibu bos yang duduk di samping pak bos, kalau dia setuju kamipun pasti tidak akan menolak", jawab Eni menggoda temannya.


"Hmmmm....gimana ibu bos? Pulang atau singgah dulu? Jawab donggg!!!", tanya Syahril tanpa menoleh karena suasana di luar lagi macet.


"Bagaimana dengan Silvi dan Lina, kalian setuju ngga'?", tanya Rara pada kedua sahabatnya sembari menoleh ke belakang.


"Boleh deehh, aku mau!!"Jawab Silvi dan membolak balikkan matanya dan tersenyum melucu.


Berbeda dengan Lina, dia diam saja dari tadi.


"Lin, kamu kenapa sih? dari tadi diaamm saja, ada apa sayang?", tanya Rara pada sahabatnya itu sembari membalik badannya dan mencubit pipi Lina dengan cubitan mesrah.


"Ngga apa-apa koq, aku oke-oke saja kemanapun kalian inginkan", sahut Lina dengan wajah mencurigakan.


Melihat tingkah sahabatnya itu, Eni mencoba menerka apa yang sekarang Lina fikirkan.


"Apa mungkin Lina cemburu melihat Rara yang mendapatkan cowok tampan dan keren seperti Syahril? Tapi akh, masa iya sih gitu, kita kan sahabatan, masih banyak cowok di luar sana yang lebih segalanya dari Syahril", bisik hati Eni sembari berseru,"Kalau gitu tunggu apa lagi Ril, kita singgah aja, tapi....kantongku udah kosong nih, ntar siapa yang bayarin?", tanya Eni spontan tanpa rasa malu.


Eni memang type gadis yang polos, apapun yang ada di benaknya akan dia keluarkan tanpa berfikir dulu. Gadis yang sangat lugu.


"Siiipp kalau gitu, di depan sana ada sebuah cafe yang sangat unik dan menarik, kita singgah disana aja. Masalah siapa yang bayar, ngga' perlu khawatir, ada bang Ril disini!!", Syahril mengangkat tangan kirinya lalu menepuk-nepuk di dadanya dengan tingkah yang sangat lucu.


Mereka tertawa cekikikan melihat tingkah Syahril, terkecuali Lina yang hanya tersenyum paksa.


"Bisa juga dia ngelawak, padahal awalnya aku ngeri lihat dia", bisik hati Rara.


Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi berbelok ke sebuah tempat yang dimaksud Ril tadi.


Mobil diparkirkan oleh Syahril tepat di bawah pohon cemara yang sangat rindang.

__ADS_1


Cafe ini kelihatan sangat unik dengan ukiran-ukiran klasik di dindingnya dan di sudut kiri kanan halaman terdapat kolam ikan yang dilengkapi dengan pancuran.


"Silahkan turun bidadari-bidadari cantik!!!", seru Syahril mengeluarkan gombalan mautnya.


Merekapun turun dan melihat sekeliling. Rara berlari kecil mendekati pancuran yang di bawahnya terdapat ikan warna-warni yang berukuran besar.


"Hoy bestie-bestieku!!! Kita selfie disini dulu, pemandangannya sangat menarik", Seru Rara sesaat setelah dia sudah berada di dekat kolam ikan itu.


Merekapun berjalan menuju ke tempat Rara berdiri tadi. Lina berjalan belakangan dengan lagatnya yang kelihatan sangat terpaksa.


"Kenapa dengan Lina Sil, Ni', apa dia ada masalah? Koq kelihatan kusut banget?!", bisik Rara pada kedua sahabatnya tanpa kedengaran oleh Syahril.


"Ngga' tahu tuh, tadi dia baik-baik aja koq waktu di sekolah, nda' tahu koq tiba-tiba saja berubah, seperti satria baja hitam", jawab Silvi dengan berbisik sembari melucu.


Ketiga gadis cantik itu tertawa kecil, tapi tidak sampai kelihatan oleh si Lina, mereka takut kalau sahabat mereka yang satu itu sampai tersinggung.


"Ayo kita masuk!!", ajak Syahril dan kemudian memegang tangan Rara dan mengajaknya berjalan beriringan.


Mereka memilih duduk di sudut ruangan, terdapat enam buah kursi disana.


Terdapat berbagai menu di cafe ini, bukan hanya kopi dan jus saja, tersedia juga makanan seperti ayam goreng, ayam bakar, cumi bakar dan masih banyak lainnya.


"Aku ayam bakar plus jus jeruk mba'", pinta Rara pada pelayan.


"Aku samain aja sama dia mba'", ucap Syahril ikutan.


"Kalau aku cumi bakar aja mba' plus jus alfokat, jangan lupa air putihnya juga", ucap Eni sembari melenggokkan kepalanya kiri kanan dan memonyongkan bibirnya pada Rara.


"Sama, aku juga mau cumi, aku juga pesan seperti pesanan cewek polos ini mba'", ucap Rara sembari mencubit pipi Eni dengan agak kuat.


Eni kesakitan, "Aduuhh, yang pelan dong kalau mau nyubit, awas aku marah nih!!!", ucap Eni dengan mengernyitkan keningnya, tanda kalau dia hanya bergurau.


"Lina pesan apa?", tanya Rara keheranan melihat sahabatnya yang satu ini.

__ADS_1


"Ya samakan saja sama Eni, aku ikut saja", jawab Lina dengan nada cuek.


"Kamu koq gitu Lin? ada apa? apa ada yang salah dengan kami?", tanya Silvi penasaran.


"Ngga ada yang salah koq, aku hanya kecapea jadi males gini", jawab Lina dengan sikap yang tidak biasanya.


"Oh ya, kalian berempat emang sahabatan ya?", tanya Syahril ingin tahu.


"Ya iyalah, kumpulan gadis cantik bukan? becanda koq", jawab Eni dengan tawanya yang sangat lucu.


"Kamu sendiri punya sahabat ngga'? Kenapa sendirian?", tanya Eni balik bartanya.


"Sahabat ya pasti adalah, tapi aku tinggal dulu mereka karena aku mau nganterin bidadari-bidadari cantik ini keliling kota", jawab Syahril dengan tertawa kecil sembari melirik pada Rara yang dari tadi kelihatan sedang memikirkan sesuatu.


Tak lama berselang, pesanan pun datang, sesuai dengan pesanan masing-masing.


"Ayo kita santap makanannya, jangan sampai mubazir", seru Syahril pada Rara dan teman-temannya.


Silvi kelihatan sangat lahap makannya, maklum tadi waktu jam istirahat memang dia tidak ke kantin bersama Eni dan Lina.


Sementara Lina terlihat hanya memandangi makanan yang ada dihadapannya.


"Hmmm...tuh makanan koq hanya ditatap saja Lin? Apa kamu tidak kasihan sama nasinya? Diluar sana masih banyak orang yang kelaparan, sedangkan kamu....makanan enak di depan mata dibiarkan saja, ntar mubazir!!!", ucap Eni menasehati sahabatnya.


"Tiba-tiba perutku sakit, sepertinya aku tidak bisa makan makanan ini, ntar perutku tambah sakit. Aku minum jusnya saja ya?!", jawab Lina menutupi kata hatinya.


Melihat gerak-gerik Lina, Syahril mulai curiga, "Tadi orangnya tidak seperti ini, awal ketemu dengan dia, dia baik aja koq, orangnya ramah, tapi setelah melihat Rara datang, sikapnya mulai berubah, mungkin dia cemburu sama Rara", bisik hati Syahril.


"Coba aku tes dulu, dia betulan cemburu atau aku yang salah?", bisik hati Syahril untuk kedua kalinya.


Syahril lalu menatap Rara dengan sangat mesrah, lalu mengambil tissue dan kemudian membantu Rara ngelap mulutnya dengan penuh kasih sayang, semua itu Syahril lakukan terutama untuk membuktikan kecurigaannya.


Ternyata kecurigaan Syahril memang betul, melihat adegan tadi, tiba-tiba Lina berdiri dari duduknya dan kemudian berjalan ke arah toilet dengan muka muram.

__ADS_1


"Hmmm...hmmm....hmmm...., cantik-cantik koq cemburuan!!!", gumam Syahril tapi tidak sampai kedengaran oleh tiga gadis cantik di dekatnya.


__ADS_2