
"Kamu istirahat dulu sayang, tidurlah dulu", ucap Syahril sembari mengelus-elus kening Rara.
"Ril, makasih sudah menolongku, kalau tidak ada kamu pasti aku sudah tak bernyawa lagi", ucap Rara sembari memegang tangan Syahril.
"Tapi kalau tidak ada aku, kamu pasti tidak akan jatuh ke laut, karena akulah yang mengajakmu, jadi semua ini terjadi", sahut Syahril sembari menggenggam tangan Rara dan mengelus-elusnya.
"Hidupku terasa indah semenjak mengenalmu Ril. Sebelum kenal sama kamu, aku mana tahu dunia luar, pulang sekolah...aku hanya di dalam kamar mengurung diri", ucap Rara dengan jujur.
"Akh sudahlah, kamu istirahat dulu, tidurlah sayang!! Aku keluar sebentar nyari makanan", sahut Syahril yang kemudian berjalan keluar dari ruangan setelah melihat pujaan hatinya telah tertidur.
Syahril berjalan menuju kantin, diapun membeli beberapa cemilan dan juga nasi beserta lauknya.
Setelah mendapatkan semua yang dia inginkan, dia pun bergegas menuju kamar Rara.
"Assalamualaikum!!!", sapa Syahril dari balik pintu.
"Adakah gadis cantik di ruangan ini?", tanya Syahril bergurau.
"Ngga ada pak, disini hanya ada gadis jelek, ngga usah masuk!", timpal Rara ikutan bergurau.
Keduanya tertawa terbahak-bahak.
Syahril kemudian menyodorkan makanan pada Rara dan kemudian menyuapinya dengan lembut.
Melihat sikap Syahril, Rara mulai melayangkan pertanyaannya, "Ril, kamu serius pengen jadian sama aku?".
Mendengar pertanyaan Rara, seketika Syahril mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk menatap nasi di tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya Ra'? katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya", jawab Syahril dengan nada yang sangat serius.
Rara membalikkan badannya ke samping dan sekarang menghadap ke arah Syahril.
"Sebenarnya aku ada rasa tidak percaya Ril. Cowok setampan dan keren seperti kamu naksir sama aku yang hanya gadis miskin dan jelek", ucap Rara kemudian.
Mendengar ucapan Rara, Syahril mengangkat tangan kanannya dan meletakkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke mulut Rara dengan lembut sembari berkata, "Stttt..... aku tidak memandang itu sayang, aku sayang kamu sejak pertama kita bertemu. Kamu adalah gadisku yang sangat cantik, melebihi bidadari di kayangan".
Mendengar rayuan mau Syahril, Rara seketika melayangkan cubitan mesrah ke lengan Syahril sembari tersenyum mesrah, "Gomballl !!! Bisa aja kamu Ril !!!", ucap Rara dengan tersipu malu.
Syahril terus saja menyuapi gadis idamannya sambil sekali-kali mencubit mesrah hidung mancung tambatan hatinya.
"Oh ya Ril, sudah ada kabar dari dokter kapan aku bisa pulang tidak?", tanya Rara penasaran.
"Belum, mungkin sebentar lagi", jawab Syahril.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang Ril?", tanya Rara kembali.
"Jam 3.30 Ra', sudah ashar", sahut Syahril.
"Kamu tanya dokter Ril.... kapan aku bisa pulang, aku takut dimarahi papa", pinta Rara.
Tanpa menunggu lama, Syahril kemudian berdiri dan melangkah menuju ruang perawat.
"Sus, bagaimana dengan adikku sus, 'Rara'....apa dia sudah bisa pulang?", tanya Syahril pada seorang perawat yang lagi asyik menulis sesuatu.
"Tunggu ya de', aku lihat dulu....", jawab perawat cantik itu.
Perawat itu kemudian mengecek nama Rara pada sebuah buku besar.
"Maaf de', Rara belum bisa pulang hari ini. Badannya masih lemah, butuh diinfus dulu", jawab perawat itu kemudian.
"Waduh gimana ini?", apa yang harus Rara katakan pada orang tuanya?", batin Syahril.
Syahril berjalan menuju kamar tempat Rara dirawat dengan langkah lunglai sembari berfikir mengenai alasan Rara pada orang tuanya nanti.
"Ada apa Ril? koq loyo amat? apa aku belum bisa keluar hari ini?", tanya Rara sembari menatap ke arah pintu Syahril yang berjalan mendekatinya.
Syahril hanya mengangguk tanpa sepatah katapun.
"Kamu terus terang saja Ra', sepertinya itu lebih baik daripada kamu bohong, ujung-ujungnya ketahuan juga", sahut Syahril menasehati.
"Ahh...ngga ah Ril, aku takut papa marah....papa kalau marah, galak banget!, ucap Rara dengan mulut dimonyongkan.
"Trus rencana kamu apa?", tanya Syahril kemudian.
"Kita telfon Silvi dulu", sahut Rara.
Rara meraba kantong belakang celananya dan mendapatkan handphonenya.
"OMG Ril, handphoneku rusak akibat tenggelam tadi, waduhhh....mana handphone satu-satunya lagiii....", ucap Rara dengan wajah lesu.
"Ngga usah difikir sayang, ntar kalau kamu udah sehat, kita beli yang baru", ucap Syahril menghibur kesayangannya.
Rara menatap wajah Syahril, "Duh baik banget kamu Ril, beruntung aku ketemu cowok seperti kamu", batin Rara dengan senyuman di bibirnya.
"Kamu ngga mau?", tanya Syahril kemudian.
Rara hanya tersenyum bahagia menatap Syahril. Syahril seolah tahu bahasa hati Rara. Syahril kemudian mencubit mesrah hidung Rara.
__ADS_1
"Kamu pakai handphone ku dulu", ucap Syahril sembari menyodorkan handphonenya ke Rara.
"Koq handphone kamu ngga rusak? padahal tadi kamu nolongin aku kan? pastinya handphone mu juga rusak", ucap Rara sembari menatap serius pada handphone di tangan Syahril.
"Ngga lah, ini handphone kan anti air, percuma dibeli mahal-mahal kalau bukan anti air", sahut Syahril berlagak menyombongkan diri sembari memonyongkan bibirnya.
"Oh gitu....kamu punya nomer Silvi tidak?", tanya Rara.
"Ada, sudah kuambil tempo hari", sahut Syahril.
Rara kemudian memencet tombol, dia akan menghubungi Silvi.
"Hallo Sil, aku mau minta tolong sama kamu!", pinta Rara.
"Gini...kalau ada telfon dari papa, bilang aku ada di rumahmu, nginap...karena masih ada tugas tambahan yang harus diselesaikan", ucap Rara sembari menatap Syahril.
Rara kemudian menceritakan kejadian yang dialaminya hari ini.
"Kamu aja ya Ril yang sampaikan ke Eni dan Lina, takutnya nanti papa nelfon ke Eni.... oke makasih cinta!", pinta Rara dengan suara lembutnya.
"Sekarang aku harus nelfon papa, untung nomer papa sudah tersave di kepalaku", ucap Rara sembari tersenyum lucu ke Syahril.
Melihat tingkah Rara, Syahril semakin gemmes ngelihatnya.
"Assalamualaikum pa, saya minta izin nginap di rumah Silvi malam ini....soalnya masih banyak tugas mendadak yang harus diselesaikan", ucap Rara pada papanya di balik handphone.
"Iya pa, assalamualaikum", sahut Rara menimpali nasehat papanya yang menyuruhnya hati-hati dan tidak begadang.
Sementara itu di rumah Rara.....
"Siapa itu pa?", tanya mama Rara.
Rara ma, katanya dia tidak pulang malam ini, karena masih banyak tugas tambahan yang harus mereka selesaikan", jawab papa Rara sembari merebahkan dirinya di sofa.
"Pa, mama koq merasa kalau Rara menyembunyikan sesuatu dari kita. Rara tidak biasanya seperti ini", tanya mama Rara dengan serius.
"Iya ma, papa juga merasa ada yang tidak beres. Sebentar....papa telfon Silvi dulu!", jawab papa Rara yang kemudian memencet tombol handphonenya.
"Assalamualaikum nak Silvi", ucap papa Rara dan dijawab salam juga oleh Silvi.
"Bapak mau tanya nak, apa Rara betulan nginap di rumah kamu?", tanya papa Rara dengan serius. Yang kemudian dibenarkan oleh Silvi dari balik handphonenya.
"Oh iya nak, makasih infonya....assalamualaikum", ucap papa Rara dan dijawab salam juga oleh Silvi.
__ADS_1
Silvi merasa bersalah pada orang tua Rara, tapi apa boleh buat, rasa kasihan pada sahabatnya lebih besar.