Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan

Kekasih Khayalan Menjadi Kenyataan
Terciduk oleh tetangga


__ADS_3

Mobil lambourgini hitam milik Syahril melaju dengan kencangnya.


Rasa penasaran tiba-tiba terbersit di hati Lia,"Sebaiknya aku selidiki dimana cewek nyebelin itu tinggal!",batin Lia kemudian secepat kilat beranjak dari duduknya dan melajukan mobilnya dengan sangat kencang.


Tapi sayang, mobil Syahril sudah tidak kelihatan lagi, mungkin sudah berbelok tapi Lia tidak tahu arahnya, terpaksa Lia memutar arah mobilnya untuk pulang ke rumahnya tapi dengan wajah lesu.


Mobil Lia berbelok di halaman sebuah rumah yang tampak sangat mewah. Dia memarkirkan mobilnya diantara tiga mobil mewah lainnya yang ada di garasi mobil itu.


Ini adalah rumah Lia. Dia anak seorang pengusaha tambang.


Lia melangkah masuk ke rumah istananya dengan langkah lunglai, terbayang di matanya si Syahril sedang bermesraan dengan si Rara.


Dia langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan kedua orang tuanya yang berada di ruang tamu.


"Ada apa dengan Lia ya pa? datang-datang masuk kamar tanpa basa-basi seperti biasanya", Tanya mama Lia pada suaminya yang sedang asyik membaca koran hari ini.


Papa Lia hanya menyentakkan kedua bahunya tanda tak tahu sembari tetap asyik memperhatikan surat kabar yang dia pegang.


Pak Nasar adalah nama dari bapak Lia, dan istrinya bernama Lusi, mereka hanya mempunyai anak semata wayang.


Apapun keinginan anaknya akan mereka penuhi. Semenjak kecil Lia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Orang tuanya selalu memanjakannya meskipun itu menyangkut hak orang lain, mereka tidak perduli.


"Sebentar pah ya, mama mau ke kamar Lia dulu, penasaran mama dengan tingkahnya", ucap ibu Lusi.


Pak Nasar hanya mengangguk tanpa menoleh sedikitpun.


Took


Took


Took


"Mama boleh masuk sayang?", tanya ibu Lusi sembari mengetuk pintu kamar anaknya.


Tidak ada sahutan dari dalam kamar.


Ibu Lusi tambah penasaran, dia mencoba membuka pintu kamar anaknya yang ternyata tidak terkunci.


Ceklek


Ceklek

__ADS_1


"Lia, apa kamu baik-baik saja sayang? dari tadi mama perhatikan kamu sepertinya lagi ada masalah", ucap ibu Lusi yang kemudian duduk di tepi ranjang mewah berwarna pink itu.


Lia yang dari tadi tidur tertelungkup di atas gulingnya hanya terdiam mendengar pertanyaan sang ibu.


Melihat reaksi Lia, ibu Lusi pun beranjak dari kamarnya dan kembali duduk di samping suaminya.


"Tidak ada respon pa, Lia hanya diam...tidak mau menjawab pertanyaan mama", ucap mama memberi info pada suaminya.


"Ngga' usah diganggu ma, mungkin saja dia sedang capek, ngga' mau diganggu", sahut pak Nasar yang kemudian meletakkan koran di atas meja dan segera menghirup kopi yang ada dihadapannya.


***


Sementara itu di tempat lain, Syahril dan Rara ternyata singgah dulu sebentar di pinggir sebuah pantai untuk selfie - selfie, mereka selfie berdua dan kemudian minta difoto bergantian, sampai-sampai tidak ingat waktu lagi. Sekarang sudah pukul 5.30 sore.


"Masya Allah!!! Ril, sudah hampir magrib ini, ayo kita pulang!!! Nanti kalau sudah hampir nyampai ke rumah, kamu markirnya ngga usah sampai depan rumah ya, takutnya papa dan mamaku curiga!", pinta Rara serius.


"Oke tuan putri tercantik sejagad", sahut Syahril yang kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir di bawah pohon kelapa.


Berselang 20 menit kemudian mereka tiba dan Rara pun turun sekitar 20 meter dari rumahnya.


"Daah Ril !!! ucap Rara yang baru saja turun dari mobil mewah itu.


Melihat Rara yang tadi turun dari mobil lambourgini, salah satu dari dua orang tetangga Rara yang tidak sengaja lewat di dekat mereka pun melontarkan pertanyaan,"Koq kamu turunnya tidak di depan rumah kamu? Siapa dia Ra'? Apa dia pacar kamu?".


"Eeh tante Siti!, bu...bukan Tante, dia bukan pacarku, dia teman kelasku yang kebetulan rumahnya searah denganku.


"Tapi koq kamu pulangnya kemalaman? Apa orang tuamu tidak marah?", Tante Siti kembali melontarkan sebuah pertanyaan.


"A...anu tante, tadi bannya mobilnya mogok... jadi harus ke bengkel dulu", jawab Rara agak gugup.


"Ooh gitu....tante hanya ingin mengingatkan sayang, hati-hati dengan pergaulan anak zaman sekarang, apalagi dengan cowok kaya seperti itu!", sahut Tante Siti yang kemudian memberi nasehat pada Rara.


"Iii...iya tante, makasih sudah dinasehati, permisi tante!!", sahut Rara yang kemudian berlalu dari hadapan kedua tetangganya.


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum ma, pa!!!", seru Rara di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam", sahut ibu Rara dari balik pintu sembari membuka pintu untuk anaknya.


"Dari mana saja kamu nak?, sudah adzan maghrib baru pulang!", tanya mama Rara dengan nada agak keras.


"Aa..nu ma, tadi Rara nebeng di mobil teman, tapi diperjalanan mobilnya mogok, jadi terpaksa ke bengkel dulu", jawab Rara yang terpaksa mengakui kalau dia pulang diantar teman, dia takut kalau tante Siti mengadu ke mamanya.


"Ooh gitu sayang, tapi jangan bohong ya sayang!", sahut sang ibu yang kemudian menutup pintu dan merangkul anaknya sembari berjalan beriringan menuju dapur.


"Makan dulu sayang", ucap mama Rara yang kemudian menarik kursi meja makan untuk anaknya.


"Ngga' ma, udah kenyang, tadi ditraktir teman waktu nungguin mobilnya di bengkel", jawab Rara berbohong.


"Ya udah kalau gitu, sana ganti baju trus sholat maghrib dulu sayang", perintah mama Rara dan kemudian berlalu ke kamarnya untuk menunaikan kewajibannya, sholat maghrib.


"Iya ma!!!", sahut Rara sembari berjalan menuju ke kamarnya juga.


Kringgg


Kringgg


Kringgg


Terdengar handphone Rara berbunyi. Tampak dari layar kaca nama 'Syahril'.


"Hallo, iya Ril?", ucap Rara dengan nada pelan, takut kedengaran papa dan mamanya.


"Bagaimana Rara, besok jadi ngga'?", tanya Syahril dibalik iphone-nya.


"Boleh Ril, tadi aku sudah tanya mama sama papa, tidak ada yang harus dilakukan besok. Aku sudah minta izin kerja kelompok di rumah Eni", jawab Rara perlahan karena dia takut kedengaran papanya yang ada di samping kamarnya.


"Ok cantik, besok aku jemput ya?!", tanya Syahril tanpa membutuhkan jawaban.


"Jemputnya jangan di rumah ya, eeee.....disitu aja, tempat kita pertama kali ketemu. Kalau tempat aku turun kemarin takutnya ada tetangga yang lihat seperti kemarin", sahut Rara sembari memejamkan matanya yang sedari tadi sudah sangat lelah.


"Oke sayang, mendengar suaramu, sepertinya kamu udah ngantuk. Aku tutup ya, selamat bermimpi indah bidadariku!", rayu Syahril yang kemudian menutup pembicaraan dan mematikan datanya.


Rara menerawang ke langit-langit kamarnya.


"Cowok yang selama ini aku khayalkan ternyata ada pada Syahril, semoga dia laki-laki yang baik. Tapi....aku masih penasaran dengan sikap Lina akhir-akhir ini. Aku yakin dia cemburu padaku. Tapi aku harus terus merayu dia supaya rasa cemburunya bisa berangsur-angsur hilang", batin Rara.


Sesaat kemudian diapun tertidur pulas dan lupa mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2