
"Ada apa Ril? Koq kamu senyum-senyum sendiri? Lagi menghayalkan seseorang ya?", tanya Rara menggoda Syahril.
"Nda' apa-apa, cuma ada yang lucu, tapi sudahlah, lanjut aja makannya. Habis makan kalian mau kemana lagi?", tanya Syahril serius.
"Bagaimana kalau kita ke bioskop? Tapi tiketnya kan mahal, akh sudahlah Ril, ngga' jadi, kita pulang aja", jawab Eni yang kemudian menarik kembali kata-katanya karena saat itu uang jajannya sisa seribuan.
"Akh, masalah bayar membayar itu urusan bang Ril, jadi sepakat? Sepulang dari sini kita ke bioskop?", timpal Ril yang kemudian melontarkan pertanyaan pada keempat gadis cantik itu.
Mereka berempat saling bertatapan dan saling meminta pendapat satu sama lain.
Kecuali Lina yang hanya menatap kosong, seolah dia tidak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan kemudian.
"Oke, kita setuju!!! Tapi pulangnya jangan terlalu larut ya?! Ntar aku kena marah sama papa!", seru Eni dengan suaranya yang melengking membuat semua orang yang ada di cafe itu berbalik padanya.
"Ehh maaf semuanya, aku terlalu bersemangat soalnya, jadi dengan spontan aku berteriak", lanjut Eni dengan suara lemah.
"Kalau begitu habisin tuh yang di atas meja, kalau tidak dihabisin, kita tidak akan pulang!", ucap Syahril mengancam, tapi sebenarnya dia hanya bercanda.
Siapa diantara kalian yang sering ke bioskop?", tanya Syahril seraya menikmati jus yang ada di depannya.
"Aku!!!", jawab Silvi dengan mengacungkan jari telunjuknya.
"Oh pantes kelihatan kurang semangat, udah bosan ya injak bioskop?", tanya Syahril kemudian sembari tertawa cekikikan melihat ekspresi Silvi yang kelihatan cemberut dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Syahril lalu berdiri dan berjalan menuju kasir, tentu saja dia akan membayar pesanannya tadi.
"Woyyy!!! satu lagu dong Ra'!! Aku pengen dengar suaramu, pasti suara kamu bagus", pinta Syahril penuh keyakinan.
Rara menggelengkan kepalanya tanda tak mau.
"Ayolaah sekali saja, please!!!", rayu Syahril penuh harap.
"Baiklah, tapi jangan ketawa ya kalau dengar suaraku?! Suaraku fals, aku ngga' tahu nyanyi Ril, tapi okelah aku nyanyi", jawab Rara merendahkan diri.
"Rara'!!? Rara'!!! Rara'!!! Ayo kamu bisa!!!", seru kedua sahabatnya.
Sementara Lina hanya memandang dengan tatapan kosong pada sahabatnya itu. Lina saat ini dipenuhi rasa cemburu, dia tidak suka kalau Rara yang miskin itu bisa mendapatkan cowok ganteng dan kaya seperti Syahril. Dia merasa bahwa itu adalah hal yang tidak wajar, seharusnya dialah yang mendapatkan si Syahril, karena dia hampir selevel dengan Syahril.
Rara naik ke panggung yang tidak terlalu tinggi sembari mengetes mic yang ada di tangannya.
Sesaat kemudian terdengar musik slow yang tak lain adalah musik yang mengiringi lagu dari negri Jiran Malaysia yang memang adalah lagu favorite si Rara.
Rara mulai bernyanyi, alangkah kagetnya si Ril mendengar suara Rara yang sangat merdu, Ril lalu mengabadikan suara indah Rara dalam handphonenya.
"Ternyata aku tidak salah memilih tambatan hati, selain cantik dia juga bisa nyanyi dan suaranya wow banget", bisik hati Syahril sembari tersenyum-senyum sendiri.
Syahril tidak sadar bahwa sepasang mata indah sedang memperhatikan gerak geriknya.
__ADS_1
Rara mengakhiri lagunya dengan senyumnya yang sangat menawan, banyak pria di cafe itu takjub melihat kecantikan Rara ditambah lagi suaranya yang merdu.
Tepuk tangan pengunjung cafe pun terdengar serempak kecuali Lina yang saat ini kelihatan sangat emosi.
Seorang pria berambut gondrong mendekati Rara yang sedang berdiri dari duduknya.
"Hai!!! Mantap banget suaranya cantik, senang sekali mendengarnya!", ucap pria gondrong itu.
Pria itu kelihatan jauh lebih dewasa dari Syahril.
Melihat kelakuan pria gondrong itu, Syahril dengan sigap berdiri dari duduknya dan mendekati si gondrong dan Rara.
"Ayo Ra', kita pulang....sekarang udah jam 4 sayang!", seru Syahril yang kemudian menarik tangan Rara pelan.
Rara mengerti dengan sikap Syahril,"Syahril pasti cemburu pada cowok gondrong itu", bisik hati Rara.
"Ayo kita pulang!!!", seru Syahril pada ketiga sahabat Rara yang kemudian berjalan keluar dari cafe tanpa menoleh sedikitpun dan tetap memegang tangan Rara agar Rara ikut dengannya.
Si pria gondrong hanya menatap mereka dari kejauhan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya,"Dasar anak muda zaman now!", bisik hati si gondrong.
Sesampai di parkiran, Syahril segera membuka pintu lambourgininya dan menyuruh mereka segera masuk.
Sepertinya Syahril terlalu takut jika gadis idamannya dilirik orang lain. Tentu saja sikap Syahril itu membuat Lina bertambah iri pada sahabatnya.
"Kita lanjut ke bioskop ya cantik?", tanya Syahril sembari melirik pada Rara yang ada di sampingnya.
Rara hanya bisa mengangguk mendengar pertanyaan Syahril.
Setelah setengah jam perjalan mereka tiba di depan sebuah bioskop yang kelihatan sangat luas gedungnya.
Syahril memarkirkan mobil mewahnya tepat di samping mobil fortuner putih di depan bioskop.
Syahril tidak menyadari bahwa mobil yang ada di samping mobilnya itu adalah milik Lia, gadis yang selama ini mengincarnya.
Syahril turun dari mobilnya dan segera membukakan pintu untuk Rara dan sahabat-sahabatnya.
Mereka berjalan beriringan memasuki ruang bioskop itu.
"Kalian tunggu disini dulu ya, aku pesan tiketnya dulu, kita nonton film romantis aja yang bertema remaja ya?!!!", ucap Syahril tanpa menunggu jawaban dari mereka berempat.
"Eh Lia!!! itukan Syahril? koq bisa ya ketemu disini?", bisik Rini pada teman barunya. Mereka berdua baru saja dekat karena sahabat Lia sudah pindah ke sekolah lain.
"Eeh iya, koq bisa ya, dasar jodoh, mau diapa juga pasti ketemu", gumam Lia yang masih kedengaran oleh Rini.
"Eh tapi.... Syahril kesini sama siapa ya? apa dia sendiri? tapi akh... tidak mungkin dia sendiri, pasti dia bersama temannya", ucap Lia sambil tetap memandang Syahril yang ada tepat di sampingnya.
Syahril tidak menyadari kehadiran Lia, dia hanya sibuk dengan handphone di tangannya.
__ADS_1
Lia sengaja tidak menegur Syahril, dia penasaran dengan siapa sebenarnya Syahril ke tempat itu.
Lia hampir tidak berkedip mengikuti gerak-gerik Syahril.
Sesaat Syahril sudah kembali dan membawa 5 lembar tiket masuk.
"Ohh ternyata Syahril datang bersama gadis itu dan teman-temannya", ucap Lia yang kemudian mengepal tangan kanannya dan mencibirkan bibirnya.
Sesaat pintu bioskop terbuka dan merekapun antri untuk masuk ke ruang tonton.
Lia sengaja berjalan belakangan karena dia ingin melihat tingkah Syahril bersama si Rara.
Syahril duduk tepat di samping Rara dan sedikit mendekatkan kepalanya pada kepala Rara. Hal itu dilihat langsung oleh si Lia karena dia berada tepat di belakang mereka.
"Awas ya, tunggu pembalasanku gadis lugu!!!", gumam Lia sambil tetap menatap kedua insan itu.
Film pun selesai...mereka keluar dengan antri.
Syahril sampai detik itu tidak menyadari kehadiran si Lia sampai mereka berada di parkiran, setelah sebelumnya mereka menghabiskan es cream dulu.
Mobil Syahril pun berjalan dengan pelan keluar gerbang bioskop dan kemudian menancap gas, melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Setelah mengantar ketiga teman Rara, Syahril pun mengantar Rara tepat di depan rumahnya.
"Aku anterin ya? takut bapak dan ibumu marah. Tadi kan kamu tidak minta izin dulu pada mereka", pinta Syahril pada Rara.
"Akh ngga' usah Ril, adanya nanti bapak tambah curiga", sahut Rara sembari mengucapkan terimakasih pada Syahril untuk pengalamannya hari ini.
Syahril mengacungkan jempolnya sembari tersenyum menggoda.
"Assalamualaikum!!!", seru Rara.
Tidak ada sahutan dari dalam.
Rara kemudian mengulangi salamnya,"Assalamualaikum, pa!!!"
Sesaat pintupun terbuka dan sepasang mata menatap Rara dengan penuh amarah.
"Waalaikumsalam, darimana saja kamu nak? Kenapa tidak kirim kabar? kami di rumah gelisah menanti kamu nak!", ucap bapak Rara dan kemudian menutup pintu kembali.
"Lain kali kamu tidak boleh seenaknya nak, kamu masih punya orang tua, kemanapun kamu pergi, orang tua harus tahu. Mamamu dari tadi sangat gelisah menunggumu, apa kamu tidak kasihan?", lanjut bapaknya Rara dengan nada keras.
"Ii'...iya pak, maaf tadi Rara tidak ngabarin karena handphone Rara lowbat", sahut Rara.
"Memangnya kamu kemana?", tanya bapaknya kembali.
"Sa...sa...saya sama teman-teman eee... ada tugas kelompok mendadak dari sekolah, jadi kami harus mengerjakannya hari ini juga. Eh.. kapan mama pulang pa?", Sahut Rara dan kemudian menanyakan soal mamanya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, awas jangan pernah berbohong. Mamamu tiba pukul 1 siang. Sana istirahat dulu, ingat lain kali harus ada kabar", lanjut papanya dan berjalan menuju kamarnya.
Rara mengangguk tanda setuju.