
Sayup-sayup terdengar suara. Yanneta mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan pandangannya.
Sekitarnya gelap. Kepalanya terasa sangat berat. Tangan dan kakinya tidak bisa bergerak. Dia mengalami kelumpuhan total.
"Dimana ini?"
Ingatan tentang pesta teh berputar di kepalanya yang berdenyut sakit. Dari cela jendela terlihat cahaya. Ini pasti sudah malam. Sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Apa yang terjadi. Kepala Yanneta berdenyut-denyut dengan banyak pertanyaan.
Apa yang salah dengannya. Ini pasti ulah Gwinia. Ah, tehnya. Satu-satunya yang dia pegang dari pesta teh itu adalah tehnya. Dia menyesapnya sedikit.
"Ah sial! Wanita itu! Dasar nenek sihir!" Yanneta mengutuk dalam hati.
Sepertinya ada lebih dari satu orang disekitarnya. Karena gelap indra pendengaran Yanneta meruncing.
Pembicaraan mereka sedikit terdengar.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Lakukan sesuai dengan rencana."
Langkah kaki kian mendekat. Yanneta yang tergeletak di lantai menahan nafas. Dia memejamkan matanya. Takut akan apa yang terjadi.
"Apakah anda sudah bangun?"
Tubuh Yanneta tersentak saat sebuah tangan mengelus pipinya.
Matanya segera terbuka dan tatapan mereka bertemu. Yanneta ingat, orang inilah yang terakhir dia lihat sebelum kesadarannya hilang.
Yanneta menggerakkan bibirnya namun tidak keluar suara. Tenggorokannya kering.
Saat tangan orang itu menyentuh bibirnya Yanneta berontak. Dia tidak mau disentuh oleh siapapun. Yanneta berusaha untuk menggerakkan kaki dan tangannya. Meskipun lemah dia masih bisa bergerak sedikit.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
Tiba-tiba suara muncul. Mereka berjumlah dua orang. Keduanya pria. Masih mengenakan seragam kstaria lengkap.
"Bagaimana kalau segera kita habisi? Kita tidak punya waktu lagi."
"Hei!" Karena tidak ada jawaban ada orang yang mendekati Yanneta, partner yang satunya berteriak.
"Diamlah!" Laki-laki berteriak.
Tinggi mereka hampir sama. Tapi warna rambut mereka berbeda. Pria yang mendekati Yanneta berambut kuning cerah sedangkan yang satunya beramput perah.
Mereka saling berhadapan.
"Sayang sekali bukan kalau langsung dibunuh begitu saja. Bagaimana kalau kita mainkan sedikit." Pria berambut kuning berkelakar.
"Dibunuh?" Yanneta gelisah.
Baru kali ini dia mendapat teror pembunuhan. Dia akan dibunuh. Dia akan mati. Lionel. Bagaimana ini. Yanneta ingin berteriak meminta tolong atau kabur. Tapi dia tidak bisa. Tubuhnya tidak mau bergerak.
Air mata Yanneta tumpah. Dia takut. Dia menyesali perbuatannya yang terlalu berani mendatangi Gwinia. Bukankah dia orang yang tega melakukan apa saja agar keinginannya terkabul. Yanneta bodoh. Dia sangat bodoh.
Dia berjuang menggerakkan tubuhnya yang lumpuh. Mencoba berteriak dengan suara yang tidak keluar.
Dia tidak ingin mati. Dia ingin betemu Lionel.
"Apa maksudmu?"
"Wanita ini cukup cantik. Aku akan mencicipinya sebelum membunuhnya. Tidak akan ada yang tahu jika dia sudah mati nanti."
"Kamu sudah gila?"
"Bukan ini rencana awalnya."
"Hei kamu juga akan mendapatkan giliran setelahku. Ini tidak akan lama."
"Tidak. Kita langsung bunuh saja. Kita tidak punya banyak waktu."
Di tengah perdebatan mereka Yanneta masih berjuang untuk menggerakkan kaki dan tangannya.
"Kalau kamu tidak setuju keluarlah. Aku yang akan melakukannya sendiri?"
"Apa?"
__ADS_1
"Anggap kamu sudah membunuhnya."
"Cih!" Pria yang berambut perak meludah dengan kasar. Dengan wajah kesal dia menjauh.
"Selesaikan dengam cepat." Sambungnya dengan suara yang makin menjauh.
Yanneta mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia akan dilecehkan sebelum dibunuh. Tidak. Dia harus menghindar.
Akhirnya setelah berusaha dengan keras kaki sebelah kanannya bisa digerakkan.
Saat pria berambut kuning mendekat Yanneta langsung menendangnya. Orang itu berguling-guling.
Yanneta berusaha bangun namun gagal. Minimnya cahaya membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Dia berusaha bangun lagi namun gagal. Akhirnya Yanneta memilih untuk merangkak.
"Kya!" Suaranya sudah kembali.
Kaki Yanneta diseret dan tubuhnya dibanting.
"Dasar wanita sialan!" Teriaknya.
Tubuh Yanneta kisut. Punggungnya terasa remuk dan kepalanya menabrak lantai. Rasa pening segera menghantui.
"Lepaskan aku! Aku mohon!"
"Memohonlah hingga tenggorokanmu kering. Tidak ada yang akan datang."
Gerakan tangannya sangat cepat di tengah kegelapan. Dia menarik gaun Yanneta kemudian merobeknya. Tubuh bagian atasnya terbuka.
"Menjauh dariku! Pergi!" Yanneta berteriak sekeras mungkin.
Dia jelas kalah. Tubuhnya yang kecil ditindih oleh badannya yang besar. Sisa gaun yang menempel dengan leluasa dia singkirkan. Hanya pakaian dalam tipis yang masih menempel di tubuh Yanneta.
Dia menangis. Menjerit. Meronta. Tapi tidak ada yang datang. Dia dilecehkan. Dia takut. Yang ada di kepalanya saat ini adalah Lionel.
"Lionel. Tolong aku." Gumamnya sambil menangis.
"Duke Soveil? Menangislah yang keras sayang. Karena saat dia kembali kamu sudah menjadi mayat. Malam ini kita akan bersenang-senang."
"Tolong lepaskan!"
Yanneta merontak. Dia berusaha menggerakkan kedua kakinya dan berhasil. Dia mendorong sekuat tenaga. Kedua tangannya juga sudah bisa digerakkan. Fungsi tubuhnya sudah kembali normal.
Orang itu menindih dan mencengkeram tangan Yanneta.
"Tolong aku! Lionel!"
"Menangislah lebih keras sayang." Bisiknya di telinga Yanneta.
Yanneta memejamkan matanya seraya menjauhkan wajahnya dari bedebah itu. Tubuhnya menggigil hebat. Kaki dan tangannya terus berontak namun selalu gagal.
Kekuatan mereka tidak sebanding.
Kedua tangannya kini dikunci ke atas kepalanya. Wajah pri itu sangat dekat dengannya. Dia pasrah. Lebih baik mata saja. Dia tidak pernah berbuat jahat pada orang lain, tapi kenapa orang lain jahat padanya. Apa salahnya. Apa. Yanneta hanya bisa menangis.
Saat tangan kasar pria itu hendak menarik satu-satunya pakaian di tubuhnya, terdengar suara keributan di luar dan langkah kaki bergerak tergesa-gesa.
Melihat ada kesempatan, Yanneta berontak dan teriak.
"Tolong aku!" Suaranya sambil menangis.
"Yanneta!"
Suara itu, suara Lionel. Suara yang dia kenal. Tangis Yanneta semakim menjadi.
"Leo! Leo!" Teriak Yanneta sekeras yang dia bisa.
Suara langkah kaki berlari terdengar. Sebuah bayangan hitam besar segera terlihat.
"Beraninya kau!"
"Arghh!"
Yanneta tidak tahu pasti kejadiannya karena matanya penuh dengan air mata, suara benda tajam memotong sesuatu terdengar miris.
Sedetik kemudian cahaya menerangi ruangan. Penglihatan Yanneta menjadi terang benderang. Beberapa kstaria memasuki ruangan dengan membawa obor. Saat melihat Yanneta mereka langsung memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Yanneta." Lionel segera merengkuh tubuh Yanneta.
Tangis Yanneta semakin menjadi di dalam pelukan Lionel. Dia pikir dia akan mati. Dia pikir dia tidak akan bisa bertemu dengan Lionel lagi. Dia pikir dia mungkin akan membuat Lionel sedih akan kepergiannya. Saat sosok Lionel yang datang menyelematkannya Yanneta sadat satu hal.
Dia sunggu menyukai Lionel. Tidak. Dia mencintai Lionel. Sepenuh hatinya. Amat sangat. Dia tidak ingin kehilangan pria ini. Dia tidak ingin Lionel berpaling darinya. Tangis Yanneta getir.
Bagaimana dia bisa hidup tanpa pria ini nanti. Dia menangisi dirinya sendiri.
"Tutup mata Yanneta. Disini banyak darah."
Sebelum Yanneta menuntup matanya, Lionel melepas jubah kstarianya kemudian menutupi tubuh terbuka Yanneta. Dia menyelipkan tangannya ke bawah kaki Yannta kemudian mengangkatnya.
Yanneta sontak memeluk leher Lionel dan menyembunyikan wajahnya di pundak Lionel.
"Dean!"
"Ya Yang Mulia."
"Bereskan semuanya."
"Baik Yang Mulia."
"Jangan sampai membunuhnya. Dia tidak pantas mati dengan mudah. Masukkan dia ke penjara bawah tanah Soveil."
"Saya mendengarkan Yang Mulia."
"Temui aku besok pagi."
"Baik Yang Mulia."
Lionel meninggalkan kekacauan pada Dean Kalios dan pasukannya.
Begitu komandan mereka tidak terlihat, beberapa ksatria menghela nafas. Mereka tadi hampir saja terlambat. Tidak mampu membayangkan jika sedetik saja mereka terlambat. Bisa jadi nyawa mereka ikut melayang.
Mereka sudah bergidik saat mengikuti Duke Soveil yang menggila setelah mendengar kabar jika kekasihnya, Lady Rainhart belum kembali sejak sore tadi saat menghadiri pesta teh Putri Gwinia.
"Hah hampir saja." Salah satu dari mereka menggerutu.
"Ayo segera bereskan dan pulang." Dean memberi perintah
"Ada satu mayat di luar, kita apakan mayat itu?"
"Bakar."
Beberapa orang bergidik ngeri. Wakil komandan mereka, Dean Kalios sama gilanya dengan Duke Soveil. Perintah mereka mutlak. Tidak ada satupun orang yang membuka mulutnya untuk membantah.
"Bagaimana dengan yang ini?"
Mata Dean menatap tajam orang yang tergeletak di bawah dengan tangan yang terpotong satu.
Tangan kanan orang itu ditebas oleh Lionel.
Rintihannya sumbang. Dia berani-beraninya menantang Duke Soveil. Meskipun dia menangis darah sebanyak darah di lantai sekarang, Duke tidak akan mengampuninya. Lebih baik memilih mati daripada ditangkap Duke hidup-hidup.
Dean mendesah.
"Bawa dia ke Soveil sesuai perintah Duke."
"Baik wakil komandan."
Dean segera pergi meninggalkan tempat yang berantakan tersebut. Langkahnya melebar mendekati kuda yang ditinggalkam begitu saja.
Malam semakim gelap dan besok pasti akan menjadi hari yang sibuk.
Bersambung...
FYI
Dean Kalios adalah wakil komandan Kekaisaran Zagc. Dia juga swordmaster di bawah Lionel.
Lionel Soveil dan Dean Kalios ibarat racikan sempurna dari Tuhan sebagai ksatria tinggi Zagc.
Mereka merupakan teman dekat saat di akademi.
Kelahiran Dean yang rendah karena ibunya adalah orang biasa membuatnya tidak dipandang di keluarga Kalios. Satu-satunya orang yang menerimanya apa adanya adalah Lionel. Maka dari itu dia mengikuti Lionel kemanapun dia pergi.
__ADS_1
Meskipun tidak banyak disebut di Red Rose Tragedy, Dean Kalios cukup terkenal dikalangan pembaca.
Sifat tulus dan baiknya mencuri hati banyak orang.