
Yanneta menangis sejadi-jadinya. Dia menangis seperti orang yang belum pernah menangis sebelumnya.
Di dalam pelukan Lionel dia mencurahkan semua perasaannya. Armor kokoh itu gemerisik oleh gerakan Yanneta. Meskipum tidak nyaman, Yanneta tidak peduli. Seolah dia tidak ingin melepaskan Lionel.
Dia ingin bergantung padanya.
Setelah sekian lama menangis, Yanneta lelah. Isak tangisnya berubah menjadi dengkuran halus. Tubuhnya melemah dan jatuh terkulai.
Lionel dengan hati-hati memindahkan tubuh Yanneta ke atas kasur. Dia melepas armornya yang berat kemudian memanggil pelayan.
"Panggil dua saudara Tatiha kesini."
"Baik Yang Mulia."
Fajar hampir menyingsing saat tiga orang saling berhadapan dengan serius.
"Ada jejak sihir, meskipun sedikit." Dyos membuka suara.
"Baru kali ini saya menemukan kasus seperti ini. Tidak cukup dengam racun, bahkan ada sihir khusus yang diinternalkan ke dalam racun. Mungkin inilah sebabnya jejak racun hampir tidak ditemukan sama sekali." Timpal Byos.
"Orang yang terkena tidak akan dicurigai karena racun. Sangat cerdik." Tambah Dyos.
"Bisakah kamu melacaknya?"
Dyos menggelengkaan kepalanya. Jejak sihir itu menghilang dengan cepat. Orang yang membuat sihir pastilah orang yang hebat. Dia bahkan bisa mengendalikan waktu pemberian sihir.
Dia sendiri tidak sepintar ini.
"Sihir di Zagc diatur dalam hukum yang ketat. Oleh sebab itu tidak banyak ahli sihir yang ada di Zagc. Bahkan menara sihir tidak cukup kuat eksistensinya. Lalu siapa? Kenapa?" Lionel merenung.
"Bagaimana dengan Kaisar? Atau Putra Mahkota?" Tanya Lionel.
"Kita harus menunggu Lady Rainhart bangun. Dia satu-satunya yang bisa memberi petunjuk pada kasus ini." Jelas Dyos.
Karena jejak sihir menghilang dia tidak bisa melakukan penyelidikan lebih lanjut. Tidak mungkin dia harus membelah dan memotong beberapa bagian tubuh Yanneta Rainhart untuk mencari jejak penggunaan sihir. Hanya mendekat dan memegang tangannya saja dahinya hampir berlubang karena tatapan Lionel Soveil.
Dyos menghela nafas ketika mengingatnya. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sihirnya jadi dia tidak tahu jika Duke Soveil telah memiliki kekasih.
Dia sepertinya harus mengikuti saran saudaranya Byos Tatiha untuk sering-sering berbaur dengan orang lain.
"Jika Lady sudah sadar Yang Mulia bisa memanggil kami." Dyos menambahkan.
Kasus ini menarik perhatiannya. Karena jejak sihir yang dia temukan tadi bukam jenis sihir biasa. Itu dilakukan oleh orang yang ahli, dan struktur sihirnya rumit. Ini adalah tanda dari sihir hitam.
Sihir hitam telah dilarang di Zagc. Tapi sihir ini tiba-tiba muncul. Dyos merasa perlu menyelidikinya.
Yanneta masih belum bangun padahal matahari sudah tinggi. Byos mengatakan untuk tidak cemas karena tubuhnha sedang melakukan pemulihan.
Karena ada pertemuan di pagi hari dengan para ksatria, Lionel menitipkan Yanneta kepada para palayannya.
Saat ini dia sedang berdiskusi dengan para ksatria. Membicarakan tentang kejadian penculikan Yanneta.
Mereka berhasil menahan satu pelaku namun saat matahari muncul, tawanan tersebut mati. Dia bunuh diri dengan meminum racun. Bibirnya yang berbusa adalah buktinya.
__ADS_1
Jadi mereka telah kehilangan informan penting.
"Mereka menggunakan seragam ksatria Zonix."
Zonix adalah nama menara sihir Zagc. Mengenakan seragam ksatria Zonix artinya orang itu adalah salah satu dari pasukan khusus Menara Zonix.
"Bagaimana bisa?" Gumam Lionel.
"Ada jejak penggunaan sihir ditubuh ksatria Zonix yang kita tangkap."
"Apa kata Dyos?"
"Penyihir Tahita membawa mayat tersebut." Jelas Dean.
"Sampaikan padanya untuk segera menyelesaikannya."
"Baik Yang Mulia."
Sebelum Dean pergi dia melaporkan beberapa hal secara terpisah. Seperti tempat yang digunakan untuk mengurung Yanneta adalah sebuah rumah kosong yang berada di pinggiran kota. Selain itu juga dia menyampaikan kemungkinan yang terjadi.
Beberapa tamu undangan yang hadir menyatakan jika mereka melihat Yanneta meninggalkan tempat pesta di tengah-tengah. Tapi pelayan pribadi Yanneta yaitu Marta mengatakan kebalikannya, dia tidak melihat Yanneta keluar dan terus menunggu hingga mengirim orang untuk meminta bantuan karena Yanneta tidak kunjung kembali padahal hari sudah malam.
Terjadi tidak kesesuaian pernyataan. Kemudian ada satu fakta yang terkuak bahwa rumah kosong itu atas nama Baron Jonge. Jonge adalah nama keluarga Putri Gwinia. Baron Jonge adalah kakeknya. Keluarga Baron telah runtuh karena keturunan mereka terbukti menerapkan praktik sihir hitam. Ibu Putri Gwinia selamat karena dia adalah selir kesayangan kaisar.
Nama Putri Gwinia dan sihir hitam terus memenuhi kepala Lionel. Rasanya ingin pecah.
Dengan mendengar nama Gwinia saja sudah membuatnya muak. Apalagi jika disimpulkan dialah dari punculikan Yannet, Lionel meledak penuh amarah. Dia ingin mencekik leher Gwinia. Dia ingin memusnahkan kelurga kaisar Zagc yang arogan itu.
Tapi jika Soveil bereaksi, bisa melutus perang kontinental. Sikapnya yang diam diinjak-injak Zagc tidak lain karena ingin mempertahankan keadaan damai di Benua Barat.
Fabian masih dengan tergesa-gesa.
"Lady sudah sadarkan diri Yang Mulia."
Lionel mengangguk kemudian bangkit dari kursinya.
Melihat Fabian yang gelisah Lionel bertanya.
"Apa yang terjadi?"
"Begitu Lady bangun saya memanggil Byos untuk memeriksa keadannya. Namun Lady menolak. Dia bertanya dimana Yang Mulia dan menangis histeris. Para pelayan sedang menenangkannya."
Lionel segera melebarkan langkahnya. Fabian yang ada dibelakangnya berlari untuk mengejar Lionel yang melesat secepat kilat.
"Yanneta."
Beberepa pelayan mengerubungi tempat tidur. Begitu melihat tuan mereka datang, kerumunan segera bubar.
"Lionel." Yanneta turun dari tempat tidur dan berlari ke arah pelukan Lionel.
Begitu membuka mata Yanneta teringat akan penculikannya. Dia ingin melihat Lionel. Dia merasa aman dipelukannya. Dia tidak ingin disentuh siapapun.
Lionel adalah oksigennya. Yanneta sesak nafas jika tidak melihatnya. Dia tahu ini berbahaya, tapi Yanneta mengabaikannya. Untuk saat ini dia butuh Lionel.
__ADS_1
"Saya disini." Lionel menenangkannya dengan tangan mengelus rambut panjangnya.
Yanneta semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam pelukan Lionel. Hatinya yang bergejolak kembali tenang.
"Aku tidak bisa hidup tanpa pria ini."
Air matanya jatuh.
"Kenapa menangis lagi hmm?"
Merasakan pundak Yanneta yang bergetar, Lionel melepas pelukannya. Menjauhkan dirinya untuk menjangkau pandangannya.
"Sayang.. Kenapa menangis lagi?"
Isak tangis Yanneta semakin kencang. Bukan karena dia takut akan penculikannyan itu tapi dia takut akan fakta bahwa dia sangat bergantung pada pria ini.
"Yanneta." Lionel mengangkat tubuh Yanneta kemudian membawanya ke sofa.
Yanneta duduk di pangkuan Lionel dengan berderai air mata.
"Yanneta, tolong jangan menangis lagi. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan melihat Yanneta menangis." Ucap Lionel dengan wajah yang menderita.
Tangannya mengusap pipi putih Yanneta yang basah oleh air mata. Dia lemah jika melihat Yanneta menangis. Ingin rasanya membunuh Putri Zagc itu. Dia marah. Tapi dia tidak bisa melampiaskannya.
"Maafkan saya." Suara Yanneta teredam tangis.
"Tidak. Bukan Yanneta yang harus meminta maaf tapi mereka." Sergah Lionel.
Wajah Lionel menjadi dingin. Mereka tidak cukup dengan menyentuhnya. Kini mereka mulai menyentuh orang yang dia cintai. Lionel tidak bisa bersabar lebih lama lagi.
"Saya sangat mencintai Lionel." Aku Yanneta.
Mendapatkan perhatian yang luar biasa ini menyadarkannya, bahwa hatinya tidak bisa dia kendalikan. Dia telah jatuh cinta pada Lionel.
"Ya, saya juga sangat mencintai Yanneta. Berhenti menangis ya, kondisi Yanneta perlu diperiksa. Yanneta juga belum makan sejak semalam." Bujuk Lionel.
Yanneta menggeleng seraya menurunkan pandangannya.
"Saya hanya mau Lionel." Bibirnya mencuri ciuman singkat.
Wajah Lionel yang terserang tiba-tiba terlihat ingin.
"Saya hanya ingin bersama Lionel." Senyum Yanneta terbit.
"Curang." Ketus Lionel.
Dia segera menarik tubuh Yanneta hingga menabrak dadanya. Bibirnya segera memangsa bibir merah Yanneta.
Tangannya menekan tengkuk leher Yanneta untuk memperdalam ciumannya. Dia ingin menelan semuanya. Semua yang ada di tubuh Yanneta ingin dia kuasai.
Yanneta miliknya. Dia ingin mengukir tanda kepemilikannya di seluruh tubuh Yanneta hingga semua orang tahu jika Yanneta Rainhat adalah miliknya. Jadi orang-orang tidak akan berani menyentuhnya. Dia juga ingin mengirim peringatan.
"Ingatlah, ada Duke Soveil dibelakang Lady Rainhart."
__ADS_1
Bersambung...