Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#1 Masa Depan Zagc (Extra Story)


__ADS_3

Kaisar Zagc, Verdian Zagc, sedang dipusingkan oleh satu pertanyaan dari seluruh rakyat Zagc.


"Kapan Zagc memiliki permaisuri?"


Mendengar kabar jika Duchess Soveil telah melahirkan seorang putra, tuntutan agar Verdian segera menikah semakin menguat. Setiap hari dan setiap saat dia akan ditanya kapan. Telinganya sampai kebal.


Sayang, di istana sebesar itu, Verdian tidak memiliki teman untuk diajak berbagi perasaannya. Sejak lahir dia dididik kaisar terdahulu dengan keras. Sebagai pewaris dia menjalani pendidikan yang kejam. Akibatnya, hatinya tertutup untuk orang lain.


Dia ramah tapi hatinya dingin. Dia perhatian tapi perasaannya tumpul. Rumit.


Bukannya dia tidak bahagia mendengar Yanneta telah melahirkan dengan selamat, dia hanya iri. Bagaimana bisa orang lain dengan mudahnya membentuk keluarga sedangkan dirinya tidak.


Verdia diam-diam kesal pada dirinya sendiri.


Banyak wanita yang mencoba mendekatinya, Verdian juga terbuka, tapi tidak ada yang tulus. Sejak kecil hidungnya sensitif terhadap aroma. Dia bahkan bisa menilai karakter orang dari aroma ubuhnya. Meskipun telah tercampur parfum, Verdiam tetap bisa mencium sifat aslinya.


Hanya beberapa orang yang memiliki aroma tubuh yang harum. Seperti Lionel, tercium aroma musk yang kuat. Dyos dan Rose memiliki aroma yang mirip, rerumputan hijau, segar dan menenangkan. Serangkan Verdian paling suka aroma Yanneta, manis dan lembut. Seperti mawar merah yang diekstrak dengan teknik yang mahal.


Jika dia bukan wanita milik Lionel, sudah sejak lama dia ingin menarik Yanneta di sisinya. Wanita itu pintar, menarik dan perhatian. Berada di dekatnya membuat hati penuh dengan kebahagian. Sifat riangnya paling sulit Verdian temukan diantara orang-orang.


"Huh!" Desahnya seperti baru saja melihat langit runtuh.


Suara ketukan menariknya pada dunia nyata.


"Masuklah."


Ajudan pribadinya masuk dengan wajah yang sulit dijelaskan. Dia adalah orang yang sangat bisa mengendalikan diri. Maka Verdian sontak berdiri.


"Apa, apa yang terjadi?" Tanyanya cepat.


"Tidak ada Yang Mulia. Ada tamu yang memaksa menemui Yang Mulia tanpa pemberitahuan lebih dulu."


"Astaga. Kukira ada apa." Verdian kembali duduk di kursinya.


"Siapa?"


"Lady Vexia, Eliz Vexia."


Sekilas Verdian tidak asing dengan nama tersebut. Tapi dimana dia pernah mendengarnya.


Ah, dia ingat. Eliz Vexia, teman dekat Yanneta. Dia pernah bertemu dengannya satu kali waktu Yanneta mengunjunginya di istana. Apa yang terjadi hingga wanita itu datang menemuinya.


"Persilahkan dia masuk."


"Baik Yang Mulia."


Setelah ajudan keluar seorang wanita masuk dengan langkah yang lambat. Dia langsung memberi hormat dan mengucapkan salam.


"Ada apa ini? Anda bahkan tanpa pemberitahuan lebih dulu."


"Mohon ampuni pikiran pendek saya Yang Mulia. Saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa."


"Apa itu?"


"Tolong bantu saya untuk masuk ke mansion Soveil."


Dahi Verdian berkerut. Nama Soveil tiba-tiba muncul. Duke Soveil, orang gila itu. Apa yang dia lakukan hingga wanita bangsawan ini meminta bantuannya.


Tidak ada salahnya mencari tahu.

__ADS_1


"Tolong jelaskan apa maksud Lady."


"Saya tidak diperbolehkan mengunjungi mansion Soveil sejak empat bulan yang lalu. Kemarin saya mendengar kabar jika Duchess Soveil telah melahirkan putranya. Maka saya berlari dari Vexia tanpa istirahat untuk menjenguknya. Tapi permintaan saya diabaikan dan surat-surat saya tidak dibalas. Saya khawatir. Saya hanya ingin bertemu dengan teman saya, Yanneta." Eliz meluapkan perasaan yang dia pendam selama ini.


"Orang gila itu." Gumamnya pelan.


Bukan rahasia lagi jika Duke Soveil sangat posesif pada Duchess Soveil. Bahkan pernikahan mereka tertutup. Tidak ada bangsawan satupun yang dia undang. Pernikahan tersebut hanya dihadiri oleh orang-orang di mansion Soveil.


Jika bukan karena dia sendiri yang menandatangani surat pernikahan mereka, Verdian tentu tidak akan percaya mereka telah menikah.


Duke Soveil memang selalu seenaknya sendiri. Dia tak menghiraukan aturan, tata krama hingga sopan santun. Apa yang dia lakukan selalu menjadi hukum baru. Kini para bangsawan mengikuti tren pernikahan Duke Soveil ini.


"Lalu apa yang harus saya lakukan untuk membantu Lady?"


"Yang Mulia bisa menulis surat dengan alasan ingin melihat keadaan Duchess kemudian Yang Mulia bisa mengajak saya. Jika itu datang dari Yang Mulia, Duke Soveil pasti tidak akan bisa menolak."


Kata-kata Eliz sangat tulus hingga menyentuh hati Verdian. Dia tidak biasanya mengabulkan permintaan orang lain meskipun mereka berlutut di kakinya. Namun melihat Eliz yang susah payah menemuinya hanya untuk menemui temannya, mencubit hati Verdian.


"Baiklah. Besok pagi saya akan mengirim kereta untuk menjemput Lady."


"Terima kasih Yang Mulia."


Ada aroma manis vanilla yang tertinggal dari tempat Eliz berdiri. Aroma yang diantarkan oleh angin tersebut sampai ke hidung Verdian. Senyum tipisnya terbit.


Hari ini dia habiskan dengan mengenang rasa manis vanilla tersebut.


Hari berikutnya di mansion Soveil, para pelayan sangat sibuk untuk menyambut kedatangan kaisar Zagc. Kunjungannya mendadak. Maka Lionel memerintahkan untuk menyambutnya apa adanya.


Kereta kuda dengan lambang Zagc memasuki pekarangan Soveil. Kusir melangmbat kemudian pintu terbuka.


"Lama tidak bertemu Duke. Sulit sekali melihat wajah Duke akhir-akhir ini." Basa-basi Verdian seperti candaan basi.


"Anda ternyata tidak datang sendiri." Timpal Lionel kecut.


"Salam kepada Yang Mulia Duke Soveil." Eliz yang tertandai Lionel segera maju dan memberi salam.


"Lady Vexia, anda sungguh orang yang gigih." Sindir Lionel.


Berkali-kali ditolak ternyata tidak menyurutkan niatnya untuk menemui Yanneta. Lebih parahnya, dia sampai bersekongkol dengan Verdian untuk masuk ke rumahnya.


"Saya tidak punya cara lain Yang Mulia. Saya hanya ingin bertemu Duchess Soveil." Jawab Vexia dengan penuh hormat.


Menerima kemarahan Lionel tidak ada artinya baginya, yang penting misinya bertemu Yanneta berhasil. Jika bersama Verdian, Lionel tak akan bisa berbuat apa-apa.


"Hei, hei. Sudahlah Duke, di hari yang indah ini bukankah harus kita habiskan dengan hati yang senang. Duchess mungkin sudah menunggu kita, bagaimana kalau kita masuk?"


Lionel kalah. Jika dia di luar mansion Soveil, dia pasti sudah memakan habis Verdian. Berhubung saat ini dia ada di mansion, dimana Yanneta dan putranya berada, Lionel harus menahan semuanya. Dia hanya ingin menunjukkan sikap terbaiknya.


"Eliz!" Teriak Yanneta begitu melihat sosok Eliz.


"Yanneta! Ah maaf Duchess Soveil, bagaimana kabar anda?" Eliz berhambur ke dalam pelukan Yanneta.


Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Jalan menuju tempat ini sangat jauh dan penuh perjuangan, maka pertemuannya dengan Yanneta terasa mengharukan.


"Anda datang tanpa pemberitahuan." Ucap Yanneta melepas pelukam Eliz.


"Seseorang menghalangi saya untuk menemui anda. Tapi saya sudah melupakannya. Semuanya cair setelah bertemu Yanne, ah Duchess Soveil. Maaf saya belum biasa."


"Panggil saya seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Saya tetaplah Yanneta."

__ADS_1


Eliz segera mengangguk dengan senyumnya yang cerah.


Rasa berat yang membebani pundaknya hilang tanpa bekas. Akhirnya dia bertemu dengan Yanneta. Betapa bahagianya dia.


"Apakah ini pangeran kecil Soveil?"


Melihat bayi kecil yang sedang pulas dibuaian, mata Eliz membulat sempurna. Ukurannya sangat kecil. Tidak lebih panjang dari lengan orang dewasa.


Pipinya gembil dan pantatnya montok. Rasanya ingin menggigit buntalan manis tersebut.


"Dia sangat mirip dengan Duke. Luar biasa sekali." Ucap Eliz dengan suara yang pelan. Dia takut pengeran kecil itu terbangun.


"Saya yang mengandungnya sembilan bulan, tapi begitu lahir dia sangat mirip Lionel. Tidak adil bukan?"


Gelak tawa memenuhi seluruh ruangan.


Dua orang pria yang sedang duduk dengan cangkir teh ditangannya tak mampu berkata-kata. Mereka puas hanya dengan mengamati.


Setelah mengobrol sebentar, Fabian telah menyiapkan makan siang maka mereka segera berpindah ke meja makan. Obrolan berlanjut hingga tak terasa matahari hampir terbenang. Sudah waktunya untuk berpamitan.


Eliz mendengus. Kenapa hari begitu cepat. Dia ingin sedikit lagi bersama Yanneta dan malaikat kecilnya. Tapi wajah tertekuk Duke sungguh tidak tertahankan. Dia seperti siap memakan Verdian dan dirinya hidup-hidup.


Akhirnya Eliz bangkit diikuti oleh Verdian. Mereka berpamitan sebentar sebelum berpelukan cukup lama.


Dua gerbong kereta telah menunggu tamu Soveil. Satu berlambang Zagc dan satu lagi berlambang Vexia.


"Terima kasih atas sambutan Yang Mulia Duke, kebaikan hati anda hari ini tidak akan pernah saya lupakan." Ucap Eliz.


"Dan untuk Yang Mulia Kaisar, saya juga sangat berterima kasih atas bantuannya hari ini. Kereta saya telah tiba, saya akan langsung kembali ke Vexia." Eliz membungkuk pada Verdian.


Verdian diam. Saat dia sadar Eliz telah jauh beberapa langkah.


"Lady Vexia." Teriaknya.


Eliz yang dipanggil menghentikan langkahnya.


"Maukah anda menjadi Permaisuri Zagc?"


Bola mata Eliz bergetar. Sedang tidak hujan tapi kenapa di kepalanya terdengar gemuruh petir.


"Apa maksud Yang Mulia?"


"Tidak ada. Saya berharap anda mau."


"Anda sedang tidak gila bukan?" Eliz berpaling.


Dia melebarkan langkahnya ke arah kereta kudanya. Namun Verdian juga gigih. Dia segera mengejar Eliz yang sudah jauh di depannya.


Jauh di belakang mereka, Lionel dan Yanneta mengamati tingkah Verdian dengan bingung.


"Apa yang terjadi disana?" Gumam Yanneta.


"Entahlah. Sepertinya Verdian sudah mulai memikirkan masa depan Zagc."


"Ya?"


Alih-alih menjawab, Lionel segera memeluk tubuh Yanneta kemudian mengajaknya masuk.


Fin.

__ADS_1


__ADS_2