
Soveil. Siapa yang tidak kenal dengan namanya. Keluarga luar biasa dengan sejarah panjang keluarga. Pendukungnya banyak. Kekuasaannya menyebar di hampir seluruh Zagc. Tiga wilayah lain juga tunduk di bawah kakinya. Dari Zavilion, Rowvata hingga Vexia.
Duke Soveil, Lionel Soveil sendiri adalah komandan ksatria Zagc. Pahlawan perang dan penjaga wilayah perbatasan. Manusia gila perang dan haus darah. Kehadirannya dia agung-agungkan.
Tapi perubahan halus mulai terjadi saat Soveil memiliki seorang Duchess. Tak lama setelah itu lahir putra pertama Soveil. Sang penerus Soveil, Bjorn Soveil. Dengan kehadiran mereka, Duke Soveil lebih manusiawi. Wajah dinginnya melunak. Kata-katanya lebih lembut.
Manusia tanpa darah tersebut banyak berubah seiring bertambahnya waktu. Setelah kelahiran Bjorn, Lionel melepas posisinya sebagai komandan ksatrian Zagc. Dia tidak lagi harus pergi ke perbetasan atau berperang dengan negara lain.
Duke Soveil ingin menghabiskan lebih banyak waktu di dalam Zagc. Dengan alasan keluarga yang sangat dia sayangi, Lionel melepaskan jawabannya kepada Dean Kalios. Orang yang dianggap paling mampu untuk memimpin ksatria Zagc ke depannya.
Maksud hati ingin tinggal di mansion saja bersama istri dan putranya, tapi Verdian sengaja merusaknya. Dia meminta Lionel untuk menjadi penasihatnya. Kedudukan yang lebih tinggi daripada menteri.
Lionel tidak bisa menolak. Dia dijebak dan tertangkap dengan muudah. Maka saat ini Duke Soveil untuk pertama kalinya memasuki dunia politik. Aristokrat kelas atas terguncang.
Terjadi perombakan besar-besaran dalam sistem pemerintahan Zagc. Pejabat yang korup hingga penegakan peradilan tak luput dari pandangannya. Kini keberadaan Lionel menjadi ancaman besar.
"Duke memang luar biasa." Ungkap Verdian setelah mendengar rencana Lionel untuk memperketat keamanan di wilayah perbatasan.
Memiliki Duke Soveil di dekatnya sungguh menyenangkan. Selain keamanannya terjamin. Duke juga lawan diskusinya. Ide-ide visioner. Tak disangka, Duke adalah orang yang berpikiran terbuka.
Tidak pernah satu haripun dia tidak iri pada Duke Soveil yang agung. Kekayaan, kekuasaan, hingga kisah cinta, semua dia miliki. Hidupnya selaras dan seimbang. Tidak seperti dirinya.
Duke Soveil memiliki semuanya.
"Duke, saya penasaran sejak awal."
Sudut bibir Lionel bergetar.
"Bagaimana Duke bisa mendapatkan Duchess? Saya perlu belajar dengan Duke."
"Maaf?"
"Hah.." Verdian mendesah pelan.
"Duke tahu sendiri bukan, Zagc masih belum memiliki permaisuri. Rakyat mungkin khawatir dengan pewaris tahta." Celetuknya.
"Lady Vexia masih belum memberi jawaban?"
Verdian menggeleng lemah.
"Mungkin Duke bisa membantu."
"Untuk masalah ini sepertinya saya tidak bisa."
Tepat seteleh itu pintu diketuk dan ajudan Verdian masuk.
"Apa yang terjadi?" Tanya Verdian.
"Ada pesan datang dari mansion Soveil."
Lionel langsung berdiri dari kursinya.
"Bicaralah." Ucap Lionel.
"Tuan Soppra menyampaikan jika Duchess tiba-tiba kehilangan tenaga dan pingsan."
__ADS_1
"Apa?" Verdian dan Lionel kompak berteriak.
"Saat ini Duchess sudah sadarkan diri. Penyihir Agung telah tiba di mansion. Jadi Duke tidak perlu terburu-buru."
"Aku akan kembali sekarang, sampaikan padanya untuk menyiapkan kereta."
"Apa yang terjadi hingga Lady Attlier juga datang?" Tanya Lionel pelan.
"Duchess dinyatakan hamil Yang Mulia." Pelayan itu menjawab.
"Penyihir Agung telah mengkonfirmasinya. Itulah yang dikatakan Tuan Soppra."
Setelah ajudan pergi Lionel dan Verdian beradu pandang. Ada keheningan yang hampa. Mereka sama terkejutnya. Verdianlah yang lebih terkejut.
"Astaga Duke! Anda sangat luar biasa. Bagaimana bisa saya istri saja tidak punya sedangkan Duke akan segera memiliki dua anak. Langit sangat tidak adil bukan?" Gerutunya kesal.
Verdian iri. Iri dengan apa yang dimiliki Lionel. Sepertinya hal-hal terlihat mudah bagi Lionel, namun baginya kenapa begitu sulit. Dia heran.
"Kalau begitu saya izin mengundurkan diri Yang Mulia. Saya perlu melihat kondisi istri saya." Pamit Lionel.
"Ya, ya, pulanglah Duke. Hanya Kaisar ini yang tidak memiliki keluarga." Suara Verdian putus saja.
"Yang Mulia."
"Ya?"
"Mengenai Lady Vexia, Yang Mulia mungkin bisa meminta pendapat istri saya."
"Begitukah?"
Verdian mengangguk setuju.
"Duke benar. Saya akan mengunjungi Duchess dalam waktu dekat. Mohon izin dari Duke."
"Tentu saja dengan senang hati."
Angin musim semi berembus ke Zagc, tepat tiga bulan setelah kelahiran putri Duke Soveil diumumkan. Anak kedua Duke Soveil adalah perempuan. Sebuah nama telah diumukan, Ljelle Soveil.
Berbeda dengan putra pertama mereka, Bjorn Soveil, Ljelle Soveil adalah tiruan ibunya. Sedangkan Bjorn Soveil adalah perwujudan ayahnya dalam bentuk mini.
Anak laki-laki berusia lima belas bulan, yang sedang aktif-aktifnya menjelajah, dan anak perempuan manis berusia tiga bulan sedang tidur di pangkuan ibunya. Mereka menghadiri pernikahan agung Kaisar Zagc.
Upacara pernikahan telah selesai dilaksanakan. Pasangan agung Zagc sedang menyapa manyarakat dengan mengadakan parade sederhana. Di malam hari akan diadakan pesta besar yang mengundang seluruh bangsawan di Zagc.
Akhirnya Zagc memiliki permaisuri. Rakyat Zagc sangat antusias sekali. Saat pasangan agung lewat, mereka langsung berteriak.
"Semoga bahagia selalu, Kaisar Verdian Zagc dan Permaisuri Eliz Zagc."
"Masa depan Zagc semoga semakin cemerlang."
Ibu Kota Nachtion penuh dengan hiruk pikuk pesta rakyat selama tiga hari tiga malam.
"Salam kepada Duchess Soveil." Sebuah suara membuat Yanneta sontak menoleh.
Dia tidak mengikuti parade karena alasan keselamatan kedua anaknya yang masih kecil. Hanya Lionel yang mengikutinya sebagai bentuk menghormati Verdian.
__ADS_1
Saat ini dia sedang duduk di ruang istirahat bersama kedua anaknya dan satu pelayan yang saat ini sibuk mengejar Bjorn, anak itu sangat aktif sekali.
"Salam kepada Penyihir Agung." Yanneta menjawab salam Rose. Ternyata yang menyapanya adalah Rose.
"Lama tidak berjumpa Duchess."
"Ya benar. Bagaimana kabar anda? Sudah lama sekali anda tidak berkunjung ke Soveil, setelah anda menjadi kepala menara Zonix. Pasti berat bukan?" Tanya Yanneta santai namun tetap sopan.
"Saya baik." Jawab Rose sambil tersenyum.
"Ah, anda tidak ikut dalam parade?" Melihat Rose yang sekarang, Yanneta jadi ingat. Para pejabat tinggi diundang untuk ikut serta dalam parade.
Rose menggeleng pelan.
"Apakah terjadi sesuatu?" Melihat raut wajah Rose yang berubah membuat Yanneta bertanya-tanya.
"Sebenarnya saat ini saya sedang bersembunyi."
"Dari?"
"Tuan Tatiha."
Dahi Yanneta berkerut. Sepertinya sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuannya.
"Saya tidak mengerti apa maksud anda, bisakah anda menjelaskannya pada saya?" Tanya Yanneta seraya memperhatikan perasaan Rose.
"Tuan Tatiha membenci saya." Jawab Rose singkat. Melihat sorot mata Yanneta yang bingung Rose melanjutkan.
"Dia tidak suka melihat saya. Haha." Tawa Rose hambar.
"Bukan salah Tuan Tatiha, tapi saya yang salah. Mungkin saya sudah keterlaluan. Maka Tuan Tatiha muak hanya dengan melihat saya." Sambungnya.
"Kenapa? Kenapa Dyos sampai membenci Lady Attlier? Apakah dia mengatakannya?"
Rose kembali menggeleng.
"Mungkin Lady bisa menanyakannya langsung. Dyos yang saya kenal bukan orang sepert itu. Dia adalah orang yang sangat perhatian. Maaf jika menyinggung anda, mungkin terjadi kesalahpahaman."
"Tidak Duchess. Tuan Tatiha selalu menghindari saya setiap kami tidak sengaja bertemu. Dia pasti sangat menbenci saya. Saya berada disini karena Tuan Tatiha ikut mendampingi Duke dalam parade. Saya hanya tidak ingin dia tidak nyaman." Jelas Rose.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yanneta dalam hati.
Ada yang tidak beres. Hubungan mereka aneh. Jiwa makcomblang Yanneta meluap-luap.
"Permisi Lady, apakah Lady menyukai Dyos?"
Bola mata Rose membulat sempurna. Seperti baru saja mencuri dan tertangkap basah. Dengan malu-malu Rose memalingkan wajahnya dengan pipi memerah.
"Astaga! Dia lucu sekali!" Teriak Yanneta dalam hati.
"Lady Attlier saya akan membantu anda."
"Ya?"
Fin.
__ADS_1