
Kedatangan Count Rainhart lagi-lagi dirahasiakan. Yanneta tidak ingin membuat keributan. Jika Lionel tahu pasti dia akan kecewa. Banyak hal yang tidak dia tahu. Lagipula, hubungan mereka hari ini akan berakhir.
Akhirnya, hari pesta ulang tahun Kaisar Zagc tiba.
Yanneta sudah sibuk sejak pagi. Semalam Lionel tidak pulang karena harus menyambut para tamu asing. Hari ini dia akan ke istana sendiri.
Hari-hari ketidakhadiran Lionel di mansion dimanfaatkan Yanneta untuk menyusun rencana bersama Dyos dan Verdian.
Mereka telah memetakan beberapa skenarion terburuk. Terpaksa Yanneta mengungkap identitas Rose Attlier. Karena dia yang bisa menyembuhkan Lionel dari kutukan Hell maka mereka harus mempertemukan Rose dan Lionel untuk mengurangi dampak dari sihir hitam Gwinia.
Perasaan atau apapun itu Yanneta enyahkan. Demi masa depan yang cerah untuk semua tokoh Red Rose Tragedy. Bukankah keberadaannya untuk ini. Yanneta terus berbisik pada hatinya agar tidak goyah.
Akhirnya sudah jelas.
Lionel mengirim kereta kuda untuk menjemput Yanneta. Pagi ini dia harus memimpin parade para ksatria. Pesta diadakan malam hari. Namun kereta kuda tiba di siang hari.
Mansion Soveil terbalik dengan kehebongan mempersiapkan Yanneta. Butuh waktu yang panjang untuk berdandan, berganti baju hingga memasang aksesoris.
Saat matahari mulai condong ke arah barat, semuanya selesai. Tidak ada gaun khusus yang disiapkan, pemilik butik Herman Soppra memang datang tapi Yanneta hanya ingin dibuatkan sesuatu yang tidak mencolok.
Bukan Herman jika dia hanya membuat gaun sederhana. Potongan gaunnya memang sederhana namun bertabung berlian di setiap keliman roknya. Gaun merah muda tersebut sukses membuat orang teralihkan. Rambut perak pucat senada dengan warna gaunnya. Seperti ingin menampilkan karya yang lugu serta tulus.
Riasan wajahnya juga sederhana. Rambut panjang yang bersinar tersebut digerai, lengkap dengan mutiara yang menaburi setiap helainya.
Yanneta merasa enggan namun dia mengingat apa kata Fabian.
"Ini adalah kehendak Duke."
Kereta kuda melaju lambat saat memasuki istana. Yanneta menyingkap tabir untuk melihat keadaan di luar. Terlihat antrian panjang untuk memasuki istana. Berbagai model kereta dengan lambar keluarga tercetak begitu berani. Diantara semuanya, tidak ada satupun miliknya. Dia tidak lagi memiliki keluarga.
Yanneta menghela nafas sedih.
Kereta tiba-tiba berhenti dan pintu terbuka. Saat dia hendak berdiri sebuah tangan terulur ke dalam. Yanneta mengenal tangan itu.
"Lionel." Pekiknya senang.
__ADS_1
Dia segera meraih uluran tangannya kemudian keluar dari kereta. Lionel yang mengenakan seragam ksatria lengkap tampak memesona. Rambutnya yang biasa dia lihat acak-acakan, sekarang ditata rapi. Betapa indahnya ciptaan Tuhan ini. Dahinya yang biasa tertutup entah kenapa juga cantik. Tidak ada yang tidak cantik dari Lionel.
Dia adalah orang paling cantik yang pernah Yanneta kenal. Sayang sekali hari ini adalah hari terakhirnya bersama Lionel.
Yanneta memeluk Lionel tanpa melihat keadaan. Betapa rindunya dia pada Lionel. Hari-harinya ke depan pasti akan diisi dengan rasa rindu pada Lionel. Suara gemerisik gaun mutiara yang terkana seragam kasar Lionel terdengar nyaring.
Tubuh Lionel menegang atas serangan pelukan Yanneta.
"Saya merindukan Lionel." Desahnya di dada Lionel.
"Saya juga." Lionel segera membalas pelukan Yanneta.
Yanneta memejamkan matanya sejenak. Ini juga adalah pelukan terakhir mereka. Dia berdoa untuk kebahagiaan Lionel dan Rose.
"Kenapa anda harus keluar menjemput saya. Saya bisa masuk sendiri." Yanneta melepaskan pelukannya untuk mencapai pandangan Lionel.
"Pesta belum dimulai, dan saya sangat ingin bertemu Yanneta." Senyum Lionel terbit.
Bibir yang sedang tersenyum itu juga cantik. Yanneta terdiam sejenak menyaksikan keindahan yang tidak akan bisa dia lihat lagi. Sedihnya.
"Syukurlah saya belum terlambat." Ucapnya singkat.
Tapi Yanneta tidak peduli. Kehadirannya malam ini adalah untuk Lionel. Pandangan menusuk dan gosip murahan dari orang-orang tidak sampai ke telinganya. Malam ini dia akan menjadi buta dan tuli dengan hal yang seperti itu.
Misi hari ini adalah menyelamatkan Lionel.
Tak lama setelah kehadirannya pesta di mulai. Kaisar beserta keluarganya memasuki tempat pesta. Berbeda dengan biasanya, pesta ulang tahun kaisar di adakan di tempat terbuka, yaitu taman istana kaisar. Tidak banyak tumbuhan bahkan bisa dikatakan tidak indah, dibanding dengan Taman Eden, tempat ini tidak layak disebut taman. Selain luasnya yang memadai, tidak ada aspek yang bisa dipertimbangkan.
Kaisar pasti mengukuti saran dari Gwinia. Jarak antara tempat pesta dengan altar yang akan dia gunakan relatif dekat. Mungkin inilah alasan Putri Gwinia memilih taman gersang ini.
Mudah di tebak. Verdian juga pernah mengatakannya, beberapa hari sebelum pesta berlangsung.
Wajahnya tampak tegang, berbanding terbalik dengan Gwinia yang sangat tenang. Mereka mengenakan pakaian yang serasi. Biru muda, secerah langit yang disinari bulan purnama.
Saat mereka bertiga masuk, semua tamu berdiri dan membungkuk untuk memberi penghormatan.
__ADS_1
Kaisar berdiri di tengah taman dengan Gwinia dan Verdian yang ada di kanan kirinya. Tamu yang hadir kompak membentuk lingkaran.
Mata Yanneta mengamati sekitar. Dia mencari keberadaan Dyos Tatiha. Dia pasti sudah menyusup ke istana melalui pintu rahasia yang diberitahu Verdian. Selain itu dia secara aktif mencari keberadaan Rose Attlier.
Masih ingat bukan jika ceritanya sudah banyak berubah. Tempat pestanya saja berubah, pasti akan ada hal lain yang berubah. Yanneta masih terus mengamati saat kaisar, George Zagc memberi pidato singkat.
"Pesta hari ini adalah jerih payah dari putri tercintaku, Gwinia. Semoga kalian semua menikmatinya."
Kembang api meledak tepat setelah pidato kaisar selesai. Suasana tenang segera berubah menjadi hiruk pikuk. Kembang api tersebut menjadi tanda dimulainya pesta. Musik dansa dimainkan. Lingkaran melebar dan bubar saat beberapa pasangan tampil untuk berdansa.
"Apakah Lionel tidak menyapa kaisar?" Tanya Yanneta senatural mungkin.
"Haruskah?"
Yanneta mengangguk kecil.
"Setidaknya sebuah ucapan sudah cukup. Lionel adalah satu-satunya bangsawan berpangkat Duke bukan? Kaisar pasti sudah menunggu anda."
Ada kilatan tidak setuju dari mata Lionel. Tapi apa yang dikatakan Yanneta benar. Itu adalah sopan santun dasar meskipun sebenarnya dia tidak sudi.
"Tunggu saya, saya akan segera kembali." Bisik Lionel di telinganya.
Senyum Yanneta tersungging saat dia mengangguk. Umpan telah digigit. Lionel telah berpisah dengannya. Jika dia terus bersama Lionel, kesempatan untuk bertemu Rose akan sulit. Dia mendorong Lionel pergi dengan harapan itu.
Tenggorokannya terasa pahit. Rasanya ingin menangis. Dia segera menyelinap di antara orang-orang yang sibuk menikmati pesta. Yanneta menyingkir ke sudut yang ramai. Dengan begitu Lionel akan sulit menemukannya. Meskipun tidak nyaman, Yanneta berusaha untuk terus mengawasi situasi.
Sekelebat dia melihat sosok dengan rambut pirang seterang sinar matahari. Yanneta bergerak pelan untuk mengikutinya. Itukah Rose, pikirnya. Dia digambarkan sebagai wanita yang cantik dan anggun. Perawakannya tidak terlalu tinggi dan tubuhnya langsing. Berkulit putih susu yang menawan. Melihat sosoknya mampu membangkitkan jiwa pelindung seorang pria.
Wanita bergaun merah tua tersebut terus berjalan ke arah pasangan yang sedang berdansa. Saat sosoknya secata utuh terlihat, jantung Yanneta berdetak tak karuan.
Ya, wanita itu adalah Rose Attlier. Dunia seperti berhenti sejenak saat pria yang berdiri tak jauh darinya adalah Lionel Soveil. Mereka tak sengaja bertabrakan dan saling bertukar pandang.
Hati Yanneta seperti terhujani belati yang sangat tajam. Sekeras apapun dia berusaha, takdir pertemuan Lionel dan Rose tidak akan berubah. Meskipun alur ceritanya menyimpang, mereka berdua adalah tokoh utamanya. Semua proses yang ada tidak penting selain kisah cinta tokoh utama.
Yanneta langsung memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup untuk melihatnya. Air matanya mengancam untuk keluar. Dia mengangkat gaunnya kemudian menerobos kerumunan. Berjalan sajauh mungkin dari kebisingan pesta.
__ADS_1
Tubuhnya ambruk saat kakinya sudah tidak mau lagi bekerja sama. Air matanya akhirnya tumpah.
Bersambung..