
Lionel terpaksa menghentikan pencariannya karena sebuah surat dari Verdian.
Terkait menara Zonix yang dirombak besar-besaran. Verdian bermaksud untuk tetap mempertahankan keberadaannya. Bukan untuk tempat berkumpulnya para penyihir di Zagc tapi menara ini akan menjadi pusat studi sihir murni.
Hampir tiga perempat anggotanya terkena hukuman mati. Sisanya adalah penyihir tingkat rendah. Maka menara Zonix membutuhkan sumber daya manusia yang unggul.
Verdian memanggil Duke Soveil karena dia butuh pertimbangannya. Dyos Tatiha masuk ke dalam nominasi kepala menara Zonix. Mengingat dia adalah penyihir keluarga Soveil, Verdian tentu perlu membicarakannya dengan Lionel.
Pertemuannya berlangsung lama. Selain Duke Soveil, beberapa bangsawan yang berada di Ibu Kota turut di panggil termasuk para penyihir potensial.
Ada dua mana yang muncul. Dyos Tatiha dan Rose Attlier. Prestasi yang dia cetak saat terjadinya kekacauan sihir hitam dan keberhasilannya menyembuhkan Duke Soveil telah merebak ke segala penjuru Zagc.
Meskipun berasal dari bangsawan tingkat rendah dan fakta kepindahannya ke Ibu Kota baru-baru ini, tidak menyurutkan minat masyarakat akan sosok Rose Attlier. Dia digadang-gadang sebagai kepala menara Zonix selanjutnya.
Suara terpecah menjadi dua. Bangsawan pengikut Soveil memilih Dyos Tatiha. Sedangkan bangsawan lain memilih Rose Attlier. Kedudukan mereka sama kuat. Sepanjang pertemuan Lionel lebih banyak diam. Satu karena dia tidak setuju dua karena dia lelah.
Dia baru saja kembali dari wilayah selatan Zavilion. Lionel bergegas memacu kudanya karena berharap apa yang ingin disampaikan Verdian adalah tentang Yanneta, ternyata hanya sebuah masalah sepele.
Akhirnya tidak tercapai keputusan. Mereka akan mengadakan pertemuan lanjutan karena masalah tidak akan selesai hanya dengan berdebat. Para bangsawan akan menggunakan cara pengumutan suara. Waktu telah disepekati, tiga hari setelah pertemuan ini.
Setelah Verdian menyetujuinya, para bangsawan bubar dalam waktu sekejap mata. Kaisar juga tergesa-gesa meninggalkan tempat pertemuan.
"Yang Mulia."
Lionel menoleh saat sebuah suara memanggilnya.
"Ah Lady Attlier." Sapa Lionel balik.
"Lama tidak berjumpa."
"Ya sudah lama sekali."
"Bagaimana kabar anda?"
"Saya baik berkat Lady Attlier. Bagaimana dengan anda?"
Rose tersenyum kecil. Wajahnya yang putih menjadi berseri-seri.
"Saya selalu baik berkat bantuan Duke." Jawabnya lembut.
"Saya ikut senang mendengarnya."
__ADS_1
Melihat Rose mengingatkannya akan Yanneta. Rose Attlier, tidak ada yang tidak mengakui bahwa dia adalah wanita yang cantik. Anggung hingga cerdas sekaligus. Dia adalah penyihir murni di usianya yang masih muda. Sikapnya sopan dan menyenangkan. Banyak para bangsawan muda yang mendambakannya. Namun kecantikan itu tidak bisa menembus mata Duke Soveil sama sekali. Semakin dia melihat Rose, dia semakin merindukan Yanneta.
Bertatapan dengannya, tidak bisa dijelaskan memang, Lionel akan langsung mengingat Yanneta. Karena wanita ini Yanneta memilih untuk meninggalkannya. Dia merasa dihakimi secara sepihak oleh hal-hal yang tidak pernah dia lakukan.
Jika bukan karena dia adalah penyelamatnya, Lionel pasti sudah melenyapkan entitas ini. Dia ingin menunjukkan pada Yanneta bahwa hanya dia satu-satunya wanita yang ada dihatinya.
Ingin Lionel berteriak jika Yanneta tidak percaya, dia rela jika Yanneta membelah jantung dan hatinya.
Hanya berdekatan dengan Rose saja, Lionel tidak nyaman. Dia takut jika suatu hari Yanneta mengirim mata-mata untuk mengawasinya. Lionel tidak ingin disalahpahami. Dia tidak punya perasaan apapun pada Rose. Dan sayangnya Yanneta tidak tahu itu.
"Saya tidak sengaja mendengar percakapan para pelayan di mansion Soveil, ketidakhadiran Duke di mansion karena sedang mencari Lady Rainhart. Apakah itu benar?"
Nah satu lagi yang semakin membuat Lionel kesal. Dengan cara yang bagaimana dia juga lupa, Rose keluar masuk mansion Soveil dengan mudah. Dia memiliki akses khusus yang diberikan oleh Dyos. Dengan dalih membicarakan sihir dengan Dyos, Rose sering keluar-masuk mansion Soveil.
Lionel sendiri tentu tidak bisa mencegah kedatangannya. Dia sendiri yang berusaha sekuat tenaga untuk menghindari Rose.
Hutang budi ini memberatkannya.
"Ya itu benar. Dan saya masih belum menenukannya." Jawab Lionel dengam wajah tenang.
"Semoga Lady Rainhart segera ditemukan." Timpal Rose.
Canggung. Kikuk. Obrolan mereka selalu seperti ini. Lionel adalah orang yang paling tidak nyaman.
"Oh terima kasih Duke. Anda selalu baik hati. Sayangnya saya diantar kusir hari ini. Mungkin dia sudah menunggu di luar."
"Kalau begitu mari saya antar sampai ke kereta."
Lionel berjalan lebih dulu kemudian Rose mengikuti di belakangnya. Betapa indahnya melihat dua orang yang indah saling bersama. Kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga saja malu melihatnya.
Mereka adalah dua orang yang sedang dipasangkan oleh seluruh rakyat Zagc. Banyak orang mendoakan pernikahan mereka. Dia bereka berjodoh, rakyar Zagc pasti akan berpesta pora.
Sayang rakyat tidak tahu jika Lionel Soveil tidak pernah melihat Rose Attlier sama sekali.
Langkah Lionel tiba-tiba berhenti. Matanya menangkap sosok yang selama ini dia cari. Jarak mereka cukup jauh dan terhalang pilar-pilar besar. Meskipun demikian, sinyal Lionel mendeteksi lebih kuat.
Yanneta Rainhart, Lionel melihatnya. Dia menutup matanya kemudia membukanya kembali untuk memastikan. Benar, wanita yang sedang berdiri di dekat kereta kuda berlambang Vexia itu adalah Yanneta. Cintanya. Kekasihnya. Jantung hatinya.
Dia mencoba untuk mendekat namun akhirnya berhenti.
Selain Yanneta ada Verdian, dan satu orang lain yang tidak dia kenal. Matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Penampilan Yanneta berubah drastis. Tatapannya memindai Yanneta dan berhenti di perutnya yang bulat.
__ADS_1
Tenggorokan Lionel mendadak kelu. Air liurnya terasa sangat pahit.
Dia ingin berlari kesana tapi kakinya mati di tempat. Melihat senyum Yanneta melelahkan dirinya. Bola mata Lionel bergetar tak karuan.
"Yang Mulia apa yang terjadi?"
Rose yang mendapati Lionel mematung mencoba mendekati. Alih-alih jawaban, Lionel bahkan tidak mempedulikannya.
Dia akhirnya mengikuti arah pandangan Lionel. Tak jauh dari mereka berdiri, ada kaisar dan dua orang wanita yang tampak sedang bersenda gurau. Salah satu wanita itu sepertinya sedang mengandung.
Mereka sedang mengobrol seru hingga gelak tawa terdengar manis.
"Saya akan menjadi ayahnya juga bukan?" Suara kaisar terdengar sayup-sayup. Tangannya sekilas memegang perut besar wanita itu.
Gelak tawa kembali meledak. Setelah mengangguk kedua wanita itu segera masuk kereta dan pergi meninggalkan kaisar yang masih tetap tinggal hingga kereta menjauh.
Sebuah ingatan tiba-tiba memasuki pikiran Rose. Dia pernah melihat salah satu dari mereka.
"Lady Rainhart. Bukankah itu Lady Rainhart?" Celetuknya spontan.
Meskipun samar-samar dia masih mengingat sosok wanita dengan rambut bercahaya malam itu. Dia adalah Yanneta Rainhart. Wanita yang sedang Duke Soveil cari.
Ada sedikit yang aneh. Wanita itu sedang mengandung. Perut besarnya adalah buktinya.
"Lady." Suara dalam Lionel mengejutkan Rose dari lamunannya.
Saat tatapan mereka bertemu, hawa membunuh terasa. Sorot mata Lionel tidak bisa berbohong. Saat ini dia sedang diselimuti oleh rasa membunuh yang kuat. Bulu halus Rose merinding. Rasa takut langsung menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Anak itu, adalah laki-laki." Saking takutnya dia mengeluarkan semua isi pikirannya.
Lionel yang berwajah dingin memandang Rose dengan bingung.
"Seperti Duke, anak itu akan menjadi orang yang hebat." Rose yang sadar akan apa yang baru saja dia katakan menutup mulutnya rapat-rapat. Ini adalah kemampuan khususnya. Dia bisa melihat masa depan.
Kemampuan ini tidak permanen. Mereka datang tiba-tiba dan tidak bisa dia cegah. Seperti terjadi secara acak tanpa kenal subjek maupun objeknya.
"Anda bisa kembali sendiri bukan? Saya baru saja ingat jika ada hal yang harus saya urus." Suara Lionel tajam tanpa ampun.
Dalam ketakutan dan mulut yang tertutup Rose mengangguk. Dia minggir untuk memberi akses Lionel lewat.
Matanya terus menatap punggung yang terus mengeluarkan aura membunuh. Rose segera melebarkan langkahnya menuju kereta kuda yang sudah menunggunya. Sesampainya di dalam, Rose memeluk tubuhnya yang mengingil.
__ADS_1
Tampilan Duke Soveil yang penuh amarah sangat menakutkan.
Bersambung...