Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#36 Finally (Menemukanmu)


__ADS_3

Bang.


Pintu dibuka dengan kasar.


Verdian yang sedang membaca dokumen tersentak. Duke Soveil masuk tanpa pemberitahuan.


"Anda!" Teriak Lionel.


Langkahnya melebar ke arahnya. Dengam tergesa-gesa menghampirinya.


"Duke!" Verdian yang tak kalah terkejutnya ikut berseru.


Duke Soveil mencengkeram lehernya kemudian mengangkat tubuhnya dengan mudah. Verdian berontak. Betapa kuatnya tangan Lionel.


"Du, Duke! Tolong lepaskan!" Suara Verdian hampir habis. Tekanan mana ilahi Lionel semakin mencekiknya.


"Dasar pembohong!" Mata Lionel menyala penuh amarah. Di pikirannya hanya ada kata membunuh.


"Tolong lepaskan dulu Duke, bisa kita bicarakan baik-baik." Bujuk Verdian sekuat tenaga.


Melihat Lionel yang terbakar oleh amarah, hanya ada satu hal yang dia ingat.


"Lady Rainhart, apakah ini karena dia? Baik, baik akan saya jelaskan Duke."


Cengkeraman Lionel mengendor dan tubuh Verdian ambruk tak berdaya. Nafasnya tersengal. Rasanya seperti baru saja selamat dari hukuman mati. Verdian menenangkan dirinya sekuat tenaga.


"Sebaiknya anda jelaskan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi." Sembur Lionel. Tidak ada sopan santun dihadapan Verdian. Di matanya, Verdian hanyalah sehelai bulu yang bisa terbang kapan saja.


"Ya akan saya jelaskan." Mata Lionel masih berkobar. Dia segera menenangkan dirinya kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Tak lama setelah kekacauan sihir hitam, Yanneta mengirim surat kepada saya."


Lionel mengernyitkan dahi tidak setuju dengan panggilan nama Yanneta oleh Verdian langsung.


"Karena penasaran saya mengirim orang untuk mengikuti kurir surat tersebut. Dari situlah saya tahu jika Yanneta ada di Vexia."


"Sejak kapan?"


"Saat itu Duke belum sadarkan diri, jadi saya menyimpannya sendiri. Anda tahu bukan saya berhutang banyak pada Yanneta, jadi saya ingin memastikan dia aman."


"Tapi anda terus menyembunyinkannya. Anda tidak mengatakannya saat saya sibuk mencarinya."


"Saya pikir Yanneta tidak menginginkannya Duke, dia lari bukankah untuk menghindari anda? Saya tidak salah bukan?"


"Yanneta, hanya saya yang bisa memanggilnya begitu. Apa hak anda?"


"Kami berteman, dan Yanneta mengizinkannya."


Verdian tidak mau kalah. Untuk urusan kekuatan mungkin dia kalah. Tapi jika sesuatu tentang Yanneta dia adalah pemenangnya disini. Rasa ingin balas dendam Verdia menyala.


"Apakah anda melihat Yanneta bersama dengan saya tadi?"


Tatapan Lionel setajam pedang yang baru saja diasah.

__ADS_1


"Yanneta sedang mengandung. Kedatangannya hari ini adalah untuk meminta saya agar menjadi wali anaknya nanti."


Mata Lionel semakin berkobar. Rasa panas mengalir di dalam darahnya. Marah, bodoh, dan tidak berdaya merayapinya sekaligus. Di luar bisa jadi dia tegar namun di dalam, dia telah terbakar habis.


Dia pikir selama dia telah menganal Yanneta. Kenyataannya, dia tidak tahu apa-apa. Yanneta tahu semua tentang dirinya, tapi Lionel tidak. Bahkan saat ini wanita itu sedang mengandung yang kemungkinan besar adalah anaknya, dan berusaha untuk menyembunyikannya.


Lionel sudah tidak tahan lagi. Dia hampir meledak oleh amarah.


"Jangan pernah ikut campur lagi dengan urusan kami."


"Tapi Duke."


"Jika anda masih menyayangi nyawa anda, pastikan untuk tetap diam. Jika tidak, rakyat Zagc akan mengenang anda sebagai kaisar yang dipengggal kepalanya."


Setelah melempar ancaman pembunuhan, Lionel pergi meninggalkan Verdian begitu saja.


Saat punggung Lionel menghilang, Verdian berhela nafas kasar.


"Astaga menakutkan. Bagaimana seseorang bisa sebegitu menakutkannya. Bahkan dia tidak takut dengan hukum Zagc karena mengancam kaisar." Gumamnya lemah.


Duke Soveil, siapa yang tidak tahu dirinya. Lionel Soveil, satu-satunya bangsawan berpangkat Duke di Zagc. Sejarah panjang keluarganya tidak diragukan lagi. Memiliki banyak pengikut dan dukungan yang kuat. Jika mau, Soveil biasa mendirikan sebuah negara sendiri. Maka tidak ada satupun hukum yang bisa menyentuh Soveil.


Keberadaannya agung. Keputusannya mutlak. Sampai kapanpun, Zagc tidak akan bisa menandingi Soveil. Darah turun temurun mereka unggul. Tak ayal jika banyak bangsawan yang merangkulnya sebagai sekutu.


Setelah mengunjungi Verdian, Lionel memanggil Dean Kalios.


"Dean Kalios izin menghadap Yang Mulia."


"Masuklah."


"Kapan acaranya?"


"Besok pagi Yang Mulia. Rencananya setelah acara ini mereka akan segera kembali ke Vexia karena sebuah kondisi yang tidak memungkinkan."


"Sepertinya mereka sangat terburu-buru sekali."


Nada Lionel sangat dingin dan menusuk. Sinar bulan yang tidak cukup menyinari ruang kerjanya memberi kesan menakutkan.


"Datang ke mansion Baron Joseph sekarang dan dapatkan undangan pernikahannya putrinya."


"Baik Yang Mulia."


Secepat kilat Dean menghilang. Menyisakan Lionel yang dilahap oleh kegelapan malam. Dia tidak bisa tidur. Setiap kali dia memejamkan matanya, banyangan Yanneta selalu datang. Mereka sudah dekat sekarang namun kenapa terasa jauh. Rasanya dia ingin langsung mendatanginya dan menanyakan berbagai pertanyaan yang ada di kepalanya.


Tapi Lionel takut akan respon Yanneta. Dia tidak ingin membuat Yanneta takut padanya.


Lionel mengusak rambutnya kasar seraya mengumpat pada dirinya sendiri.


*


Pagi datang lebih cepat.


Mansion Vexia di Ibu Kota telah berisik oleh para pelayan yang sibuk mendandani Yanneta dan Eliz. Mereka harus datang tepat waktu karena ini adalah acara yang penting.

__ADS_1


Kereta kuda telah siap untuk mengantar Yanneta dan Eliz ke tempat pernikahan Yolanda. Tidak jauh dari mansion Vexia, hanya beberapa menit saja. Meskipun Ibu Kota Zagc, Nachtion tidak lebih luas dari empat wilayah lain.


Mereka sampai tepat waktu. Yanneta mengenakan gaun sederhana dengan bagian perut sedikit mengembang untuk menyamarkan kehamilannya. Sebuah gaum berwarna biru pucat sengan potongan sederhana. Rambut emasnya di sanggul tinggi dengan hiasan mutiara sederhana.


Upacara pernikahan di adakan di mansion Joseph. Tepatnya di taman belakang. Konsep acaranya adalah pesta kebun. Yolanda mengatakan jika dia hanya ingin mengadakan upacara pernikahan yang sederhana. Pasangannya, salah satu putra dari seorang Count juga orang yang sederhana. Maka tak banyak tamu yang diundang.


Mereka berjalan cepat menuju kursi mereka. Hillary dan Rebecca telah datang lebih dulu. Sebagai teman dekat, empat orang tersebut mendapatkan kursi paling depan.


Sebuah altar dengan pagar bunga dan tirai putih menjadi dekorasinya. Semuanya serba putih. Langit pagi yang masih sejuk menambah kesakralan acara.


Yanneta memfokuskan perhatiannya pada dua pasangan yang sedang mengucap janji pernikahan. Sumpa setia hingga menua bersama. Baron dan Baroness Joseph yang menamdampingi putrinya menikah menangis sesenggukan.


Suasananya hikmat.


Tanpa Yanneta sadari. Ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Dari saat dia turun dari kereta hingga duduk di kursinya.


Orang tersebut tidak berbaur dengan tamu lain. Mengenakan setelah tuxedo jas berwarna gelap dengan gelas minuman di tangannya, dia berdiri sedikit jauh dari acara diadakan.


Meskipun begitu, tidak ada yang berani menegurnya. Siapa yang berani menegur Duke Soveil. Hanya dengan melihatnya saja, para tamu yang hadir langsung membeku.


Bahkan tidak ada bisik-bisik yang mempertanyakan, kenapa ada Duke Soveil disini. Acara ini hanyalah upacara pernikahan seorang bangsawan biasa. Baron Joseph bahkan bukan sekutu dari Soveil. Memimpikannya saja tidak mungkin. Seorang bangsawan rendahan berteman dengan bangsawan berpangkat tinggi.


Bukan bangswan tinggi biasa, Duke Soveil adalah Zagc yang sesungguhnya.


Akhirnya para tamu hanya bisa menghiraukan kehadirannya untuk fokus mendoakan pasangan pengantin yang sedang berbahagia.


Setelah upacara pernikahan selesai, ada pesta sederhana yang diadakan. Kerumuman langsung buyar begitu pidato Baron Joseph selesai.


Para tamu umumnya bergerombol terdiri dari dua atau tiga orang.


"Annet, astaga!" Seru Yolanda begitu melihat Yanneta mendekat.


Kemudian diikuti oleh Eliz, Hillary, dan Rebecca, reuni kelompok Anti-Gwinia terjadi. Mereka saling berpelukan dan mengobrol ringan untuk melepas rindu selama ini.


Hampir setengah tahun mereka tidak bertemu. Setelah pertemuan di pesta debut Gwinia, mereka lebih sering berkirim surat. Meskipun saling memberi kabar, bertemu langsung memiliki rasa yang berbeda.


"Lady Rainhart."


Sebuah suara menginterupsi reuni kecil lima sahabat itu.


"Duke!"


"Ah! Salam kepada Yang Mulia."


Rasa terkejut menetas dari kelompok kecil tersebut. Orang yang paling terkejut adalah Yanneta. Bagaimana tidak, Lionel Soveil berdiri tepat di hadapannya. Dia sering membayangkan bagaimana Lionel yang sekarang. Tapi dia tidak pernah berharap akan bertemu lagi dengannya.


Kelopak matanya bergetar. Mulutnya kering. Jantungnya berdegup kencang.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Pekiknya dalam hati.


"Lama tidak bertemu Lady." Ucap Lionel dengan seringai misteriusnya.


Suaranya tenang dengan wajah dinginnya, Lionel Soveil berhasil membuat orang yang melihatnya membeku di tempat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2