Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#38 Mengakhiri Kesalahpahaman (END)


__ADS_3

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Yang Mulia. Ini gejala umum yang terjadi saat usia kandungan semakin tua. Hanya butuh istirahat yang banyak. Tidak boleh banyak pikiran dan terlalu lelah."


Lionel mengangguk paham.


"Bagaimana dengan bayinya?"


"Semuanya baik-baik saja Yang Mulia. Anda tidak perlu khawatir."


"Kamu bisa kembali."


"Baik Yang Mulia."


Semua pelayan diusir meninggalkan kamar Lionel.


Begitu pintu tertutup air mata Lionel tumpah. Selama dia hidup, dari lahir hingga sekarang, Lionel tidak pernah menangis, bahkan ketika kedua orang tuanya meninggalkan. Tapi hari ini karena satu orang perasaannya diaduk-aduk tak karuan.


Wanita yang tak bertanggung jawab itu saat ini sedang terbaring tak berdaya, di hadapannya. Pikirannya kacau. Harinya seperti roller coster naik turun menikum tajam.


Ada banyak rencana yang sudah disusun saat dia menemukan Yanneta, tapi saat mata mereka saling bertemu semua itu buyar tanpa sisa. Sebaliknya, malah dia yang dibuat kacau oleh Yanneta.


Kali ini dia tidak akan pernah membiarkan Yanneta pergi lagi. Apapun caranya. Meskipun harus memenjarakannya di mansion Soveil.


Sebelum Yanneta bangun dia harus berbuat satu hal.


"Ada orang di luar."


"Ya Yang Mulia."


"Panggil Fabian kemari."


"Baik Yang Mulia."


Tak lama Fabian datang dengan langkah yang tergesa-gesa.


"Panggil Lady Attlier kemari sekarang." Titahnya.


Fabian mengangguk kemudian melesat pergi. Arah kakinya menuju ke rumah sihir Dyos.


Sinar matahari menembus kaca. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Yanneta membuka matanya karena ada yang terus menggelitik perutnya.


"Yanneta sudah bangun?" Suara cemerlang itu merenggut rasa kantuknya.


"Air." Tenggorokannya terasa sangat kering.


Tanpa pelafalan yang jelas, tubuhnya sedikit terangkat kemudian rasa dingin air mengaliri tenggorokannya. Rasanya segar. Pandangannya yang tidak fokus kini menjadi terang benderang.


Wajah Lionel yang terlihat lebih dulu. Rambutnya acak-acakan dan pakaiannya telah berganti. Terakhir dia lihat Lionel rapi luar biasa, kini dia terlihat lebih santai.


"Ada yang sakit? Perlu saya panggil Byos?"


"Ya? Ah tidak perlu. Saya baik-baik saja."

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Lionel lemah.


Denngan bantuan Lionel, Yanneta akhirnya bisa menyandarkan tubuhnya ke kepala meja. Perut besarnya langsung mencuat.


"Apakah dia merepotkan?" Tanya Lionel yang tiba-tiba merendahkan kepalanya untuk mencium perut Yanneta.


Yanneta yang terkejut tersentak kecil. Tiba-tiba diserang oleh orang yang tidak pernah dia bayangkan, membuatnya bingung.


"Yang Mulia."


"Diam. Saya sedang ingin melepas rindu padanya." Lionel membungkam Yanneta dengan tindakan selanjutnya.


Bukan hanya mencium, tapi Lionel juga mengelusnya, mengusap hingga berbisik pada perutnya.


"Anak ini mendengar saya bukan? Dia bergerak." Bola mata Lionel bergetar.


Yanneta juga merasakannya. Bayi di dalam kandungannya bergerak setiap kali Lionel menyentuh perutnya. Seperti tahu siapa sebenarnya Lionel.


"Yang Mulia tolong jangan seperti ini."


"Anak ini, anak saya bukan?" Lionel mengangkap kepalanya kemudian beradu pandang dengan Yanneta.


"Saya tidak akan mudah dibohongi Yanneta lagi. Dyos telah memastikan identitas bayi yang ada di dalam perut Yanneta. Anak itu adalah anak saya. Penerus Soveil di masa depan."


Yanneta melengos. Air matanya mengancam untuk keluar. Kalau Lionel sudah tahu dia tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan.


"Yanneta jangan menghindari saya."


Bukannya mau menghindari, Yanneta tak sanggup melihat Lionel. Dia masih belum bisa menerima bahwa selama ini dia salah.


"Jangan seperti ini, saya mohon." Sambungnya.


Air mata Yanneta akhirnya tumpah. Pipi putihnya basah oleh air mata. Bahunya bergetar karena isak tangisnya. Lionel tidak bisa berbuat apa-apa.


Di tengah situasi sulitnya pintu diketuk dan Fabian masuk.


"Maaf Yang Mulia, Lady Attlier ada disini." Suara Fabian menerobos.


"Silahkan masuk Lady Attlier." Lionel berdiri kemudian menyambut Rose yang melangkah dengan ragu-ragu.


"Salam kepada Yang Mulia Duke Soveil, anda memanggil saya." Ucap Rose seraya menundukkan kepala.


"Ya, saya memanggil Lady." Jawab Lionel cepat.


"Lady, bolehkah saya meminta tolong." Lanjutnya.


"Dengan senang hati Yang Mulia."


"Tolong jelaskan pada ibu dari anak saya, bahwa saya dan Lady Attlier tidak memiliki hubungan apapun. Bantu saya agar dia tidak menghindari saya lagi." Kata-kata Lionel sungguh menyayat hati.


Baik Yanneta, Fabian, Rose, dan beberapa pelayan yang ada tersentak. Duke Soveil yang agung bisa terluka juga ternyata. Orang yang sepertinya tidak akan peduli jika dunia hancur kini terguncang.

__ADS_1


Wajahnya pucat dan sorot matanya pilu. Menyedihkan sekali.


"Yang Mulia." Rose sampai tak mampu berkata-kata. Matanya menatap Yanneta sekilas yang matanya sembap oleh air matanya.


Kurang lebih dia akhirnya sadar, jika dialah yang menjadi penyeban Yanneta meninggalkan Lionel. Tanpa dia tahu akar permasalahannya. Karena permintaan Duke akhirnya Rose bergerak.


Dia perlahan mendekati Yanneta kemudian duduk di pinggiran tempat tidur.


Setelah para pelayan pergi dan pintu ditutup, barulah Rose membuka suaranya.


"Senang bertemu dengan anda Lady. Perkenalkan saya Rose Attlier, putri Baron Attlier. Kita pernah bertemu satu kali, saat kekacauan sihir hitam terjadi di istana." Rose mulai dengan perkenalan diri.


"Saya tidak tahu apa yang menjadi penyebab kegundahan hati anda. Tapi karena Duke yang meminta saya akan menjelaskan." Ucapnya pelan-pelan sambil mengamati respon Yanneta.


Rasa kagumnya muncul saat wajah Yanneta terungkap sepenuhnya. Cantik. Tidak ada kata lain yang bisa mendefinisikannya. Rambutnya secerah sinar matahari pagi. Tatapannya teduh dan menenangkan. Seperti sedang beristirahat di hamparan rumput hijau di bawah sinar matahari.


"Jujur saya tidak mengerti apa yang dimaksud Duke, kami tidak pernah memiliki hubungan apapun. Apakah Lady mungkin pernah melihat saya dan Duke disuatu tempat kemudian menyimpulkan bahwa saya punya hubungan spesial dengan Duke?" Tanya Rose dengan penuh penekanan.


Yanneta menggeleng pelan. Tidak pernah, dia jujur.


"Lalu kenapa anda salah paham pada Duke?" Tanyanya lagi.


Tidak ada jawaban. Yanneta memilih diam.


"Ada yang ingin saya ceritakan pada Lady. Mungkin cerita biasa bagi orang lain, tapi bagi saya tidak. Apakah Lady tertarik untuk mendengarnya?" Kata-kata Rose seperti sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk.


Senyum Rose terbit. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi.


"Begitu sadar, kata pertama yang keluar dari mulut Duke adalah nama anda, Yanneta. Duke mencari-cari anda. Tapi anda tidak terlihat dimana-dimana. Saat melihat Duke saya berpikir, wanita ini pasti orang yang sangat penting bagi Duke. Ditengah keadaan sadar dan tidak Duke selalu menggumamkan nama anda." Jelasnya.


"Bahkan saya tepat di depan matanya seperti manusia tembus pandang. Hanya Lady yang Duke cari. Jadi, Lady bisa membayangkan bukan betapa Duke sangat mencintai anda. Saya mohon hilangkan prasangka salah anda tersebut. Saya sangat menghormati Duke karena telah banyak membantu keluarga Attlier. Saya tidak pernah berpikir untuk merebut posisi anda di hati Duke. Anda jelas tahu siapa pemenangnya bukan?"


"Tolong maafkan jika Yang Mulia memiliki salah yang membuat hati Lady terluka. Saya akan berdoa demi kebagiaan kalian berdua." Rose menutup penjelasannya dengan mendoakan kebahagiaan Lionel dan Yanneta.


Tangis Yanneta pecab. Dia tidak mampu membendung lagi perasaannya. Ternyata selama ini dialah yang salah. Hanya karena dia terlalu percaya pada cerita Red Rose Tragedy, dia membuat Lionel sengsara. Betapa tidak termaafkannya dirinya.


"Maafkan saya." Akhirnya dia membuka suaranya.


Rose mengangguk pelan kemudian berdiri. Dia segera izin undur diri untuk memberi kebebasan pada Lionel dan Yanneta agat leluasa bersama.


Suara isak tangis Yanneta memenuhi ruangan.


Lionel yang berdiri tak jauh darinya mendekat. Tangannya menghapus air mata Yanneta yang tak ada hentinya jatuh. Dia benci Yanneta menangis. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat melihatnya.


Dia hanya mampu menghiburnya. Tapi Lionel tidak puas.


"Saya salah. Saya minta maaf." Suara Yanneta serak akibat menangis.


"Jangan menangis lagi hmm?" Lionel masih berusaha menenangkannya.


Namun isak Yanneta semakin keras. Akhirnya Lionel menarik Yanneta dalam pelukannya.

__ADS_1


Tangis mereka berdua memenuhi seluruh ruangan.


END.


__ADS_2