
Tiga bulan kemudian.
Sebuah taman yang sangat indah terbentang luas. Aromanya sangat harus. Musim semi telah tiba. Bunga-bunga bermekaran. Taman yang indah ini menjadi tempat favorit bagi kupu-kupu dan lebah untuk saling berkumpul.
Melihat indahnya taman. Menghirup harusnya bunga bermekaran tidak membuat hati Yanneta gembira. Dia duduk termenung di kursi taman dengan pandangan yang jauh pergi. Dia tidak melihat bunganya sama sekali.
"Annet." Sebuah suara membuyarkan lamunan Yanneta.
"Eliz." Yanneta menoleh ke arah wanita muda yang sedang berjalan mendekat.
"Ada surat datang dari Zagc." Eliz melambai dengan sebuah surat berwarna merah keemasan.
Yanneta tersenyum kecil. Melihat Eliz yang berlari ke arahnya terlihat sangat lucu.
"Jangan berlari. Anda bisa saja jatuh." Tegur Yanneta.
"Yolanda juga mengirim surat." Total ada dua surat di tangan Eliz.
Di hadapannya berjejer dua surat dengan warna yang berbeda. Merah jelas surat dari Verdian, kemudian biru pucat pasti surat dari Yolanda. Setelah menimbang Yanneta mengambil surat dari Verdian terlebih dahulu.
Tiga bulan yang lalu, di tengah pertempuran sihir, Yanneta menghilang begitu saja. Dia naik kereta jauh dari Ibu Kota Nachtion. Terus berlari ke arah timur dan sampailah di wilayah Vexia. Dia mendatangi mansion Vexia dini hari dan mengejutkan banyak orang.
Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Untungnya orang-orang di mansion Vexia menyambut hangat dirinya. Terutama Marquiss dan Marchioness Vexia. Mereka absen dari pesta ulang tahun kaisar karena Marchioness sudah lama sakit. Jadi tidak bisa pergi jauh.
Yanneta menceritakan semuanya pada Eliz dengan derai air mata. Dia memohon untuk diizinkan tinggal di Vexia sampai keadaannya pulih dan bisa hidup mandiri. Dia tidak akan mungkin bisa kembali ke Zagc. Tidak ada keluarga juga tidak ada tempat untuk kembali.
Jika ada kesempatan, Yanneta ingin ke benua seberang. Ingin memulai hidup tanpa ada yang mengenalinya atau dia kenal. Dia ingin melupakan Lionel.
Impiannya ini terpaksa dia tunda karena secara mengejutkan, dia dinyatakan hamil oleh dokter keluarga Vexia. Satu minggu setelah dia tiba disana. Usia kandungnnya masih awal jadi dia tidak begitu merasakannya. Saat dia demam tinggi suatu hari, dokter datang dan memeriksanya. Janinnya sehat dengan usia kandungan dua minggu.
Yanneta seperti disambar petir. Dia tidak melarikan seorang diri, kini dia telah berdua dengan anak yang ada di dalam kandungannya.
Sekali lagi dia memohon agar kehamilannya ini dirahasiakan. Ini adalah anaknya. Dia tidak ingin keberadaan kecil ini mengganggu yang lain. Terutama Lionel dan Rose.
Ini adalah takdirnya. Meskipun pahit Yanneta akan menjalaninya sendiri.
Setelah situasi dianggap aman, Yanneta memberanikan diri mengirim surat kepada Verdian untuk menanyakan situasinya. Atas nama Eliz Vexia. Pada surat pertama surat balasan datang di bulan berikutnya. Surat itu berisi banyak sekali halaman. Yang paling diingat Yanneta adalah kondisi Lionel, padahal dia tidak secara jelas menanyakan kabarnya.
Gwinia telah mati. Dia terbukti memakai sihir hitam untuk membunuh kaisar dan membuat kekacaun di istana. Gwinia dihukum gantung beberapa hari setelah kejadian.
Secara praktis Verdian naik menjadi kaisar Zagc menggantikan kaisar terdahulu yang meninggal dalam kekacauan sihir hitam Gwinia. Rakyat mengutuk menara Zonix karena menjadi pendukung Gwinia. Para penyihir yang terindikasi mendukung Gwinia dieksekusi mati. Sisanya dimurnikan dan Zonix sementara ditutup.
Lionel terluka parah akibat kekuatan ilahinya digunakan untuk menyegel sihir hitam Gwinia. Dia hampir kehilangan kekuatannya jika saja Rose tidak berada disampingnya.
__ADS_1
Membaca bagian ini hati Yanneta berdenyut nyeri.
Saat ini dia belum sadarkan diri akibat pertempuran tersebut. Verdian mengatakan untuk tidak khawatir karena ada Rose dan Dyos yang sedang mengurusnya.
Air mata Yanneta tumpah saat membaca tulisan selanjutnya.
Kira-kira itulah isi surat balasan pertama Verdian. Setelah itu Verdian yang aktif mengirim surat pada Yanneta, menanyakan kabarnya secara berkala.
Pada bulan kedua, Lionel akhirnya sadar setelah Rose menanam sihir murni miliknya. Karena pemegang kutukan Hell sudah mati, yaitu Gwinia, otomatis kutukan Hell terangkat dari tubuh Lionel. Rose memberikan setengah kekuatan sihirnya untuk membangunkan Lionel.
Dalam hati Yanneta bersyukur. Prioritas utamanya adalah Lionel. Perasaan pribadinya telah dia kesampingkan sebanyak mungkin.
Verdian akan dinobatkan menjadi kaisar Zagc dalam waktu satu bulan lagi. Dia juga menceritakan jika Nachtion telah kembali kondusif. Kekacauan akibat ulah sihir hitam Gwinia kina telah tercatat menjadi sejarah Zagc. Rakyat hidup normal kembali seperti peristiwa tersebut tidak pernah terjadi.
Hari ini datang surat lagi padahal Yanneta jarang membalas surat dari Verdian. Dia tidak ingin terlalu banyak mendengar kabar dari Nachtion terutama kabar tentang Rose dan Lionel. Ada kehidupan lain yang harus dia pedulikan. Yanneta tidak mau merusak suasana hatinya hingga mempengaruhi anak yang sedang dia kandung. Usianya sudah tiga bulan. Perutnya yang awalnya rata kini sedikit membuncit.
Pipinya yang tirus juga menjadi berisi karena kebiasaan makannya yang berubah. Meskipun tidak sampai drastis, setiap hari berat badannya terus bertambah.
Perlahan Yanneta membuka surat dari Verdian. Tidak seperti biasanya, surat kali ini hanya satu lembar dan tidak penuh dengan tulisan.
Baris pertama adalah salam. Kemudian dilanjutkan dengan waktu pelaksanaan penobatannya sebagai kaisar. Baris terakhir berisi undangan Verdian untuknya. Verdian mengharapkan kehadirannya pada saat penobatannya. Surat ditutup dengan keinginan Verdian untuk bertemu dengan Yanneta.
Yanneta meletakkan surat tersebut dengan wajah kosong. Jelas tidak mungkin. Tidak ada tempat lagi baginya di Zagc.
Dia tahu. Setiap surat dari Zagc datang, Yanneta akan menjadi muram. Hari-harinya dihabiskan dengan melamun atau menangis. Saat ini dia sedang mengandung, Eliz tentu khawatir. Demi keselamatan bayi yang ada di dalam perut Yanneta, dia rela menghibur Yanneta dengan cara apapun.
"Ya Tuhan!" Pekik Eliz begitu membuka surat Yolanda Joseph. Sahabat mereka.
"Apa, apa yang terjadi?" Yanneta sontak panik.
"Yola akan segera menikah. Lihatlah, dia bahkan mencantumkan hari dan tanggal pernikahannya."
Eliz menyodorkan surat dari Yolanda seraya menunjuk bagian yang tertulis hari pernikahan.
"Ya Tuhan!" Kini giliran Yanneta yang berteriak tak percaya.
"Dia ingin kita datang. Bahkan ada salam dari Hill dan Ruby." Eliz menunjuk baris selanjutnya.
"Dua bulan lagi." Lirihnya.
"Jika sulit Yanneta tidak perlu datang. Biar saya saja yang datang. Saya akan menjelaskan kepada mereka." Eliz menggenggam tangan Yanneta dengan tulus.
Ada kebimbangan. Tapi itu adalah hari bahagia sahabatnya, bagaimana bisa dia tidak hadir.
__ADS_1
"Tidak. Saya juga akan hadir."
Mata Eliz terbelalak.
"Tapi.."
"Anak ini sangat tenang. Kami pasti akan baik-baik saja diperjalanan." Jelas Yanneta meyakinkan.
"Lagipula hanya sebentar. Saya juga ingin mengunjungi Kaisar Zagc yang baru. Hanya sebentar saja. Saya dan Lionel tidak akan bertemu. Nachtion sangat luas bukan?" Senyum simpul Yanneta terbit.
"Baiklah. Saya akan memanggil dokter untuk mengkonsultasikan perjalanan kita nanti."
"Terima kasih Eliz. Saya berutang budi banyak. Seumur hidup saya tidak mungkin bisa membalasnya."
"Tidak, Annet. Kita teman bukan? Sudah sepantasnya teman saling membantu."
Tatapan Eliz tulus. Mereka teman dan dia mampu. Yanneta bahkan sudah dia anggap sebagai saudara sendiri.
*
"Kami tidak bisa menemukan keberadaan Lady Rainhart Yang Mulia."
Kalimat ini lagi. Lionel sudah pusing dengan berbagai macam jawaban yang tidak membuahkan hasil.
"Menurut Marta, pelayan terdekat Lady, Count Rainhart telah menghapus namanya dari kartu keluarga setelah kepulangannya dari menemui Lady di mansion Soveil."
"Apa? Kapan?"
Fabian menunduk kemudian menjawab.
"Beberapa hari sebelum pesta ulang tahu kaisar terdahulu."
"Kenapa banyak hal yang baru aku tahu sekarang?"
"Maafkan saya Yang Mulia, Lady ingin agar hal ini dirahasiakan."
Prang.
Lionel melempar cangkir tehnya ke arah Fabian. Tidak sampai melukai Fabian tapi cangkir itu hancur setelah membentur lantai. Fabian memejamkan matanya seraya menahan nafas.
"Bawa Dyos kemari dan siapkan kereta untuk ke istana besok pagi."
"Baik Yang Mulia."
__ADS_1
Bersambung...