Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#34 Tiba di Ibu Kota (Mengunjungi Nachtion)


__ADS_3

"Annet yakin?" Tanya Eliz lagi.


Besok adalah hari keberangkatan mereka ke Ibu Kota. Hari pernikahan Yola sebentar lagi. Mereka akan berangkat tiga hari lebih awal karena jarak Nachtion dan Vexia yang cukup jauh.


Perjalanan ini juga akan sedikit lambat melihat kondisi Yanneta yang sedang mengandung. Kenyamanannya adalah yang utama.


Perjalanan yang akan ditempuh secara normal adalah setengah hari tanpa istirahat. Jika berangkat pada malam hari mereka akan sampai dini hari. Jika berangkat pagi mereka akan sampai pada siang hari.


Waktu yang dipilih Eliz adalah pagi hari, perjalanan saat malam hari terlalu berisiko. Mereka membawa dua gerbong kereta. Satu untuknya dan Yanneta, satu lagi untuk para pelayan.


Persiapan hampir selesai saat Eliz kembali meyakinkan Yanneta.


"Ya." Yanneta mengangguk pelan.


"Baiklah. Kita sudah siap untuk berangkat besok."


"Terima kasih Eliz."


Perjalanan mereka lebih lama dari estimasi waktu normal. Di tengah perjalanan mereka beberapa kali berhenti untuk istirahat. Mereka menghabiskan waktu satu hari satu malam. Hampir dini hari rombongan tiba di Nachtion. Di tengah kabut malam musim dingin kereta melaju di jalanan Ibu Kota yang sunyi.


Fajar hampir menyinging saat mereka tiba di mansion Vexia di Nachtion. Meskipun tidak sebesar mansion di Vexia, mansion ini sangat terawat dan cukup besar.


Dokter yang telah dipersiapkan sebelumnya telah menunggu kedatangannya. Dia segera memeriksa kondisi Yanneta. Kakinya bengkak bukan main. Selain usia kandungan yang semakin tua, yaitu lima bulan. Kelelahan diperjalanan dengan kaki tertekuk juga menjadi penyebabnya.


Tidak cukup ruang bagi Yanneta untuk beristirahat dengan baik. Dia juga tidak banyak mengeluh selama perjalanan. Kondisi ini umum terjadi pada wanita yang sedang hamil. Lagi pula bayi yang ada di dalam kandungannya baik-baik saja. Maka dia menegur dokter untuk tidak berlebihan.


Akhirnya dokter menyarankan agar Yanneta beristirahat selama sehari penuh.


Sehari ini Yanneta habiskan dengan beristirahat penuh. Dua hari lagi adalah hari pernikahan Yolanda, dia harus segera pulih agar bisa menghadirinya.


Kedatangannya mungkin cepat menyebar karena Eliz. Pada malam hari, Hillary dan Rebecca datang mengunjungi mansion Vexia. Betapa terkejutnya mereka melihat perut buncit Yanneta.


Mereka memang sering berkirim surat namun fakta ini Yanneta sembunyikan dengan rapat.


"Apakah Duke Soveil ayahnya?" Tanya Rebecca terang-terangan.


"Ruby, Hill. Bagaimana kalau kita tidak membahasnya? Kita tentu sudah tahu kebenarannya bukan?" Eliz langsung memotong pertanyaan Rebecca.


Mereka langsung paham bahwa nama Lionel Soveil sangat sensitif bagi Yanneta. Suasana cepat berubah. Tema yang mereka perbincangkan beragam. Mulai dari situasi Nachtion saat ini hingga toko-toko penjual camilan yang banyak bermunculan.


Hampir larut malam saat Rebecca dan Hillary meninggalkan mansion. Rasanya menyenangkan bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak mereka jumpai.


"Besok saya akan mengunjungi Yang Mulia Kaisar. Apakah Eliz bisa mengantar saya?"


"Kaisar Zagc?"


"Ya. Saya sudah mengirim surat sebelum keberangkatan kita."


"Annet." Suara Eliz penuh kekhawatiran.


Datang ke Nachtion adalah misi rahasia. Mereka diam-diam datang dan akan segera kembali. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi Yanneta malah ingin berkunjung ke istana. Kemungkinan pertemuannya dengan Duke Soveil akan tinggi.


"Banyak orang yang keluar masuk istana Eliz. Jangan khawatir. Ada yang ingin saya sampaikan pada Yang Mulia." Bujuk Yanneta.


"Saya akan menyiapkan kereta kuda besok pagi."


Istana Zagc telah banyak berubah. Mungkin akibat dari kekacauan. Suasananya terlihat lebih baik. Cerah dan hangat. Barisan bangunan tampak rapi dan banyak taman penuh dengan bunga. Padahal sebentar lagi musim dingin. Sepertinya banyak usaha yang dilakukan oleh Verdian.


"Kita sudah sampai." Saat kereta berhenti Eliz segera bangkit. Dia keluar lebih dulu untuk membantu Yanneta turun.


Mereka berdua berjalan menyusuri lorong. Verdian telah mengirim ajudannya untuk menjemput Yanneta. Mereka diantar ke salah satu ruang di dekat istana kaisar. Karena ada sebuah pertemuan Verdian meminta Yanneta untuk menunggu.

__ADS_1


Tidak masalah. Tempat tunggu yang dia sediakan dekat dengan Taman Eden. Pintu kaca besar di ruang tersebut terhubung dengan Taman Eden.


Taman Eden tidak berubah. Masih indah seperti dulu. Yanneta pernah kesana satu kali. Saat dia diundang oleh Gwinia dan berakhir dengan penculikannya.


Perlahan Yanneta menceritakannya pada Eliz. Mereka tertawa bersama mengingat hal mengerikan itu. Sangat lucu bagi mereka. Saat keduanya tengah asyik mengobrol pintu dibuka. Orang yang paling diantisipasi muncul.


Verdian Zagc.


"Salam kepada Kaisar Zagc, semoga Yang Mulia berumur panjang." Yanneta dan Eliz kompak menunduk.


"Angkat kepala kalian."


"Terima kasih Yang Mulia."


Mereka saling melihat sekarang. Yanneta tersenyum tipis pada Verdian. Sebaliknya Verdian membeku melihat penampilan Yanneta saat ini. Perut besarnya menarik perhatiannya.


"Lady, anda."


"Ya Yang Mulia. Saya sedang mengandung."


"Apakah anda sudah menikah?"


Yanneta menggeleng pelan.


"Ada yang ingin saya sampaikan kepada Yang Mulia. Bisakah kita berbicara sebentar, hanya berdua?"


"Tentu saja." Verdian mengangguk.


"Kita bisa ke Taman Eden." Lanjutnya.


"Baik." Jawab Yanneta.


Dia memberi isyarat pada Eliz untuk tetap menunggunya disana. Dia tidak akan lama. Dia hanya butuh privasi dengan Verdian. Untungnya Eliz tidak hanyak bertanya. Dia memang teman terbaik Yanneta.


"Terima kasih telah mengabulkan permintaan saya untuk bertemu Yang Mulia." Yanneta memulai pembicaraan.


"Tidak perlu berterima kasih Lady, sudah seharusnya saya membalas jasa anda. Jika bukan karena anda, Zagc pasti sudah hancur."


"Saya bersyukur bisa membantu."


"Anda tidak datang saat upacara penobatan saya. Padahal anda adalah orang yang ingin saya tunjukkan upacara tersebut." Verdian mendesah.


"Banyak hal yang harus saya pertimbangkan Yang Mulia. Maafkan atas ketidakberdayaan saya." Jawab Yanneta seraya mengelus perut bulatnya.


"Maaf jika lancang, apakah Duke Soveil ayah dari anak itu?" Tatapan Verdian tertuju ke arah perut Yanneta.


Yanneta tidak menjawab. Dia hanya tersenyum.


"Lady Rainhart, sebenarnya.."


"Saya bukan Rainhart lagi Yang Mulia, panggil saja Yanneta. Saya tidak lagi memiliki keluarga."


"Ya?"


"Ceritanya panjang. Jika ada kesempatan saya akan menceritakannya pada anda."


Verdian mengangguk.


"Ehm.. Yanneta, apakah Duke tahu tentang anak itu?"


"Tidak. Ini adalah rahasia saya dan Yang Mulia."

__ADS_1


"Tapi.."


"Saya datang menemui anda karena ada yang ingin saya minta. Tolong bantu saya."


"Apa maksud anda?"


"Yang Mulia pasti sudah mengenali Lady Vexia yang bersama saya tadi. Benar, selama ini saya tinggal di mansion Vexia. Tapi tidak mungkin selamanya saya merepotkan kekuarga Vexia. Saya ingin meminta bantuan pada anda."


"Anda bisa menganggap ini adalah bayaran karena saya telah membantu anda."


"Yanneta bisa menyampaikan apapun yang dibutuhkan? Saya pasti akan membantu."


"Tolong jamin hidup saya dan anak saya yang akan lahir. Saya tidak punya keluarga ataupun uang. Saya ingin hidup mandiri ketika anak ini lahir."


"Yanneta, bukankah seharusnya anda menemui Duke Soveil. Bagaimanapun dia perlu tahu anak itu."


"Tidak. Saya tidak bisa. Saya tidak mungkin menganggu hidupnya."


"Kenapa tidak? Duke bukanlah orang yang berpikiran sempit dan lagipula.." Verdian tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia sudah sampai batasnya. Tidak seharusnya dia ikut campur dalam urusan Duke Soveil.


"Pokoknya lebih baik Yanneta temui dulu Duke. Yanneta pasti akan mendapatkan jawabannya."


Yanneta mematung. Dia datang kesini bukan untuk ini. Dia menyempatkan diri menemui Verdian karena dia adalah harapan terakhir Yanneta. Dia hanya ingin dibantu sedikit dengan uang, tidak banyak.


Hanya sebuah rumah dan sedikit harta untuk bertahan. Hanya itu saja. Namun Verdian malah menyuruhnya untuk menemui Lionel.


Lalu bagaimana dengan Rose?


Itu hal yang mustahil. Dia tidak akan menghancurkan hubungan Lionel dan Rose, meskipun dirinya sendiri hancur.


"Jika Yang Mulia tidak bisa membantu tidak apa-apa. Saya akan memikirkan cara lain. Terima kasih atas waktu anda." Tubuh Yanneta sedikit merendah kemudian segera berpaling.


"Yanneta, maksud saya.. Arghh! Mau kemana nada?"


Verdian melebarkan langkahnya untuk mengejar Yanneta.


"Tentu saja kembali Yang Mulia. Saya sudah tidak ada urusan lagi disini."


"Apakah Yanneta marah?"


"Saya tidak."


"Tunggu."


Yanneta menghentikan langkahnya kemudian berbalik.


"Bagaimana saya bisa menolak permintaan Yanneta. Yanneta adalah penyelamat saya. Langit bisa menghukum saya jika saya tidak membalas budi pada Yanneta."


"Jadi?"


"Katakan apapun yang Yanneta inginkan. Saya akan mengabulkan semuanya."


"Sungguh?"


Anggukan Verdian sangat meyakinkan. Yanneta tidak bisa lagi membendung air matanya. Pipinya langsung basah.


Eliz yang melihat dari kejauhan segera mendekat.


"Annet apa yang terjadi?"


Tangis Yanneta pecah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2