Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#2 Balada Menara Zonix (Extra Story)


__ADS_3

Menara Zonix akhirnya hidup kembali setelah proses pemurnian yang panjang.


Terjadi perdebatan yang sangat menguras tenaga menyangkut masa depan menara. Akan jadi apa, bagaimana, seperti apa dan lain sebagainya.


Pemilihan kepala menara tak kalah hebohnya. Masyarakat kelas atas sampai terbelah menjadi dua karena kandidat yang diusulkan.


Rose Attlier yang didukung oleh bangsawan kelas bawah, Dyos Tatiha yang didukung oleh bangsawan pengikut Soveil.


Terjadi perang dingin selama proses pemilihan.


Padahal dua orang sedang dicalonkan tidak peduli dengan kehebohan itu. Terutama Dyos Tatiha, dia sama sekali tidak ada keinginan untuk menjadi kepala menara Zonix. Dia sudah cukup dengan mengabdikan dirinya untuk Soveil.


"Bagaimana Duke?" Dengan tengilnya Verdian melempar pertanyaan pada Lionel dihadapan para bangsawan.


Saat ini sedang berlangsung pertemuan lanjutan untuk memutuskan siapa yang akan menjadi kepala menara Zonix.


Sangat rumit dan berbelit. Kepala Lionel sudah berdenyut sakit. Dia hanya ingin segera pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarganya.


"Jika boleh berpendapat Yang Mulia. Bagaimana kalau kita bertanya langsung pada dua kandidat. Bersediakah mereka menjadi kepala menara Zonix."


"Ide yang bagus Duke." Timpal Verdian.


Sayang seribu kali sayang. Baik Dyos maupun Rose menolak menjadi kepala menara Zonix.


Dilema.


Pertemuan dibubarkan dan akan digelar sidang lanjutan. Berlarut-larut dan tidak ada ujungnya.


Jujur Dyos sendiri juga muak. Dia hanya ingin menjalani hidupnya yang normal seperti dulu. Menjadi penyihir Soveil yang bebas bereksperimen apapun yang dia inginkan.


Tidak seperti sekarang. Keberadaannya yang terlalu terekspos sehingga pergerakannya diawasi. Semua mata tertuju padanya. Sangat tidak nyaman.


Ditambah satu lagi masalah. Rose Attlier. Dia memang tidak tahu isi hati wanita. Mau bagaimana lagi jika sebagian besar waktunya dia gunakan untuk belajar sihur. Tingkah laku Rose membuatnya bingung.


Dia tidak pernah diikuti seseorang hingga sedekat ini. Apalagi wanita. Dia menempel dan ada dimanapun dia berada. Seperti lem yang melekat kuat di objeknya.


Menjengkelkan. Tapi dia tidak bisa menolaknya. Jika bukan karena dia, Soveil pasti sudah kehilangan Duke.


Seperti sekarang, hampir tiap hari dia datang ke rumah sihirnya. Membawa berbagai macam masakan atau camilan. Mengajaknya mengobrol panjang lebar. Hingga menanyakam hal-hal yang di luar pikiran Dyos.


"Apa cita-cita Tuan Penyihir sebenarnya?" Tanya Rose blak-blakan.


Dyos yang sedang membaca buku melengos sebentar kemudian kembali fokus.

__ADS_1


"Dulu waktu kecil saya pernah bermimpi berjalan di taman penuh bunga. Sejak saat itu saya putusakan jika saya harus menjadi penjual bunga." Ucapnya blak-blakan.


Aneh. Menurut Dyos, Rose Attlier hanya seorang hama. Sesuatu yang ingin dia singkirkan namun tidak bisa. Wanita aneh yang entah datang darimana. Pemikirannya sangat kekanak-kanakan.


Rasa kesal dan lelah sekaligus terkumpul menjadi satu. Itulah yang Dyos rasakan saat para bangsawan satu-persatu meninggalkan tempat pertemuan.


Dia ingin segera kembali.


Saat dia bangkit, rasa kesalnya meningkat tajam begitu melihat Rose yang menghalangi jalannya.


"Tuan Penyihir, maukah anda pergi ke suatu tempat?" Senyumnya tersungging.


Dyoa diam tak menjawab. Dengan raut wajah khasnya. Dingin dan acuh.


"Ada sebuah toko camilan yang baru dibuka, anda mau kesana?" Tanyanya lagi. Seperti biasa, Dyos tidak pernah menanggapinya.


"Ayolah, anda pasti suka. Kita bisa mencobanya dulu bukan?" Paksa Rose seraya menarik tangan Dyos.


Tubuh Dyos tak bergerak sama sekali. Dia muak. Rose di matanya adalah pengganggu.


Sraaak.


Dyos melepaskan tangan Rose dengan kasar. Saking kasarnya Rose hampir terjatuh. Beruntung dia langsung bisa menyeimbangkan tubuhnya. Tidak sampai sakit tapi Rose sangat terkejut dengan sikap kasarnya Dyos.


"Tuan Tatiha."


"Cukup. Jangan panggil nama saya sesuka hati anda." Suaranya dingin sekali.


"Bisakah anda menjauh dari saya? Anda sangat mengganggu." Sembur Dyos tanpa perasaan sedikitpun


Rose diam mematung. Orang yang dia kenal pendiam dan jarang berbicara sekarang banyak sekali mengeluarkan kata-kata. Bukan kata-kata yang baik tapi sangat tajam.


"Saya hanya ingin menghibur Tuan Penyihir." Jawab Rose dengan suara bergetar.


"Anda ingin menghibur saya?"


Rose mengangguk singkat.


"Jangan pernah muncul dihadapan saya lagi jika anda ingin menghibur saya."


Tanpa melihat ekspresi Rose, Dyos pergi begitu saja. Dia bagai disambar petir di siang hari. Kata-kata Dyos sungguh menyakitkan. Jadi selama ini Dyos sudah menahan diri dari mengusirnya. Darah Rose berdesir. Dyos benci dirinya. Tapi Rose menyukainya.


Dyos adalah teman penyihir pertamanya. Awalnya dia terbuka dan baik. Jika orang sepertinya membencinya, artinya Rose memang sudah keterlaluan.

__ADS_1


"Aku pasti sudah sangat mengganggu di matanya." Bisiknya sebelum melangkah pergi.


Aula tempat pertemuan sudah sepi. Tinggal dia satu-satunya yang tertinggal. Rose berjalan dengan langkah gontai.


Esok harinya dan hari-hari selanjutnya, Rose tidak pernah datang lagi ke mansion Soveil.


Hingga dua minggu lamanya. Tiba hari pertemuan lagi.


Kali ini berbeda. Karena di awal pertemuan Rose telah mengangkat tangannya untuk berpendapat.


"Saya bersedia menjadi kepala menara Zonix."


Bangsawan pendukung Rose Attlier bersorak gembira. Akhirnya proses yang berlarut-larut ini sampai pada titik terang. Ada hukum di Zagc jika orang itu bersedia dan mengatakan dari mulutnya sendiri, maka pihak lain tidak bisa mengintervensi.


Berbeda dengan pihak Duke Soveil, mereka terkejut bukan kepalang. Terutama Dyos. Setahu dia Rose mengatakan jika dia juga tidak mau ditunjuk dan akan membuat proses pemilihan ini menjadi sulit. Mereka sudah sepakat akan menolaknya.


Tapi hari ini, Rose berubah pikiran.


Lama tidak melihatnya, di mata Dyos, Rose seperti orang lain. Rose bukanlah orang yang dia kenal lagi. Rose yang lembut dan penuh pertimbangan tidak ada lagi. Baginya sekarang, Rose adalah wanita yang tegas dan bertekad.


Pidato singkatnya membuktikannya.


Dengan begini, Rose menjadi kepala menara Zonix secara aklamasi.


Ada sesuatu yang asing. Ada yang mengganjal. Dan rasa itu membuat Dyos tidak nyaman. Melihat Rose yang berdiri di sebelah Verdian membuatnya kesal. Dia marah. Tapi dia sendiri tidak tahu kenapa dia marah.


"Selamat kepada Lady Attlier telah diangkat menjadi kepala menara Zonix. Semoga masa depan Zagc semakin lebih baik."


Setelah pertemuan dan pelantikan, para bangsawan langsung bubar.


Duke Soveil menghampiri Rose untuk memberi selamat. Diikuti oleh Dyos dan beberapa bangsawan pendukung Soveil lainnya.


"Soveil akan mendukung Lady Attlier secara penuh."


"Terima kasih Yang Mulia, saya berjanji akan membuat masa depan Zagc menjadi lebih baik." Rose sedikit membungkuk kemudian tersenyum. Hanya pada Duke Soveil. Begitu keberadaan Dyos Tatiha terungkap, ekspresi Rose berubah dalam sekejap. Wajah tersenyumnya menjadi datar dan dingin.


Rose tidak menyapa Dyos karena Dyos juga tidak menyapanya. Dia memalingkan wajahnya kemudian mencari kesibukan lain.


Dyos yang melihatnya membeku di tempat. Hatinya seperti diremas-remas. Perasaan asing menyusupi setiap aliran darahnya.


Dia marah sekaligus kecewa.


"Apa yang salah?" Gumamnya.

__ADS_1


Fin.


__ADS_2