Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#37 Jangan Pergi Lagi (Isi Hati Lionel)


__ADS_3

"Anda telah banyak berubah Lady, bagaimana kabar anda?" Senyum menakutkan Lionel terbit.


Sadar akan situasinya, Eliz mewakili teman-temannya memberikan waktu berdua untuk Yanneta dan Lionel. Menururnya mereka berdua memang perlu bicara. Bagaimanapun juga, Yanneta harus memberitahu Lionel tentang anaknya.


Zagc adalah negara yang liberal. Pandangan masyarakatnya maju. Meskipun tidak dibenarkan hamil tanpa pernikahan. Ada beberapa keadaan khusus yang bisa diterima.


"Terima kasih atas pengertian para Lady." Lionel membalas sopan santun Eliz.


Udara di sekitar mereka hampa. Yanneta memilih menunduk. Sedangkan Lionel tak bisa melepaskan pandangannya dari Yanneta. Dia sedang mengaguminya. Selain perutnya yang membesar, pipi dan dada Yanneta juga ikut menyertai. Tidak sampai besar, hanya beberapa bagian saja yang berubah.


Yanneta masih tetap cantik. Menjadi lebih dewasa dan matang. Rasa posesif Lionel berkibar. Wanita ini miliknya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Bagaimana kabar Yang Mulia?" Yanneta akhirnya buka suara setelah berhasil menenangka dirinya.


Tanggapan Lionel kembali mengejutkan Yanneta. Bibirnya tersenyum sangat manis. Sorot matanya yang hampa kini bersinar.


"Seperti yang anda lihat. Saya sangat baik. Bagaimana dengan anda?"


Mereka sedang berhadapan sekarang, tapi seperti ada jarak tipis yang memisahkan mereka.


"Saya baik."


Percakapan mereka kering. Betapa canggungnya dia.


"Ada yang ingin saya tanyakan pada Lady."


Tubuh Yanneta tersentak tiba-tiba.


"Kenapa anda meninggalkan saya?" Jelas dan singkat. Pertanyaan Lionel seperti pisau tajam yang dilemparkan tepat sasaran.


Bola mata Yanneta bergetar. Karena tidak berharap akan bertemu lagi dengan Lionel, Yanneta tidak pernah membayangkan pertanyaan seperti ini.


"Saya sudah mencari anda di seluruh Zagc. Ternyata anda ada di Vexia. Saya selalu berpikir anda berada di tempat yang jauh, ternyata anda masih berhubungan dengan Verdian Zagc, atau anda juga masih berhubungan dengan Dyos Tatiha tanpa saya tahu lagi? Berapa banyak laki-laki lain yang tahu tentang anda sedangkan saya tidak?" Lionel menumpahkan semua kekecewaannya. Suara sangat putus asa.


Orang yang bahkan tidak akan sakit karena goresan pedang itu kini merasa kesakitan tak berdaya. Bukan karena terluka tapi karena seorang hati wanita.


"Kenapa anda meninggalkan saya? Saat saya sedang sekarat, kemana anda pergi? Saat saya bangun dan mencari anda, anda tidak ada. Anda pernah mengatakan anda mencintai saya, apakah itu juga bohong? Mengingat banyak sekali hal yang anda sembunyikan dari saya." Timpalnya tanpa ampun.


Yanneta yang dihujani kata-kata kecewa Lionel diam membatu.


"Tolong jangan diam saja, jelaskan pada saya Lady Rainhart. Ah bahkan anda bukan Rainhart lagi. Kejadiannya ada di mansion saya, tapi saya satu-satunya orang yang tidak tahu. Bukankah begitu Yanneta?" Kata-kata Lionel meningkat tajam.


Seperti itukah dia, apakah dia sudah sangat keterlaluan. Selama ini dia kira apa yang dia lakukan adalah untuk masa depan bahagia Lionel. Jika demi kebagiaannya tapi kenapa Lionel sendiri seperti tidak bahagia.

__ADS_1


Apa yang salah. Apa yang terjadi. Yanneta menatap rasa putus asa Lionel dengan mata nanar. Seharusnya Lionel sedang berbahagia dengan Rose Attlier. Apakah dia benar-benar salah, atau bagaimana. Kepala Yanneta dipenuhi pikiran rumit.


"Mohon maaf jika perbuatan saya menyinggung anda Yang Mulia. Saya hanya ingin anda bahagia." Suara Yanneta bergetar.


"Dengan cara apa? Karena mimpi konyol itu. Anda sangat tidak masuk akal." Tumpah sudah kekesalan Lionel.


"Bagaimana anda bisa tahu?" Tubuh Yanneta gemetar.


"Semuanya. Saya tahu semuanya. Jadi jangan berusaha untuk menutupinya, sia-sia belaka."


Yanneta tak mampu menjawab. Dia seperti sedang dikuliti habis-habisan. Rahasia yang hanya dia, Verdian dan Dyos yang tahu, kini terbongkar. Orang yang paling tidak ingin dia bagi adalah Lionel. Tapi Lionel sudah tahu semuanya.


"Yang Mulia, saya mohon.."


"Cukup." Potong Lionel.


"Ada hal yang lebih penting yang harus Yanneta tahu." Suaranya rendah dan dalam.


Yanneta tersedak air liurnya sendiri.


"Saya dan Lady Attlier tidak memiliki hubungan apapun. Saya hanya berutang budi karena dia sudah menyelamatkan nyawa saya. Tidak lebih tidak kurang."


"Jadi tolong, singkirkan masa depan yang anda percayai tersebut di kepala anda."


Yanneta tertohok hingga tak mampu berkata-kata.


Rasa takut merayapi tubuhnya seperti darah yang mengalir melalui pembuluh darahnya dan beredar ke seluruh tubuhnya. Sebuah pilar di dalam diri Yanneta hancur. Lebih tepatnya sesuatu yang dia percaya sejak awal adalah kesalahan. Tubuh Yanneta menggigil. Rasa ngilu di perut bagian bawahnya terasa.


"Yang Mulia tolong beri saya waktu untuk berpikir."


Tanpa mempedulikan Lionel yang berdiri kokoh di hadapannya, Yanneta pergi. Berusaha untuk melarikan diri. Sayang usahanya sia-sia. Lionel dengan cepat memblokir rute pelariannya.


"Mau kemana Yanneta pergi dengan anak saya di dalam perut Yanneta sekarang?"


Retak retak.


Alur cerita Red Rose Tragedy yang Yanneta percayai retak dan hancur berkeping-keping seperti butiran kaca yang berhamburan.


Rasa sakit yang amat sangat dari perut bawah menyebar ke seluruh tubuh Yanneta. Rasa mual tak tertahankan menggelitik tenggorokanya.


"Ah! Hoek!" Yanneta hampir saja jatuh jika Lionel tidak memegangnya.


Kepalanya berdenyut sakit seperti dipukul oleh benda tumpul. Tiba-tiba saja tubuhnya kehilangan tenaga.

__ADS_1


"Yanneta. Apa yang terjadi."


"Ah, sakit." Yanneta bersandar pada Lionel sambil memegang perutnya.


Sakit. Seluruh tubuhnya sakit.


"Dean!" Suara Lionel melengking.


Terjadi keributan di pesta kecil keluarga Joseph. Suasana tenang dan sederhana pesta terbalik oleh kemunculan beberapa ksatria Soveil.


"Siapkan kereta."


"Baik Yang Mulia."


Secepat mereka datang secepat mereka pergi juga. Para tamu yang belum sempat menghilangkan rasa terkejutnya, kini ditambah dengan rasa penasaran. Sesuatu tiba-tiba saja terjadi, dan Duke Soveil adalah pemeran utamanya. Bersama dengan seorang wanita yang kini berada di pelukannya. Mata para tamu yang hadir fokus pada perut besarnya.


Semua terjadi begitu cepat.


Duke Soveil segera menghilang tanpa jejak. Meninggalkan rasa penasaran semua orang.


"Saya sudah mengirim orang, Tuan Byos Tatiha telah menunggu di mansion Yang Mulia."


Lionel mengangguk.


Dia kembali memfokuskan perhatiannya pada Yanneta yang mengerang kesakitan. Darahnya mengering saat melihat Yanneta yang terus memegangi perutnya. Dia tidak tahu seperti apa rasa sakitnya. Lionel panik.


"Sebentar lagi kita akan sampai. Bertahanlah Yanneta."


Tangannya terus menggenggam Yanneta tanpa lepas. Berusaha untuk menenangkan di tengah kepanikan yang terjadi.


Kereta akhirnya berhenti dan pintu terbuka.


Fabian dan beberapa pelayan sudah menunggunya.


"Yang Mulia, Byos di dalam. Apakah anda baik-baik saja? Astaga, Lady Rainhart." Ucap Fabian terkejut.


Tidak hanya Fabian, para pelayan yang menunggu Lionel ikut terkejut. Wanita yang sudah lama tidak mereka lihat kini berada di pangkuan Duke dengan wajah yang pucat.


"Antar Byos ke kamarku. Bukan aku yang sakit, tapi Yanneta."


"Baik Yang Mulia."


Mansion Soveil yang tenang di pagi hari terseret oleh badai awal musim dingin. Meskipun menjadi sibuk di pagi hari, para pelayan entah kenapa penuh kelegaan.

__ADS_1


Rasa kering beberapa bulan ini yang mereka rasakan menguap dalam sekejap. Kehangatan Soveil telah kembali.


Bersambung...


__ADS_2