Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#27 Melihat Masa Depan (Tentang Verdian)


__ADS_3

Yanneta kembali ke rumah sihir Dyos untuk meminta bantuan.


Pikirannya terlalu sibuk untuk bertanya apa yang terjadi karena tubuh Verdia bersimpah darah. Ada luka memanjang dari pundak hingga perutnya. Atasannya yang putih menjadi merah sepenuhnya.


Dia mengenakan atasan longgar yang umum digunakan sebagai pakaiam tidur.


Dahi dan rambutnya basah oleh keringat dingin. Wajahnya pucat dan bibirnya memutih. Jelas dia sedang menahan rasa sakit. Meskipun kehilangan begitu banyak darah, dia tidak kehilangan kesadarannya.


Hanya pandangannya saja yang kabur. Pendengarannya masih tajam.


"Tolong seka darahnya saya akan mencoba menggunakan sihir penyembuhan." Perintah Dyos.


Yanneta mengisi ember dengan air kemudian mengambil beberapa kain. Sebelum menyeka darahnya, Yanneta meminta izin lebih dulu.


"Permisi Yang Mulia, maaf saya akan membuka pakaian anda."


Karena sudah robek di satu sisi, Yanneta merobek semuanya sekaligus. Luka sayatan besar dan panjang segeta terungkap. Terlihat lumayan dalam. Darah merah terus merembas.


Dia segera menekan beberapa bagian yang terus berdarah. Menyekanya berulang kali dengan air untuk menghentikan pendarahan.


Tangan dan gaun tidurnya ternoda merah oleh darah Verdian. Mau bagaimana lagi, hal ini tidak bisa dia hindari.


Setelah itu giliran Dyos maju. Dia duduk di tepian tempat tidur. Salah satu tangannya terangkat. Sebuah cahaya putih secara konsisten keluar dari ujung jari-jarinya. Cahaya itu terbang seperti diterpa angin.


Partikel-partikel putih seperti serbuk hinggap di luka Verdian kemudian secara ajaib menyembuhkannya. Luka tersebut hilang tanpa bekas.


Yanneta hampir bersiul namun dia tahan. Ini adalah pertama kalinya dia melihat praktik sihir. Sungguh ajaib.


Kondisi Verdian berangsur membaik. Rona merah juga telah mewarnai pipinya yang sempat pucat. Matanya yang kehilangan fokus telah kembali menemukan ketenangannya.


"Maaf telah merepotkan kalian." Ucap Verdian dengan suara yang masih lemah.


"Tidak. Ini bukan apa-apa." Dyos segera bangkit dengan suaranya yang dingin.


Bisa dimengerti, sejak dulu Zagc adalah musuh Soveil. Kejadian ini cukup membuat kikuk. Seorang penyihir Soveil membantu Zagc.


"Tuan Penyihir memang sangat hebat."


"Jangan berlebihan Lady, saya hanya tidak ingin seseorang mati disini." Ketus Dyos.


"Baiklah, baiklah. Saya mengerti. Anda telah bekerja keras Tuan Penyihir." Yanneta tidak bohong.


Apa yanh dilihat matanya barusan sungguh diluar nalarnya. Kini dia percaya jika sihir benar-benar ada. Bukan hanya ada di buku dongeng yang sering dia baca sewaktu kecil.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita mendengar cerita Yang Mulia Putra Mahkota lebih dulu." Yanneta mengambil tempat duduk Dyos. Sedangkan Dyos menarik kursi dan duduk tak jauh dari mereka.


Verdian yang sedang berdandar mengehela nafas kecil. Matanya menatap Dyos dan Yanneta bergantian.


"Saya bermimpi. Mimpi yang lain. Kejadiannya berbeda. Namun hanya ada saya, Duke Soveil dan seorang wanita yang tidak saya kenal." Ucap Verdian seraya memegang kepalanya.


Yanneta menukar pandang dengan Dyos.


"Bagaimana dengan luka yang anda dapat Yang Mulia?" Secara mengejutkan Dyos menimpali Verdian.


"Karena mimpi itu saya terjaga sepanjang malam. Ada hal yang mencurigakan dengan wewangian kamar yang digunakan. Wanginya tidak seperti yang biasa saya gunakan. Saat saya membuka jendela untuk menghilangkan baunya, beberapa orang masuk melalui jendela yang terbuka. Kejadiannya terlalu cepat hingga saya tidak tahu lagi. Saya melarikan diri melalui pintu samping. Tidak ada para penjaga di depan pintu. Semakin terasa aneh."


Panjang lebar Verdian menjelaskan. Dia berhasil melarikan diri hingga memanjat dinding mansion Duke Soveil. Di kepalanya hanya terlintas Yanneta Rainhart. Dia masih belum bisa melupakan mimpi itu.


"Yang Mulia tidak bisa melihat siapa orang yang menyerang?" Tanya Yanneta lirih.

__ADS_1


Hanya bisa menggelengkan kepala.


"Gelap dan kepala saya pusing."


"Seperti apa bau wewangian anda Yang Mulia? Mungkin anda masih mengingatnya?" Dyos menimpali.


"Lilac, ada sedikit bergamot."


"Wangi untuk membius seseorang." Jawab mengejutkan Dyos.


Wajah Verdian memutih.


"Untuk apa?"


"Saya tidak tahu dengan pasti apa motifnya, yang pasti mereka ingin membuat Yang Mulia tidak sadarkan diri."


"Mungkinkah ini juga rencana Putri Gwinia?" Yanneta spontan.


Hanya itulah yang ada dipikiran Yanneta. Dia melirik wajah Verdian yang tidak mengerti. Hubungan mereka mungkin cukup dekat jadi pertanyaan ini bisa jadi membuatnya bingung.


"Saya akan menjelaskan secara singkat Yang Mulia. Kemudiam akan saya hubungkan mimpi anda dan situasi saat ini."


Yanneta menarik nafas dalam-dalam kemudian mulai menjelaskan situasinya. Tentang Gwinia terlebih dahulu, tentang dirinya yang bisa melihat masa depan, ditutup dengan mimpi Verdian.


"Itu adalah masa depan Yang Mulia."


"Ya?" Wajah Verdian pucat seketika.


"Kami masih mencari motif Putri. Maaf jika anda terkejut. Bagaimanapun Putri Gwinia adalah adik anda."


"Sebentar. Kutukan, kutukan apa itu?"


"Anda mungkin sudah tahu tentang Duke Soveil yang memiliki kutukan Hell dari Zagc sejak dulu kala."


"Apa maksud anda saya tahu?"


"Hanya pewaris kaisar yang bisa merapal mantra Hell."


"Saya tidak tahu."


"Apa?"


"Tidak ada seperti itu di kelas pewaris."


Yanneta bertukar pandang dengan Dyos yang sama terkejutnya dengan dirinya.


"Tapi Putri Gwinia bisa merapal kutukan Hell."


Pernyataan Yanneta lebih mengejutkan lagi. Melihat serangan yang dialami Lionel menguatkan dugaannya. Setiap kali serangan terjadi, ada Putri Gwinia disana. Untuk serangan pertama bisa jadi dia mencurigai kaisar, tapi serangan kedua ada Gwinia terlibat.


"Apa maksud anda?" Suara Dyos pecah.


Mau tidak mau Yanneta harus menjelaskan isi kepalanya sekarang.


"Tahta. Putri Gwinia mengincar tahta dan ingin membangkitkan sihir hitam kembali di Zagc."


Mata Verdian seperti melihat kehancuran dunia. Bibirnya yang tenang bergerak tak teratur. Bahkan suaranya juga tercekat.


"Seperti yang saya sampaikan Putri Gwinia adalah cucu dari penyihir hitam Jonge di masa lalu. Ibunya yang merupakam selir tersayang kaisar selamat dari pembersihan penyihir hitam. Lahirlah Putri Gwinia."

__ADS_1


"Mungkin ini tidak masuk akal bagi Yang Mulia Putra Mahkota, saya adalah orang yang datang dari dunia lain selain bisa melihat masa depan. Saya masuk ke dunia ini karena Putri Gwinia sepertinya pernah membuka gerbang dunia lain."


"Kemudian ditemukan jejak pemujaan untuk penyihir hitam di istana Putri. Yang terakhir adalah kekuatan ilahi Duke Soveil sebagai sword master. Saya rasa Putri Gwinia ingin Zagc berada di bawah kakinya dengan sihir hitam sebagai kekuatannya. Mungkin kekuatan dari dunia lain mampu mengembalikan sihir hitam yang telah lama hilang dari Zagc. Ini hanya asumsi saya."


Tak mampu berkata-kata. Tenggorokan Verdian terasa pahit mendengar fakta ini. Dia tidak tahu. Tak tahu apa-apa.


"Sebenarnya apa yang anda katakan?"


"Mungkin ini tidak masuk akal bagi Yang Mulia. Namun seperti inilah adanya. Bisa jadi kejadian hari ini akan terulang, Yang Mulia harus waspada. Saya belum bisa menganalisis motif Putri Gwinia melakukan ini pada Yang Mulia."


"Tidak mungkin. Gwinia tidak mungkin melakukannya."


"Bagaimana kalau kita bertaruh?"


Verdiam diam.


"Jika asumsi saya benar, tolong kirimkan surat kepada Tuan Penyihir." Yanneta menoleh ke arah Dyos.


Terlalu berbahaya jika surat tersebut ditujukan padanya.


"Tidak ada waktu lagi. Perkiraan saya adalah malam pesta ulang tahun kaisar. Jika Yang Mulia tidak bergegas, anda mungkin akan menyesalinya nanti."


Fajar menyingsing saat Verdian menyelinap keluar dari mansion Soveil dengan bantuan Dyos. Yanneta segera kembali ke kamarnya. Hari semakin terang, tidak boleh ada yang tahu dia tidak di kamar. Para pelayan mungkin segera bangun jadi Yanneta mempercepat langkahnya.


Saat tangannya mendorong pintu kamarnya, dia dikejutkan oleh sosok Lionel yang berdiri di tengah ruangan dengan wajah gelisah.


"Lionel." Sontak Yanneta terjekut.


"Yanneta darimana saja?"


"Kapan anda kembali?"


Melihat dirinya yang sudah berganti pakaian nyaman dengan rambut yang basah pasti Lionel belum lama kembali. Dia baru saja selesai membersihkan dirinya.


"Saya mencari anda." Langkah melebar kemudian merengkuh tubuh Yanneta.


Beruntung Yanneta telah membesihkan bekas darah Verdian. Jika tidak entah apa yang akan terjadi.


"Saya pikir Yanneta kembali ke mansion Rainhart tanpa memberitahu saya." Kepalanya terbenam di ceruk leher Yanneta. Seperti anak anjing yang bertemu dengan induknya.


"Mana mungkin, saya baru saja terbangun. Karena sudah hampir pagi jadi saya jalan-jalan sebentar ke taman."


"Kenapa tidak mengajak pelayan dan pergi sendiri. Yanneta tahu betapa khawatirnya saya. Saya takut Yanneta pergi meninggalkan saya."


"Mana mungkin. Kamulah yang akan meninggalkanku Lionel." Bisiknya dalam hati.


"Saya tidak akan. Saya baik-baik saja Lionel. Anda tidak perlu khawatir."


Dengan lembut Yanneta mengusap rambut basah Lionel. Dia pasti terburu-buru datang kesini sampai tidak sempat mengeringkan rambut.


"Kya!" Jerit Yanneta saat pusat gravitasinya hilang. Tubuhnya terangkat seketika. Sontak tangannya berpegangan pada pundak Lionel.


"Saya merindukan Yanneta." Bisik Lionel di leher Yanneta.


Bersambung...


Halo semuanya, ini Eva 🙋🏻‍♀️


Maaf Eva baru muncul lagi 🙏🏻

__ADS_1


4 hari ini adalah hari yang penting bagi Eva, karena Eva bisa recovery dengan baik alias hiling-hiling manjah. Menjaga mood agar tetap happy itu penting ya say ❤


Jadi jangan lupa bahagia semunya. Saranghae 😘


__ADS_2